"Lo jangan dulu deh hubungi ayah lo duluan. Biarin aja ayah lo usaha dulu dapetin nomer lo yang sekarang. Kalo ayah lo tulus mau minta maaf, pasti dia bakal lakuin apa aja buat dapet maaf lo," ucap Agatha yang langsung menyeruput lagi es jeruk nya.
Bukan tentang tulus tidak tulus ayah Ayline minta maaf. Tapi Adeline bingung harus apa jika permintaan maaf dari ayah Ayline tersampaikan kepadanya. Dalam hati Adeline jujur sekali ingin memaafkan kesalahan ayah Ayline. Tapi bagaimana dengan jiwa Ayline yang sudah tidak lagi menempati raga yang ditumpangi Adeline sekarang? Akan kah jiwa itu rela jika Adeline memaafkan dan menerima kembali laki-laki itu untuk dekat dengan raga Ayline?
Adeline menghembuskan napasnya dengan kepalanya mendongak menatap langit yang sudah gelap diterangi oleh bulan dan bintang. Pasar malam yang ada di sekelilingnya tak kalah ramai dengan isi kepala Adeline sekarang. Ternyata masalah di dunia ini tidak kalah rumit nya dengan masalah di dunia sebelumnya.
"Gue harus gimana, tha?" tanya Adeline lalu menundukkan kepalanya menatap tangannya yang menggenggam satu gelas es jeruk juga yang tadi dibeli bersama Agatha.
Agatha menggeleng kecil lalu tertunduk juga. "Semua keputusan ada di lo, lin."
Semua keputusan ada di dirinya kata Agatha. Adeline pusing sekali memikirkannya. Jika diberikan waktu satu menit saja untuk bertemu dengan Ayline, Adeline pasti akan langsung menanyakan jawaban dari masalah yang sangat dia pikirkan sekarang.
Gelas bening berisi es jeruk di tangannya tiba-tiba tertutup oleh dua lembar tiket wahana di pasar malam itu membuat Adeline menoleh ke seseorang yang mengulurkan tiket itu.
Panjang umur untuk Agra. Laki-laki itu baru saja dibicarakan tiba-tiba muncul dengan menampakkan senyum nya kepada Adeline dan Agatha yang kini menatapnya. "Ambil, nak," katanya masih setia mengulurkan dua lembar tiket.
Rebyano yang mendekat ke arah mereka dengan membawa tiga lembar tiket membuat Agra perlahan menarik kembali uluran tiket di tangannya yang tak kunjung diambil oleh Adeline.
"Malam, pak," sapa Rebyano kepada Agra yang membalas dengan senyuman. "Ayo ini tiketnya," lanjutnya sembari mengulurkan dua tiket untuk Adeline dan Agatha yang barusan dibeli nya. Rebyano sengaja mengajak Agatha dan Adeline ke pasar malam ini untuk menghibur diri setelah seharian bekerja.
Agatha menerima tiket yang diulurkan oleh Rebyano lalu beranjak dari duduknya. "Ayo, lin," ajaknya kepada Adeline yang tidak enak hati melihat ayah Ayline yang tersenyum dengan tatapan sendu ke arahnya.
"Ambil aja." Agra menarik paksa tangan Adeline lalu meletakkan dua tiket tadi di telapak tangan Adeline. "Hati-hati. Ayah selalu nunggu kamu siap berbicara sama ayah."
Adeline termenung melihat dua tiket yang sudah menjadi miliknya. Dengan cepat Agatha pun langsung menarik tangan kiri Adeline untuk bangkit dari duduknya. Kemudian Adeline meninggalkan Agra yang terus menatapnya setelah Agatha menarik tangan Adeline untuk menuju ke wahana kora-kora bersama dengan Rebyano yang hanya mengikuti mereka.
Agra langsung menempelkan dua tangannya ke pinggang. "Tuhan. Dekatkan lah kami seperti dulu," monolognya sembari mendongak menatap langit.
"Pak Agra."
Agra menoleh ke seseorang yang menepuk pundaknya. "Eh tuan Kalandra. Selamat malam, tuan," sapa Agra dengan tubuhnya yang kembali berdiri tegap. "Ke sini sama pengawal siapa, tuan?"
"Selamat malam juga. Saya ke sini sama pak Ari, tapi pak Ari saya suruh di mobil aja," jawabnya. Kemudian Kalandra melihat sekelilingnya. "Kalo pak Agra sama siapa?" tanya nya balik.
"Saya sendiri aja. Kebetulan tadi ngeliat anak saya ke sini, jadi saya mampir juga ke sini."
"Ayline?" tanyanya dengan matanya yang menoleh ke sana ke mari mencari sosok perempuan itu.
Agra mengangguk. "Iya. Dia ke sana sama dua temannya," ucapnya sembari menunjuk Adeline yang terlihat berada di antrian kora-kora bersama Agatha yang di sampingnya dan Rebyano yang di belakang dua perempuan itu. Senyum Agra mengembang lagi ketika melihat Adeline berbincang riang dengan tawa bersama dua temannya.
Kalandra menepuk lalu mengelus punggung orang yang lebih tua di sampingnya. "Saya gak tau apa yang terjadi di antara bapak dan Ayline. Tapi semoga pak Agra bisa cepat dekat kembali dengan Ayline," ucapnya dengan tulus dari dalam hati.
Agra tersenyum kecil. "Aamiin. Terimakasih tuan Kalandra."
Beralih lagi ke tiga anak muda yang kini satu persatu naik ke wahana kora-kora setelah yang naik sebelumnya sudah turun semua.
Adeline, Agatha, dan Rebyano duduk di ujung sebelah kanan kora-kora. Wahana itu perbangku nya hanya bisa muat maksimal empat orang sehingga Rebyano cepat-cepat mengajak dua perempuan itu ke tempat duduk yang paling ujung.
Rebyano yang posisinya berada di tengah antara Adeline dan Agatha pun mengisyaratkan ke dua perempuan itu untuk berpegangan pada besi pegangan yang ada di depan mereka. "Teriak aja yang kenceng. Anggap aja lepasin beban," katanya membuat Adeline dan Agatha tertawa kecil.
Sebegitu kelihatannya kah beban yang mereka tanggung? Sehingga Rebyano mengajak mereka untuk berteriak bersama.
Perlahan kora-kora yang mereka naiki berayun ke depan dan ke belakang kalo dilihat dari sudut pandang ketika anak muda itu. Agatha yang melihat orang di depannya sudah mulai berpegangan dengan erat membuatnya tertawa remeh. "Gini doang mah mana seru," kata Agatha yang pertama kali dalam hidupnya mencoba wahana kora-kora.
Rebyano yang mendengar ucapan Agatha barusan pun tertawa. "Ini baru diayun, belum mulai."
Dalam hitungan beberapa detik setelah Rebyano memperingatkan tadi, kini kora-kora mulai berayun kencang. Semua orang yang ada di kora-kora itu mulai berpegangan dengan erat pada besi yang ada di depan mereka.
Pusing sudah mulai dirasakan oleh Agatha dan Rebyano. Sedangkan Adeline malah sibuk merapihkan rambutnya yang berterbangan tertiup angin menggunakan sebelah tangannya. Adeline lupa sekali untuk mengikat rambutnya, padahal Adeline sudah melihat semua perempuan lain yang naik wahana itu bersamanya mengikat rambut dengan kencang.
"Aaaaaa gue pusing, Rebyano."
Teriakan Agatha membuat Adeline menoleh ke arah dua temannya. Rebyano merangkul bahu Agatha lalu membawa Agatha tenggelam di dadanya agar Agatha tidak melihat ke depan. Syukurnya Adeline belum merasakan pusing seperti yang sudah dirasakan dua temannya.
"Ish rambut ku kenapa sih," monolog Adeline dengan tangannya masih sibuk menahan rambutnya agar tidak terurai tertiup angin lagi. Tidak ada yang memperhatikannya membenarkan rambut karena yang lain sibuk menutup mata dan berteriak.
Namun kini panik menyelimuti hati Adeline ketika mendengar besi yang patah dari bawah kora-kora itu yang membuat orang-orang yang tidak naik wahana itu pun berteriak untuk lari menjauh dari tempat wahana itu.
"Ada apa dengan wahana ini?" Dengan bodoh Adeline bertanya kepada dua temannya yang ada di sampingnya yang sedang berpelukan dengan erat, sehingga Adeline tidak mendapatkan jawaban dari mereka.
Lanjut lagi dengan suara besi yang patah dari arah atas. Dengan sebisa mungkin Adeline menatap ke atas melawan hembusan angin yang semakin kencang. Benar adanya, besi panjang yang membantu untuk menyeimbangkan sisi kanan dan kiri kora-kora itu kini menjulur ke bawah membuat seorang perempuan yang tepat di bawah besi itu pingsan akibat kepalanya terkena besi itu.
Kondisi semakin tidak kondusif. Adeline tidak tau harus berpegangan pada siapa. Yang bisa dipegangnya sekarang hanyalah besi yang ada di depan dan di sampingnya yang sudah berkarat.
Adeline tidak bisa menghindarinya, hidupnya di dunia ini banyak sekali kesialan yang harus dihadapinya. Adeline pikir ini semua adalah balasan dari dosanya kepada kedua orang tuanya dan juga dosanya kepada ayah Ayline yang belum mendapatkan balasan maaf darinya.
Mata Adeline terpejam. Hatinya merasakan kini kora-kora itu perlahan tumbang ke arah sebelah kiri sehingga menimpa beberapa tenda jualan yang ada di bawahnya. Teriakan dari orang-orang yang naik kora-kora itu bersamanya juga terdengar sangat ramai. Adeline tidak tau bagaimana keadaan semuanya termasuk dirinya sendiri yang masih memejamkan matanya dengan tangannya yang memegang erat besi di depannya. Adeline berharap semuanya akan baik-baik saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments