Arsen kembali ke luar dan menunggu disana setelah memastikan kondisi Kyla baik-baik saja, ya ia bersama Jester kini duduk berdua di kursi tunggu yang tersedia. Namun, entah mengapa Arsen tiba-tiba merasa gelisah memikirkan kejadian tadi saat ia melihat Kyla berada di dalam toilet. Arsen khawatir kalau itu adalah salah satu usaha Kyla untuk melarikan diri dari sana, apalagi ia tahu Kyla memang belum bisa menerima dirinya.
Jester yang terduduk tepat di sampingnya pun merasa heran, ia sontak menegur sohibnya itu dan coba bertanya padanya mengapa mendadak Arsen begitu gelisah dan terus saja mengusap kasar wajahnya.
"Eh Sen, ada apaan sih? Kenapa lu kelihatan gelisah gitu? Lo mikirin si Kyla itu ya?" tanya Jester dengan bingung.
Arsen pun beralih menatap Jester, ia lalu menggeleng dan tentu saja mengelak dari tuduhan Jester karena tak ingin dianggap kalau dirinya sudah mulai jatuh cinta pada Kyla.
"Kagak, ngapain amat gue mikirin Kyla? Dia aja ketus mulu sama gue," elak Arsen.
"Halah ngeles aja lu, gue tau kok kalo lu masih mikirin si Kyla. Mending lu ngaku deh, suka kan lu sama ponakan lu itu!" ucap Jester kembali mencecarnya.
Deg
Arsen terkejut, ia juga ingat kalau dirinya belum menceritakan apapun tentang Kyla kepada Jester. Sehingga, kini Jester masih menganggap kalau Kyla adalah keponakan yang ia tolong sesuai dengan apa yang ia ceritakan pada Lita sebelumnya.
"Eee iya deh gue ngaku, gue emang lagi mikirin si Kyla. Tapi, bukan karena gue suka sama dia. Gue itu takut aja kalau si Kyla mau coba kabur dari rumah sakit," ucap Arsen.
"Kenapa lu mikir begitu?" tanya Jester tampak keheranan.
"Umm, sebenarnya ada yang belum lu tahu tentang Kyla. Dia itu bukan keponakan gue, makanya gue khawatir dia kabur dari sini dan gue gak bisa ketemu dia lagi," jawab Arsen dengan lirih.
"A-apa? Maksud lu gimana sih, Sen? Kalau dia bukan ponakan lu, terus dia siapa dong?" tanya Jester begitu penasaran.
Arsen menggeleng pelan, "Gak tahu, dia itu cuma cewek random yang gue culik waktu itu. Gue tertarik sama dia, itu alasan gue bawa dia ke rumah gue," jawabnya santai.
"Waduh, serem banget lu main culik-culik anak orang gitu aja! Kalau lu ditangkap polisi gimana Sen?" ucap Jester panik.
"Gak bakal lah, siapa yang berani laporin gue ke polisi? Lagian gue itu tertarik sama dia udah dari lama, tapi gue baru bisa milikin dia sekarang," ucap Arsen.
"Terus lu suka gitu sama dia? Lo mau nikahin dia?" tanya Jester kembali.
Arsen terdiam, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dan terlihat bingung saat hendak menjawab pertanyaan pria itu. Arsen pun tak tahu apakah dirinya benar-benar menyukai Kyla atau tidak, karena sejujurnya ia melakukan ini hanya untuk membantu Laras dalam menjalankan misinya.
"Udah deh kita gausah bahas itu lagi, kita mending cari pembahasan lain deh!" ucap Arsen coba menghindar.
"Hmm, iya deh gue nurut aja. Tapi, si Kyla itu emang cantik banget sih ya? Untuk ukuran gadis kayak dia, Kyla itu cantiknya melebihi gadis-gadis seusia dia pada umumnya loh," ucap Jester sambil tersenyum.
"Kenapa lu bahas soal Kyla lagi? Suka lu ya sama dia?" ketus Arsen.
"Yeh kalem bro kalem, gausah cemburu gitu kali! Gue kan cuma muji kecantikan si Kyla aja," ucap Jester.
Arsen mendengus kesal, kemudian bangkit dan pergi dari sana. Ia berniat menemui dokter yang mengurus Kyla dan menanyakan apakah Kyla sudah diperbolehkan pulang atau belum, karena Arsen tak ingin membiarkan Kyla berlama-lama di rumah sakit.
•
•
Disisi lain, Laras pulang ke rumah sehabis pergi berbelanja di mall dan membeli cukup banyak barang-barang untuk dirinya tentu. Laras pun turun dari mobilnya, lalu berniat masuk ke dalam rumah dengan membawa kantong belanja miliknya yang berjumlah sangat banyak itu.
Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ia tak sengaja berpapasan dengan sang suami yang baru keluar dari rumah itu. Sontak Laras terkejut, tapi kemudian tersenyum lebar dan mengecup punggung tangan suaminya itu.
"Eh mas, mau kemana kamu?" ucap Laras dengan ramah dan lembut.
Hartawan alias papa kandung Kyla itu memberikan tatapan tajam ke arah sang istri, ia terlihat tak menyukai tindakan Laras yang seolah tak perduli dengan hilangnya Kyla. Padahal, sudah beberapa hari ini Kyla tidak pulang ke rumah dan membuatnya sangat khawatir. Namun, Laras justru terlihat santai saja dan malah pergi berbelanja di mall.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, darimana aja kamu? Disaat genting seperti ini, bisa-bisanya kamu malah pergi-pergi gak jelas kayak gini!" geram Hartawan.
"Mas, kamu kok malah marahin aku sih? Aku belanja juga kan buat kebutuhan kita, kamu gimana sih?" ucap Laras membela diri.
"Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk belanja Laras, kamu harus paham dong sama situasi saat ini! Apa kamu gak cemas Kyla menghilang, ha?" ujar Hartawan.
"Ya aku tahu mas, aku juga cemas kok. Tapi, kita juga kan tetap butuh belanja untuk menghidupi diri kita," ucap Laras.
Hartawan menggeleng pelan, istrinya itu memang sulit sekali untuk diberitahu. Ia tak tahu lagi harus berbicara apa pada Laras untuk bisa membuat wanita itu menurut padanya, karena selalu saja Laras melawan atau bahkan membantah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Yaudah ah mas, aku mau masuk dulu. Kamu mau pergi cari Kyla kan? Hati-hati ya mas, semoga Kyla cepat ketemu!" ucap Laras.
Setelah mengatakan itu, Laras pun kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam rumah tanpa perduli dengan suaminya yang tampak begitu kecewa. Ya Hartawan juga tak bisa berbuat apa-apa, ia memilih diam dan tidak melanjutkan perdebatan itu karena tak mau membuat Laras marah padanya.
"Haish, sampai kapan kamu begini terus Laras? Mana rasa perduli kamu sama anak aku satu-satunya itu? Haaaahh Vira, disaat seperti ini aku selalu rindu sama kamu dan ingin kamu ada disini," gumam Hartawan.
Akhirnya Hartawan memutuskan pergi dari sana dan mencari keberadaan Kyla, ya sebagai seorang ayah tentunya ia sangat khawatir dengan hilangnya sang putri. Apalagi, ia tak memiliki petunjuk apapun yang bisa ia gunakan untuk menemukan Kyla.
Sementara itu, Laras tampak menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Setelah memastikan Hartawan pergi, Laras pun mulai menghubungi nomor Arsen untuk mengabarkan bahwa saat ini suaminya itu tengah mencari Kyla dan ia tak mau Kyla sampai bertemu.
📞"Halo, Arsen! Mas Har udah mulai pergi buat cari keberadaan Kyla, aku minta kamu jaga Kyla baik-baik dan jangan sampai mas Har berhasil temuin dia!" ucapnya di telpon.
"Permisi bu!" tiba-tiba saja, suara seseorang muncul dan mengejutkan dirinya.
Akibatnya, ponsel milik Laras pun terjatuh ke lantai dan membuatnya reflek panik karena tidak ingin ketahuan oleh siapapun disana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments