Semua korban kora-kora telah dilarikan ke salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Termasuk Adeline bersama empat orang yang berada di dalam mobil milik Kalandra kini sudah berada di dalam UGD.
Adeline kira dia akan dibawa ke rumah sakit yang sama waktu pertama kali datang ke dunia ini. Ternyata rumah sakit yang didatanginya sekarang jauh lebih ternama dibandingkan rumah sakit yang waktu itu.
Ketika baru turun dari mobil tadi, salah satu dokter di rumah sakit itu langsung menangani Adeline yang didampingi oleh Kalandra. Laki-laki itu mempunyai koneksi dengan siapapun di mana pun sehingga orang yang dibutuhkannya bisa lebih cepat untuk menangani masalahnya. Sehingga dengan itu membuat Adeline sedikit minder karena datang bersama orang yang penting di kota ini.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena ini hanya tergores saja tidak ada serpihan benda tajam di dalamnya," kata dokter Enia yang namanya tertera pada name tag yang ada baju nya. Dokter itu dengan hebatnya dapat memeriksa luka Adeline dengan teliti namun hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. "Saya tinggal ya, Kalandra. Ada pasien lain yang harus saya tangani," lanjutnya.
"Iya dokter, terimakasih," balas Kalandra dengan sopan.
"Terimakasih banyak, dokter Enia." Begitu juga Adeline dengan senyum manis mempersilahkan dokter itu untuk menangani pasien lain. "Kamu kenal dekat dengan dokter Enia ya?" tanyanya kini kepada Kalandra setelah dokter Enia sudah menghilang dari pandangan nya.
"Mungkin bisa dibilang begitu," jawab Kalandra. "Saya tenang ketika dokter Enia bilang luka kamu baik-baik aja. Soalnya saya takut jika ada serpihan benda-benda kecil, luka kamu bisa aja harus dioperasi."
Mata Adeline melebar. "Syukurlah luka ini baik-baik aja," katanya sembari meraba luka di dahinya yang sudah ditutup oleh plester. "Tapi bagaimana dengan Agatha? Keadaanya gimana sekarang?" tanyanya dengan panik setelah mengingat perempuan yang paling dia kenal di dunia ini sedang tidak baik-baik saja.
Adeline yang tiba-tiba bangkit dari duduknya membuat Kalandra langsung menahan tangannya. "Agatha lagi ditangani dokter. Kita tunggu sini aja. Ayah kamu dan teman laki-laki nya bersama Agatha kok. Kamu tenang aja," ucapnya dengan lembut untuk menenangkan perempuan itu.
"Tapi aku, ah maksudnya tapi saya mau tau gimana keadaan Agatha sekarang," ucap Adeline dengan perlahan kembali duduk karena tangannya perlahan ditarik oleh Kalandra.
"Gak boleh banyak orang di sana. Kamu di sini aja sama saya," kata Kalandra.
Posisi mereka berdua yang duduk di bangku yang tersedia di depan pintu UGD membuat mereka tidak tau bagaimana keadaan para korban kecelakaan kora-kora sekarang. Kalandra juga ingin tau bagaimana keadaan korban lainnya yang terluka di lapangan pasar malam tadi karena masalah ini masih ada kaitannya dengan pertanggung jawaban seseorang yang dia kenal dekat.
Belum ada satu menit memikirkan hal itu, seseorang yang ada dipikiran Kalandra kini timbul lalu bergegas masuk ke dalam UGD setelah turun dari mobil putih yang berhenti di depan UGD itu. Paman ketiga dari ayahnya Kalandra yang bernama Wisnu Alfariz adalah penanggung jawab dari festival pasar malam yang diadakan di lapangan tentram. Kalandra bisa menebak paman nya itu pasti akan mendapatkan banyak protes dari korban yang ada di dalam UGD itu.
"Oh iya, Kalandra. Yang tadi kita bicarakan saya benar-benar minta maaf. Saya dan ibu Gita gak ngomongin tentang kamu yang berlebihan kok. Saya tau nama kamu karena ibu Gita yang kasih tau saya duluan," ucap Adeline yang masih tidak enak tentang hal itu juga sembari memecahkan suasana yang tiba-tiba sunyi di antara mereka berdua.
Kalandra tertawa kecil. "Iya gapapa, tadi saya udah bilang kan di mobil, kalo saya cuma bercanda. Karena sebenarnya saya juga tau nama kamu dari pak Agra. Saya belum pernah liat nama kamu dari name tag yang kamu pakai kerja."
"Eh kamu ini! Belum kenal tapi udah berani bohongi saya ya."
"Bohong itu hak semua orang, dosa nya ditanggung masing-masing kok, jadi gak masalah," ucap Kalandra dengan santainya.
"Gak masalah kata kamu? Saya cubit nih ya."
Kalandra menghindar. "Eh kamu ini! Belum kenal tapi udah berani mau cubit-cubit saya ya," kata Kalandra menirukan ucapan Adeline tadi membuat Adeline menarik tangannya dengan cepat.
Adeline menautkan tangannya. "Saya beneran minta maaf lagi, Kalandra. Saya lupa kita cuma dua orang asing yang bertemu. Maaf ya, Kalandra."
"Haha gapapa, Ayline," balas Kalandra dengan santai membuat Adeline melepaskan tautan tangannya. "Kita bisa kenalan dan menjadi teman sekarang kalo kamu mau mengubah kata asing di antara kita berdua."
Adeline termenung mendengarnya. Kepalanya langsung menggelang setelah beberapa detik termenung. "Saya gak pantas berkenalan dan berteman dengan kamu. Apalagi mengingat bagaimana kita pertama kali bertemu, saya malu."
"Gak usah ingat kejadian itu, Ayline. Saya minta maaf karena waktu itu saya terlalu kasar berbicara dengan kamu. Tapi jujur saya senang bisa bertemu kamu hari itu. Apalagi setelah kejadian hari itu entah menapa saya malah jadi sering ketemu kamu walaupun kamu gak sadar bertemu dengan saya. Sehingga saya ingin berkenalan dan berteman dengan kamu."
Mimpi apa Adeline semalam. Orang penting di kota ini yang pertama kali ditemukannya dengan kekacauan malah ingin berkenalan dan berteman dengannya. Rasa ingin mengenal Kalandra juga muncul di hatinya. Karena menurut Adeline sangat menyenangkan apabila bisa berkenalan dengan pelanggan setia kedai Al, agar setiap Kalandra datang ke kedai rasa takut untuk mengantarkan pesanannya tergantikan oleh rasa tenang.
"Mau kamu berkenalan dan berteman dengan saya? Kita bisa berjabatan tangan sekarang sambil menunggu diperbolehkan masuk ke dalam untuk tau keadaan Agatha."
Ragu menyelimuti hati Adeline. Boleh kah dia berkenalan dengan orang penting di kota ini yang sekarang tersenyum dihadapannya menjadi pertanyaan khusus yang ada di dalam hati Adeline.
Tangan kanan Kalandra terulur di depan muka Adeline. Dengan cepat Adeline pun langsung menerima uluran itu untuk menghargai orang yang mengulurkan tangannya kepadanya.
"Tangan kamu dingin sekali," ucap Kalandra sambil memiringkan senyumannya.
Begitu juga dengan Adeline yang merasakan tautan tangan di antara mereka terasa bertaut di dalam freezer. Angin malam yang berhembus kencang ke arahnya membuat Adeline pikir tautan tangan mereka seperti bertaut di dalam freezer karena masing-masing telapak tangan mereka tertiup oleh dinginnya angin malam sehingga Adeline tidak memikirkan suhu tangannya itu lagi.
"Saya Kalandra Alfariz. Mulai sekarang saya akan menjadi teman kamu," ucap Kalandra entah mengapa membuat hati Adeline berdetak lebih cepat dari biasanya.
Adeline tersenyum. "Saya Ayline Namora Ilza juga akan menjadi teman kamu."
Tangan mereka yang masih bertaut pun digoyang-goyangkan oleh Kalandra yang raut wajahnya terlihat sangat senang. "Kita sekarang teman, hahaha."
Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Adeline lebih dulu melepas tautan tangan mereka yang semakin lama semakin dingin. "Terimakasih ya sudah memaafkan kesalahan yang pernah saya perbuat ke kamu. Terimakasih udah mau menerima saya menjadi teman kamu. Terimakasih juga udah mau bantu saya dari musibah tadi yang saya dan dua teman saya alami. Mungkin kalo gak ada kamu tadi kita gak bisa sedekat ini sekarang. Terimakasih, Kalandra."
"Sama-sama untuk semua terimakasih kamu walaupun saya gak butuh terimakasih itu. Berteman dengan seseorang yang saya temui pertama kali dengan kekacauan cukup membuat saya senang. Anggap saja hubungan kita yang membaik sekarang adalah balasan dengan tulus dari permohonan maaf kamu ke saya hari itu."
Adeline tersenyum malu menatap Kalandra yang nada bicaranya sangat berbeda dengan waktu pertama kali mereka bertemu di kedai Al. Adeline tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalas perkataan panjang yang diucapkan oleh Kalandra barusan membuat Adeline sedikit canggung karena masih ditatap oleh Kalandra yang menatapnya dengan senyum yang mengembang.
Munculnya Agra dari dalam UGD kini berhasil membuat Adeline terbebas dari tatapan Kalandra yang kini menatap pengawalnya yang mengarah kepada mereka.
"Yang merasa temannya Agatha silahkan masuk, Agtha nyariin." Satu kalimat yang keluar dari mulut Agra membuat Adeline merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan perempuan yang paling dia khawatirkan saat ini.
Adeline buru-buru bangkit dari duduknya. "Saya masuk dulu ya, Kalandra."
Kalandra juga ikut bangkit dari duduknya. "Kamu kan temannya Agatha, tapi saya teman kamu, bukankah berarti Agatha juga teman saya?" ucap Kalandra membuat pergerakan Adeline yang baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam UGD itu jadi tertahan.
"Kamu belum mengajak Agatha berkenalan dan berteman seperti kita tadi, jadi berarti kamu belum menjadi temannya," jawab Adeline dengan senyum terpaksa yang terukir di wajahnya. "Dadah Kalandra," lanjutnya dengan langkahnya yang masuk ke dalam UGD itu mencari di mana Agatha ditangani.
Kalandra tersenyum senang menatap teman barunya yang perlahan menghilang membuat Agra menatapnya heran. Kalandra yang sadar akan tatapan Agra pun langsung menatapnya balik. "Kami sekarang berteman."
Satu kalimat sederhana itu berhasil membuat Agra terlihat sangat bahagia. "Senang mendengarnya, tuan Kalandra," katanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments