Ini saatnya hari pembalasan untuk takdir Ayline maupun Adeline. Map coklat berisi surat lamaran kerja dibawa oleh Adeline yang kini melangkahkan kakinya di trotoar jalan Halmahera. Walaupun sudah tiga tempat pekerjaan menolak lamaran kerja Adeline, namun Adeline tidak menyerah untuk mencari tempat pekerjaan yang sedang membuka lowongan kerja.
Adeline tentu tidak sendirian di jalan itu. Banyak pejuang nafkah yang juga berjalan di jalanan itu sembari sibuk dengan handphone nya masing-masing. Namun Adeline lebih fokus pada langkahnya sembari menikmati indahnya kota yang dipijaknya.
Kebebasan menyertai Adeline untuk saat ini. Dia bebas untuk berjalan dengan gaya apapun di jalanan itu tanpa diikuti oleh prajurit yang tegas. Dia bebas mengenakan pakaian santai namun sopan tanpa harus menggunakan gaun yang membatasi pergerakannya.
Toko minuman yang gak jauh dari Adeline menjadi objek yang membuat Adeline ingin membeli kopi dingin di sana. Namun Adeline sadar, uang yang tersisa di dompet Ayline hanyalah cukup untuk biaya transportasi pulang nanti.
"Suatu hari aku akan membeli kopi dingin di sana bersama Agatha," janjinya kepada diri sendiri.
Adeline melanjutkan langkahnya dengan riang. Tikungan yang sebentar lagi berada di hadapannya membuatnya bingung harus kemana. Sehingga Adeline lebih dulu untuk menghentikan langkahnya di tengah-tengah orang berlalu-lalang.
Namun sial harus menimpa Adeline lagi.
Bruk!
"Ah maaf." Seorang laki-laki berpakaian santai namun rapi menabrak Adeline karena laki-laki itu berlari dari sebelah kiri dan tidak tahu kalau ada Adeline yang sedang berhenti.
Adeline yang sedang menetralkan pandangannya yang tiba-tiba memburam pun meluruskan tangan ke depan berharap orang itu menolongnya agar tidak ambruk di situ.
Syukurlah laki-laki itu peka dengan isyarat yang diberikan oleh Adeline. Laki laki itu langsung menahan Adeline yang sempoyongan. "Kamu gapapa?" tanyanya.
"Apa kamu tidak bisa berjalan dengan benar?" tanya Adeline balik dengan nada yang sedikit tinggi. Netra matanya tersorot menatap tajam laki-laki di depannya. "Aku sebesar ini masih kamu tabrak, apa kamu tidak melihat aku?" Bahasa baku yang digunakan di dunia asalnya jadi terlontarkan lagi sekarang.
Laki-laki itu nampak gelisah, namun dia memilih untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya saat ini terlebih dahulu. "Kita duduk di sana dulu apa kamu mau?" tanya nya sembari menunjuk bangku pinggir jalan yang kosong.
Adeline mengangguk. Adeline jalan duluan diekori oleh laki-laki yang tidak dikenalnya itu.
Laki-laki itu mengeluarkan botol minum berisi teh hangat dari dalam tas nya. Dia menyerahkannya kepada Adeline. "Minum dulu."
Adeline lebih dulu untuk mencium aroma minuman itu. "Tidak ada racunnya kan?" tanyanya dengan rasa curiga.
"Itu teh saya buatkan untuk diri saya sendiri. Jika saya tidak bertemu dengan kamu sekarang, berarti saya akan mati jika ada racun di dalam minuman itu," jawab laki-laki itu dengan lembut. Entah memang gaya bicaranya yang lembut atau itu salah satu caranya agar di antara mereka tidak ada menimbulkan emosi.
Dengan ragu pun Adeline meneguk teh itu karena dia benar-benar butuh minum untuk menetralkan kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Setengah botol teh itu diminum oleh Adeline. Entah karena memang benar-benar butuh minum atau keenakan dengan rasa teh yang nikmat itu.
Dikembalikannya botol itu ke pemiliknya. "Terimakasih," katanya.
Laki-laki itu mengangguk lalu mengambil sesuatu di dalam saku bajunya. Nametag bertuliskan Rebyano Al Bara menjadi hal yang disalahfokuskan oleh Adeline. Ternyata Rebyano nama laki-laki itu.
Fokusnya pun terbuyarkan oleh Rebyano yang mengulurkan dua lembar tisu. "Untuk lap keringat kamu."
Dret!
Dret!
Rebyano mengambil handphone nya yang berdering di dalam saku celananya.
"Heh anak curut. Dimana kamu sekarang?" Suara seorang laki-laki dari sebrang telpon terdengar nyaring. Rebyano langsung buru-buru menekan tombol volume yang bawah untuk mengurangi suara telpon nya.
"Saya masih di jalan, ayah. Hampir sampai, tunggu lah sebentar."
"Ajak seseorang? Siapa?"
Adeline memilih diam sembari mengelap keringat nya. Dia tidak memperdulikan laki-laki di sebelahnya yang sibuk berbincang dengan seseorang di telpon nya.
"Di samping saya?" Rebyano menoleh pada Adeline. Merasa dirinya ditatap oleh laki-laki di sebelahnya, Adeline pun menatap balik Rebyano dengan raut wajah nya yang bingung, sebelah alis nya terangkat. "Saya tanyakan dulu ya, ayah... Iya secepatnya saya ke sana."
Tut!
Sambungan telfon terputus. Rebyano memasukkan handphone nya ke dalam saku celananya kembali. "Kamu lagi butuh pekerjaan?" tanyanya sembari melirik sedikit ke arah map coklat yang ada di tangan Adeline.
Adeline mengangguk lalu mengangkat map coklat yang dipegangnya. "Tapi belum ada yang nerima."
"Bagaimana kalo kamu ikut dengan saya? Kedai ayah saya sedang membutuhkan seseorang untuk mengantarkan pesanan pembeli. Apa kamu mau?"
Tawaran menarik.
Namun raut wajah Adeline menunjukkan keraguan. Ada pertanyaan dalam hatinya yang tidak enak untuk ditanyakan.
"Perihal imbalan, saya yakin ayah akan membayar sesuai kinerja kamu selama kamu bekerja."
Peka sekali laki-laki ini!
Adeline tersenyum lalu mengangguk. Dengan senang hati dia menerima pekerjaan itu. Rezeki tidak boleh ditolak.
Dengan cepat Rebyano menarik Adeline untuk berlari ke kedai ayahnya. Adeline yang terkejut pun akhirnya terpaksa menyeimbangkan badannya yang ikut berlari sepanjang trotoar jalan Halmahera itu.
Orang-orang yang dilewati mereka terlihat seperti bayangan. Banyak orang yang terpaksa menyingkir agar tidak tertabrak oleh mereka.
Dua tikungan telah mereka lewati sampai akhirnya kini mereka menginjakkan kakinya di depan kedai Al. Kedai nuansa klasik yang ramai pengunjung menjadi objek baru yang dilihat oleh Adeline.
"Ramai sekali," ucap Adeline sembari mengatur napas nya yang terengah-engah
Rebyano mengangguk sembari mengatur napas nya juga. "Makanya saya ajak kamu ke sini. Ayah butuh bantuan seseorang selain saya dan ibu."
"Dimana ayah kamu?"
Jari telunjuk Rebyano menunjuk lurus laki-laki paruh baya yang sedang membawa pesanan pembeli dengan nampan hitam nya. "Di sana."
Yang ditunjuk merasa sedang diperhatikan pun langsung mencari dimana orang itu. Laki-laki paruh baya itu menunjuk balik Rebyano setelah pesanan pembeli sudah tertata rapi di atas meja. "Cepat ke sini!"
Rebyano menarik Adeline lagi untuk menghampiri ayahnya.
"Siapa dia?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan berbisik di telinga Rebyano.
"Tadi ayah meminta saya untuk mengajak seseorang di samping saya. Yang ada di samping saya hanya dia," katanya sembari menunjuk Adeline yang tersenyum kaku. "Kebetulan dia juga sedang membutuhkan pekerjaan, jadi saya ajak dia ke sini."
Laki-laki paruh baya itu paham. Dia tersenyum ke arah Adeline. "Kamu bantu ibu duluan sana," katanya kepada Rebyano.
Anak yang baik itu langsung mengangguk. Dia tersenyum tipis kepada Adeline sebelum meninggalkannya bersama sang ayah.
Laki-laki paruh baya di depan Adeline mengulurkan tangan kanannya. Dengan cepat Adeline meraih uluran tangan itu dengan tangan kanannya.
"Saya Daryata Al Bara, pemilik kedai ini sekaligus ayah dari Rebyano," ucapnya memperkenalkan diri.
Adeline tersenyum manis dan mengangguk kecil. "Nama saya Ayline Namora Ilza, pak." Adeline mengenalkan dirinya dengan nama pemilik raganya karena nama itu lebih resmi tercantum di dunia ini.
"Kamu serius ingin bekerja di kedai saya?" tanya Daryata.
Adeline mengangguk lalu menunjukkan map coklat berisi surat lamaran kerja. "Saya sedang membutuhkan pekerjaan pak," ucapnya lalu menampakkan deretan giginya.
Map coklat itu diambil Daryata. Beberapa lembar lamaran kerja di beberapa perusahaan masih ada di dalam map itu. Ada yang sudah tertolak, ada yang belum diserahkan ke perusahaan tujuan.
Daryata tersenyum. "Tidak ada tujuan buat ke kedai ini ya."
Panik bukan main Adeline saat ini. "Maaf pak. Saya akan segera buatkan dan serahkan ke bapak."
"Ha.. Ha.. Ha.. Tidak perlu, nak. Ini hanya kedai biasa yang dibangun oleh saya. Saya tidak perlu surat lamaran kerja kamu, yang saya butuhkan hanya kejujuran dan tanggung jawab kamu untuk kerja di sini."
Lega. Adeline tersenyum lalu mengangguk kecil. "Saya janji akan jujur dan bertanggung jawab atas apa yang saya kerjakan, pak."
"Saya suka yang seperti ini." Lembaran kertas yang tadi dikeluarkan kini dimasukkan kembali ke dalam map. "Mulai sekarang kamu bantu keluarga saya di kedai ini ya."
Mata Adeline berbinar. Semudah itu dia mendapatkan pekerjaan. Tak menyangka hari ini benar-benar hari keberuntungan untuk nya. "Terimakasih pak!" Adeline membungkukkan badannya memberi tanda hormat.
"Panggil saja saya ayah dan istri saya yang di dalam sana panggil saja ibu, ya. Anggap lah kami seperti keluarga."
Adeline mengangguk. Senang bukan main perasaanya bertemu dengan orang sebaik ini.
Adeline berjanji akan menjadi yang terbaik sekarang. Adeline berhasil membuktikan tekad nya untuk mendapatkan pekerjaan hari ini.
Selamat Adeline.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
tsuraya kenko
lanjut... lanjut... lanjut
2023-11-11
1