Huru-hara di Kedai Al

Beberapa piring berisi makanan yang dipesan oleh orang-orang berbadan besar diangkut oleh Daryata. Sementara Adeline yang di belakangnya membawa beberapa gelas minuman yang juga dipesan oleh orang-orang itu.

Kepala Adeline tegap menatap lurus ke depan sesuai dengan perintah dari Daryata. Sehingga Adeline tidak melihat apapun yang ada di bawahnya.

Salah satu kaki orang yang berbadan besar itu tiba-tiba diluruskan ke samping membuat Adeline yang tidak melihat pun jadi tersandung.

Byur!

Semua gelas yang berisi minuman jatuh tepat di atas meja yang di sana ada salah satu laki-laki muda yang dilindungi oleh orang-orang berbadan besar itu.

Semuanya lantas berdiri. Laki-laki muda yang dilindungi jas nya terpaksa tersiram oleh minuman yang dipesannya.

"Hei kamu!" Salah satu laki-laki berbadan besar yang ada di dekat Adeline langsung menegur dengan suara yang lantang.

Adeline ketakutan bukan main. Namun Adeline dibantu mundur oleh salah satu laki-laki berbadan besar itu. Adeline mendongak kepada laki-laki itu, ternyata laki-laki itu adalah seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.

Langkah kaki Rebyano dengan cepat membawa tubuh Rebyano sampai di samping Adeline. "Kamu gapapa?" tanya nya dengan tangannya yang menangkup lengan Adeline.

Adeline menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

"Bagaimana ini?!" Salah satu laki-laki berbadan besar yang tadi menegur Adeline kembali dengan suara lantangnya. "Kamu tidak becus sekali dalam bekerja!"

Kepala Adeline menunduk. Ibu jarinya kembali bergesekan menandakan detak jantung nya sedang berdetak tidak karuan. Rebyano pun langsung mengusap lengan Adeline dengan lembut.

"Kami minta maaf yang sedalam-dalamnya. Kami akan ganti semuanya dengan yang baru ya, pak," ucap Daryata sembari membungkukkan badannya.

"Tunggu dulu!" Semua memusatkan perhatiannya pada laki-laki muda yang kini melepas jas nya yang basah.

Adeline termenung menatap laki-laki itu. Adeline berusaha mengingat wajah laki-laki itu yang tidak asing.

Adeline mengingatnya. Laki-laki itu adalah seseorang yang terluka dengan matanya yang terpejam di atas brankar yang didorong oleh perawat rumah sakit ketika hari dimana Adeline dibolehkan untuk pulang.

"Apa kamu tidak mau minta maaf dengan saya?" tanya laki-laki itu kepada Adeline. "Kamu yang melakukan kesalahan ini, seharusnya kamu minta maaf. Saya tidak akan memaafkan kalian jika kamu tidak minta maaf."

Mata Adeline yang berlinang air mata menatap mata Rebyano yang selalu teduh menatapnya.

"Cepat minta maaf!" Laki-laki berbadan besar yang suaranya lantang tadi langsung menarik Adeline dengan kasar untuk mendekat ke arah laki-laki muda yang dilindunginya.

Laki-laki berbadan besar yang tadi menatap Adeline tanpa berkedip pun langsung melepaskan genggaman tangan laki-laki tadi dari tangan Adeline. "Dia perempuan," katanya dengan tegas membela Adeline.

Adeline yang berada di tengah-tengah antara dua laki-laki berbadan besar itu hanya diam memaksa dirinya untuk fokus meminta maaf kepada laki-laki yang cukup seumuran dengannya yang ada di depannya.

Perlahan kaki Adeline melemah sehingga Adeline terduduk di lantai. "Saya minta maaf," ucapnya dengan kedua telapak tangannya yang bertaut untuk meminta ampun.

"Ayline..." Rebyano tidak tega melihat Adeline yang seperti itu. Pergerakannya yang ingin membantu Adeline berdiri tertahan. Karena laki-laki berbadan besar yang membela Adeline tadi lebih dulu membantu Adeline untuk berdiri.

"Jangan meminta maaf seperti itu, Ayline," bisik laki-laki yang membantu Adeline berdiri.

Adeline menatap laki-laki itu dengan tatapan sendu. Air matanya hampir saja jatuh, namun Adelin lebih dulu mengucek matanya.

