Kamar Adeline yang terang karena sinar matahari masuk melalui jendel, perlahan menggelap kembali karena gorden kembali ditutup oleh Adeline yang kini sudah siap untuk berangkat bekerja.
Jam yang menempel di dinding ruang tamu menunjukkan pukul 08:25 membuat Adeline buru-buru mengambil sepatunya.
"Lo mau berangkat jam segini, lin?" tanya Agatha yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih ditutup oleh handuk.
Adeline yang duduk di lantai untuk memudahkan memakai sepatu pun menoleh ke belakang. "Iya, jalan dari sini ke kedai Al butuh waktu sekitar tiga puluh menit, jadi gue harus berangkat lebih cepat."
"Naik ojek motor aja sih, lin. Cuma lima belas menit dari sini ke sana kalo naik motor. Lo rajin banget kerja jalan kaki," ucap Agatha. Semasa hidupnya, Ayline memang sering kali jalan kaki kemana-mana, jadi Agatha tidak heran dengan Adeline yang pulang jalan kaki bersama Rebyano semalam.
Adeline pun mencerna ucapan Agatha barusan. Benar pikirnya, naik sesuatu seperti kuda yang biasa Adeline gunakan untuk berpergian di dunia sebelumnya dapat mempersingkat waktu dan lebih nyaman juga karena hanya duduk saja selama perjalanan. Tapi, Adeline tidak mengerti cara memesan ojek yang biasa Agatha pesan.
"Atau lo terima tawaran Rebyano aja. Dia mau ngajak lo berangkat bareng tapi chat nya belum dibaca sama lo," lanjut Agatha yang membaca pesan baru dari Rebyano di handphone nya.
Adeline mengambil handphone yang ada di dalam tas nya. Setelah handphone itu menyala yang dilihat Adeline hanya jam yang menitnya sudah berganti. "Gak ada pesan dari Rebyano." Adeline menunjukkan layar handphone itu kepada Agatha.
Tangan Agatha mengulur untuk mengambil handphone di tangan Adeline sembari melangkah menghampiri Adeline. "Jaringan data nya belum lo nyalain, Ayline," ucap Agatha.
Adeline langsung buru-buru berdiri untuk melihat handphone itu yang diutak-atik oleh Agatha untuk diaktifkan jaringan data nya. Akhirnya sekarang Adeline tau fungsi ikon asing yang dapat mengaktifkan internet handphone itu.
Dua pesan masuk dari nomer tidak dikenal langsung tertera pada notifikasi karena handphone itu sudah diisi kuota kemarin namun Adeline tidak tahu cara menggunakannya.
Agatha mengembalikan handphone itu ke Adeline. "Itu nomer Rebyano," katanya. Kemudian Agatha beranjak masuk ke kamarnya.
Dengan ragu jari telunjuk Adeline menekan tulisan pesan yang ada pada bar notifikasi. Hatinya lega ketika seluruh layarnya menampilkan tampilan room chat pada nomer Rebyano.
"Oh seperti ini caranya." Adeline mengangguk-anggukkan kepalanya.
Maklumi lah, handphone tidak pernah ada di dunia asalnya. Jadi Adeline harus banyak mencoba-coba untuk menggunakan benda itu.
Dret!
Panggilan suara masuk dari nomer Rebyano membuat Adeline terkejut. Adeline menggeser ikon telfon berwarna hijau karena ada tanda panah menunjuk ke atas pada ikon itu.
"Halo Ayline." Suara Rebyano terdengar menandakan telfon sudah tersambung.
Bukannya menjawab, Adeline justru bingung memikirkan bagaimana cara menelfon yang benar.
"Rebyano, kamu dengar suara aku?" tanyanya dengan mendekatkan handphone di tangannya itu ke dekat bibirnya.
"Dengar. Saya dengar suara kamu."
Hati Adeline langsung lega. "Ada apa, Rebyano?"
"Sebentar Ayline. Apakah kamu mendekatkan handphone mu ke bibir?" tanya Rebyano.
Pertanyaan Rebyano barusan membuat Adeline bingung mengapa laki-laki itu tau apa yang dia lakukan. Sampai-sampai Adeline berpikir bahwa Rebyano merupakan seorang peramal. "Iya. Bagaimana kamu bisa tau?" tanyanya balik.
Suara tertawa Rebyano terdengar nyaring pada speaker handphone itu yang berada di bagian bawah. "Suara kamu aneh sekali. Sebaiknya kamu tempelkan saja di telinga. Atau sekarang kamu lagi di tempat ramai?"
"Tidak. Aku tidak lagi di tempat ramai," katanya. Kemudian dengan ragu Adeline menempelkan handphone itu di telinganya sesuai apa yang dibilang oleh Rebyano barusan. "Apakah suara ku terdengar lebih baik?"
"Nah sekarang lebih baik," jawab Rebyano membuat Adeline menghembuskan napas nya lega. "Begini Ayline, saya ingin mengajak kamu berangkat bareng ke kedai, apa kamu mau? Kalo kamu mau saya akan langsung ke rumah kamu sekarang."
"Lebih baik jangan, Rebyano. Kamu harus jalan jauh dulu ke sini lalu berangkat bersama aku ke kedai membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ibu bilang kedai buka jam sembilan. Tidak cukup jika kamu harus ke sini dulu."
"Kebetulan saya sedang dekat dari rumah kamu, cuma membutuhkan waktu dua menit untuk ke rumah kamu. Kita juga ke kedai akan naik motor, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke sana, Ayline."
"Kamu bisa mengendarai motor?" tanyanya dengan suara yang pelan.
Rebyano tertawa. "Ya bisa dong. Buat apa saya ajak kamu berangkat bareng naik motor kalo saya gak bisa mengendarai motor? Saya tidak akan serajin itu untuk mendorong motor yang mati."
Adeline tertawa malu. "Maaf ya, Rebyano."
"Kenapa kamu minta maaf? Saya cuma butuh jawaban kamu atas tawaran saya untuk berangkat bareng."
"Apakah aku tidak merepotkan jika kita berangkat bareng?" tanya Adeline sembari membenarkan tali tas nya yang perlahan menurun.
"Tidak, Ayline. Saya menawarkan, berarti saya siap direpotkan."
Adeline tersenyum manis walaupun senyuman itu tidak dapat dilihat oleh Rebyano. "Ya sudah aku mau berangkat bareng sama kamu."
"Sip. Tunggu ya, saya akan langsung ke rumah kamu."
Adeline mengangguk walaupun anggukannya juga tidak dapat dilihat oleh Rebyano. "Hati-hati, Rebyano."
Tut!
Sambungan telfon diputuskan duluan oleh Rebyano membuat Adeline tidak kebingungan untuk memutuskan sambungan telfon mereka. Room chat Rebyano kembali muncul pada layar handphone itu membuat Adeline memikirkan bagaimana cara memberi nama pada nomer itu.
Titik tiga yang berada di pojok kanan atas ditekan oleh Adeline. Di antara salah satu yang tertera Adeline langsung menekan tulisan tambah ke kontak. Dia tersenyum bangga ketika perintah memasukkan nama kini terlihat. Adeline berhasil mengutak-atik untuk mendapatkan hal-hal baru dari handphone itu.
"Jangan ditambah emot love." Agatha berbisik tepat di telinga Adeline membuat Adeline terkejut.
"Astaga, Agatha. Lo ngagetin aja." Adeline memukul lengan Agatha dengan pelan.
Agatha tertawa lalu mengambil sandal nya yang ada di rak belakang pintu. "Jadinya lo berangkat bareng sama Rebyano?" tanyanya yang langsung mendapatkan anggukan dari Adeline. "Yaudah berarti gue duluan, ojek gue udah mau sampai."
Dengan itu Adeline langsung buru-buru keluar dari rumah itu. "Kunci lo aja yang bawa."
"Oh iya perihal kunci rumah sama pagar." Agatha mencari sesuatu di dalam tasnya. Dua buah kunci yang bentuknya sama dengan kunci yang dipegang Agatha langsung disodorkan kepada Adeline. "Gue bikin lagi kunci cadangan ini. Lo bawa aja. Soalnya gue gak tau nanti pulang jam berapa."
Adeline menerima kunci cadangan itu. "Hari ini kerjaan lo banyak sampai lo gak tau pulang jam berapa?" tanyanya.
Kepala Agatha menggeleng sementara tangannya sibuk mengunci pintu rumah. "Hari ini cuma nemenin mami toko beli bahan kue. Tapi kan biasanya mami toko kalo ngajak gue belanja bahan kue suka mampir dulu ke toko-toko baju. Takutnya lupa waktu malah belanja sampe malam."
"Oh gitu... Semangat ya, Agatha."
"Lo juga semangat kerjanya. Nanti kalo gue ada uang lebih gue bakal mampir ke kedai Al deh," ucap Agatha sembari mengusap lengan Adeline.
Adeline tersenyum senang. "Harus ya!"
"Iya." Agatha tersenyum manis lalu menoleh ke arah motor yang berhenti di depan pagar rumah itu yang masih tertutup. "Ojek gue udah datang. Gue duluan ya, lin."
Adeline mengangguk. "Hati-hati, Atha!" ujar nya dengan sedikit berteriak kepada Agatha yang naik ke atas motor. Kemudian tangannya membalas lambaian tangan Agatha yang perlahan menghilang.
Adeline memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumah untuk menunggu kehadiran Rebyano.
Walaupun daerah ini termasuk daerah perkampungan, namun lingkungan rumah Ayline ini sangat sepi seperti lingkungan perumahan elite pada umumnya. Adeline kagum pada orang tua Ayline yang bisa mendapatkan rumah di lingkungan yang tenang di tengah-tengah ibu kota yang luar biasa ramai penduduknya. Sehingga Adeline yang menumpang segala nya pun bisa merasakan ketenangan di dunia barunya ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments