"Tolong bangun, lin. Gue gak tau harus gimana kalo gak ada lo."
Dua kalimat yang pengucapannya asing di pendengaran Adeline, membuat Adeline kini membuka matanya perlahan. Sinar lampu yang terang dan atap dari sebuah ruangan adalah pemandangan pertama yang dilihat setelah kedua kelopak matanya benar-benar terbuka.
Adeline sadar, ini bukan lagi di dunia asalnya. Kini dirinya berada di dunia yang serba baru untuknya.
Adeline melihat sekelilingnya. Ruangan yang asing baginya, benda-benda asing yang dilihatnya, serta seorang perempuan asing yang menggenggam tangan kanannya dengan kepala yang tertunduk sembari menarik cairan yang berada di dalam hidungnya.
Tunggu... Perempuan itu menangis?
Kini perempuan itu mendongak. Matanya yang sembab, hidungnya yang merah menggambarkan betapa seringnya dia menangis.
"Lin, astaga lo bangun gak kasih isyarat dulu. Gue jadi malu ketahuan nangisin lo." Perempuan itu buru-buru mengusap mata dan hidungnya.
"Lin? Kamu kenal aku?" tanya Adeline karena orang-orang di kerajaan biasa memanggilnya dengan panggilan lin. Tapi Adeline bingung bagaimana orang asing di sampingnya itu tau namanya.
Perempuan di samping Adeline itu mengerutkan dahinya kebingungan. "Oh iya gue baru inget kemarin kata dokter ingatan lo bisa aja ada yang hilang," ucap perempuan itu sambil menjentikkan jarinya.
Adeline tidak mengerti maksudnya. Sebab ingatan sebenarnya tidak ada yang hilang, dia tau siapa namanya, siapa keluarga nya, darimana dia berasal, dan apapun itu tentang hidupnya.
"Jelas gue kenal lo dong, Ayline Namora Ilza, kan lo sahabat gue satu satunya," lanjutnya dengan menyebutkan nama asing bagi Adeline.
Adeline pasti tau tentang dirinya, tapi Adeline tidak tau apa-apa tentang raga yang ditumpanginya.
Ayline Namora Ilza, nama seorang perempuan yang raganya kini ditumpangi oleh Adeline. Pemilik raga itu sudah pergi meninggalkan dunia ini bertepatan saat jiwa Adeline hilang dari raga aslinya. Namun perempuan di samping Adeline ini lah yang menjadi alasan raga itu kembali diisi dengan jiwa. Walaupun, bukan lagi jiwa seorang Ayline Namora Ilza, melainkan jiwa seorang Adeline Brisena yang berasal dari dunia lain.
"Eh!"
Adeline kembali berfokus kepada perempuan di sampingnya.
"Lo kenal gue gak? Takutnya lo lupa gue siapa."
Jujur saja, Adeline tidak mengenal sama sekali siapa perempuan di sampingnya itu. Lantas Adeline menggeleng pelan. "Aku gak tau kamu siapa."
"Anjir!" Perempuan itu menepuk salah satu pahanya sendiri dengan kencang lalu bangkit dari duduknya. "Padahal tadi gue cuma bercanda ego, lin," ucapnya dengan perasaan tidak terima karena dilupakan oleh sahabat satu satunya.
"Maaf. Aku minta maaf."
Merasa tidak hati mendengar sahabatnya sampai mengucapkan kata maaf, perempuan itu kembali duduk. Perempuan itu menghela napas lalu tersenyum sembari mengulurkan tangan sebelah kanan.
Adeline tau rasa hormat kepada orang lain. Dengan cepat Adeline membalas uluran tangan perempuan itu.
"Gue Agatha Melyan Agisni. Biasanya lu manggil gue Atha," ucapnya sembali menggerak-gerakan jabatan tangannya dengan Adeline.
Kini Adeline tau. Agatha Melyan Agisni atau Atha lah nama perempuan asing di samping nya itu. "Baik Atha. Salam kenal."
Agatha melepas jabatan tangan mereka. "Udah kayak anak SD baru masuk sekolah aja," gumamnya yang masih dapat terdengar oleh Adeline.
Adeline kembali memperhatikan sekelilingnya. Semuanya masih asing di pengelihatannya, terutama pada selang bening yang mengalirkan cairan putih dari kantong bening yang tergantung di tiang berbahan stainless steel hingga sampai ke dalam tubuh nya melalui jarum yang tertancap di punggung tangan kiri nya.
"Agatha." Yang dipanggil langsung menengok lalu mengangkat sebelah alisnya. "Ini kita ada dimana ya?"
"Masa iya lo lupa sama tempat ini? Lo sesering itu bolak-balik ke sini karena kebiasaan buruk lo itu." Agatha menarik kursi yang diduduki nya untuk lebih mendekat ke Adeline atau yang Agatha kenal adalah Ayline. "Ini rumah sakit. Gue udah sering banget bilangin lo buat jangan sering datang apalagi nginep di sini,"
"Enam Minggu belakangan ini lo udah bisa nurut apa yang gue bilang. Gue seneng banget selama itu lo gak masuk rumah sakit sama sekali karena tiba-tiba pola hidup lo jadi teratur tanpa gue paksa. Gue udah seneng lu gak masuk rumah sakit karena penyakit lambung lo itu, eh malah masuk rumah sakit gara-gara ketabrak truk. Heran gue sama lo, lin,"
"Lo gak punya otak kah? Gue tau lo frustasi karena gak dapat-dapat kerja, tapi lo jangan serahin diri kepada yang kuasa dengan cara gak betul kayak kemarin anjir. Malaikat juga gak ada yang mau ngangkat lo, soalnya lo masih keberatan dosa, lin."
Padahal hanya dengan satu pertanyaan singkat, tapi Adeline berhasil mendapatkan tiga informasi penting sekaligus walaupun sedikit pusing mendengarkan ocehan dari Agatha.
Informasi penting pertama yang Adeline dapatkan adalah nama tempat dia berada sekarang, yaitu rumah sakit. Adeline wajar merasa asing dengan tempat ini. Karena di dunia asalnya tidak ada tempat yang namanya rumah sakit. Tempat nya sama untuk menyembuhkan seseorang, namun namanya berbeda. Di dunia asalnya, Adeline lebih mengenal dengan Penyembuhan Elston yaitu rumah kedua milik nenek nya yang dipenuhi dengan banyak ramuan buatan, makanan penyembuh, serta benda benda sakti lainnya yang bentuknya beda sekali dengan benda benda sakti di rumah sakit ini. Bahkan dari segi ranjang juga berbeda. Di penyembuhan Elston tidak ada ranjang yang cukup nyaman seperti ranjang yang sedang ditiduri oleh Adeline sekarang. Di sana ranjang nya hanya terbuat dari batang pohon besar yang di potong dan diletakkan di tengah rumah.
Informasi yang kedua adalah penyakit yang sering diderita oleh Ayline. Penyakit lambung yang sering kumat karena kebiasaan buruk Ayline yaitu lupa makan. Padahal makan menjadi salah satu aktivitas yang paling ditunggu-tunggu oleh Adeline pada saat masih di dunia asalnya. Karena setelah aktivitas makan, semua orang yang ada di dalam kerajaan diberikan waktu kebabasan walaupun hanya diperbolehkan bebas di dalam istana.
Dan informasi yang ketiga adalah penyebab jiwa sang pemilik raga yang menghilang dan digantikan dengan jiwa Adeline, yaitu kecelakaan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Alasan Ayline dan Adeline sama. Mereka sama-sama menyerah dengan hidupnya karena tidak kunjung mendapatkan apa yang sangat mereka butuhkan.
"Aku tidak menyangka ternyata di dunia lain, di waktu yang sama, Ayline memilih keputusan akhir yang sama dengan aku. Aku fikir hanya aku yang bodoh, ternyata aku tidak sendiri," ucap Adeline dalam hati.
Suara decitan kursi yang di dorong ke belakang oleh Agatha menghamburkan lamunan Adeline. Agatha meraih botol minum yang berada di atas nakas. "Lo minum dulu. Gue mau panggil dokter," ucapnya sembari memberikan air minum di tangannya kepada Adeline.
Ditinggalkan bersama sebotol air mineral oleh Agatha membuat Adeline merasa bersyukur hadirnya dia di dunia yang baru ini disambut oleh orang sebaik Agatha. Adeline berjanji pada dirinya tidak akan mengecewakan Agatha seperti dirinya mengecewakan orang tuanya.
Kini Adelin siap menghadapi dunia barunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Marii Buratei
Bosen gak ada akhirnya!
2023-10-13
0