"Saya minta maaf, saya akan tanggung jawab semuanya," kata Adeline kepada laki-laki muda di depannya yang tersenyum miring.

"Kali ini saya maafkan. Kalau kamu seperti ini lagi, saya tidak akan segan-segan memukul kamu walaupun kamu perempuan. Paham?!" kata laki-laki muda itu dengan laga sombongnya.

Adeline mengangguk. "Sekali lagi saya minta maaf."

"Ya sudah sekarang gantikan semua dengan yang baru!" perintah laki-laki muda tadi.

Mereka kembali duduk. Daryata membersihkan meja yang dibanjiri oleh minuman yang ditumpahi Adeline. Sementara Adeline dan Rebyano membawa gelas-gelas yang untungnya tidak pecah kembali ke arah dapur.

Gorden ruangan dapur dibuka oleh Adeline. Ibu pemilik kedai terlihat sedang berdiri sambil menunduk di depan wastafel.

"Ibu..." lirih Adeline memanggil Gita dengan perasaan takut.

Gita menoleh ke belakang dengan tatapan tajam dan wajah yang sedikit memerah. Adeline jelas langsung panik melihat ibu pemilik kedai dengan wajah yang seperti itu.

Semakin dekat Gita melangkah maju, jantung Adeline semakin menjadi-jadi berdetak tidak karuan nya.

"Gapapa, semua pasti akan melakukan kesalahan kok." Bukan cacian yang diberikan, Gita malah memberikan kalimat penenang untuk Adeline.

Kedua tangan Gita dibuka lebar mengizinkan Adeline untuk masuk ke dalam pelukannya. Tanpa ragu Adeline pun langsung mendekat ke arah Gita dan langsung memeluknya setelah meletakkan nampan yang di atasnya terdapat gelas-gelas tadi ke dekat wastafel.

"Gak perlu takut, Ayline." Gita mengusap punggung Adeline dengan lembut.

Adeline melepaskan pelukan itu duluan. "Aku bantu ibu buat minuman yang baru ya, bu," ucap Adeline memohon.

Gita mengangguk. "Ayo bantu ibu."

Adeline membantu Gita menyusun beberapa gelas bersih di atas nampan. Gita dengan lihai membuka bubuk minuman instan yang sudah diletakkan di masing-masing tempat.

Gorden dibuka sedikit oleh Rebyano. "Ada pesanan baru dua nasi goreng ekstra ayam sama dua ice tea, bu," katanya kepada Gita yang masih mengaduk minuman-minuman tadi.

Sendok yang di tangan Gita langsung diserahkan kepada Adeline. "Kamu aduk yang dua itu ya," ujarnya sembari menunjuk dua minuman yang belum diaduk.

Dengan buru-buru Adeline langsung mengaduk dua minuman tadi. Kemudian sendok yang digunakannya langsung ditaro di wastafel ketika dua minuman itu sudah teraduk sempurna. "Sudah selesai, bu."

"Sebentar ibu panggilkan ayah dulu." Gita meninggalkan Adeline di dapur. Gita langsung menghampiri Daryata yang mengepel lantai di sekitar meja orang-orang tadi. Kemudian Daryata menoleh ketika Gita menepuk bahunya. "Kamu saja yang antarkan minuman baru nya."

Daryata mengangguk. Kain pel di tangannya langsung diangkat.

"Tunggu dulu." Laki-laki muda tadi bangun dari duduknya. Daryata dan Gita yang baru saja berbalik badan langsung menghentikan langkahnya. "Saya mau perempuan tadi yang mengantarkan minuman baru ke sini," lanjutnya.

Gita menatap suaminya dengan tatapan mengisyaratkan untuk menolak. Namun Daryata malah memejamkan matanya satu detik mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.

"Baik. Semua akan diantarkan oleh anak saya," balas Daryata membuat laki-laki berbadan besar yang membela Adeline tadi menatapnya dengan tatapan jengkel. "Permisi," pamit Daryata langsung merangkul istrinya dengan sebelah tangannya.

Adeline yang masih setia menjaga minuman baru pun kini menoleh ke arah Gita dan Daryata yang masuk ke dalam ruangan itu.

"Kamu yang antarkan lagi minumannya ke sana ya, Ayline." Gita mengusap sebelah lengan Adeline.

