Setelah sepuluh menit menempuh perjalanan dari rumah ke rumah sakit Harapan, kini Adeline turun dari angkutan umum yang ditumpanginya. Selembar mata uang yang sama seperti mata uang yang ada di dunia sebelumnya langsung disodorkan kepada supir angkutan umum itu. "Ini uang nya, bang," ucap Adeline kemudian angkutan umum itu langsung meninggalkannya.
Ambulance dengan sirine yang masih berbunyi akan masuk ke rumah sakit itu membuat Adeline langsung menyingkir lalu melanjutkan langkahnya disusul oleh ambulance itu.
Adeline langsung berbelok ke gedung rumah sakit yang ada di sebelah kirinya. Cukup ramainya orang di depan pintu membuat Adeline berjalan dengan hati-hati sembari mengucap kata permisi untuk bisa masuk ke gedung itu.
Adeline langsung menemukan tangga di dalam gedung itu yang tidak jauh dari pintu masuk. Namun Adeline lebih dulu menghentikan langkahnya. "Aku gak tau Agatha di mana," monolognya.
Handphone yang disimpan di dalam tas nya pun langsung di keluarkan. Setelah handphone itu menyala, Adeline langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya melalui satu pesan dari Rebyano yang memberitahu di lantai berapa ruangan Agatha berada pun membuat Adeline langsung berniat melanjutkan langkahnya.
"Ayline!"
Suara seseorang yang memanggil nama pemilik raganya pun membuat Adeline menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Kalandra yang berpakaian kerjanya dengan rapi langsung terlihat ketika seorang perempuan yang berjalan mengarah keluar langsung menyingkir ketika hampir menabrak Kalandra.
"Kamu ke sini lagi?" tanya Adeline sebagai basa-basi untuk membuka pembicaraan.
Kalandra mengangguk sembari mengatur napasnya karena tadi lari dari parkiran untuk mengejar jejak Adeline. "Kamu akan bergantian dengan Rebyano untuk menjaga Agatha?" tanyanya.
"Hanya menjaga sebentar sementara Rebyano pulang, nanti saya langsung berangkat ke kedai Al setelah Rebyano kembali ke sini," jawab Adeline sembari membenarkan tali tas selempangnya yang perlahan merosot. "Kamu mau menjenguk seseorang di sini?" tanyanya balik.
Kalandra menjawab dengan gelengan kepala. Kalandra menoleh pada Arga yang berhenti di samping nya dengan membawa parcel buah dan paper bag yang entah di dalam nya ada apa. Kedua barang itu langsung diterima oleh Kalandra ketika Agra menyodorkannya.
"Ini untuk Agatha. Tolong sampaikan maaf saya kepada Agatha karena saya tidak bisa menjenguk ke ruangannya. Setelah ini saya harus pergi lagi karena ada hal penting yang harus saya tangani," ucap Kalandra sembari menyodorkan parcel buah.
"Dan ini untuk kamu. Jangan lupa dimakan ya, Ayline. Tadi kamu bilang akan tetap bekerja hari ini. Kamu jangan sampai sakit," lanjut Kalandra menyodorkan paper bag berisi makanan untuk Adeline.
Adeline dengan ragu pun menerimanya karena mendengar ucapan Kalandra yang bilang harus pergi lagi untuk mengurus hal yang lebih penting. "Terimakasih ya Kalandra. Semua akan saya sampaikan kepada Agatha," katanya.
"Baik, terimakasih juga, Ayline," balas Kalandra lalu memeriksa handphonenya yang terdapat panggilan masuk dari nomer seseorang. "Ayline, maaf saya harus berpamitan sekarang. Saya harus segera pergi," lanjutnya dengan gerak-gerik tidak nyaman.
Adeline mengangguk. "Tidak apa-apa. Pergilah sekarang, Kalandra. Hati-hati di jalan."
Kalandra mengangguk dan tersenyum. "Ayo pak Agra kita berangkat sekarang," ucapnya kepada Agra yang ikut melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ayline, saya pamit," lanjutnya berpamitan lalu langsung meninggalkan Adeline yang mempersilahkannya untuk segera pergi.
"Ayah pamit, Ayline." Tidak ada kata-kata lain yang diucapkan oleh Agra yang langsung berbalik badan menyusul tuan muda yang dijaganya yang kini sudah tidak melihat dari pandangannya.
Dua laki-laki itu sudah menghilang dari pandangan Adeline, sehingga Adeline langsung berbalik badan untuk melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu tangga yang mengarah ke lantai atas. Padahal ada lift di sebelah tangga itu namun Adeline lebih memilih untuk menggunakan tangga karena Adeline tidak mengerti cara menggunakan benda itu yang bisa lebih cepat mengantarkannya ke lantai tujuan.
Tiga puteran telah dilewati oleh Adeline. Papan bertuliskan angka tiga yang tertempel di tembok samping tangga membuat Adeline tersenyum lalu menghentikan langkahnya untuk membuang napas lelah nya.
"Lift nya mati mba?"
Adeline terkejut dengan seorang perempuan yang berdiri di depan lift bertanya padanya. "Ah engga kok," jawab Adeline dengan tersenyum tipis kepada orang itu.
"Oh engga kirain mati. Ternyata mba nya yang rajin banget naik tangga. Kalo saya mah udah males duluan ngeliat tangga melingkar kayak gitu," ucap perempuan itu dengan tangannya yang melipat di dada.
Adeline tersenyum kaku. "Hitung-hitung olahraga, mba," ucapnya membuat perempuan itu tertawa kecil.
Kemudian Adeline melanjutkan langkahnya mencari ruangan yang diberitahu oleh Rebyano. Kakinya melangkah pelan-pelan untuk melihat papan nama ruangan yang tertempel di depan pintu ruangan-ruangan yang ada di lantai itu.
Ruangan Anggrek yang tertera di pintu salah satu ruangan yang berada di ujung lorong itu membuat Adeline menghela napasnya. Pintu ruangan itu langsung didorong dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara dari bagian bawah pintu itu yang bergesekan dengan lantai.
Rebyano yang sedang memaksa Agatha untuk makan langsung terlihat oleh Adeline karena Rebyano sengaja tidak menutup tirai bagian mereka agar Adeline dapat lebih mudah menemukan mereka.
"Eh Ayline udah dateng," kata Rebyano yang langsung meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas meja beroda yang ada di sampingnya setelah melihat Adeline yang mendekat ke arah mereka. "Duduk di sini, lin," lanjut Rebyano yang langsung berdiri untuk menyerahkan kursi yang memang hanya ada satu di situ.
Adeline meletakkan parsel buah dan paper bag berisi makanan yang diberikan oleh Kalandra tadi ke atas nakas. Lalu meletakkan tas ransel milik Agatha juga di lantai sebelum Adeline duduk di kursi yang diserahkan oleh Rebyano.
"Itu parcel buah buat gue kah?" tanya Agatha yang langsung mendapatkan anggukan sebagai jawaban dari Adeline. "Lo ngapain beliin gue begituan? Gak perlu, lin. Mending buat ongkos ke kedai nanti."
Adeline tersenyum dan menggeleng kecil. "Itu dari Kalandra. Tadi gue ketemu dia di bawah. Dia minta gue buat sampaikan maaf dia ke lo karena dia gak bisa jenguk lo ke sini. Ada urusan penting yang harus dia tangani."
"Ya ampun orang itu. Padahal gue belum kenal sama dia, tapi dia baik banget ngasih itu ke gue. Tolong sampaikan terimakasih gue ke dia ya, lin," ucap Agatha yang menatap parcel buah di atas nakas, lalu menatap Adeline yang tersenyum.
"Iya.. Kalo lo udah sembuh, bakal gue kenalin dia ke lo, ya. Jadi lo harus cepat-cepat sembuh biar bisa bilang terimakasih secara langsung ke Kalandra."
"Gue udah sembuh kok, lin. Liat aja gue sekarang, udah seger gini," ucap Agatha yang berusaha meyakinkan sahabatnya agar bisa cepat pulang.
Rebyano yang sedang berkutik dengan handphone nya pun langsung terhenti. "Apaan lo bilang? Terus tadi siapa yang hampir jatuh pas maksa perawat buat pulang kalo bukan lo yang sekarang bilang udah seger?"
Mata Adeline melebar menatap Agatha yang langsung menampakkan deretan giginya. "Astaga Agatha. Lo jangan nekat kayak gitu dong. Tunggu sehat dulu aja baru pulang. Lo bilang kayak gitu loh pas waktu itu gue dirawat habis kecelakaan."
"Gue ngerasain bosan yang lu rasain waktu itu, lin. Gue bosen, mau pulang, mau kerja lagi," rengek Agatha yang merasa bosan karena pergerakkan nya dibatasi di atas ranjang rumah sakit itu.
"Iya nanti kerja lagi kalo udah sembuh," ucap Adeline. Mangkuk berisi bubur langsung diambil oleh Adeline. "Mending sekarang lo makan ya, biar cepet sembuh, biar cepet pulang. Sini gue suapin biar makannya cepet."
"Tuh dengerin. Makan biar cepet sembuh," kata Rebyano yang membuat Agatha mencibirkan bibirnya. Rebyano mengambil dompet nya yang diletakkan di atas nakas. "Nanti gue balik lagi ya, cil. Gue mau mandi sama makan dulu di rumah," lanjutnya mengusak rambut Agatha.
"Rese lo, kusut rambut gue," ucap Agatha yang cemberut karena rambutnya berantakan.
Adeline tertawa kecil melihat dua orang yang Adeline sudah tau hubungan di antara keduanya. Tangannya terulur ikut merapihkan rambut Agatha. "Aku gak anterin kamu ke bawah ya, Rebyano. Kamu hati-hati pulangnya," ucapnya sembari menoleh ke Rebyano yang berdiri di sampingnya setelah merapihkan rambut Agatha.
"Iya gapapa. Secepatnya saya akan kembali lagi ke sini ya. Tolong jaga anak kecil bandel itu dulu sebentar," balas Rebyano sembari memakai jaket nya yang digantung di kaki ranjang yang ditiduri Agatha.
"Anak kecil, anak bandel. Lo tuh anak kunyuk," ucap Agatha tidak terima membuat Adeline tertawa.
Rebyano menampakkan raut wajah meledek ke arah Agatha. "Yaudah dadah anak babi, jemputan gue udah di bawah. Jangan kangen gue ya, gue cuma pulang sebentar kok," ucap Rebyano dengan meledek sembari kakinya yang perlahan melangkah mundur.
"Dih ya kali gue kangen sama lo. Buruan pulang deh lo sana," usir Agatha sebagai balas candaan Rebyano.
Rebyano tertawa lalu melambaikan tangannya. "Jaga sebentar ya, Ayline," ucapnya kepada Adeline. Kemudian Rebyano keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan anggukan dari Adeline sebagai jawaban.
Bubur yang ada di sendok yang dipegang Adeline pun langsung disodorkan kepada Agatha yang tanpa lama-lama langsung membuka mulutnya.
Wajah pucat Agatha yang sekarang ditatap Adeline membuat Adeline merasa berdosa karena telah membuka amplop berisi polaroid foto Agatha bersama Rebyano, sementara pemilik polaroid itu sekarang sedang berjuang melawan sakit yang menimpanya dan yang pastinya juga pemilik polaroid itu juga sedang melawan hatinya untuk berdamai dengan Rebyano yang sudah menjadi mantan kekasihnya.
"Agatha." Adeline memanggil Agatha yang langsung menatapnya. Adeline kembali berpikir, jika meminta maaf sekarang tanpa menjelaskan maksud permohonan maaf nya kepada Agatha akan membuat Agatha kebingungan dan membuatnya kepikiran. Sementara Agatha yang sedang sakit itu tidak boleh terlalu banyak pikiran.
"Kenapa, lin?" tanya Agatha yang sendu menatapnya.
Adeline tersenyum lalu menggeleng. "Gak jadi." Satu suapan bubur yang ada di sendok langsung disodorkan lagi untuk mengalihkan pembicaraan. "Cepat sembuh, ya," finalnya sembari menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Agatha.
"Agatha, aku benar-benar minta maaf."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments