Tidak lagi berempat yang masuk ke kedai itu, kini hanya Kalandra bersama dengan salah satu pengawalnya yaitu Agra. Ya, ayah dari Ayline yang netra matanya langsung mencari dimana keberadaan Adeline.
Sedangkan dua pengawal Kalandra yang lainnya diperintahkan untuk memilih tempat duduk yang ada di depan kedai sehingga pesanannya mereka tidak akan diantarkan oleh Adeline, melainkan diantarkan oleh Daryata. Bohong Kalandra sih untuk berjaga dari orang asing yang terlihat mencurigakan, namun sebenarnya bukan begitu.
"Selamat datang," sapa Daryata dengan ramah dengan tangannya yang masih setia menahan pintu kedainya agar dua orang yang dia kenal dan juga tiga pembeli baru di belakang Kalandra serta Agra dapat masuk ke kedai itu dengan mudah.
Kalandra tidak menggubris sapaan yang Daryata lontarkan. Laki-laki itu langsung berjalan ke arah tempat kosong yang ditempatinya kemarin. Sehingga Agra lah yang membalas sapaan yang Daryata lontarkan.
Gita dan Rebyano sudah berada di posisi kerjanya masing-masing. Di meja Gita, Rebyano, Agatha, dan Adeline kumpul tadi kini tersisa Agatha yang memperhatikan pergerakan dua orang yang baru masuk ke kedai itu dengan tatapan tajam dan juga tangannya yang dilipat di dada. Sedangkan Adeline barusan saja meninggalkan meja itu dengan membawa nasi goreng nya ke meja kasir yang di sana ada Rebyano yang melanjutkan menyuap nasi gorengnya dengan buru-buru.
Mata Agatha perlahan bergerak mengikuti langkah laki-laki yang merupakan ayah dari sahabatnya yang kini mengarah ke meja kasir dengan tubuh yang berjalan tegap. "Akhirnya gue ketemu manusia sombong itu lagi sekarang," monolog Agatha dengan pandangannya yang setia memandang Agra.
Ketika melihat Agra yang tersenyum ke arah Adeline yang membelakanginya, Agatha pun lantas berdeham membuat Agra kembali memperlihatkan raut wajah yang datar menoleh ke arah Agatha.
"Hallo, Agatha." Agra melangkah mendekat ke arah tempat duduk Agatha setelah melihat Kalandra yang duduk mengarah ke luar kedai kini sibuk dengan handphone nya "Apa kabar? Sudah lama kita tidak ketemu," tanya Agra.
Agatha merotasikan bola matanya malas. "Om gak perlu tau kabar saya. Kabar Ayline dulu aja yang harus om tau," jawab Agatha dengan ketus. Terkesan tidak sopan, namun maaf, hati Agatha belum seikhlas itu untuk memaafkan kesalahan yang sudah dilakukan oleh laki-laki dihadapannya itu kepada dua orang kesayangan dalam hidup Agatha.
Agra sersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya dalam hitungan beberapa detik saja. "Bagaimana kabar anak saya?"
Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat Agatha mengeluarkan tawa remeh nya. "Tanya aja langsung ke orang nya. Kenapa om harus tanya saya?"
Emosi Agra yang mau meledak diredakan secara perlahan dengan cara membuang napas sembari mendongak menatap langit-langit kedai itu. "Ayline masih tidak mau mengeluarkan suaranya untuk saya sejak kemarin kami bertemu. Saya mengerti Ayline belum bisa memaafkan kesalahan yang sudah saya perbuat, jadi saya belum berani lagi untuk mengajak Ayline berbicara."
"Lemah." Kaki kanan Agatha yang semula bertumpu di atas kaki kirinya pun kini diturunkan. "Saya kira setelah sekian lama om gak ketemu sama Ayline tuh om bakal ngerasa bersalah dan kehilangan banget. Tapi sekarang aja saya gak ngeliat ada sedikit pun rasa bersalah om ke Ayline yang udah ada di depan mata om."
"Salah jika kamu menganggap saya masih tidak ingin mengakui kesalahan yang telah saya perbuat kepada Ayline. Saya sudah menyiapkan kata-kata untuk minta maaf kepada Ayline. Tapi Ayline belum mau diajak bicara sama saya. Jadi kata-kata itu masih setia saya simpan sampai menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya secara langsung kepada Ayline."
"Kenapa harus nunggu waktu yang tepat, om? Ayline punya banyak waktu kalo om mau mengakui kesalahan om."
"Lihat ini, Agatha." Agra menunjukkan layar handphone nya yang menampilkan tampilan aplikasi pesan online yang selalu digunakannya. Di sana hanya tertera dua nomer yang dinamai dengan bos Kalandra dan Bila yang merupakan istri nya sekarang yang menjadi penyebab hancurnya hubungan baiknya dengan keluarganya yang pertama.
"Saya belum mendapatkan pesan satu pun dari Ayline setelah saya kasih kartu nama saya ke Ayline kemarin. Berarti Ayline masih sibuk sampai tidak sempat mengirimkan satu pun pesan kepada saya," lanjutnya sembari menggulirkan layar handphone nya yang tidak juga mendapatkan pesan masuk dari perempuan yang sangat dinantikannya.
"Kartu nama om ketinggalan di sini kemarin, jadi Ayline gak sempat kirim pesan buat om. Tapi dengan om kasih kartu nama itu bukan berarti harus Ayline duluan yang kirim pesan buat om, dong. Harusnya om yang cari nomer Ayline yang sekarang. Dan harusnya om duluan yang mengirimkan pesan buat Ayline."