Daryata mencuci tangannya setelah meletakkan kain pel tadi ke dalam ember yang terisi air. "Ayah akan di belakang kamu untuk menemani. Kamu gak perlu takut, seperti biasa aja, seperti mengantarkan pesanan orang lain," ucapnya lalu tersenyum menenangkan.

Adeline mengangguk. Nampan yang di atasnya ada minuman-minuman baru tadi langsung diangkat oleh Adeline. Kemudian Adeline berjalan keluar dari ruangan itu diekori oleh Daryata.

Awalnya biasa saja, namun semakin dekat langkah Adeline ke meja tujuan membuat detak jantung nya mulai berdetak tidak karuan lagi. Tangannya tiba-tiba gemetar membuat nampan yang dipegangnya sedikit bergoyang.

Kini langkah kakinya terhenti di depan meja orang-orang tadi. Dengan hati-hati Adeline mendaratkan nampan itu di atas meja. Kemudian Adeline meletakkan gelas satu persatu ke orang-orang itu. Baru lah hatinya tenang ketika gelas terakhir sudah diletakkan dengan benar di depan laki-laki muda tadi. "Selamat menikmati," kata Adeline sembari sedikit membungkukkan badannya.

Orang-orang itu hanya menatapnya datar lalu beralih fokusnya kepada makanan dan minuman di depannya.

Daryata berbalik badan membuat Adeline juga ikut berbalik badan meninggalkan meja itu. Namun di belakang Adeline, laki-laki berbadan besar yang membela Adeline tadi ikut berjalan mengikuti langkah Daryata dan Adeline. Adeline yang sadar akan orang itu pun sedikit menoleh ke belakang. Laki-laki itu tersenyum kepadanya membuat bulu kuduk Adeline langsung berdiri.

Laki-laki itu memisahkan diri ke kasir dari Adeline yang mendekat ke arah meja pesanan jadi. "Semuanya jadi berapa?" tanya nya kepada Rebyano yang langsung menyerahkan struk pesanan mereka. Beberapa lembar uang berwarna merah langsung dikeluarkan dari dompet hitam yang ada di tangannya setelah melihat total pesanan yang harus dibayar. "Lebihnya untuk ganti rugi yang Ayline tumpahkan tadi."

Rebyano menatap dengan bingung ke arah laki-laki itu. Dia heran bagaimana orang itu tau nama perempuan yang menumpahkan minuman tadi.

Laki-laki itu langsung beranjak mendekat ke arah Adeline yang masih setia di depan meja pesanan jadi setelah mendapatkan struk pembayaran baru dari Rebyano. Laki-laki itu mengeluarkan selembar kartu namanya dari kantong jas nya lalu diulurkan kepada Adeline. "Ini nomer baru, ayah. Hubungi ayah jika kamu ada waktu ya, nak. Ayah kangen sekali dengan kamu, Ayline."

Adeline bingung menatap laki-laki itu yang sorot matanya teduh seperti menahan tangisnya. Dengan perasaan tidak tega Adeline pun menerima kartu nama laki-laki itu.

"Jaga diri baik-baik ya, nak," ujar Agra Akandra yang namanya beserta alamat tempat tinggal, nomer telfon, dan alamat email nya tertera pada kartu nama yang dipegang Adeline.

Setelah itu Agra melangkah mundur meninggalkan Adeline yang tidak memberikan tanggapan apa-apa. Adeline masih mencerna apa yang dimaksud laki-laki tadi.

"Apa itu, Ayline?" tanya Gita yang membawa pesanan orang lain dari dalam dapur.

Adeline menggeleng sembari tersenyum. Kartu nama tadi langsung dimasukkan ke dalam kantong apron nya. Lalu Adeline memfokuskan dirinya kembali untuk bekerja mengantarkan pesanan orang lain yang baru jadi dengan melupakan kejadian membingungkan yang baru saja terjadi.

Episodes
1 Pintu Ajaib
2 Dunia Baru Adeline
3 Pulang
4 Tempat Tinggal Ayline
5 Seperti Ini Hidup Ayline
6 Hari Keberuntungan
7 Kedai Al
8 Setelah Kerja Hari Pertama
9 First Time Mengenal Telfon
10 Ke Kedai Bersama Rebyano
11 Huru-hara di Kedai Al
12 Sarapan di Kedai Al
13 Hari Kedua Bertemu Ayah
14 Pasar Malam
15 Setelah Musibah Kora-kora
16 Rumah Sakit
17 Inap dan Pulang
18 Tentang Rebyano dan Agatha
19 Bergantian Menjaga Agatha
20 Kedai Tanpa Rebyano
21 Perusahaan Barul
22 Kembali Ke Kedai Al
23 Perihal Hutang Ayline
24 Hujan dan Ayah
25 Berbagi Cerita Pada Agatha
26 Bertemu Keluarga Kecil Agra
27 Rumah Ibu Ayline
28 Kedatangan Tamu
29 Sekarang Mereka Berteman
30 Teman Baru Suasana Baru
31 Hari Baik atau Buruk?
32 Atas Restu Ayline dan Hyera
33 Bulan dan Rumah Ayline Jadi Saksi
34 Gara-gara Gerobak Sayur
35 Setelah Beli Sayur
36 Perayaan yang Tiba-tiba
37 Masih Merayakan Pencapaian Agra
38 Sifat Asli Selebriti Kota
39 Berbincang Santai di Kedai Al
40 Bonceng Tiga
41 Festival Musik Kota
42 Festival Musik Kota Part 2
43 Di Parkiran Festival Bersama Kalandra
44 Huru-hara Minggu Pagi
45 Olahraga Pagi
46 Bertemu Dua Keluarga
47 Diganggu Bekerja
48 Masalah Baru Untuk Adeline
49 Keesokan Hari
50 Berusaha Menghindar
51 Adeline Punya 1001 Alasan
52 Ternyata Sudah Satu Bulan Lebih
53 Mendapatkan Kunci Jalan Keluar
54 Lima Bulan Kemudian
55 Pagi Hari dengan Kabar Buruk
56 Saling Merangkul
57 Kejutan Baru Untuk Adeline
58 Mendadak ke Kedai Sate
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Pintu Ajaib
2
Dunia Baru Adeline
3
Pulang
4
Tempat Tinggal Ayline
5
Seperti Ini Hidup Ayline
6
Hari Keberuntungan
7
Kedai Al
8
Setelah Kerja Hari Pertama
9
First Time Mengenal Telfon
10
Ke Kedai Bersama Rebyano
11
Huru-hara di Kedai Al
12
Sarapan di Kedai Al
13
Hari Kedua Bertemu Ayah
14
Pasar Malam
15
Setelah Musibah Kora-kora
16
Rumah Sakit
17
Inap dan Pulang
18
Tentang Rebyano dan Agatha
19
Bergantian Menjaga Agatha
20
Kedai Tanpa Rebyano
21
Perusahaan Barul
22
Kembali Ke Kedai Al
23
Perihal Hutang Ayline
24
Hujan dan Ayah
25
Berbagi Cerita Pada Agatha
26
Bertemu Keluarga Kecil Agra
27
Rumah Ibu Ayline
28
Kedatangan Tamu
29
Sekarang Mereka Berteman
30
Teman Baru Suasana Baru
31
Hari Baik atau Buruk?
32
Atas Restu Ayline dan Hyera
33
Bulan dan Rumah Ayline Jadi Saksi
34
Gara-gara Gerobak Sayur
35
Setelah Beli Sayur
36
Perayaan yang Tiba-tiba
37
Masih Merayakan Pencapaian Agra
38
Sifat Asli Selebriti Kota
39
Berbincang Santai di Kedai Al
40
Bonceng Tiga
41
Festival Musik Kota
42
Festival Musik Kota Part 2
43
Di Parkiran Festival Bersama Kalandra
44
Huru-hara Minggu Pagi
45
Olahraga Pagi
46
Bertemu Dua Keluarga
47
Diganggu Bekerja
48
Masalah Baru Untuk Adeline
49
Keesokan Hari
50
Berusaha Menghindar
51
Adeline Punya 1001 Alasan
52
Ternyata Sudah Satu Bulan Lebih
53
Mendapatkan Kunci Jalan Keluar
54
Lima Bulan Kemudian
55
Pagi Hari dengan Kabar Buruk
56
Saling Merangkul
57
Kejutan Baru Untuk Adeline
58
Mendadak ke Kedai Sate

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!