"Lo dirawat aja dulu di sini sampai kondisi lo benar-benar baik," ucap Rebyano yang mengusap punggung tangan sebelah kanan Agatha yang tidak ada jarum suntikan seperti yang berada di punggung tangan sebelah kirinya.
Adeline mengangguk setuju dengan ucapan Rebyano. "Iya, tha. Lo dirawat aja dulu di sini ya."
Kepala Agatha yang dahinya diperban pun menggeleng. "Gue gak punya uang buat bayar rumah sakit, lin, no. Lagi pula besok gue harus kerja. Gaji gue bakal dipotong kalo gue gak kerja." Di saat seperti ini uang masih menjadi pikiran Agatha membuat Adeline dan Rebyano bertatapan sejenak.
"Permisi."
Seorang laki-laki yang tiba-tiba datang ke arah mereka membuat mereka menolehkan kepalanya bersamaan.
"Perkenalkan nama saya Wisnu Alfariz penanggung jawab festival pasar malam di lapangan Tentram. Sebelumnya saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya atas musibah yang menimpa kalian tadi dan juga saya minta maaf karena telah tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Untuk biaya pengobatan kalian semua akan menjadi tanggung jawab saya sehingga jika kalian harus ada yang membutuhkan perawatan lebih lanjut tidak apa-apa, semua akan ditanggung oleh saya."
Agatha menoleh ke arah dua temannya yang berada di samping kiri dan kanannya. Agatha berharap dua temannya itu tidak terhasut oleh ucapan penanggung jawab festival pasar malam itu agar Agatha bisa pulang lebih cepat.
Namun sayang, Adeline dan Rebyano malah mengangguk lalu Rebyano berkata, "Untuk minta maaf tentang musibah, kami memaafkan, namun kami minta tolong agar kejadian ini tidak akan terulangi lagi karena kami cukup trauma merasakannya. Sementara untuk minta maaf karena tidak sengaja mendengar pembicaraan kami itu tidak apa-apa, malah kami ingin berterimakasih karena bapak udah mau memberikan tanggung jawab untuk kami."
"Iya sama-sama. Saya akan panggilkan perawat untuk mencarikan ruangan inap untuk kalian bertiga ya."
Rebyano dan Adeline buru-buru menggeleng. "Satu aja, pak. Untuk teman kami yang ini," ucap Adeline sembari menunjuk Agatha.
Agatha yang ditunjuk pun langsung melebarkan matanya. "Gue gak mau," katanya.
Rebyano langsung menutup mulut Agatha agar perempuan itu tidak lagi bisa menolak keputusan yang terbaik untuknya.
"Baik, saya akan sampaikan ke perawat. Tunggu sebentar ya," ucap Wisnu lalu langsung beranjak mencari perawat yang ada di UGD itu setelah mendapatkan anggukan dari Rebyano dan Adeline.
Tangan Rebyano yang menutup mulut Agatha pun langsung dilepas. "Harus mau! Demi kebaikan lo," kata Rebyano menekankan kepada Agatha yang cemberut nya terukir di wajahnya yang masih pucat.
"Nanti siapa yang mau jagain gue? Kalian juga pasti capek kalo harus nungguin gue."
"Gue lah yang jagain lo."
Bukan Adeline yang menjawab dengan cepat, melainkan Rebyano yang bersedia menjagai Agatha karena bagaimana juga menurutnya semua ini terjadi karenanya yang kekeuh mengajak dua perempuan itu untuk pergi ke pasar malam dan menaiki wahana kora-kora yang tidak taunya membuat mereka sekarang kesakitan.
"Gak usah, biar aku aja, Rebyano. Besok aku izin gak kerja dulu ya," ucap Adeline.
"Tuh kan kalian saling rebutan buat jagain gue. Mending gue pulang aja," ucap Agatha menengahi mereka.
Namun Adeline dan Rebyano sama keras kepala nya. "Engga, Agatha." Keduanya sama-sama menolak untuk membiarkan Agatha pulang.
"Di rumah kita gak punya infusan dan makanan yang memadai buat perbaikan kondisi tubuh lo, tha. Di sini dulu aja ya, kalo di sini kan ada dokter dan perawat yang lebih ngerti tentang kondisi lo," bujuk Adeline dengan lembut membuat Agatha pun menyerah untuk meminta pulang.
Tidak lama kemudian Wisnu pun datang kembali ke arah mereka dengan dua perawat yang mengekorinya. "Ada yang kosong untuk kamu. Perawat bakal bantu kamu buat pindah ya," katanya dengan matanya yang menatap ke arah Agatha.
Adeline pun langsung buru-buru berpindah tempat ketika salah satu perawat berjalan ke arahnya untuk melepas plastik bening berisi obat infusan yang mengalir ke tubuh Agatha juga perawat yang satunya lagi mendorong kursi roda ke arah Agatha.
Rebyano dan Adeline langsung membantu perawat yang berusaha mendudukkan Agatha di atas kursi roda. Kemudian mereka langsung mengekori Agatha yang didorong oleh perawat dan infusan nya yang dimatikan untuk jangka waktu sebentar dibawakan oleh perawat yang satunya lagi.
"Saya tidak bisa mengantarkan kalian sampai ruang inap. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah terjadi kepada kalian," ucap Wisnu membuat langkah Adeline dan Rebyano terhenti.
"Iya pak. Kami permisi ya," balas Rebyano dengan ramah didampingi oleh Adeline yang tersenyum tulus ke arah Wisnu.
Kemudian mereka melanjutkan langkahnya mengekori Agatha yang sudah berada di ambang pintu UGD itu.
"Saya gak bisa nganterin kamu pulang, Ayline. Kamu hati-hati ya di jalan," ucap Rebyano yang benar-benar akan menjaga Agatha malam ini di ruang inap.
Adeline pun langsung menghentikan langkahnya ketika mereka sudah sampai di luar UGD itu. "Gapapa, Rebyano. Saya bisa pulang sendiri. Saya akan ke sini besok pagi untuk bergantian menjaga Agatha."
"Engga. Kamu gak perlu bergantian yang lama. Kamu cukup datang ke sini pagi-pagi untuk membawakan pakaian Agatha, sementara saya pulang. Lalu kamu berangkat ke kedai setelah saya sudah kembali ke sini."
"Berarti kamu gak kerja? Bagaimana dengan kasir kedai besok?" tanya Adeline yang bingung dengan sistem kerja mereka besok.
"Tenang aja, nanti saya akan atur semua sama ibu melalui telfon," jawab Rebyano dengan santai mengusap lengan Adeline. "Kamu hati-hati ya. Saya harus nyamperin Agatha sekarang."
Adeline melirik Agatha yang sudah dibawa ke arah gedung yang lebih besar yang masih bagian dari rumah sakit itu. "Ya sudah nanti aku akan hubungi kamu lagi kalau udah sampai rumah. Kamu semangat ya jagain Agatha nya."
Kepala Rebyano mengangguk. Kemudian Rebyano langsung meninggalkan Adeline untuk mengejar Agatha yang sudah jauh darinya. Langkah larinya yang dibuat-buat menjadi hal sederhana yang membuat Adeline tertawa kecil.
Kemudian raut wajah Adeline berubah lagi menjadi datar ketika Agra terlihat mendekat ke arahnya dari arah parkiran dengan Rebyano yang mengekorinya.
"Agatha dipindahkan ke ruangan rawat inap?" tanya Agra yang hanya mendapatkan jawaban anggukan dari Adeline.
Kalandra pun mempercepat langkahnya. "Terus kamu gimana? Kamu pulang atau jagain Agatha?" tanyanya membuat Agra menyimak dengan antusias untuk mendengar jawaban dari pertanyaan yang baru saja mau ditanyakan.
"Saya pulang. Rebyano yang menjaga Agatha malam ini."
"Yaudah ayo pulang. Ayah anterin kamu sampai rumah," ucap Agra membuat raut wajah Adeline terlihat bingung.
Ajakan itu sangat dibutuhkan oleh Adeline yang tidak tau rute jalan ke arah rumah Ayline. Tapi hatinya ragu untuk menerima ajakan Agra yang bisa saja nantinya akan meminta permohonan maaf lagi di perjalanan. Sedangkan Adeline masih tidak tau harus bagaimana dia menjawabnya.
Agra merasakan Adeline yang tidak nyaman dengan ajakannya. "Ayah gak bakal bicara apa-apa nanti ke kamu, nak," ucap Agra mempercayai Adeline.
Kalandra yang berada di tengah-tengah mereka pun menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Biar Ayline saya yang antarkan saja, pak. Bapak bisa langsung pulang aja soalnya tadi kan udah dicariin sama anak bapak."
Kata anak yang diucapkan Kalandra membuat Adeline termenung. Keraguannya untuk memaafkan kesalahan yang Agra perbuat kepada Ayline semakin menjadi-jadi. Adeline memikirkan bagaimana perasaan Ayline jika mendengar kata itu.
"Pulang sama saya, ya?" Kalandra membujuk Adeline.
Adeline pun mengangguk. "Saya pulang sama Kalandra," ucapnya mengarah kepada Agra yang langsung tersenyum kepadanya.
"Hati-hati," katanya kepada Adeline dan juga Kalandra.
Kalandra memberikan beberapa lembar uang kepada Agra nominalnya hanya diketahui oleh Kalandra dan Agra saja. "Buat ongkos, pak. Maaf kita gak bisa bareng, demi kenyamanan anak bapak," ucap Kalandra.
Agra yang mau tidak mau pun menerima uang itu dengan tidak enak hati. "Terimakasih, tuan. Saya akan mengembalikannya nanti."
Kalandra tertawa kecil. "Tidak perlu. Cukup ganti dengan kabar baik setelah sampai rumah. Saya permisi ya, pak. Selamat malam."
"Selamat malam, tuan."
Setelah itu Kalandra langsung menyusul Adeline yang melangkah pelan ke arah parkiran. Sedangkan Agra memperhatikan mereka sampai benar-benar masuk ke dalam mobil milik Kalandra.
Mereka pulang ke arah yang berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments