"Maaf ya lo harus ingat ini lagi... Orang tua lo cerai, cerai mati. Ibu lo yang pergi ninggalin dunia ini tiga tahun yang lalu. Penyebab ibu pergi adalah ayah lo. Sore itu di hari terakhirnya, beliau ngeliat secara langsung perselingkuhan antara ayah lo sama perempuan yang paling lo benci, yaitu tante lo. Ibu ilang arah saat itu, ibu pulang ngendarai mobilnya sendiri, terus kecelakaan di tempat yang sama kayak lo kemarin, jalan Samudra. Bedanya ibu meninggal di sana, sedangkan lo masih bisa diselamatkan,"
Agatha tidak tau. Dua orang yang dia kenal dekat itu bernasib sama. Meninggal di tempat yang sama dengan keadaan yang sama.
"Di hari itu ternyata lo juga liat perselingkuhan antara ayah lo dan tante lo saat lo lagi ada pertemuan sama temen lama lo. Alias lo juga liat ibu yang hancur tapi ayah lo gak peduli, dia lebih milih tetap sama tante lo dibanding ngejar ibu. Lo nelfon gue pas lo lagi berusaha ngejar ibu, tapi di pertengahan gue malah denger lo teriak dan gak lama lo nangis, terus telfon terputus. Di situ lo liat ibu kecelakaan,"
Sakit sekali. Adeline merasakan apa yang dirasakan oleh Ayline. Hancur, sedih, marah, kecewa menjadi satu perpaduan rasa yang timbul di hati siapapun yang mendengar kejadian itu.
"Sejak hari itu lah lo benci sama ayah lo. Bagai kerasukan setan, saat ayah lo pulang karena tau keadaan ibu, lo langsung ngusir ayah lo dari rumah ini. Lo gak punya saudara kandung, jadi orang yang punya rumah ini tersisa lo sendiri. Tapi karena lo gak mau tinggal sendirian di rumah ini, jadi lah lo minta gue yang hidup nya gak diterima sana-sini, buat tinggal bareng lo di rumah ini,"
"Maksud gak diterima sana-sini apa?" tanya Adeline.
"Orang tua gue juga cerai saat gue lulus SMA, lin. Setahun pertama mereka cerai gue masih ikut sama mami, tapi setelah mami nikah lagi, mami buang gue. Suami barunya gak terima gue ada di rumahnya." Agatha tersenyum kecil lalu tertunduk.
Hela napas terdengar sangat berat dari Agatha yang perlahan mendongak. "Jangan usir gue dari sini ya, lin. Gue gak tau harus kemana lagi kalo gak sama lo."
Sial. Sakit sekali hati Adeline mendengarnya.
Adeline beranjak dari duduk nya. Tangannya terulur mengusap dua lengan Agatha yang terbalut oleh sweater berwarna merah muda.
"Gue gak mau nangis, lin. Haha." Agatha menoleh ke belakang lalu beranjak juga dari duduknya. Tangannya kini terulur ke bahu kanan Adeline. "Seharusnya lo yang nangis gak sih? Lo jadi inget lagi tentang keluarga lo."
Adeline tersenyum lalu menggeleng. Kedua tangannya terbuka untuk Agatha. Tidak ada rasa gengsi dalam hati masing-masing, mereka pun berpelukan untuk memberikan kekuatan satu sama lain.
"Kita lewati semuanya bareng-bareng ya, lin." Adeline mengangguk dalam pelukan. Walaupun Adeline tahu, itu diucapkan untuk Ayline, namun Adeline juga ingin melewati semua masalah hidup di kehidupan barunya bersama Agatha. "Makasih, Ayline."
Ayline, terimakasih. Jiwa dan raga mu sangat berharga bagi kedua perempuan yang saling berpelukan erat itu. Semoga tempat baru mu menjadi tempat yang paling bahagia untuk mu.
...****************...
Acara saling berpelukan untuk memberikan kekuatan satu sama lain sudah terlewat satu jam yang lalu. Kini Adeline dan Agatha sudah berada di ruangan yang berbeda.
Di dalam ruangan bernuansa putih dan coklat, Adeline duduk di atas kasur milik Ayline. Sebuah benda persegi panjang yang sedikit retak di tangannya ditatap sembari diusap dengan lembut.
Adeline tidak pernah melihat benda itu selama di dunia sebelumnya. Namun dengannya tadi memperhatikan Agatha yang lihai mengendalikan benda itu, Adeline jadi mengetahui fungsi dan cara menggunakannya.
Dua orang perempuan yang umurnya berbeda jauh terlihat pada gambar yang menjadi wallpaper layar kunci. Di layar itu adalah foto Ayline dan ibu nya.
Pegunungan yang menjadi latar pemandangan, menggunakan pakaian dengan warna yang senada, dan senyum yang terukir manis dari Ayline juga sang Ibu menjadi kesan bahagia untuk foto itu.
Hati Adeline menghangat ketika terus memperhatikan foto dua orang yang asing untuk nya namun berarti untuk kehidupannya yang sekarang.
Bisa dilihat dari foto itu, wajah Adeline dan Ayline terbilang hampir mirip. Terdapat persamaan bentuk wajah, bentuk bibir, dan bentuk mata yang sedikit sipit. Hanya saja kantung mata Ayline lebih tebal dan sedikit berwarna hitam daripada kantung mata Adeline. Mengerti lah, itu salah satu bukti betapa sering nya Ayline bergadang dan menangis selama hidupnya.
Walaupun retak, layar handphone masih bisa diusap oleh Adeline. 4 buah titik yang harus diisi dengan angka menjadi hal yang membuat Adeline tidak bisa berkutik. Adeline tidak tau berapa pin handphone yang bukan miliknya itu.
Adeline langsung bangkit dari duduk nya. Ke kamar Agatha menjadi tujuan utamanya untuk memecahkan masalah ini.
"Agatha." Adeline memanggil pemilik kamar terlebih dahulu karena pintu kamar itu tertutup rapat. Namun sudah terhitung dua puluh detik, Adeline tidak mendapatkan jawaban dari dalam sana.
Tok! Tok! Tok!
Tiga ketukkan juga tidak berhasil mendapatkan jawaban dari dalam sana.
Adeline melirik jam yang tertera pada layar handphone di tangannya. Pukul 20:30 tertera di sana. Agatha sudah terlelap pikirnya.
Namun dengan rasa penasaran, Adeline mendorong gagang pintu ke bawah lalu mendorongnya lagi ke dalam.
Kret!
Pintu berusaha didorong sepelan mungkin agar suara yang ditimbulkan tidak mengganggu orang di dalam. Namun yang Adeline dapatkan setelah pintu itu berhasil terbuka sedikit lebar hanyalah barang-barang yang serupa seperti di kamar Ayline tanpa adanya Agatha di dalam sana.
"Lin!"
Adeline terkejut ketika seseorang di belakangnya yang tiba-tiba menepuk bahunya seraya memanggil namanya. Itu Agatha.
"Lo mau ngapain ngumpet-ngumpet kayak gini?" tanya Agatha yang membawa benda persegi bisa dilipat dan segelas minuman di tangan lainnya.
Adeline menampakkan deretan giginya. "Gue kira lo udah tidur. Jadi gue pelan-pelan buka pintu nya," katanya dengan pelafalan yang sudah terdengar normal seperti Ayline berbicara. "Ada yang mau gue tanya."
Pemilik kamar itu masuk ketika Adeline sedikit menepi. Benda yang dibawa Agatha tadi langsung diletakkan di atas meja yang berada di samping kasur.
"Nanya apa?" tanyanya sembari duduk di kursi.
Adeline menyodorkan handphone yang belum bisa terbuka. "Pin nya berapa?"
"Wih kok bisa nyala lagi sih? Padahal waktu gue bawa pulang dari kantor polisi gak bisa nyala." tanyanya heran sembari membolak-balikkan handphone itu. Lalu diketiknya 4 angka yang berhasil untuk membuka handphone itu.
Syukurlah Agatha mengingat pin handphone itu.
Tidak ada yang beda dari layar kunci, foto Ayline bersama ibunya juga menjadi wallpaper layar utama. Namun notifikasi 100 panggilan tidak terjawab dan SMS dari berbagai nomor tiba-tiba muncul membuat handphone itu agak sulit untuk dikendalikan.
Agatha langsung melirik Adeline lalu tersenyum. Adeline yang tidak tahu apa-apa tentang pesan-pesan itu pun kebingungan.
Apakah itu pesan cinta dari kekasih Ayline?
Kini Adeline dapat membacanya sendiri dari siapa pesan-pesan itu berasal ketika Agatha mengembalikan handphone itu setelah menyambungkan jaringan internet dari hotspot Agatha.
Ternyata salah. Bukan pesan dari kekasih Ayline.
Bukan pesan romantis, namun pesan yang cukup mengerikan. Tagihan hutang dari berbagai nomor membuat Adeline ngeri membacanya.
"Kapan kita bisa lunasin semuanya ya, lin?" tanya Agatha yang merenggut rambutnya dengan lembut. "Gue pusing."
Raut wajah cemas dan sedih terlihat pada pada wajah Adeline. Hutang bukan hal yang asing baginya. Elston juga pernah memiliki hutang yang begitu besar sampai Adeline hampir menjadi sarana pelunasan nya.
"Barang apa lagi yang harus kita jual buat bayar hutang ya, lin?" tanya Agatha yang menunduk masih dengan kedua tangannya yang merenggut rambutnya.
Jangan sarankan Agatha untuk menjual laptop yang ada di depannya. Benda itu satu-satunya yang bisa membantu Agatha mengerjakan pekerjaan yang tidak setiap hari Agatha dapatkan.
Jangan juga sarankan mereka untuk menjual handphone mereka. Karena handphone yang mereka pakai sekarang adalah handphone dari suatu merek terkenal namun versi nya sudah yang lebih tua. Jika dijual, harganya tidak seberapa.
Jangan juga sarankan mereka untuk menjual rumah yang mereka singgahi sekarang. Karena rumah itu satu-satunya harta terbesar yang Ayline dapatkan dari sang ibu. Jika dijual, dimana lagi mereka bisa berlindung.
Melihat Agatha yang frustasi membuat Adeline juga ikut merasakan betapa pusingnya untuk mendapatkan uang. Apalagi Adeline tau, Ayline belum memiliki pekerjaan dari sebelum Ayline meninggalkan dunia ini.
Satu-satunya cara balas budi yang bisa Adeline lakukan mulai sekarang adalah dengan mendapatkan pekerjaan.
Adeline menghela napas dengan matanya yang lurus ke depan menatap tembok kosong. Hatinya bertekad, besok Adeline harus mendapatkan pekerjaan apapun yang mampu tidak mampu harus dia kerjakan. Demi memperbaiki hidup Ayline, Adeline yang sebenarnya pemalas itu dapat bertekad untuk mendapatkan pekerjaan.
Hari esok, semoga berpihak pada Adeline.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
tsuraya kenko
keren bgt inih sch thor crtnya.
salut jg sm gaya bahasa, n bnr2 rapih pih ga ada typonya
2023-11-11
1
Mabel
Ceritanya unik, bikin aku gabisa move on!
2023-10-19
2