Satu hari dua malam waktu yang cukup panjang menurut Adeline untuk tetap diam di atas ranjang rumah sakit bersama obat yang terus mengalir di selang bening yang ada di tangannya. Makan dan tidur menjadi aktivitas yang Adeline benci pada hari itu padahal Adeline sangat menyukai dua aktivitas itu.
Namun hari ini akhirnya dokter menyatakan pasien bernama Ayline Namora Ilza sudah boleh untuk pulang.
Bruk!
Tas ransel berwarna putih Agatha lempar ke atas ranjang rumah sakit setelah berhasil tertutup rapat dari susahnya menyusun beberapa pakaian milik Ayline di dalamnya. "Besok beli lah tas yang gede, lin."
Adeline tidak merespon ucapan Agatha. Adeline sibuk memperhatikan pakaian Ayline yang terpasang di tubuhnya. Menurutnya pakaian yang sedang dia pakai sangatlah aneh. Celana jeans dan kemeja berwarna biru muda tidak pernah ada di dunia asalnya. Biasanya Adeline mengenakan gaun berwarna putih dipadukan dengan coklat yang design nya berbeda-beda setiap harinya.
"Ayline!" Panggil Agatha dengan nada cukup keras sembari menepuk lengan Ayline, membuat Adeline yang jiwanya sudah sepenuhnya di dalam raga Ayline merasakan sakitnya tepukkan itu. "Kenapa sama pakaian lo? Mau ganti?" tanyanya.
Adeline menggeleng. "Tidak perlu. Aku suka dengan pakaian ini."
Perempuan berambut pendek di depan Adeline itu menghela napas, tangan kanannya di luruskan ke ranjang rumah sakit dijadikan sebagai penompang tubuhnya. "Gini deh..." Agatha kembali menegakkan tubuhnya.
"Semenjak lo bangun setelah kecelakaan, gaya ngomong lo tuh baku banget. Lo sadar gak?"
Adeline menggeleng. Emang begitu gaya bicaranya.
"Gue udah kayak ngobrol sama kamus KBBI tau gak sih. Mungkin itu efek dari dicium truk kali ya? Tapi kalo sama gue jangan lah ngobrol sebaku itu, lin. Lo biasanya suka ngomong kasar dan campuran bahasa daerah, aneh aja tiba-tiba kayak princess dari kerajaan."
Adeline tidak mengerti, mulutnya ternganga karena bingung sepanjang Agatha berbicara.
Agatha menghela napas. Tangan kanannya terulur memegang bahu Adeline. "Gue itu adalah aku. Lo itu adalah kamu. Terus ngomong yang lainnya juga jangan ngikutin saran KBBI." Agatha menundukkan kepalanya antara ingin tertawa dan lelah dengan Adeline yang raut wajahnya masih kebingungan.
"Gue minta maaf ya, Agatha," ucap Adeline membuat Agatha mendongak dengan raut wajahnya yang senang. "Gue akan coba lagi pelan-pelan ya."
Agatha tepuk tangan tiga kali setelah mendengar kalimat yang diucap Adeline. "Gue bakal bimbing lo setiap hari. Sampe gaya bicara lo kembali absurd kayak biasanya."
Adeline tersenyum melihat Agatha sangat bahagia padahal hanya karena hal kecil darinya. Adeline langsung dirangkul oleh Agatha setelah mengambil tas ransel putih tadi.
"Ayo pulang!"
Pulang kata Agatha. Adeline hanya bisa mengikuti Agatha yang membawanya pergi entah kemana nantinya. Namun Adeline percaya Agatha akan membawanya ke tempat yang baik untuknya.
Sepanjang jalan di koridor rumah sakit tidak ada pembicaraan sama sekali antara mereka. Agatha fokus menuntun Adeline sembari sesekali melirik ruangan yang dilewati. Sedangkan Adeline menoleh ke samping kanannya untuk memperhatikan orang-orang terluka yang memejamkan matanya di atas brankar yang didorong oleh perawat. Bahkan Adeline sampai tiba-tiba berhenti dan memutar badannya hanya untuk memperhatikan pasien laki-laki dengan luka parah di tubuhnya yang kini sudah masuk ke dalam ruangan.
Agatha mencolek lengan Adeline membuat fokus Adeline kembali lagi untuk berjalan keluar dari rumah sakit itu.
Saat sampai di pintu utama rumah sakit itu, mata Adeline berbinar melihat pemandangan yang ada di depannya. Bangunan-bangunan tinggi yang berdiri di atas tanah dengan lampu-lampu dari dalam bangunan itu dan juga lampu jalan yang menyala menjadi sesuatu yang membuat Adeline terkagum. Langit berwarna jingga menambahkan kesan indah untuk pemandangan yang Adeline lihat.
Semuanya terlihat seperti lukisan. Adeline ingin sekali pamerkan apa yang dilihatnya sekarang kepada Sambara, karena dulu laki-laki itu sangat berharap bisa melihat kota modern sesuai dengan apa yang ada di bayangnya.
Adeline teringat pada lukisan yang dilukis langsung oleh Sambara di depannya mengenai gambaran kota modern yang ada di bayangnya. Gambaran Sambara nyaris mirip dengan kota modern nyata yang dilihat Adeline saat ini.
"Nah itu mobilnya." Agatha menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir di luar rumah sakit membuat Adeline melepaskan pandangannya sebentar dari bangunan-bangunan itu. Kemudian Agatha menarik kembali tangan Adeline untuk menghampiri ojek mobil yang telah dipesan melalui aplikasi di handphone nya.
Agatha duduk di kursi penumpang depan untuk mengarahkan sang pengemudi ke arah mereka pulang. Sedangkan Adeline duduk di kursi penumpang belakang sendirian.
"Sudah bisa berangkat, mba?" tanya supir sembari membenarkan sabuk pengamannya.
Agatha menolehkan kepalanya ke arah Adeline. "Gak ada yang ketinggalan kan, lin?" tanyanya kepada Adeline yang sedang fokus melihat ke depan dan langsung mendapatkan gelengan sebagai jawaban. "Berangkat, pak."
Setelah mobil bergerak 500 meter, pengemudi mobil itu menekan tanda mulai pada pemutar musik yang ada di depannya. Lantunan piano langsung terdengar dari sana membuat Adeline tiba-tiba merindukan sang ibu yang menguasai kunci-kunci piano dari lagu kesukaannya.
Senja, lampu kota, dan lantunan piano menjadi satu perpaduan yang sangat tenang. Adeline meneteskan air matanya mengingat kenangan bersama orang-orang di dunia asalnya. Setiap orang di istana punya kenangan manis yang tersimpan di dalam hatinya.
Berbicara tentang senja, Adeline juga ingat betapa sering dirinya melihat orang tuanya yang menatap indahnya langit berwarna jingga itu melalui jendela besar yang ada di dalam kamar mereka. Siluet orang tuanya yang saling merangkul tiba-tiba muncul di bayangannya membuat air mata Adeline kini berjatuhan lebih deras. Adeline buru-buru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Temannya nangis, mba," ucap pengemudi mobil itu kepada Agatha yang mengintip keadaan Adeline dari kaca spion.
Agatha menoleh sedikit ke belakang. Bukannya panik atau bingung melihat Adeline yang tiba-tiba menangis, Agatha malah menarik napasnya dan buru-buru menghapus air matanya yang juga ikut jatuh.
Bukan. Bukan Agatha tau apa yang sedang Adeline pikirkan. Namun Agatha tau betul alasan Ayline yang suka tiba-tiba menangis. Sahabatnya yang telah pergi itu semasa hidupnya sering menangisi hidupnya sendiri tanpa peduli jika dilihat oleh orang lain. Menangis adalah salah satu cara ampuh untuk menenangkan pikiran Ayline. Maka dari itu saat Ayline menyerah dengan menabrakkan dirinya ke sebuah truk besar yang sedang melintas di jalan Samudra, air matanya juga ikut serta dalam ketenangan terakhir dalam hidupnya.
Itu terlalu menyakitkan untuk Ayline yang sudah tenang di dunia abadinya.
Pengemudi yang tidak tau harus apa melihat dua penumpangnya menangis hanya bisa mengendarai mobil itu dengan tenang di tengah kemacetan lalu lintas. Baru kali ini dirinya mendapatkan orderan yang suasananya seperti ini.
Perjalanan itu membawa suasana kesedihan. Pengemudi mobil itu bersumpah tidak akan menyalakan lantunan piano lagi saat membawa penumpang sampai ke tujuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments