Seharusnya kebahagiaan yang didapatkan, Adeline, Agatha, dan Rebyano. Tapi nyatanya malah musibah yang harus mereka dapatkan dari naik wahana yang sangat menarik perhatian mereka. Tapi tidak hanya mereka, 19 orang lainnya yang juga naik wahana itu harus terdampar dengan luka di tubuhnya.
Adeline membuka matanya perlahan setelah merasakan dia masih tetap sadar dari musibah itu. Beberapa orang perempuan di sampingnya yang menangis karena teman mereka tidak sadarkan diri membuat hati Adeline ikut merasakan sedihnya. Namun Adeline dengan cepat beralih menoleh ke samping kirinya setelah mengingat bahwa dua temannya juga terkena musibah itu.
Rebyano menepuk-nepuk pipi Agatha dengan pelan sembari menahan kepala Agatha menggunakan sebelah tangannya. Perempuan itu memejamkan mata dan tidak berbicara apa-apa membuat Adeline kini panik melihatnya.
"Agatha." Adeline menghampiri Agatha dan Rebyano dengan jalan sedikit menunduk agar tidak terpentok oleh besi-besi wahana yang telah tumbang itu. "Agatha bangun." Tangan Adeline mengusap dan juga menepuk-nepuk kecil lengan Agatha.
"Kepala Agatha kebentur batu itu," kata Rebyano sembari menunjuk batu besar yang tidak jauh di depannya. Kemudian jari telunjuk Rebyano di dekatkan ke hidung Agatha. "Pingsan Agatha nya, lin," lanjutnya dengan tangannya kembali menepuk pipi Agatha dengan pelan.
Adeline berdiri, kepalanya dapat berhasil mendapatkan celah dari kayu kora-kora itu untuk melihat petugas wahana yang sedang sibuk mengamankan satu persatu orang-orang yang tidak sadarkan diri. "Pak, tolong bantu teman saya. Teman saya pingsan, pak," teriaknya membuat satu petugas menghampirinya.
"Mohon maaf, tunggu sebentar ya mba. Kami lagi mencari celah untuk masuk ke situ," kata petugas wahana.
"Cepat, pak. Kasihan teman saya," teriak Adeline lagi kepada petugas tadi yang menghiraukannya untuk menolong yang lain. "Gimana sih? Kok gak ada yang ke sini." Adeline menggigit kuku tangannya yang terlupa kalo kukunya itu kotor, sehingga dengan cepat Adeline melepas lagi tangannya.
"Ayline!"
Adeline menoleh kembali ke celah dari kayu kora-kora itu. Terlihat Kalandra mendekat ke arahnya. "Kalandra, tolong bantu teman saya." Adeline memohon bantuan dari Kalandra tanpa peduli orang yang diminta tolong nya itu adalah orang yang bajunya pernah dia tumpahkan dengan minuman.
"Kondisi kamu gimana, Ayline?" tanya Kalandra yang panik hanya bisa melihat wajah Adeline yang terdapat goresan luka di dahinya.
Adeline menggeleng bingung. "Kamu jangan tanyakan kondisi saya dulu. Saya gak tau gimana keadaan saya sekarang. Tapi tolong bantu teman saya dulu, Kalandra."
Kalandra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya iya, sebentar saya ke situ," ucap Kalandra yang langsung beranjak ke arah petugas wahana yang berusaha masuk ke balik kora-kora yang terbalik itu.
Dengan gelisah berharap Kalandra dapat cepat menghampirinya, Adeline beralih menoleh ke Rebyano yang kini menenangkan Agatha yang sudah membuka matanya. "Agatha. Tahan sebentar ya, Kalandra lagi ke sini buat bantu kita."
Agatha mengangguk dengan lemah. Sedangkan Rebyano menatap Adeline bingung mengapa bisa sampai ada Kalandra yang akan membantunya sembari tangannya menyingkirkan rambut Agatha yang menghalangi wajahnya.
"Ayline!"
Adeline menoleh kembali ketika dua orang laki-laki memanggil nama pemilik raganya yang mirip dengan namanya. Kalandra bersama Agra yang mengekori Kalandra untuk membantu Ayline pun kini terlihat setelah seorang perempuan pingsan yang dilihat Adeline tadi sudah diangkat keluar dari tempat itu.
"Kamu ada yang terluka parah gak, nak?" tanya Agra yang tangannya menangkup lengan Adeline. Dilihatnya Adeline dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan tidak ada luka yang parah di sana.
Adeline menggeleng. "Tolong bantu teman saya."
Khawatir Agra untuk Adeline, tapi khawatirnya Adeline sekarang hanya untuk Agatha yang dibawa Rebyano dan dibantu dengan Kalandra ke bagian tempat yang tidak ada besinya agar lebih mudah untuk diangkat.
Agra dengan bimbang pun akhirnya memilih untuk menghampiri Agatha yang tubuhnya masih lemas diekori dengan Adeline yang ikut berjalan dengan sedikit membungkuk. "Agatha biar saya yang bawa," ujar Agra.
"Saya bisa sendiri," balas Rebyano dengan ketus membawa tubuh Agatha yang sudah digendong untuk keluar dari tempat itu.
Sorot mata Kalandra langsung menatap Adeline dan Agra. "Pak Agra jalan duluan aja bantuin mereka ke mobil saya. Ayline biar saya yang bantu," ujar Kalandra yang langsung merangkul Adeline.
Agra mengangguk menuruti perintah dari tuan muda yang dijaganya. Kemudian Kalandra dan Adeline mengekori Agra keluar dari tempat itu juga.
"Mba nya sini saya bantu." Petugas wahana yang tadi mengabaikan permohonan tolong Adeline tiba-tiba berucap seperti itu ketika Adeline bersama dengan Kalandra sudah hampir berhasil keluar dari kora-kora yang terbalik itu.
"Gak perlu. Saya sama teman saya aja," ucap Adeline dengan teman yang dimaksudnya adalah Kalandra yang masih membantunya berjalan.
Mereka pun lanjut jalan keluar membuat petugas wahana tadi bingung harus melakukan apa.
"Teman yang kamu maksud itu saya?" tanya Kalandra ketika mereka sudah tidak lagi berjalan sembari sedikit membungkuk.
Adeline mengangguk. "Maaf. Saya gak tau harus nyebut kamu dengan apa."
Kalandra tertawa. "Gapapa. Tapi saya tadi kaget aja dikit. Soalnya kan kita bukan teman. Jangankan teman, kenalan satu sama lain aja belum," ucap Kalandra dengan langkahnya yang hati-hati melangkahi batu-batu besar yang ada di lapangan luas itu. "Eh tapi tadi kamu manggil nama saya. Kamu udah kenal saya?"
"Loh tadi kamu juga manggil nama saya. Berarti kamu juga udah kenal saya?" tanya Adeline balik membuat Kalandra menutup mulutnya dengan rapat.
"Saya tau nama kamu dari name tag yang kamu pakai setiap kerja. Sedangkan kamu? Kamu tau nama saya dari mana? Saya gak pernah pakai name tag ketika ke tempat kamu bekerja." Cepat sekali Kalandra menemukan alasan. Padahal Kalandra tau nama Ayline dari Agra yang terus menyebut nama anak nya. Perihal name tag, Kalandra tau orang-orang yang bekerja di kedai Al pasti memakai name tag.
Adeline menampakkan deretan giginya yang rata kepada Kalandra yang menatapnya balik. "Saya tau nama kamu dari ibu Gita pemilik kedai Al."
"Wah ternyata kalian membicarakan saya," ucap Kalandra dengan menampakkan raut wajah seperti kecewa membuat Adeline menatap laki-laki itu dengan panik.
"Engga bukan begitu maksudnya."
Kalandra tersenyum kecil lalu membantu Adeline untuk masuk ke mobil dan membantu Adeline duduk di kursi penumpang tengah tepatnya di samping Agatha yang bersandar pada Rebyano. Sedangkan Agra yang memperhatikan mereka duduk sendirian di kursi penumpang paling belakang.
"Kalandra, saya gak bermaksud seperti itu ya," ucapnya lagi kepada Kalandra yang perlahan menutup pintu mobil di samping kiri Adeline tanpa membalas ucapan Adeline.
Membutuhkan waktu sekitar hampir satu menit untuk menunggu Kalandra yang lebih dulu membeli beberapa botol minum membuat Adeline terus menatap laki-laki itu.
Bruk!
Kalandra menutup pintu mobil setelah duduk di kursi penumpang depan sembari meletakkan kantong plastik yang di dalam nya ada beberapa botol air mineral tadi. Kemudian mobil pun langsung beranjak dari pasar malam yang keadaanya sudah kacau.
Air mineral yang dibeli Kalandra tadi langsung diberikan satu persatu kepada tiga orang di belakangnya. Rebyano menerima dua botol air mineral untuk dirinya sendiri dan untuk Agatha. Sementara Adeline tidak menerima uluran air mineral dari Kalandra.
Melihat bibir Adeline yang sedikit dimanyunkan membuat Kalandra tertawa kecil. "Saya gak marah, saya cuma bercanda. Nanti kita bicara lagi ketika sampai di rumah sakit."
Adeline pun tersenyum kecil kemudian menerima uluran air mineral yang ada di tangan Kalandra. "Terimakasih," katanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments