Motor hitam yang ditumpangi oleh Rebyano dan Adeline kini berada di jalanan yang sibuk. Adeline melirik kaca spion untuk melihat benda lucu yang dipakaikan oleh Rebyano di kepalanya. Helm berwarna merah muda menjadi sesuatu yang membuat Adeline tertawa kecil.
"Kenapa, Ayline?" tanya Rebyano yang mendengar suara tawa Adeline.
Adeline langsung membenarkan posisi duduknya, tak lagi melirik kaca spion motor itu. "Tidak ada apa-apa, Rebyano." Matanya kini fokus ke depan melihat jalanan yang sedikit terhalang oleh helm berwarna hitam yang digunakan Rebyano.
"Semalam saya minta nomer kamu melalui Agatha, saya ada chat kamu setelah Agatha memberikan nomer kamu, tapi kamu gak balas chat saya. Jam segitu apa kamu sudah tidur?" tanya Rebyano dengan suara yang sedikit keras.
Adeline mengingat kembali jam berapa yang tertera pada pesan dari Rebyano yang terkirim semalam. Ingatnya pesan itu masuk sekitar lima belas menit setelah Adeline masuk ke dalam rumah. Dan sekitar jam segitu yang Adeline ingat adalah dia dan Agatha makan nasi goreng buatan ibu Rebyano bersama sembari bercerita bagaimana tentang hari itu.
"Aku belum tidur jam segitu. Maaf tidak membalas pesan kamu, kemarin aku lupa mengaktifkan jaringan data," jawab Adeline.
"Oh gapapa, kirain saya kamu langsung tidur setelah sampai rumah karena kecapekan," ucap Rebyano sembari menurunkan kedua kakinya untuk menyeimbangkan motornya yang dihentikan di belakang motor-motor lain yang juga menunggu pergantian warna lampu lalu lintas. "Menurut kamu bagaimana nasi goreng buatan ibu?" tanya Rebyano dengan menatap Adeline dari kaca spion.
"Aku kasih nilai seratus satu dari seratus buat nasi goreng buatan ibu kamu. Rasanya enak sekali, sepertinya kamu harus menaikkan harganya untuk di jual di kedai."
Lampu lalu lintas yang semula berwarna merah kini bergantian menjadi warna hijau. Rebyano melanjutkan mengendarai motornya dengan hati-hati. "Ibu pasti akan senang jika kamu memuji itu di depan ibu langsung. Perihal harga, kami sudah menetapkan di harga segitu karena kami bahagia sekali mendengar orang-orang yang bersyukur bisa makan makanan enak namun harganya bisa dijangkau oleh mereka yang sedang kesulitan ekonomi."
"Wah mulia sekali keluarga kamu, Rebyano," puji Adeline untuk keluarga baik yang ditemuinya.
Rebyano tersenyum tipis. "Terimakasih pujiannya."
Setelah itu tidak ada perbincangan lagi di antara mereka selama perjalanan. Sampai akhirnya motor itu berhenti di parkiran kedai yang tidak begitu luas.
Adeline lebih dulu yang turun dari motor itu. "Aku masuk duluan ya."
Rebyano yang sedang mendorong motornya pun menoleh sebentar kepada Adeline. "Iya silahkan," balasnya. Kemudian fokusnya kembali pada motornya.
Daryata dan Gita sudah berada di dalam kedai dengan kegiatannya yang berbeda. Daryata menyiram tanaman yang ada di dalam kedai itu sembari membersihkan benda-benda hiasan yang sedikit berdebu. Sedangkan Gita berkutik dengan kasir, mulai dari mempersiapkan mesin struk pembayaran, menaruh uang kembalian, dan mengaktifkan tablet android yang digunakan sebagai mesin pemesanan.
Suara pintu kedai yang di buka Adeline membuat Daryata dan Gita menoleh bersamaan.
"Selamat pagi, ayah," sapa Adeline kepada Daryata yang mengerjakan kegiatannya tadi di dekat pintu masuk.
"Pagi, nak," balas Daryata dengan matanya yang beralih melihat putranya yang baru selesai memarkirkan motornya dengan benar. "Kamu berangkat bareng Rebyano?" tanyanya
Adeline mengangguk dan tersenyum. "Iya, yah," jawabnya.
"Oh bagus lah. Jadi gak nganggur lagi jok belakang motor Rebyano." Daryata membalas senyuman Adeline.
Adeline tersenyum kikuk. "Saya mau siap-siap dulu ya, yah," ucapnya dengan gerak-gerik tidak nyaman ingin cepat-cepat menghampiri ibu pemilik kedai.
"Iya silahkan." Daryata mempersilahkan lalu kembali membersihkan vas kecil yang tidak ada tanamannya.
Langkah Adeline dipercepat sampai akhirnya berhenti di depan meja kasir. "Selamat pagi, ibu," sapanya kepada Gita.
"Selamat pagi, Ayline," balas Gita dengan senyum manisnya. "Kamu sudah sarapan?"
Adeline mengangguk. "Sudah, bu."
"Ya sudah kamu sekarang siap-siap ya. Udah mau jam sembilan, kedai udah mau buka."
"Baik, bu. Aku permisi." Adeline langsung beranjak ke arah ruangan yang tertutup gorden di belakang Gita.
Suara pintu yang dibuka oleh Rebyano membuat Daryata dan Gita lagi-lagi menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Bu bikinin kopi dong. Mata Rebyano ngantuk banget," teriak Rebyano sembari menutup kembali pintu kedai itu.
"Kebiasaan teriak-teriak." Kanebo bersih dari kantong apron Daryata digunakan untuk memukul Rebyano yang buru-buru menyingkir, sehingga kanebo itu hanya berhasil memukul angin.
Rebyano tanpa rasa bersalah menunjukkan raut wajah mengejek kepada Daryata yang kali ini tidak berhasil memukulnya.
Gita membuang kertas kosong yang tidak terpakai dari percobaan struk pembayaran lalu bertanya kepada anak nya, "Kamu tidur jam berapa semalam?" Gita tidak tau jam tidur Rebyano karena semalam Rebyano menginap di rumah nenek nya yang masih satu daerah dengan rumah Ayline.
"Jam tiga," jawabnya dengan santai membuat kedua orang tuanya menatapnya dengan tajam. "Eit jangan marah dulu. Soalnya semalam di rumah nenek juga ada anak nya bibi Mora. Rebyano bantu nenek nenangin anaknya bibi Mora pas nangis, jadi Rebyano bisa tidur jam tiga pas anaknya bibi Mora udah anteng."
"Mora nitip anak nya ke nenek lagi?" tanya Gita mendapatkan anggukan dari Rebyano. "Emang benar-benar harus dikasih pelajaran anak itu." Gita melepas apronnya dengan wajah yang merah karena hatinya kesal mendengar hal menjengkelkan itu.
"Eh, eh, eh, ibu jangan bu." Daryata dan Rebyano menahan Gita bersamaan.
Adeline yang baru keluar dari ruangan yang tertutup gorden tadi dengan penampilannya yang sudah siap menjadi pegawai di kedai ini pun kebingungan melihat tiga orang yang saling beradu mulut.
Mata Rebyano menatap ke arah Adeline dengan kedua tangannya yang masih menahan sang ibu agar tidak meninggalkan kedai ini.
"Ada apa?" tanya Adeline kepada Rebyano tanpa suara.
Rebyano menggeleng. "Tidak ada apa-apa," jawabnya tanpa suara juga.
"Sudah ibu peringatkan bibi mu itu, tapi tetap saja dia melakukan hal yang sama." Warna merah pada wajah Gita mulai meredup. "Awas jangan halangi ibu!"
Daryata dan Rebyano semakin menahan Gita. "Udah, bu. Nanti aja kalo kedai tutup baru ibu ke rumah bibi Mora. Sekarang waktunya buka kedai. Kedai butuh ibu," kata Rebyano sembari mengusap lengan ibunya.
Arah pandang Adeline yang sedari tadi memperhatikan tiga orang yang membuatnya kebingungan pun kini berubah menjadi melihat ke arah luar kedai. Tiga laki-laki berbadan besar dan satu laki-laki muda yang memimpin jalan semakin melangkah mendekat ke arah pintu kedai membuat Adeline mendekat ke arah keluarga pemilik kedai ini.
"Mereka datang." Daryata yang tadi menenangkan istri nya pun kini beranjak ke arah pintu masuk. Rebyano dan Gita juga mulai beranjak ke posisi mereka di kedai itu.
Sedangkan Adeline? Perempuan itu malah menolah-noleh kan kepalanya memperhatikan pergerakkan tiga orang pemilik kedai itu meninggalkan dirinya.
"Ayline!" Adeline menoleh ke sumber suara dari Rebyano yang kini memasang nametag nya. "Kamu standby di depan sana. Setelah hidangan jadi, segera kamu antarkan ke sana," ujar Rebyano yang pertama menunjuk meja pesanan jadi, yang kedua menunjuk tempat duduk orang-orang tadi yang telah diarahkan oleh Daryata.
"Aku harus mengantarkan pesanan ke sana?" tanya Adeline yang sedikit takut melihat orang-orang itu.
Rebyano mengangguk. "Nanti bersama ayah mengantarkannya."
Sedikit tenang perasaan Adeline ketika ayah disebut. Ayah akan menjadi benteng pertahanannya nanti.
Dengan langkah terburu-buru ayah mendekat ke arah mereka. "Ibu udah di dapur?" tanyanya menanyakan keberadaan sang istri.
"Udah. Ibu pasti langsung masak makanan yang biasa dipesan mereka," jawab Rebyano.
"Gawat. Makanan yang mereka pesan sekarang beda sama yang biasanya." Daryata langsung beranjak menuju dapur meninggalkan Adeline dan Rebyano.
Adeline tampak gelisah. Sedangkan Rebyano yang sudah terbiasa dengan situasi ini hanya menghela napasnya. "Heboh, heboh." Dua kata dilontarkan Rebyano sembari menggelengkan kepala.
Adeline bingung harus melakukan apa sekarang. "Harus kah aku bantu ibu masak?" tanyanya kepada Rebyano.
Rebyano menoleh lalu menggeleng. "Tidak perlu. Ayah akan membantu ibu. Kamu santai aja tidak perlu panik."
"Bagaimana aku tidak panik ketika melihat ibu dan ayah panik seperti itu?"
Rebyano tertawa kecil. "Mereka emang lebay. Padahal situasi ini sudah sering terjadi. Kamu gak usah ikut panik seperti mereka."
Adeline mengangguk kemudian mengatur napasnya berusaha jantung nya yang berdetak tidak karuan itu bisa kembali normal lagi secepatnya. Kuku ibu jari nya saling bergesekan menandakan detak jantung nya belum kunjung mereda.
Ketika detak jantung Adeline sudah mulai kembali normal serta perasaannya mulai tenang, netra matanya malah menangkap netra mata salah satu laki-laki dari orang-orang tadi yang terus menatap ke arah nya tanpa berkedip.
Panik bukan main, Adeline langsung membalikkan badannya lagi menatap Rebyano yang menatap nya balik dengan tatapan teduh serta dua ujung bibirnya yang terangkat ke atas.
Seperti disihir oleh senyuman Rebyano, hati Adeline langsung menghangat seperti ada yang memeluknya. Hatinya kembali tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments