BAB 18 "Mobil Mewah Di Depan Rumah"

Usai memperhatikan mobil Mada di depan rumah, Nira berlari kecil menuju kamar tidur Shane. Setibanya di depan pintu kamar Shane, ia langsung mengetuk pintu tersebut. Tidak lama, tuas pintu berputar kemudian Shane dengan piyama tidur motif beruang cokelat kecil terlihat keluar dari kamarnya.

"Shane, apa lo sakit? Kenapa lo masih memakai piyama jam segini?" cerca Nira dengan raut wajah cemas. Yang ditanya hanya diam sambil mengangguk lemas. Lalu detik berikutnya, Shane bersin-bersin.

"Astaga! Sepertinya lo terserang flu," ucap Nira. Ia lalu memegang dahi Shane yang terasa panas.

"Shane ... badan lo juga panas. Sebaiknya lo jangan pergi ke sekolah dulu hari ini. Tetaplah di kamar dan istirahat dengan baik," titah Nira tegas, tetapi hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Shane. "Gue akan kembali dan membawakan sarapan dan obat untuk lo. Tunggu sebentar," ungkapnya.

Lagi, Shane mengangguk patuh. Buktinya, lelaki ini kembali masuk ke kamar tidurnya dan berbaring di tempat tidur, sementara Nira pergi menuju ruang makan. Ketika ia sampai di ruang makan, Nira langsung saja memberi tahu Edmund dan Winola tentang kondisi Shane.

"Bibi ... paman ... sepertinya pagi ini Shane kurang sehat. Badannya panas, dan dia juga bersin-bersin. Shane mungkin terserang gejala flu," beber Nira dengan cepat.

"Astaga! Ed, ayo kita lihat Shane di kamarnya," ujar Winola pada suaminya dengan wajah terkejut. Edmund yang juga terkejut dan cemas, mengangguk cepat. Lalu ia dan Winola bangkit dari duduk mereka.

"Kak Shane sakit? Padahal tadi malam dia baik-baik saja. Apa ini namanya karma setelah menggoda Kak Nira dan pangeran bermobil putih dan mewah itu?" dumel si bungsu, Cony, dengan polosnya.

"Iya!" jawab Nira tegas. "Setelah ini, giliran lo!" kata gadis ini ketus. Namun, bukan Cony namanya jika saat itu ia langsung takut atau menciut nyalinya usai mendengar kecaman dari Nira.

"Bibi dan paman pergi saja ke kamar Shane. Aku akan menyiapkan sarapan dan obat lalu membawakannya untuk Shane di kamar," kata Nira pada bibi dan pamannya.

Winola dan Edmund lantas mengangguk. Mereka lalu pergi meninggalkan ruang makan bersama dua putra mereka yang mengekor dari belakang, sementara Nira menyiapkan sarapan dan obat untuk Shane. Setelah itu, barulah ia menyusul paman, bibi, dan dua sepupunya yang telah sampai di lantai dua.

Ketika Winola bersama Edmund dan Cony hampir sampai di depan pintu kamar tidur Shane, Zaire yang saat itu berjalan di belakang mereka, mendadak menghentikan langkahnya lalu menarik lengan baju Nira yang kebetulan sedang berjalan di sampingnya.

"Ada apa? Kenapa masih di sini bukannya pergi ke kamar tidur Shane dan melihat keadaannya bersama bibi, paman dan Cony?" tanya Nira yang memegang baki berisi bubur dan obat untuk Shane beruntun sembari menatap Zaire bingung.

"Apa mobil di depan rumah kita itu menunggu lo?" bukannya menjawab kebingungan Nira, Zaire malah balik bertanya kepada gadis itu. Yang ditanya seketika gugup sambil menggigit bibir bawahnya.

"Gue perhatikan, sepertinya, mobil itu sudah ada di sana sebelum gue keluar kamar. Karena, saat gue keluar kamar, mobil itu sudah ada di depan rumah kita. Apa itu mobil mewah yang dibicarakan oleh Shane tadi malam?" tanya Shane sambil menatap Nira curiga.

Kontan Nira tercekat. Lidahnya keluh sesaat. Tapi kemudian, ia berdeham seakan mencoba mengembalikan kesadarannya. "Ah itu! Ya ... itu dia. Lo benar Zaire. Mobil itu yang dimaksud oleh Shane semalam. Dia teman yang mengantar gue pulang," ungkap Nira terbata-bata.

"Pagi ini gue ada kuis. Jadi, gue memintanya untuk datang lebih awal untuk menjemput gue. Lumayan, bisa menghemat ongkos bus atau kereta cepat," terang Gianira disertai dengan senyuman canggung.

"Kalau lo sudah tahu dia akan datang menjemput lo lebih bawal, kenapa lo nggak bawa dia masuk? Kenapa lo mengajaknya sarapan bersama kita, Kak? Sepertinya dia sudah lama menunggu lo di sana. Mungkin saja dia belum sarapan di rumahnya," balas Zaire sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jangan! Maksud gue, kami berdua akan terlambat kalau nggak pergi dari sekarang," jawab Nira dengan raut wajahnya yang semakin gugup. "Sebaiknya, sekarang, gue mengantar makanan ini ke kamar Shane. Dan setelah itu, gue berangkat ke kampus," tambahnya lagi.

Zaire pun mengangguk setuju. Sekian detik berikutnya, Nira berlalu dari hadapan Zaire dan bergegas pergi ke kamar tidur Shane sebelum Zaire mencercanya dengan berbagai pertanyaan dan semakin mencurigainya. Namun, Zaire yang ditinggalkan Nira, kini mengekorinya dengan cepat.

Sesampainya Nira dan Zaire di kamar tidur Shane, Nira langsung memberikan baki berisi obat pereda flu dan bubur yang dimasak oleh Winola kepada Shane, yang saat itu duduk di tepi ranjang. Untungnya pagi itu Winola masih memiliki sisa bubur di dalam pannya.

"Bibi ... paman ... maafkan aku karena sepertinya aku nggak bisa menemani Shane dan sarapan bersama kalian pagi ini. Kelasku akan mengadakan kuis mingguan. Jadi, aku harus pergi ke kampus sekarang juga," ujar Nira pada Winola dan Edmund yang sedang menemani Shane di ranjang.

"It's okay, Sayang," jawab Winola. "Kamu bisa pergi tapi setelah menghabiskan sarapanmu," titahnya jelas.

Gadis dengan gaya hidup yang sederhana ini lalu mengangguk. "Baik Bibi. Aku akan memakannya dalam perjalanan ke kampus. Akan kupastikan kalau makananku habis sebelum aku sampai di kampus," ujar Nira dengan bicaranya yang lemah lembut.

Winola terlihat tersenyum. Dan begitu pula dengan suaminya. "Hati-hati di jalan, Nak." Edmund menimpali.

"Thank you, paman," jawab Nira sambil mengulas senyum terbaiknya pada Edmund. Lalu ia beralih menatap Shane. "Shane, get well soon! Comeback stronger." Nira juga tidak lupa menyapa Shane sebelum ia berangkat ke kampus.

"Thanks, Kak. Lo hati-hati ya!" jawab Shane sambil tersenyum lemah.

Setelah selesai menyapa Shane, dan berpamitan pada paman, bibi, Zaire dan Cony, Nira bergegas pergi meninggalkan kamar tidur Shane dan mengambil bekal makan paginya di atas meja makan. Setelah itu, segera, ia memasukkannya ke dalam lunch box.

Namun, Nira tak hanya mengisi lunch box tersebut dengan roti panggang miliknya saja. Ia menambahkan lagi sepotong roti panggang ke dalam lunch box tersebut. Lalu sekian detik berikutnya, Nira memakai syal dan sarung tangan sebelum pergi ke kampus dengan mobil mewah Mada.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Apa yang lo bawa itu?" tanya Mada, kala melihat Nira membawa paper bag dengan lunch box yang berisi bekal makan paginya.

"Oh ini sarapan gue." Nira bersitatap dengan Mada.

"Terus kenapa nggak lo makan? Apa lo akan memakannya di kampus?" tanya Mada dingin.

Nira lantas menggeleng. "Apa gue boleh makan di sini?" tanyanya hati-hati.

Sontak Mada tertawa kecil. "Tentu saja!" ujarnya. "Apa lo melihat ada aturan yang melarang kita makan dan minum di mobil ini?" Kali ini, giliran Mada yang bertanya sembari menyeringai ke arah Nira.

Lagi, Nira menggeleng sekilas dengan wajah malu. Kemudian ia membuka lunch box di pangkuannya. "Apa lo mau?" tanpa merasa sungkan, gadis ini menawari Mada.

"Apa kebetulan lo membawa dua potong roti panggang, atau lo memang sengaja membawakannya untuk gue supaya kita bisa makan bersama?" gurau Mada yang langsung dibalas sinis oleh Nira.

"Tapi, kenapa lo membawakannya untuk gue? Apa karena pesan gue pada lo tadi malam?" goda Mada, sehingga membuat wajah Nira bersemu merah.

"Banyak tanya!!" jawab Nira ketus. "Kalau nggak mau ya sudah!" ucapnya. "Tunggu! Apa lo bilang barusan? Lo kirim pesan ke gue? Jadi, tadi malam itu ... gue nggak bermimpi melihat pesan hangat lo muncul di ponsel gue?" cercanya sambil menatap Mada tak percaya.

Lalu dengan santainya Mada menggeleng sembari mengambil roti panggang dari lunch box Nira. "Kenapa lo heran begitu? Lo nggak percaya ada pangeran setampan gue mengirimkan lo pesan pukul 3 malam? Atau ini pertama kalinya lo menerima pesan dari seorang laki-laki tampan?" bertubi-tubi Mada balik bertanya.

"Ck!!" Nira berdecak kesal sambil menatap Mada tajam selagi Mada mengambil gigitan pertama dari roti panggang yang dibawa oleh Nira. "Gue hanya memastikan saja. Kalau itu benar lo, gue jadi semakin yakin kalau lo itu orang baik!" jawabnya dengan wajah datar.

Penuturan Nira tersebur sontak membuat Mada tertawa. "By the way, ini enak!" aku pria ini.

"Lo tahu, itu salah satu menu terbaik dari restoran cepat saji paman gue," balas Nira dengan wajah pongah.

"Kalau gue pelanggan di restoran paman lo, gue akan memesan menu ini setiap kali gue datang ke sana. Gue pikir ini akan menjadi salah satu makanan favorit gue di restoran paman lo," ungkap Mada, kala mobilnya melewati gerbang utama kampus Nira.

Sontak Nira mengulas senyumnya yang menawan. "Lo bisa datang kapan pun lo mau, kalau lo berkenan. Gue akan memberi lo kupon saat lo datang ke resto paman!" balas gadis ini. Dan kemudian, Mada mengangguk sambil menunjukkan senyumnya yang memesona pada Nira saat mobilnya berhenti di parkir kendaraan Shanghai Theatre Academy.

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Ya kagetlah di chat sama artis jam 3 malam. Kalau sy jadi Nira juga pasti begitu hhehe

2023-11-16

2

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Tinggal jawab iya aja ko susah Nira ckckck

2023-11-16

2

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Sudah kayak restoran ya Mada 🤣🤣🤣

2023-11-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!