Benar kata Agatha. Agra tidak sampai berpikir tentang itu. Dia malah terlalu banyak berharap untuk anak nya yang menghubunginya duluan, padahal dia lah yang membutuhkan pesan dari anaknya.
"Kamu benar, Agatha," ucap Agra kemudian menunduk dalam hitungan beberapa detik. Lalu Agra kembali mendongak. "Boleh saya minta nomer Ayline yang sekarang dari kamu?"
Agatha menggeleng "Gak boleh," balasnya sembari bangkit dari duduknya. "Semua butuh usaha. Usaha lah dengan lebih giat kalo om emang tulus mau minta maaf sama Ayline." Kemudian Agatha pergi dari tempat itu meninggalkan Agra yang termenung menatap piring kosong yang ada di atas meja di depannya.
Namun lamunan nya terbuyarkan ketika melihat Adeline kini sudah mulai mengangkat nampan yang di atasnya ada pesanan Kalandra yang sudah siap diantarkan. Lantas Agra pun langsung beranjak kembali ke tempat duduk nya bersama Kalandra sebelum Adeline sampai duluan di meja itu.
Kalandra yang semula sibuk dengan handphone nya pun lantas mematikan handphone nya yang langsung diletakkan ke atas meja setelah Agra kembali duduk di depannya. Netra matanya beralih memperhatikan Adeline yang baru saja datang ke meja itu. Kalandra langsung menatap Agra dengan sebelah alisnya yang naik ketika Adeline kini berada di sampingnya menata makanan pesanannya. Agra yang ditatap pun langsung mengangguk ragu.
Pergerakkan Adeline yang terus diperhatikan membuat Adeline sedikit tidak nyaman. Matanya sedikit melirik bergantian ke arah Kalandra dan Agra yang sedikit menunduk. Dengan itu Adeline langsung mempercepat aktivitasnya tapi juga dengan hati-hati. "Selamat menikmati," ucap Adeline sembari mengangkat nampannya.
Langkah Adeline yang ingin kembali ke arah dapur pun tertahan ketika merasakan ada tangan yang menahan tangannya.
"Setidaknya kamu sapa dulu ayah kamu." Suara Kalandra terdengar jelas di pendengaran Adeline.
Adeline melebarkan matanya. Adeline sangat bingung bagaimana laki-laki itu dapat tau pengawalnya yang sedang bersamanya merupakan ayah dari Ayline. Dengan ragu Adeline berbalik badan lagi menghadap mereka. Genggaman tangan Kalandra langsung lepas dari tangan Adeline.
"Selamat pagi," sapa Adeline membuat Agra tersenyum kecil lalu kembali sedikit menunduk lagi.
"Jangan seperti itu." Kalandra menggaruk alisnya yang tidak gatal ketika melihat interaksi canggung dua orang di depannya. "Saya tau dari kemarin ayah kamu sangat berharap bisa mendapatakan pesan dari kamu karena ayah kamu sudah memberikan kartu namanya ke kamu. Tapi sayangnya sampai sekarang ayah kamu belum juga mendapatkan pesan dari kamu."
Adeline menoleh ke arah Agra yang menatapnya balik sembari tersenyum manis. Adeline tidak tau harus bagaimana dia sekarang. Cerita bagaimana Ayline sampai membenci ayahnya terus teringat dibenaknya. Haruskah dia mendekatkan kembali raga Ayline kepada ayahnya yang menjadi salah satu penyebab jiwa dari raga itu pergi dari dunianya?
"Ngobrol lah sebentar di sini sama ayah kamu," ujar Kalandra sembari menepuk kursi di sebelahnya yang kosong.
Meja pesanan jadi yang di atasnya sudah ada pesanan baru berhasil dilirik oleh Adeline. "Maaf saya sedang tidak ada waktu untuk membicarakan tentang hal lain selain tentang pesanan yang saya antarkan. Saya harus kembali bekerja," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Pergerakan nya kembali tertahan oleh tangan kekar Kalandra yang melingkar di pergelangan tangannya. Namun Agra dengan cepat memisahkan tangan Kalandra dari tangan Adeline. "Izinkan anak saya kembali bekerja, tuan Kalandra."
Kalandra menatap bergantian antara seorang ayah dan anak nya itu. Laki-laki itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Adeline kemudian merenggangkan otot lehernya yang mengencang karena sedikit kesal dengan Adeline yang malah mengalihkan pembicaraan disaat dirinya serius ingin memperbaiki hubungan di antara dua orang yang sudah lama tidak bertegur sapa itu.
"Silahkan kembali bekerja, Ayline." Agra mempersilahkan Adeline untuk kembali mengerjakan pekerjaannya dengan senyum manis yang tidak luntur ketika berbicara dengan Adeline.
Kalandra mengetukkan sumpit yang ada di tangannya ke pinggiran piring yang ada di depannya. "Jangan lupa untuk hubungi ayah kamu nanti." Kemudian Kalandra memulai aktivitas makannya setelah memberikan tekanan kepada Adeline.
Seperti tidak peduli padahal aslinya sedikit takut, Adeline pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan dua laki-laki tadi yang mulai kemarin membuatnya pusing.
Agra menghela napas nya berat sembali bergeleng kecil. "Maafkan ayah, Ayline," katanya dalam hati yang jelas membuat Adeline tidak mendengarnya. Agra pun langsung memulai aktivitas makan makanan yang diantarkan oleh anaknya barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments