Bab 16. Maura penasaran

Arsen memutuskan untuk menyusul mamanya ke dapur karena ia merasa heran dengan kepergian mamanya yang cukup lama, apalagi ia khawatir kalau sampai mamanya itu bertemu dengan Kyla di dalam kamar dan ia tak mau itu sampai terjadi. Bisa saja semua rencananya berantakan nanti, lalu ia juga tidak akan bisa lagi bertemu dengan Kyla yang sudah mulai mengisi hatinya.

Cepat-cepat pria itu melangkah menuju dapur, perasaannya sungguh tidak enak hati ketika mamanya tak kunjung kembali sampai saat ini. Ia pun sampai di dapur, dan benar saja dugaannya kalau ternyata Kyla ingkar janji karena sekarang gadis itu berada disana bersama mamanya. Arsen semakin khawatir, apalagi ia melihat langsung mamanya tengah berbincang dengan Kyla di depan sana.

"Mama!!" Arsen memanggil mamanya itu, lalu mendekat ke arah mereka dan menatap dengan penuh heran.

"Eh Arsen, nah kebetulan kamu datang kesini. Mama mau tanya deh sama kamu, ini sejak kapan kamu mempekerjakan Kyla disini? Apa kamu gak kasihan, dia kan masih kecil loh?" ucap Maura penuh pertanyaan.

"Eee maksud mama apa ya? Emangnya mama kira Kyla ini—" Arsen menghentikan ucapannya, begitu ia menatap ke arah Kyla yang mengedipkan matanya.

Meski awalnya tak mengerti, Arsen tetap berhasil mengikuti apa yang diinginkan Kyla untuk tidak mengatakan semua pada mamanya. Kini Arsen pun paham, kalau Kyla memang sudah memberikan informasi yang tidak benar kepada mamanya bahwa dia bekerja di rumah itu sebagai pelayan.

"Kenapa Arsen? Kok kamu diam sih? Kamu mau bilang Kyla ini apa?" tanya Maura.

"Umm, enggak kok ma. Aku tadi kaget aja kalau mama ternyata udah ketemu sama Kyla, padahal aku baru mau kenalin mama ke Kyla tadinya," bohong Arsen.

"Jadi benar kalau Kyla ini bekerja di rumah kamu?" tanya Maura memastikan.

Arsen menjawab dengan anggukan kecil, ia tak mungkin menjelaskan yang sejujurnya kepada mamanya saat ini. Sehingga, Arsen terpaksa mengikuti permainan Kyla dan mengatakan kalau gadis itu adalah pekerja di rumahnya.

"Tapi, kenapa kamu pekerjakan gadis sekecil Kyla? Dia ini kelihatan masih muda banget loh, berapa usia kamu sayang?" ucap Maura sembari mengusap rambut Kyla.

"Eee a-aku tujuh belas tahun, tante. Eh maksudnya nyonya," jawab Kyla dengan gugup dan sedikit cemas.

"Gapapa, kamu mau panggil tante juga gak masalah kok. Tapi benar kamu masih tujuh belas? Berarti harusnya kamu masih sekolah juga dong?" ucap Maura agak terkejut.

"I-i-iya nyonya, saya masih sekolah kelas tiga SMA. Saya bekerja disini karena saya butuh uang nyonya," ucap Kyla.

"Nah, itu dia alasan aku terima Kyla buat bekerja disini ma. Aku gak tega aja lihat Kyla butuh uang buat sekolah, makanya aku ajak aja dia bekerja di rumah aku ini buat bantu-bantu yang lain," sahut Arsen.

"Hm, memangnya kalian kenal dimana?" tanya Maura lagi tampak penasaran.

"Di jalan."

"Di sekolah."

Maura dibuat bingung saat mendengar dua jawaban yang berbeda dari Arsen dan Kyla itu, sontak ia mengernyitkan dahinya sembari menatap wajah mereka secara bergantian. Arsen sendiri tampak menepuk jidatnya, seolah kesal pada dirinya sendiri karena gagal untuk menyamakan jawaban dengan apa yang diucapkan Kyla.

"Loh loh, jadi yang benar dimana nih? Di jalan apa di sekolah?" tanya Maura terheran-heran.

"Eee maksudnya tuh di jalan dekat sekolah Kyla, ma. Aku gak sengaja ketemu sama dia yang lagi murung, terus aku samperin aja deh," jawab Arsen dengan santai.

"Oh gitu, yaudah mama cuma mau tau aja siapa Kyla ini. Abisnya mama kaget tadi pas lihat ada perempuan di dapur kamu, mama kira kamu udah punya istri tapi gak ngabarin mama," ucap Maura sambil terkekeh.

"Hahaha, ya gak mungkin lah ma. Masa iya aku nikah tanpa sepengetahuan mama?" ucap Arsen ikut tertawa.

Maura tersenyum lebar sambil terus mengusap wajah serta membelai lembut rambut Kyla, sepertinya Maura begitu kagum dengan sosok Kyla yang memang terlihat sangat cantik dan juga baik hati tidak seperti anak gadis pada umumnya.

"Kalo gitu saya permisi ya nyonya? Sa-saya mau lanjut kerjain yang lain, masih banyak soalnya yang harus saya kerjakan," ucap Kyla.

"Eh, mau kemana sih Kyla? Bentar dulu ya, saya mau bicara berdua sama kamu! Kamu ikut saya yuk sebentar aja deh! Mau kan?" ucap Maura.

"Umm, sa-saya...."

"Buat apa sih, ma? Kyla itu kan harus kerja, dia gak bisa ikut sama mama buat bicara. Ayo Kyla, kamu pergi aja ya!" ucap Arsen menyela.

"Loh, kenapa sih kamu Arsen? Mama kan cuma mau bicara sama Kyla," heran Maura.

"Iya ma, tapi kan Kyla harus kerja. Kalo gitu buat apa dong aku terima dia bekerja disini? Kalau mama mau ngobrol, mending sama aku aja ya ma!" ucap Arsen.

"Hadeh, padahal mama cuma pengen bicara sebentar sama Kyla. Yaudah deh gapapa, lain kali aja mama bicaranya," ucap Maura lirih.

Akhirnya Maura mengalah dan melepaskan tubuh Kyla dari rangkulannya, meski ia masih merasa penasaran dengan gadis itu dan ingin tahu lebih banyak mengenai dirinya. Tapi karena permintaan putranya tadi, Maura terpaksa menurut dan membiarkan Kyla pergi dari sana untuk lanjut bekerja.

"Yaudah Kyla, kamu bisa lanjut kerja sekarang! Jangan lupa bersihin kamar saya juga ya!" ucap Arsen disertai senyum tipisnya.

"I-i-iya tuan Arsen.."

Dengan cepat Kyla melangkah pergi meninggalkan mereka, ia memilih kembali ke dalam kamar Arsen dan bersembunyi disana sesuai perintah pria itu. Sedangkan Arsen tampak menghela nafas lega, namun tak sepenuhnya Arsen merasa tenang karena bisa saja mamanya menaruh curiga nanti.

"Sen, mama heran deh sama kamu. Kenapa kamu gak bolehin mama buat bicara sama Kyla sih? Mama penasaran loh sama dia, soalnya mama lihat-lihat dia itu anaknya baik dan sopan banget," ucap Maura.

"Gak bisa ma, kerjaan Kyla itu banyak. Kalau dia ngobrol sama mama, yang ada dia gak bisa kerja nanti," ucap Arsen.

"Huft, iya deh terserah kamu aja. Tapi mama mau tanya sama kamu, apa Kyla masih sekolah sampai sekarang? Dia gak putus kan sekolahnya?" ucap Maura.

Arsen menggeleng pelan, "Enggak kok ma, Kyla masih lanjut sekolah sampai sekarang," ucapnya santai.

"Ohh," Maura manggut-manggut paham.

Arsen tampak menyesali jawabannya itu, ia khawatir hal itu malah akan menjadi masalah baru bagi dirinya nanti. Apalagi, jika Maura sampai menyelidiki dan mengetahui bahwa Kyla sudah tidak bersekolah. Tentu saja Arsen bisa berada dalam bahaya, karena mamanya itu akan membencinya nanti.

"Haish, ribet banget sih hidup kayak gini! Saya harus cepat-cepat pindahin Kyla dari rumah ini nih," batin Arsen.

...~Bersambung~...

...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!