"Selamat datang." Rebyano dari arah tempat pemesanan dan pembayaran yang bentuknya sederhana menyambut pembeli yang baru datang dengan ramah.
Matahari sudah tenggelam dua jam yang lalu, pembeli sudah mulai meninggalkan kedai itu setelah menghabiskan pesanannya.
Lampu kedai sudah dinyalakan semua oleh Rebyano. Warna lampu yang tidak terlalu terang tapi juga tidak terlalu gelap menambah kesan kedai ini seperti kedai yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Banyak pembeli yang sudah berusia yang lebih suka berlama-lama di kedai ini. Maka tidak heran jika teh hangat menjadi salah satu hidangan best seller nya.
Di pojok kedai, Adeline dengan lihai membawa nampan yang di atasnya terdapat makanan dan minuman yang dipesan pembeli.
Adeline tentu bisa membawa nampan dengan beberapa hidangan di atasnya karena Adeline pernah dihukum oleh Raja ketika Adeline menentang perintah. Adeline pernah menjadi babu kerajaan selama tiga bulan lamanya. Sehingga kemampuan sederhana itu bisa Adeline pakai lagi sekarang.
"Apakah ini sudah benar dengan apa yang dipesan pak? Bu?" tanya Adeline memastikan kebenaran pesanan yang diserahkan. "Baik. Selamat menikmati." Adeline tersenyum manis lalu pergi ketika pembeli sudah mengangguk sebagai jawabannya.
Piring dan gelas kosong yang berada di salah satu meja kosong diletakkan di atas nampan yang dipegangnya, lalu dibawa kembali ke arah dapur.
Peralatan dapur yang bersentuhan dari arah dapur mulai terdengar lagi ketika Adeline melangkahkan kakinya menuju tempat mengambil pesanan yang sudah jadi.
"Minum dulu, Ayline." Rebyano meletakkan satu gelas air mineral di meja kasir.
Ayline mengangguk lalu dengan buru-buru meneguk air minum itu setelah meletakkan piring dan gelas kosong tadi di keranjang yang memang sudah diletakkan di dekat pintu dapur. "Pesanan pembeli yang di luar sudah semua belum, no?" tanyanya setelah meneguk habis minum tadi.
"Kayaknya sudah tuh ayah jalannya sudah nyantai," jawab Rebyano dengan jari telunjuknya menunjuk sang ayah yang masuk ke dalam kedai dengan santai sembari sesekali menyapa pembelinya.
Daryata tersenyum kepada dua anak muda di depannya. "Capek gak?" tanyanya.
"Ayah tau jawabannya," jawab Rebyano sembari merapihkan beberapa struk pembayaran yang ditinggal oleh pembeli.
Daryata tertawa ringan mendengar jawaban yang sama setiap menanyakan pertanyaan itu kepada Rebyano. "Kamu capek gak?" Kini tanyanya kepada Adeline yang sedari tadi hanya tersenyum tipis.
"Cukup capek, yah. Tapi saya senang melakukannya," jawabnya dengan jawaban yang paling jujur dari lubuk hati nya.
Satu pesanan terakhir dibawa oleh ibu Rebyano yang keluar dari balik tirai coklat yang berada di belakang Rebyano. "Ada pesanan lagi?"
"Gak ada, bu." Rebyano menjawab sembari melihat keranjang yang berada di samping kotak pulpen kini sudah tidak ada struk pesanan pembeli.
Sedangkan Adeline dengan cepat mengambil alih pesanan terakhir tadi untuk diantar ke pemiliknya.
"Meja nya sebelah sana." Tunjuk ibu Rebyano ke meja yang di dekat pintu masuk dengan lembut ketika melihat Adeline yang sedikit kebingungan mencari papan nomer yang nomernya sesuai dengan nomer yang tertera di struk pesanan.
Adeline tersenyum dengan menampakkan deretan giginya. Lalu dengan cepat melangkahkan kakinya ke meja yang telah ditemukan.
"Kerjanya bagus?" tanya ibu Rebyano kepada suami dan anak satu satunya yang berada di depannya sembari melepas name tag yang tertera nama Gita Prameswara.
Daryata mengangguk dengan tangan kanannya yang meletakkan nampan. "Dia cepet banget nganterin pesanan ke pembeli kita. Ayah jadi enak banyak istirahatnya."
Saputangan berwarna hitam yang dijadikan pengikat kepala agar rambut tidak menjulur ke bawah dilepas oleh Gita lalu digunakan untuk memukul perut suaminya yang sedikit buncit itu. "Bayaran bulan ini kurang ya!"
"Ehehe jangan dong. Aku kan juga butuh foya-foya kayak kamu," ucap Daryata menggoda istrinya yang hanya memberi respon dengan raut wajahnya yang jengkel bercanda.
"Ayline mau dijadiin karyawan tetap?" tanya Rebyano membuat kedua orang tuanya kini berpikir.
Adeline yang sedang berbincang ringan dengan perempuan paruh baya yang memesan beberapa pesanan tadi menjadi pusat perhatian Gita. "Selama kedai kita kondisinya baik, dia bisa kerja di sini sama kita. Anak nya baik, gesit, ramah, pembeli pasti suka dilayani sama dia."
Daryata mengangguk. "Semoga dengan kita mempekerjakan dia, rezekinya ngalir di sini."
"Dan dengan kita mempekerjakan dia, kamu bisa lebih banyak istirahatnya," sindir Gita ke Daryata yang memainkan kedua alisnya.
Kini posisi Rebyano yang menjaga kasir digantikan oleh sang ibu. Rebyano ikut mengambil lap meja yang berada di dapur bersama ayahnya. Itu tandanya, kedai akan segera tutup.
Namun pembeli belum semua meninggalkan kedai. Daryata lebih dulu untuk berdiri di dekat pintu masuk untuk mengucapkan selamat datang kembali kepada pembeli yang sudah menyelesaikan kegiatannya di kedai itu. Sedangkan Rebyano lebih dulu untuk membersihkan meja kasir.
Diam-diam Rebyano melirik ke arah Adeline yang selalu menunjukkan sikap ramahnya kepada pembeli. Kebahagiaan yang diperlihatkan Adeline ketika bekerja hari pertama ini membuat hati Rebyano menghangat. Rebyano senang melihat map coklat berisi surat lamaran kerja yang tadi siang dipegang terus oleh Adeline, kini map itu disimpan ke dalam tas selempang yang Adeline letakkan di bawah meja kasir.
Melihat Adeline yang kesusahan menata gelas dan piring kosong di atas nampan, Rebyano pun langsung menghampiri Adeline. "Ini biar saya yang bawa. Kamu bawa sisa gelas yang gak bisa ditaro di sini," kata Rebyano dengan mengambil alih nampan yang di atasnya terdapat tumpukkan piring dan beberapa gelas.
Adeline baru saja ingin menolak. Namun Rebyano lebih dulu membawa semua itu ke arah dapur. "Padahal tadi mau latihan kalo bawa sebanyak itu aku harus bisa. Tapi gapapa deh dua gelas ini jauh lebih ringan," gumam Adeline lalu membawa dua gelas yang tersisa di meja di depannya itu.
Dua gelas yang dipegang Adeline langsung diletakkan di tempat peralatan dapur kotor. Adeline buru-buru mencuci tangannya.
"Ibu!" Adeline memanggil Gita yang sedang menghitung tumpukkan uang koin. Tangan Adeline langsung menarik selembar uang bernilai lima puluh ribu dari kantong apron yang dikenakannya. "Kata pembeli ini untuk tip," ucap Adeline sembari mengulurkan uang itu ke Gita.
Adeline tidak mengerti apa itu uang tip yang dia dapatkan. Pikirnya itu uang untuk membayar pesanan yang belum terbayar.
Gita menolak uluran uang itu. "Itu untuk kamu," ujarnya dengan senyum yang terukir manis. "Kerja bagus, Ayline!"
"Beneran buat saya, bu?" tanya nya tidak percaya. Anggukan kepala ibu pemilik kedai membuat hati Adeline sangat bahagia.
Di otak Adeline langsung terpikir sembako yang bisa dibeli menggunakan uang itu. Keperluan makannya bersama Agatha menjadi hal utama yang dipikirnya.
Gita memberi karet terakhir pada tumpukkan uang sepuluh ribu yang ada di depannya. Lalu memasukkan semua uang yang sudah dihitung dengan benar sesuai dengan pemasukkan hari ini ke dalam dompet. "Setelah bersih-bersih jangan langsung pulang ya," ujar Gita.
Entah apa yang akan terjadi, namun Adeline mengangguk sebagai jawaban.
Adeline kembali membantu Daryata dan Rebyano membersihkan meja-meja yang sudah kosong kosong karena pembeli kini sudah tidak ada lagi di kedai itu.
Suasana sepi namun menenangkan menyelimuti Adeline yang membersihkan meja-meja bagian dalam kedai. Di ruangan sebesar itu dia sendirian, namun Adeline tidak merasa takut. Bahkan sekarang dua ujung bibirnya terangkat. Dalam hatinya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan.
Seasik ini ternyata bekerja. Pikir Adeline.
Apalagi mendapatkan pemilik kedai yang terasa seperti orang tua sendiri. Raja dan Ratu seakan-akan hadir dalam hidupnya.
Jika saja tadi Adeline tidak berhenti di tengah jalan, mungkin sampai detik ini juga Adeline masih berputar-putar di jalan untuk mencari perusahaan yang sedang menerima lamaran pekerjaan. Baru kali ini Adeline sangat bersyukur telah ditabrak oleh seseorang. Untungnya pula seseorang itu adalah Rebyano yang memberikan bantuan untuknya.
Hari ini benar-benar hari yang dinantikan oleh Adeline maupun Ayline. Jika saja pemilik raga itu dapat melihat bagaimana hari ini, pasti dia juga akan tersenyum lebar.
Ayline, hari ini perempuan yang menumpang di raga mu berhasil membuktikan tekad nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments