"Berarti kemarin lo gak lari ngehindar dari ayah lo kayak biasanya nya dong?" tanya Agatha sembari mengembalikan kartu nama Agra Akandra yang benar merupakan ayah dari Ayline.
Hari pertemuan Adeline bersama Agra sudah berlalu, namun Adeline baru menanyakan tentang kartu nama itu setelah mereka sampai di kedai Al karena kartu nama itu tertinggal di apron Adeline dan semalam Adeline juga terlelap duluan sebelum Agatha pulang sehingga Adeline tidak sempat untuk menanyakan tentang kartu nama itu kepada Agatha kemarin.
Adeline mengangguk dengan tangannya yang menerima kembali kartu ayah Ayline. Belum adanya pembeli yang datang pagi ini membuat Adeline masih bisa duduk santai di kursi pembeli bersama Agatha yang datang bersamanya hanya sekedar mampir untuk menunggu toko kue tempatnya berkerja buka. "Emang biasanya gue lari buat ngehindar ayah?" tanyanya.
"Lah lo malah lupa," jawab Agatha sembari tertawa. "Biasanya lo kalo ketemu ayah lo dimana pun langsung lari kayak ngeliat setan," katanya kemudian Agatha menyeruput air putih sedikit hangat yang dibawanya dari rumah.
"Niatnya sih gue mau lari, tapi kan gue lagi kerja, masa tiba-tiba lari. Bingung yang ada si Rebyano."
"Ya kalo kamu tiba-tiba lari pas lagi kerja saya jelas bingung," ucap Rebyano dengan langkahnya yang mendekat ke meja mereka membuat Adeline menoleh ke belakang. "Kemarin pas kamu tiba-tiba numpahin minuman pembeli aja saya kaget banget," lanjutnya. Memang terkesan tidak nyambung pembahasannya yang tiba-tiba membahas kejadian itu, tapi Rebyano hanya ingin memancing Agatha untuk tau kejadian itu.
Agatha yang semula menikmati air putih sedikit hangat nya pun lantas menoleh ke dua orang di depannya. "Kemarin lo numpahin minuman pembeli?" Pertanyaan nya langsung dijawab dengan anggukan oleh Adeline. "Lo kenapa? Lo sakit? Sampe gak fokus kerja gitu."
Adeline menggeleng. "Engga. Kemarin gue gak ngeliat kaki pembeli, jadi kesandung, terus tumpah semua minuman pembelinya."
"Tapi lo gapapa kan? Gak ada yang luka kan?" tanya Agatha yang matanya menelusuri tubuh Adeline dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Engga gue gapapa, gue aman. Tapi gaji gue gak aman. Pasti nanti dipotong ganti rugi," jawab Adeline yang kecewa dengan dirinya sendiri atas kecerobohannya.
"Engga kok." Rebyano menyela pembicaraan dua perempuan di depannya sembari duduk di salah satu kursi di samping meja yang Adeline dan Agatha tempati. "Kemarin laki-laki yang membela kamu dari awal kejadian itu terjadi, dia melebihkan pembayaran terus bilang itu buat ganti rugi hal yang kamu perbuat."
Adeline dan Agatha saling bertatapan ketika Rebyano menyelesaikan ucapannya.
"Kamu kenal siapa laki-laki itu?" lanjut Rebyano bertanya membuat Adeline dan Agatha berhenti saling bertatapan dan mereka jadi berdeham bersamaan. "Ah maaf saya terkesan sangat ingin tau siapa laki-laki itu. Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan saya barusan, Ayline," lanjutnya dengan sedikit rasa bersalah.
"Itu ayahnya Ayline." Bukan Adeline yang menjawab, namun Agatha. "Syukurlah ayah lo mau bantu bayar ganti rugi. Setidaknya ayah lo kasih kesan yang baik di pertemuan kalian setelah sekian lama."
Adeline menunduk, dalam hatinya Adeline belum mengerti apa yang biasanya Ayline lakukan kepada Ayahnya begitu juga sebaliknya yang biasa dilakukan Ayahnya kepada Ayline.
"Lagi ngomongin apa ini? Kok serius banget keliatannya." Gita memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik. Nampan yang di atasnya ada tiga piring berisi nasi goreng buatannya langsung diberikan kepada Rebyano. "Yang dua buat mereka," lanjutnya kepada Rebyano sembari menunjuk dua piring berisi nasi goreng yang harus diberikan kepada Adeline dan juga Agatha.
"Loh kita gak pesan, bu," ucap Agatha yang belum menerima piring berisi nasi goreng yang disodorkan oleh Rebyano. Ucapannya diangguki oleh Adeline yang juga merasa tidak memesan nasi goreng.
Gita mengangguk kecil. "Sengaja ibu buatkan untuk kalian. Soalnya ibu belum ngeliat semangat di wajah kalian. Di rumah sarapannya sedikit ya?"
Agatha dan Adeline saling berpandangan. Agatha tersenyum dan menggeleng. "Gak sarapan, bu. Cuma minum air putih."
Raut cemas langsung muncul di wajah Gita. "Kok cuma minum air putih? Gak kenyang dong, cuma kembung."
"Persediaan bahan dapur habis semua, bu," kata Agatha lalu menunduk malu sembari tertawa miris dalam sekejap. "Tapi gapapa kok kita bisa kuat cuma pake air putih kan ya, lin?" tanyanya kepada Adeline.
Adeline yang sebenarnya merasa tubuhnya sudah mulai lemas karena tubuhnya belum dimasukkan makanan apapun langsung terpaksa mengangguk ketika ditodong pertanyaan Agatha. "Iya bu gapapa kok ini udah kuat banget, udah siap buat kerja."
"Ah engga. Ibu marah kalo kalian kerja gak sarapan dulu." Gita langsung mengambil satu piring berisi nasi goreng yang masih setia disodorkan oleh Rebyano dan diletakkan di depan Adeline.
Kemudian Gita juga meletakkan satu piring berisi nasi goreng lainnya untuk di depan Agatha. Namun Agatga menolak. "Gak ada sisa uang buat bayar, bu," ucap Agatha kepada Gita sembari sedikit memanyunkan bibirnya membuat Adeline juga ikut berpikir tentang itu sembari menatap satu porsi nasi goreng di depannya.
"Ih apa sih kamu. Makan aja, gak usah bayar," ujar Gita sembari menepuk kecil dan mencubit gemas lengan Agatha. "Ayo dimakan, toko kue tempat kerja kamu sama kedai ini udah mau mendekati jam buka, jangan sampe kalian kerja tapi belum makan," lanjutnya kepada tiga anak muda di hadapannya.
Agatha yang sedikit memanyunkan bibirnya pun jadi tersenyum. Begitu juga Adeline, pipinya langsung mengembang ketika melihat Agatha tersenyum. "Terimakasih ya, bu," ucap Agatha dan Adeline berbarengan membuat mereka saling bertatapan lalu tertawa kecil.
Gita mengangguk sebagai balasan. "Cepat makan."
"Ibu gak ikut makan?" tanya Adeline menatap Gita yang masih berdiri di sebelahnya tidak membawa makanan untuk dirinya sendiri.
"Ibu udah makan tadi sama ayah," ucap Gita dengan senyumnya kemudian ikut duduk di kursi kosong depan Rebyano yang tepatnya berada di samping kiri Agatha. "Tapi tadi lagi ngomongin apa sih? Ibu juga mau tau dong."
Nasi goreng beserta lauknya yang dikunyah Rebyano langsung ditelan ketika sudah benar-benar halus. "Ibu kepo," katanya meledek sang ibu.
"Ibu gak tanya kamu." Gita melayangkan nampan yang ada di meja itu tapi tidak sampai menyentuh sedikitpun tubuh anak nya yang melanjutkan aktivitas makannya.
Adeline dan Agatha tertawa kecil melihat keributan antara ibu dan anak di samping mereka itu.
"Orang-orang kemarin selalu ke sini dengan gaya yang seperti itu ya, bu?" tanya Adeline yang memisahkan potongan timun dari nasi yang akan dimakannya.
Gita menoleh ke arah Adeline. "Pengawal Kalandra Alfariz?" tanyanya balik.
Langsung Adeline menggeleng. "Aku tidak mengenal mereka. Intinya orang-orang yang tidak sengaja aku siram dengan minuman kemarin."
"Oh iya itu Kalandra Alfariz dan pengawalnya." Gita membenarkan posisi duduknya menyerong ke arah Adeline. "Terakhir Kalandra selalu datang sendirian ke sini tuh sebulan yang lalu kalo gak salah. Sebelumnya dia gak pernah marah seperti itu selama dia datang sendirian ke kedai ini. Tapi yang ibu dengar dari ayah sih mulai sekarang Kalandra bakal selalu bersama pengawalnya ke mana-mana semenjak Kalandra kecelakaan menabrak pembatas jalan tol karena ada yang menyabotase rem mobilnya. Jadi pengawalnya harus tegas ngelindungi Kalandra. Soalnya dia orang penting di negara ini."
Baik Adeline, Rebyano, hingga Agatha yang tidak tau siapa Kalandra Alfariz itu pun mengangguk paham.
"Oh iya, kemarin Kalandra nanya-nanya tentang kamu ke ayah," lanjut Gita membuat tiga anak muda di hadapannya langsung memusatkan pandangannya kepada Gita.
"Aku?" tanya Adeline sembari menunjuk dirinya sendiri. Pertanyaan nya dijawab dengan anggukan oleh Gita. "Untuk apa orang itu nanya-nanya tentang aku, bu? Apa dia sebegitu marah nya dengan kejadian yang aku lakukan? Sehingga aku ditandai oleh dia."
Gita menggeleng. "Ibu gak tau, lin. Tapi kata ayah dia cuma mau tau siapa nama kamu, darimana asal kamu, udah berapa lama kamu kerja di sini. Gak lebih dari itu."
"Awas aja kalo dia macem-macem setelah tau siapa Ayline. Gue gak bakal takut buat pukul dia kalo dia macem-macem sama Ayline," kata Agatha membela sahabatnya yang dipandangannya sedikit cupu hampir menyerempet bodoh.
"Kamu yakin gak bakal takut buat pukul orang itu?" tanya Rebyano. Agatha pun langsung menjawab dengan anggukan penuh yakin. "Coba liat dulu bagaimana orang itu," lanjutnya dengan jari telunjuknya yang lurus menunjuk luar kedai.
Tiga perempuan di depan Rebyano pun lantas menoleh bersamaan ke arah luar kedai itu. Di sana terlihat Kalandra yang turun dari mobil setelah dibukakan pintu nya oleh salah satu pengawalnya. Adeline yang tadinya mengunyah dengan semangat untuk mengisi perutnya pun kini berubah jadi tidak semangat.
Entah apa yang akan terjadi nantinya, dengan perasaan tidak siap maka Adeline akan siap untuk menghadapi hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments