Adeline kini melangkahkan kakinya menuju arah pulang. Matanya berbinar menatap nametag bertuliskan nama Ayline Namora Ilza yang ada di genggaman kedua tangannya. Diusapnya nama pemilik raga itu, lalu nametag diangkat setinggi kepalanya.
"Aku bahagia sekali," katanya sembari menatap laki-laki yang berjalan di sebelah kirinya.
Rebyano hanya menunjukkan ekspresi wajah datar. "Biasa aja. Hanya sekedar nametag apa yang bisa jadi alasan untuk bahagia?"
Adeline menghentikan langkahnya lalu menatap Rebyano. "Kalau saja tadi aku tidak ditabrak kamu, aku tidak akan mendapatkan nametag ini." Kemudian nametag itu disimpan di dalam tas selempangnya.
"Kamu sebahagia itu saya tabrak? Apa harus saya tabrak kamu terus agar kamu bahagia?" tanyanya dengan gerak-gerik yang ingin menyenggol Adeline menggunakan bahunya. Namun niat nya diurungkan. Tangan kanannya yang sebelumnya disembunyikan di dalam saku celana, kini digunakan untuk merangkul bahu Adeline.
Adeline digeser dari posisinya yang sebelumnya di kanan, kini menjadi di kiri setelah Rebyano menarik tubuhnya agar tidak tertabrak oleh sebuah motor yang melintas dengan kecepatan tinggi di samping mereka.
"Apa kah orang itu gila? Tidak melihat kah ada orang yang sedang berdiri di sini?" oceh Adeline menatap jalan kosong yang dilewati pengendara motor tadi.
"Sudah. Ayo jalan lagi, ini sudah hampir larut malam," kata Rebyano menunjuk bulan yang terang di atas mereka.
Perjalanan mereka pun berlanjut. Langkah kecil Adeline membuat Rebyano sedikit gemas karena biasanya dengan langkahnya yang besar itu cukup memakan waktu beberapa menit saja untuk Rebyano dapat sampai ke tempat tujuan.
Rebyano sengaja mengajak Adeline jalan untuk pulang. Bukan karena tidak ada ongkos transportasi, namun ingin lebih banyak berbincang.
"Sebelum kerja di kedai saya, kamu pernah punya pengalaman kerja apa?" tanya Rebyano tiba-tiba.
Adeline berpikir keras untuk menjawabnya. Pekerjaan apa yang telah Ayline lakukan Adeline jelas tidak tahu. Malah salah satu pekerjaan yang pernah dia kerjakan di dunia asalnya muncul tiba-tiba dipikirannya. "Membersihkan kotoran kuda," jawabnya dengan suara kecil karena malu dan ragu.
Walaupun suara itu sangat kecil namun dengan jernihnya pendengaran Rebyano, dia masih bisa mendengarnya. "Membersihkan kotoran kuda? Kamu pernah melakukannya?" tanyanya memastikan dengan sedikit tertawa.
"Kamu jangan tertawa, aku malu." Adeline menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ekspresi Rebyano langsung kembali datar. "Selain itu? Tadi saya lihat kamu jago sekali mengantarkan pesanan pembeli tanpa ada yang jatuh satu pun."
Adeline membuka telapak tangannya. "Kalo aku bilang aku pernah jadi babu apa itu pekerjaan?" tanyanya.
"Babu?" Rebyano bingung dengan kata itu. "Maksud kamu asisten rumah tangga?"
Kini bergantian Adeline yang bingung. Adeline tidak tahu apa itu asisten rumah tangga. "Pembantu tanpa dibayar," katanya menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.
Rebyano terkejut. "Kamu pernah bekerja tanpa dibayar? Kenapa kamu mau bekerja dengan orang jahat?"
Adeline mengulum bibirnya. Dia bingung bagaimana cara menjelaskannya. Dia juga tidak enak hati mendengar kata orang jahat. Karena yang bisa dimaksud dari kata itu adalah Raja atau ayah kandungnya.
"Emmm... Bukan begitu maksudnya." Adeline menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Pokoknya aku mengantarkan hidangan makan pagi, siang, dan malam selama tiga bulan tanpa dibayar. Seperti itu. Tidak ada orang jahat kok."
"Lalu? Kamu sukarela mengerjakannya?"
Adeline mengangguk. "Itu pun karena aku melakukan kesalahan, jadi aku harus dengan sukarela mengerjakan itu semua."
"Kamu aneh," kata Rebyano membuat Adeline hanya tersenyum kikuk.
Rebyano tidak akan mengerti maksud Adeline.
Sebuah warung kelontong yang masih buka membuat Adeline menghentikan langkahnya. Kesempatan bagus buatnya mengalihkan pembicaraan saat ini. "Aku akan ke situ terlebih dahulu." Adeline menunjuk warung itu. "Dari sini rumah ku sudah dekat. Kalau kita berpisah di sini sekarang tidak apa-apa," lanjutnya.
Rebyano menggeleng. "Saya akan mengantarkan kamu sampai depan rumah kamu."
Laki-laki itu sangat menepati janjinya untuk melindungi Adeline selama perjalanan pulang.
"Yasudah tunggulah sebentar di situ. Aku tidak akan lama membeli barang-barang yang ingin dibeli," ujar Adeline sembari menunjuk bangku panjang yang terbuat dari kayu yang ada di depan warung itu.
Rebyano menuruti perintah Adeline. Laki-laki itu duduk dengan tenang di kursi kayu yang ditunjuk Adeline tadi. Kakinya diluruskan untuk meredakan pegal yang sedikit terasa.
Wilayah yang cukup asing buat Rebyano ini menjadi pemandangan yang tertangkap di mata Rebyano. Wilayah yang sepi dan cukup gelap membuat rasa cemas terhadap keselamatan Adeline ke depannya timbul secara tiba-tiba di dalam hatinya.
Banyak kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi di sini ketika suasananya seperti ini. Rebyano takut jika kejahatan itu terjadi pada perempuan yang lebih dia kenal namanya adalah Ayline. Namun Ayline hanyalah nama. Rebyano sebenarnya khawatir dengan sosok Adeline yang menurutnya sedikit polos.
Terlalu memikirkan banyak hal dalam beberapa menit menunggu Adeline belanja, sehingga Rebyano tidak sadar jika Adeline kini ikut duduk di sebelahnya.
"Buat kamu," ucap Adeline sembari menyodorkan sebotol minuman bersoda yang tutupnya sudah dibuka.
Rebyano menerima minuman itu. "Terimakasih," katanya.
Setelah Rebyano meneguk setengah botol minuman bersoda itu, mereka kembali melanjutkan jalan ke rumah Ayline yang sudah mulai terlihat.
Kini mereka pun menghentikan langkahnya bersamaan di depan pagar putih yang masih terkunci.
Sebuah motor yang baru datang ikut berhenti di depan rumah itu. Agatha yang duduk di belakang pengendara motor itu menjadi sesuatu yang membuat Adeline tersenyum.
Dengan cepat Agatha langsung membayar jasa ojek online itu kepada laki-laki yang mengantarkannya sampai sini dengan selamat.
"Rebyano?"
Bukan Adeline terlebih dahulu yang disapa, Agatha justru salah fokus dengan Rebyano yang masih berdiri di samping Adeline.
Rebyano mengangguk lalu tersenyum. "Hai mba."
Agatha memukul lengan Rebyano dengan pelan. "Mba, mba. Panggil gue baginda ratu!"
"Baik ratu kodok."
Keduanya tertawa dengan riang. Sementara Adeline hanya bisa menyimak dengan senyum tipisnya. Adeline tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka sehingga mereka dapat berbincang layaknya teman yang sudah bertemu lebih dari sepuluh tahun lamanya.
"Ngapain lo di sini? Ada urusan apa sama temen gue?" tanya Agatha yang kini menjadi penengah diantara Rebyano dan Adeline.
"Cuma nganterin Ayline sampai rumah dengan selamat aja. Oh iya Ayline sekarang kerja di kedai Al."
Agatha terkejut bukan main. "Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya? Kok orang tua lo sampe mempekerjakan Ayline?"
"Panjang ceritanya, tha," jawab Adeline dengan senyum manis nya yang kini ditatap kagum oleh Agatha.
"Lo sih sekarang sombong udah gak mampir lagi ke kedai gue, jadi gak tau kan kalo kedai gue sekarang rame sampe butuh orang lagi buat bantu ngurus kedai," ucap Rebyano membuat Agatha mengubah ekspresi wajah nya menjadi kesal.
Laptop yang berada di tangannya langsung dipeluk oleh Agatha. "Gue sibuk," katanya sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke laptop itu.
"Semoga segera beneran sibuk. Bukan sibuk gak ngapa-ngapain," ucap Rebyano.
Raut wajah kesal tambah terlihat di wajah Agatha. Laptop yang dipeluknya hampir saja digunakan untuk memukul Rebyano. "Ngeledek mulu lo."
"Loh gue gak ngeledek," katanya. "Saya kan ngedoain yang baik ya untuk Agatha?" tanya nya kepada Adeline.
Adeline hanya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawabannya.
"Dih saya-saya. Kayak bapak-bapak aja gaya ngomong lo," cibir Agatha untuk Rebyano.
Rebyano menarik sedikit ujung bibirnya ke atas sehingga menghasilkan suara tertawa remeh. "Suka-suka gue."
"Maaf, apa kalian masih mau ngobrol di sini?" tanya Adeline sembari membenarkan plastik besar yang membungkus sembako yang dibelinya tadi. Sembako itu cukup berat. Adeline bisa pegal jika masih harus menunggu dua orang di depannya itu mengobrol. "Kalau iya aku, eh gue, eh ah aku atau gue mau masuk duluan ke dalam rumah."
Agatha dan Rebyano pun akhirnya sadar dengan Adeline yang sebenarnya tidak enak hati untuk bertanya seperti tadi.
"Ah lo sih ngajak gue ngobrol mulu," ucap Agatha kepada Rebyano yang tidak terima dianggap bersalah. Agatha pun langsung beranjak untuk membuka pagar rumah.
Adeline menatap Rebyano. "Terimakasih ya kamu sudah mengantarkan aku dengan selamat sampai di sini."
"Dadah Rebyano, sampai bertemu kapan-kapan kalo gue udah gak sibuk," ucap Agatha yang berdiri di ambang pagar. Tangannya melambai sebagai salam perpisahan kepada Rebyano lalu melambai sebagai tanda ajakan kepada Adeline. "Ayo masuk, lin!"
"Biar saya yang bawa itu ke dalam." Rebyano menghentikan pergerakan Adeline yang ingin masuk ke dalam rumah. Dia menunjuk plastik besar berisi sembako yang digendong Adeline.
Adeline menggeleng. "Tidak perlu, Rebyano. Aku bisa."
"Kamu bawa ini aja," lanjut Rebyano sembari menyodorkan satu bungkus makanan yang diberikan oleh ibu pemilik kedai yang sebelumnya tidak memperbolehkan Adeline untuk langsung pulang setelah membersihkan meja-meja kedai. Selama di perjalanan tadi Rebyano lah yang membawakan makanan itu.
Agatha kembali melangkahkan kakinya menghampiri dua orang yang baru saja bertemu beberapa jam yang lalu itu. "Sini biar gue yang bawa," katanya dengan mengambil alih sembako dari gendongan Adeline.
Padahal Adeline bisa membawanya sendiri. Tapi dua orang di depannya itu terlalu memanjakannya.
"Ayo masuk, lin!"
Adeline menerima uluran makanan buatan ibunya Rebyano. "Sekali lagi terimakasih banyak. Pulangnya hati-hati ya, Rebyano. Besok kita bertemu lagi di kedai."
Anggukan dan senyuman dari Rebyano membuat Adeline ikut tersenyum. "Saya pamit. Selamat malam," pamitnya kepada Adeline dengan suara yang pelan dan lembut.
Perlahan kaki Rebyano melangkah mundur. Tangannya terangkat untuk melambai pada perempuan yang menatapnya datar. "Gue pulang, tha. Good night!" pamitnya kepada Agatha dengan sedikit berteriak.
"Hati-hati!" balas Agatha yang juga sedikit berteriak.
Perpisahan diantara tiga orang yang kini saling mengenal satu sama lain terlihat begitu dramatis. Rembulan yang terang di atas sana pun menjadi saksi bisu mulainya kedekatan hubungan ketiganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments