Pagi hari yang tidak ada suara Agatha bernyanyi di dalam kamar mandi membuat Adeline merasa kesepian di dalam rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil itu.
Kini Adeline berada di dalam ruangan yang di pintunya terdapat tulisan nama perempuan baik yang dikenalnya di dunia ini. Di dalam ruangan itu Adeline berkutik di meja rias mencari charger yang Agatha minta bawakan ke rumah sakit selain pakaian tidurnya.
Ketika Adeline membuka laci meja itu, Adeline langsung menemukan sebuah charger berwarna putih yang merek nya sama dengan merek handphone Agatha. Namun ketika Adeline ingin menutup laci itu, Adeline malah menemukan sebuah amplop yang terbuka hingga memunculkan sebuah polaroid yang menampakkan gambar Agatha dan Rebyano yang berdiri dengan tangan mereka yang menjulur ke atas membentuk sebuah hati.
Hati dan pikiran Adeline pun berperang. Pikirannya bilang lihat saja foto itu baru nanti minta maaf kepada Agatha, tapi hatinya bilang jangan berprilaku tidak sopan karena mengambil barang seseorang tanpa izin terlebih dahulu. Namun keduanya kalah dengan tangan Adeline yang dengan tidak sopannya langsung mengambil amplop tadi.
Ternyata tidak hanya satu polaroid yang ada di dalamnya. Foto yang berpose membentuk hati itu menjadi yang pertama dari foto mereka berdua. Foto-foto selanjutnya diabaikan oleh Adeline lihat. Namun dua foto terakhir membuat Adeline termenung.
Tanggal cantik yaitu 28-08-2018 tertera pada salah satu polaroid itu. Pada foto itu terlihat Rebyano mencium kepala Agatha, sementara Agatha tersenyum dengan matanya yang tertutup dan tangannya yang memegang satu tangkai bunga mawar merah.
"Mereka berpacaran?" monolog Adeline mendekatkan polaroid itu ke wajahnya menatap foto itu dengan serius.
Move on dari polaroid yang satu itu, kini salah satu polaroid yang terdapat tanggal dan bulan yang sama namun tahun yang berbeda yaitu 28-08-2020 tertera di sana. Di foto itu terlihat Agatha dan Rebyano yang saling bertatapan dengan senyum yang terukir di wajah keduanya dan juga tangan mereka yang saling berpegangan erat. Adeline membalikkan polaroid itu untuk melihat latar polos pada belakang polaroid itu yang terdapat tulisan kecil di ujung kiri bawah.
"Karena lebih baik kita akhiri di sini," ucap Adeline membacakan tulisan itu. Dahi Adeline kini mengerut bingung apa maksud nya. "Mereka mengakhiri hubungan pacarannya?" tanyanya pada diri sendiri sembari membolak-balikkan polaroid itu.
Mau tidak mau, Adeline pun langsung melihat foto-foto lain yang diabaikan tadi. Beberapa polaroid itu ada yang memperlihatkan gambar Agatha dan Rebyano yang berada di suatu tempat dengan menggunakan pakaian rapi, lalu ada beberapa gambar yang memperlihatkan kebahagiaan mereka dengan menggunakan seragam sekolah, dan juga ada beberapa gambar Rebyano seorang diri dengan tangan Agatha yang membentuk setengah hati di pipi laki-laki itu.
Tring!
Suara notifikasi dari handphone yang berada di atas kasur Agatha membuat Adeline buru-buru memasukkan polaroid-polaroid tadi ke dalam amplop dan meletakkan nya kembali di tempat semula. Hati Adeline menjadi berdetak tidak nyaman setelah melihat foto-foto tadi. Rasa bersalahnya baru muncul ketika Adeline sudah melihat semuanya.
Pesan dari Rebyano yang memintanya untuk hati-hati dalam perjalanan ke rumah sakit pun membuat Adeline kembali fokus dengan barang-barang keperluan Agatha yang harus dibawanya.
"Agatha maafkan aku," monolog Adeline dengan buru-buru memasukkan charger berwarna putih yang dicarinya tadi ke dalam ransel yang sudah ada beberapa pasang baju tidur Agatha.
Tas itu berhasil ditutup sehingga Adeline kini langsung membawa nya keluar dari ruangan milik Agatha. Kemudian Adeline mengambil sebotol teh hangat yang dibuatnya tadi di dapur, setelah itu Adeline mengambil tas selempang yang selalu dibawa kerja yang diletakannya tadi di atas sofa ruang tamu, lalu Adeline pun langsung mengunci pintu rumah itu setelah kakinya terpasang kan oleh sepatu yang sering Adeline gunakan untuk kemana-mana.
Waktu pukul 07:00 yang tertera pada jam yang tertera di layar kunci handphone pun membuat Adeline lebih bergegas melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah. Adeline berbalik badan ketika dirinya. sudah berhasil mengunci pagar rumah Ayline. Kemudian Adeline bergegas ke jalan menuju jalan utama yang cukup jauh dari rumah itu.
Selama perjalanannya menuju jalanan utama, pikiran Adeline jujur tidak terlepas dari polaroid yang dilihatnya tadi. Adeline masih sangat amat terkejut dengan kenyataan bahwa Agatha mantan pacar dari Rebyano, yang Adeline kira mereka hanya dua orang yang sudah sahabatan sejak kecil. Adeline tidak tau apakah Ayline mengetahui atau tidak tentang mereka itu semasa hidupnya. Tapi yang Adeline pikirkan, mereka selalu bersikap layaknya teman biasa saja ketika Adeline ada di dekat mereka.
Adeline bergulat dengan pikirannya sendiri hingga tidak berasa kini langkahnya hampir sampai pada pos penjaga perumahan itu yang posisinya di samping jalan utama.
"Pagi neng Ayline." Seorang laki-laki berseragam hitam menyapanya dengan tangan kiri nya yang membawa secangkir kopi hitam dan sebungkus roti di tangan kanannya.
Adeline tersenyum. "Pagi, pak," balasnya dengan ramah dengan langkah kakinya yang langsung berhenti.
"Mau kemana bawa tas sampe dua begitu?" tanyanya melihat Adeline yang sedikit kesusahan membawa satu tas yang ada di punggung nya dan satu tas yang ada di lengannya.
"Mau ke rumah sakit, pak."
Laki-laki itu nampak terkejut. "Siapa yang sakit?" Lalu raut wajahnya tambah terlihat panik melihat plester yang ada pada dahi Adeline. "Eneng yang sakit? Sakit apa? Saya baru liat itu yang dijidat," tanyanya lagi sembari menunjuk plester yang baru digantinya yang menempel di dahinya.
"Bukan. Saya gapapa, pak." Adeline sedikit memiringkan badannya untuk mempelihatkan tas yang ada di punggung nya yang mungkin saja laki-laki itu dapat langsung mengenalinya. "Agatha yang sakit, pak."
"Ya ampun neng Agatha similikitiw." Laki-laki itu langsung meletakkan kopi hitam ke atas kursi yang ada di depan pos penjaga perumahan itu. "Sakit apa si neng Agatha?"
"Kita kemarin kecelakaan wahana kora-kora yang ada di pasar malam deket sini. Saya gapapa, tapi Agatha kebentur batu jadi kepala Agatha masih sering ngerasa pusing setelah kejadian itu."
"Saya sedih dengernya. Saya tau berita itu dari pak RT sini. Saya gak tau neng Ayline sama neng Agatha jadi korban itu. Maaf ya neng saya gak nolongin kalian," ucapnya dengan rasa bersalah mengetahui kabar dua perempuan muda yang sering bertegur sapa dengannya.
"Gapapa, pak. Minta doa aja untuk Agatha semoga cepat sembuh ya, pak."
Laki-laki itu mengangguk dengan antusias. "Pasti saya doakan. Tapi maaf juga ya saya gak bisa jenguk neng Agatha ke rumah sakit sekarang."
Adeline menggeleng. "Gapapa, pak. Saya titip rumah aja ya, pak. Soalnya lagi gak ada yang jagain banget."
"Siap neng, rumah neng bakal saya awasin terus setiap jam," balasnya dengan tangan yang bersikap hormat kepada Adeline.
Adeline tertawa kecil. "Yaudah pak, saya mau nunggu angkot, mau langsung ke rumah sakit," lanjut Adeline sembari membenarkan tali tas selempangnya yang perlahan menurun dari bahunya.
"Mari neng saya bantuin cari angkot buat ke rumah sakit," ujarnya dengan melangkah duluan ke pinggir jalan utama. "Eh ini buat neng Ayline makan di jalan," ucapnya sembari berhenti menghadap Adeline yang mengekorinya untuk memberikan sebungkus roti yang ada di tangannya.
Tangan Adeline menolak. "Gak usah, pak. Buat bapak celupin ke kopi aja."
"Masih ada lagi di dalam pos, ini buat neng aja," katanya sembari memaksa tangan Adeline untuk menerima roti itu.
Roti yang kini ada di tangan Adeline pun ditatap dengan senyuman lembut. "Makasih ya, pak," ucapnya membuat laki-laki di depannya membalasnya dengan senyuman juga.
Kemudian laki-laki itu berbalik badan lagi. "Rumah sakit mana, neng?" tanya nya yang terlupa Adeline akan ke arah mana.
"Harapan, pak," jawabnya.
Sebuah angkutan umum yang laki-laki itu jelas tau akan melewati rumah sakit yang disebutkan Adeline tadi pun langsung diberhentikan dengan isyarat tangannya yang melambai-lambai. "Lewat Harapan kan, bang?" tanyanya kepada supir angkutan umum itu yang langsung menjawabnya dengan anggukan.
"Saya permisi ya, pak," ucap Adeline yang berpamitan kepada laki-laki yang berseragam hitam tadi.
Adeline pun langsung masuk ke dalam angkutan umum itu yang sudah ada beberapa orang perempuan yang terlihat akan berangkat bekerja. Kemudian Adeline tersenyum manis kepada laki-laki tadi dengan angkutan umum yang ditumpanginya perlahan mulai meninggalkan pos penjaga itu.
Laki-laki berseragam hitam itu terus memperhatikan angkutan umum yang ditumpangi Adeline perlahan menghilang dari pandangannya. Kemudian laki-laki itu beralih kepada sebuah mobil hitam yang berbelok akan masuk ke perumahan itu.
"Selamat pagi, pak. Ingin ke rumah siapa?" tanyanya setelah mobil yang dilihatnya berhenti persis di depannya.
Laki-laki yang duduk di kursi penumpang samping supir pun menoleh. Dia adalah Kalandra. "Selamat pagi. Saya mau ke rumah Ayline Namora Ilza," jawabnya dengan sopan.
"Mohon maaf, tapi pemilik rumah nya barusan aja pergi naik angkot. Mungkin ada keperluan yang bisa saya sampaikan nanti ke Ayline."
"Ayline pergi naik angkot?" tanya Kalandra dengan penasaran. "Kemana arah nya?"
Laki-laki berseragam hitam itu pun menunjuk kemana arah angkutan umum yang ditumpangi Adeline berjalan. "Ayline ke rumah sakit Harapan, pak," jawabnya.
"Terimakasih infonya, pak," ucap Kalandra kepada laki-laki berseragam hitam itu yang langsung mengangguk sebagai balasannya. "Cepat kita nyusul Ayline, pak Agra!" ujarnya kepada Agra yang mengendarai mobil itu.
Mobil itu pun langsung meninggalkan laki-laki berseragam hitam yang menatap kepergian orang asing yang mencari Ayline. "Semoga mereka bukan orang jahat," monolognya. Setelah itu laki-laki itu pun langsung kembali ke pos penjaganya untuk kembali bekerja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments