"Bibi." Adeline memanggil seorang perempuan bernama Mora yang merupakan adik dari Gita yang kini berjaga di kasir menggantikan posisi Rebyano.
Mora yang diam-diam akan memasukkan satu lembar bernilai lima puluh ribu ke dalam saku bajunya dari laci uang kasir pun tidak jadi ketika Adeline memanggilnya. Mora tersenyum manis seperti habis tidak melakukan apa-apa. "Ya, Ayline. Kenapa?" tanyanya.
"Aku mau ke toilet sebentar ya, bi. Kalo ada pembeli datang lagi dan pesanannya sudah jadi tolong panggilkan aku," jawab Adeline dengan santai yang memang tidak melihat apa yang dilakukan Mora tadi.
Mora mengangguk. "Iya nanti bibi panggilkan. Pembeli belum ada yang datang ini, kamu lama-lama di toilet juga gapapa. Eh tapi hati-hati ya di toilet, takut licin," ucap Mora dengan niat liciknya.
"Iya bibi. Aku permisi, udah kebelet." Adeline langsung jalan mengarah ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru.
Mora terus menatap Adeline yang perlahan menghilang dari pandangabnnya. Satu lembar uang bernilai lima puluh ribu tadi yang belum berhasil ia curi pun langsung diambil lagi dari laci kasir itu.
Hampir saja uang itu akan masuk ke dalam saku celananya, tapi Mora malah mengembalikan uang itu kembali ke dalam laci kasir setelah ujung matanya berhasil menangkap Adeline yang muncul kembali dari tembok kamar mandi kedai itu.
"Sialan tuh anak ngancurin rencana gue mulu." Mora menggerutu sembari menatap Adeline yang terus menggagalkan aksi pencurian uang yang dilakukan Mora dari hasil penjualan makanan dan minuman yang dibeli beberapa pembeli tadi.
Adeline menghampiri Mora yang bersikap biasa lagi. "Bi, kok air nya gak keluar ya?" tanyanya sembari menepuk-nepukkan telapak tangannya.
"Haduh kebiasaan nih air nya. Bibi bilang Gita dulu deh, kamu jagain kasir sebentar," kata Mora membuat Adeline mengangguk dan langsung menggantikan posisi Mora untuk menjaga kasir itu.
Keadaan uang yang sangat berantakan sekarang di dalam laci kasir itu berbeda sekali dengan keadaan uang jika Rebyano yang menjaganya. Adeline langsung menutup laci itu dan tidak lupa untuk menguncinya.
Meja diketuk-ketuk oleh Adeline yang bosan menunggu pembeli selanjutnya yang belum juga datang. Namun seorang laki-laki yang turun dari mobil di depan kedai itu membuat Adeline memimincingkan matanya.
"Kalandra?" tanya nya pada diri sendiri sembari mengucek mata untuk memastikan kejelasan wajah laki-laki itu. Semakin mendekat laki-laki itu melangkah masuk ke kedai, semakin Adeline bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu bukan Kalandra. Hanya penampilannya saja yang mirip, namun dari kerutan wajah, laki-laki yang sekarang dilihat Adeline terlihat lebih tua dibandingkan dengan Kalandra. Semakin orang itu mendekat ternyata laki-laki itu tidak hanya terlihat lebih tua, tapi laki-laki itu memang sudah tua.
"Waduh pak Barul. Selamat datang, pak," ucap Daryata dengan suaranya yang cukup menggelegar menyapa laki-laki itu.
Adeline pun langsung meraih gorden yang ada di belakangnya. Mora yang sedang melontarkan lelucon kepada Gita, sementara Gita yang membalas nya dengan pukulan pelan ke lengan adiknya itu pun menjadi pemandangan pertama yang dilihat oleh Adeline.
"Bibi Mora." Adeline memanggil dengan hati yang sedikit panik karena laki-laki paruh baya tadi mulai mendekat ke arah kasir.
Mora pun langsung menghampiri Adeline setelah mengucapkan kata semangat kepada sang kakak yang sedang mencuci piring. "Kenapa Ayline? Oh iya itu air nya udah bisa."
Adeline mengangguk untuk balasan tentang air. "Itu ada pembeli," ucapnya untuk menjawab pertanyaan Mora.
"Oh iya yaudah kamu kembali ke posisi mu dulu," ujar Mora yang langsung diangguki oleh Adeline.
Adeline melemparkan senyum manis kepada laki-laki paruh baya yang dikiranya adalah Kalandra tadi. "Mungkin saja itu adalah ayahnya Kalandra. Kan aku gak tau" monolog nya dengan suara yang sangat kecil sehingga tidak terdengar oleh siapapun.
"Selamat datang pak Barul yang terhormat. Silahkan pesan yang banyak, pak Barul. Biar kita cepat kaya seperti pak Barul," ucap Mora bercanda membuat Barul, Daryata, dan Adeline yang menyimak dari jauh pun tertawa.
"Kamu bisa aja. Tapi kebetulan sekali, saya memang mau pesan lumayan banyak sekarang," ucap Barul membuat Adeline melebarkan matanya menatap Mora dan Daryata yang menampakkan raut wajah yang senang bukan main.
"Baik, pak Barul yang terhormat. Silahkan sebutkan, saya catat semuanya, pak," ucap Mora langsung memegang tablet android yang ada di depannya siap untuk mencatat pesanan.
Selembar menu yang ada di atas meja kasir langsung diangkat oleh Barul karena tidak bisa melihat tulisan-tulisan kecil itu dari jauh. "Saya mau pesan nasi ayam goreng tambah sambel tiga puluh sama teh manis nya juga tiga puluh."
"Ada lagi, pak?" tanya Mora sembari memeriksa kembali jumlah pesanan yang diketiknya.
Barul menggeleng. "Cukup itu aja... Oh iya itu semua saya take away ya."
"Baik, pak. Sudah aman semuanya saya catat," ucap Mora yang langsung memandang mesin print kecil yang berada di samping tablet. Struk pembayaran langsung diserahkan kepada Barul. "Totalnya udah dipotong diskon ya, pak."
"Wah kalian ini baik sekali. Kalian tau siapa saya tapi kalian tetap memberikan saya potongan harga. Terimakasih loh," ucap Barul sembari mengeluarkan dompet nya dari dalam jas.
Daryata tersenyum hormat. "Memang sudah ketentuannya begitu, pak. Semuanya pasti senang kalo dapat potongan harga."
Barul tertawa sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya karena total pesanan yang harus dibayar cukup dengan uang cash yang ada di dompetnya. "Termasuk saya. Saya senang sekali kalo dapat potongan harga," ucapnya sembari memberikan beberapa lembar uang tadi ke Mora yang matanya langsung berbinar.
Uang kembalian yang nominalnya besar yaitu lima puluh ribu langsung diulurkan oleh Mora kepada Barul. "Ini pak, kembaliannya," ucapnya dengan sopan.
Barul tidak menerima uluran uang itu. "Seperti biasa, buat kamu aja kembaliannya, Mora," ucap Barul.
"Makasih banyak, pak," ucap Mora dengan sangat bahagia karena bisa mendapatkan uang bukan hasil mencuri.
"Sama-sama," balas Barul. Kemudian Barul menoleh ke arah Adeline yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan tulus dan senyum yang mengembang di wajahnya. "Itu karyawan baru mu, ta?" tanyanya kepada Daryata.
Daryata lantas mengangguk. "Iya karyawan baru saya, pak."
"Pantas saya baru melihat," ucap Barul sembari menatap Adeline yang membalas dengan tatapan ramah. Barul melambaikan tangannya menyuruh Adeline untuk menghampiri nya.
"Saya pak?" tanya Adeline menunjuk dirinya sendiri memastikan kebenaran. Lalu Adeline pun melangkah mendekat ke arah Barul ketika pertanyaannya sudah dijawab dengan anggukan oleh Barul. "Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Adeline lagi ketika sampai di hadapan Barul.
Selembar uang bernilai lima puluh ribu langsung diulurkan oleh Barul kepada Adeline. "Buat kamu biar tambah semangat kerjanya."
Adeline menoleh sebentar ke arah Daryata mengisyaratkan minta jawaban untuk menerima atau tidak uang itu.
"Gak usah nanya Daryata, nak. Langsung ambil aja, daripada malah diambil duluan sama Daryata," ucap Barul yang masih menyodorkan uang bernilai lima puluh ribu tadi dengan ucapannya bercanda mengenai Daryata yang sudah akrab dengannya.
Adeline pun langsung menerima uang yang sangat berharga untuknya saat ini. Uang itu akan digunakannya untuk biaya transportasi bulak-balik ke rumah sakit tempat sahabatnya dirawat. "Terimakasih banyak, pak. Semoga Tuhan membalas dengan yang lebih lagi."
"Amin. Saya senang sekali kalo ada yang mendoakan saya seperti barusan. Terimakasih, Ayline," ucap Barul yang baru saja mengetahui nama Adeline yang menggunakan nama pemilik raganya.
Adeline tersenyum. "Terimakasih kembali, pak."
"Yaudah kalau begitu saya tinggal dulu ya pesanan saya, Daryata. Saya mau beli yang lain dulu ke sebrang," ucap Barul kepada Daryata.
"Mari saya antarkan sampai mobil, pak," ucap Daryata yang langsung beranjak melangkahkan kakinya duluan dengan senang hati mengantarkan pelanggan setianya itu.
"Hati-hati, pak," ucap Adeline dan Mora berbarengan membuat mereka lantas menoleh berbarengan juga, lalu tertawa kecil berbarengan.
"Kasihan ibu Gita di dapur sendirian masak semua pesanan pak Barul. Kalo gak ada pembeli lagi aku sangat mau membantu ibu," ucap Adeline menatap ruang di belakang Mora yang sedikit terlihat karena gorden tidak sepenuhnya tertutup.
Mora menggeleng sembari menghitung kembali jumlah uang yang diterimanya tadi dari pak Barul. "Itu udah tanggung jawab Gita. Biarin aja. Udah kamu ke toilet aja sekarang sebelum pesanan pak Barul jadi. Tadi kan kamu belum sempet."
"Oh iya aku sampai lupa mau ke toilet. Aku permisi dulu ya, bi," ucap Adeline yang langsung menuju ke kamar mandi.
Tidak akan ada lagi aksi pencurian uang yang dilakukan Mora, karena uang yang diberikan oleh Barul cukup membuatnya puas sehingga tidak perlu mencuri uang saudari nya. Kedai kembali tenang hanya tinggal menunggu pesanan matang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments