"Hey ... apa lo lupa kalau hari ini adalah hari thanks giving sedunia? Karena itulah, gue mau mengucapkannya dengan cara yang beda. Dan tentu saja, gue ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan pada lo. Nggak salah, kan? Oh ya, gue pikir lo memang terbiasa bangun pukul 3 malam untuk belajar. Jadi ... apa pesan gue ini mengganggu lo? Gue mohon tolong jangan katakan iya. Itu akan melukai perasaan gue," ucap Mada dalam pesan balasannya kepada Nira.
"Hah?! Bagaimana lo bisa tahu kalau gue terbiasa bangun jam 3 malam setiap hari untuk belajar? Apa lo ini seorang penguntit?" cerca Nira curiga dalam pesan yang ia kirim kepada Mada.
"Hahaha. Itu konyol! Apa gue serendah itu di mata lo, Nira?! Hey ... lo sedang pura-pura lupa atau bagaimana? Lo sendiri yang bilang sama gue, kalau lo terbiasa bangun pukul 3 untuk belajar. Lo mengatakan itu saat kita dalam perjalanan ke rumah lo kemarin sore," terang Mada lewat pesan singkatnya kepada Nira. Setelah selesai mengetik pesan, Mada mengetuk tombol kirim dan pesan tersebut pun terkirim kepada Nira hanya dalam hitungan detik.
"Serius? Lo nggak sedang mengarang cerita kan?" Nira mengetik pesannya untuk Mada, bersamaan dengan kerutan horizontal yang muncul di sepanjang keningnya. Lalu ia mengirimkan pesan balasannya itu kepada Mada, yang sedang menantikannya.
"Dasar pelupa!!" cicit Mada dalam pesan balasan pertamanya untuk Nira. "Sekarang, pergi ke kamar mandi dan cuci muka lo. Setelah itu, baru belajar," tambah Mada pada pesannya berikutnya kepada Nira.
"By the way, terima kasih atas ucapan hangat yang lo kirim untuk gue. Ternyata lo memiliki hati yang besar, dan gue menghormati itu. Gue juga ingin mendoakan lo untuk semua kebahagiaan di dunia hari ini. Lo pantas mendapatkannya karena lo bukan hanya manusia yang baik, tetapi lo mungkin juga telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, Mada. Selamat pagi...." tutup Nira sembari tersenyum.
Setelah itu, Nira meletakkan ponselnya kembali ke atas side table dan bangkit dari tidurnya. Ia lalu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air.
Setelah selesai membasuh wajah, Nira keluar dari kamar mandi dan membawa langkah kakinya menuju ke meja belajar yang berada di dekat jendela kaca besar di kamar tidurnya.
Saat Nira duduk di meja belajar, tiba-tiba seekor nyamuk hinggap di tangannya. Nira pun menepak nyamuk tersebut hingga kulit tangannya yang putih tampak merah dan ia mengiris kesakitan.
"Astaga!! Kalau tangan gue terasa sakit, apakah itu artinya gue nggak lagi bermimpi mendapat pesan manis dari aktor tampan dan popular seperti Mada?" Nira bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Mustahil! Gue pasti bermimpi!" sanggah Nira tegas. "Gue harus mengeceknya sekali lagi."
Merasa penasaran dan tak ingin menunda waktu
lagi, Nira langsung saja mengambil ponselnya dari atas meja kecil di samping ranjangnya. Kemudian ia membuka aplikasi chat di ponselnya dan melihat obrolannya dengan Mada beberapa saat lalu.
"Hah!" Nira terbelalak. "Jadi benar kalau gue nggak lagi bermimpi? Apa besok pagi gue harus menanyakan hal ini langsung kepada Mada?" pikir Nira sembari memasang wajah bingung, apakah obrolan singkatnya dengan Mada saat itu adalah mimpi atau bukan.
"Kalau aku ingin memastikannya, maka aku harus bertanya pada Mada," kata Nira sangat lugas, sebelum ia kembali duduk di depan meja belajarnya untuk mengulas beberapa materi yang mungkin terdapat pada soal kuis mingguan esok hari.
Sejak pukul 6 pagi, Nira sudah tampil casual tetapi menawan dengan balutan jaket fleece lembut retsleting untuk layering agar tambah hangat, dan dikombinasikan dengan kemeja flannel kotak lengan panjang serta jeans baggy. Sembari menenteng tasnya, Nira bergegas keluar kamar tidurnya dan pergi ke dapur.
Sesampainya Nira dapur, ia bertemu dengan Zaire yang sedang membantu Winola, yang membuat sarapan untuk semua anggota keluarga di rumah mereka. Pagi itu, Winola tengah memasak bubur sehat dan berprotein.
Ya, karena bubur yang dimasak Winola dilengkapi dengan suwiran ayam, irisan daging, sosis, jahe dan jamur yang telah Winola masak terlebih dahulu. Hidangan yang satu ini nantinya akan dinikmati bersama bubuk cabai lalu irisan daun bawang, dan kecap kedelai.
"Hmm ... masakan bibi adalah yang terbaik! Bahkan, masakan para koki di restoran bintang 5 atau 7 sekali pun, belum bisa mengalahkan masakan bibi," ucap Nira—memuji masakan Winola yang tercium dari aromanya yang sedap, sembari berjalan mendekati Winola.
Pujian Gianira tersebut tentu saja membuat Winola tersenyum. "Apa bibi baru saja mendengar kebohongan di sini?" gurau Winola pada Nira. Sehingga Nira bahkan Zaire yang mendengarnya kontan tertawa.
"Nggak Bu. Kak Nira memang benar!" celetuk Zaire, membela Nira. "Buktinya, tempo hari, kita berempat tetap merasa lapar dan masih ingin makan masakan ibu meski sebelumnya kita sudah makan di restoran berbintang," terang laki-laki ini. "Memang, makanan mereka enak-enak juga. Tapi, entah kenapa, kalau belum makan masakan ibu, kita merasa ada yang kurang dan tetap merasa belum kenyang sepenuhnya," bebernya.
"Semua jawabanku sudah dikatakan oleh Zaire, Bi," timpal Nira sambil mengulas senyumnya yang menawan.
Winola lantas mengangguk dan tertawa kecil usai mendengar ucapan putra dan keponakannya itu. "Terima kasih atas pujian kalian berdua," jawab wanita ini. "Kalian membuatku semakin bersemangat untuk memasak lebih banyak makanan yang enak dan juga bergizi untuk kalian," imbuhnya, selagi Nira memasak telur dadar sedangkan Zaire mencuci selada di sink. Telur dadar dan Selada ini akan digunakan Wilona untuk membuat roti bakar favorit Nira dan Zaire.
Ya ... Nira dan Zaire memiliki menu sarapan favorit yang sama. Dan hidangan ini mudah dibuat oleh Winola di rumah, karena tidak butuh waktu lama untuknya membuat dan menyajikannya di atas meja makan. Biasanya, Winola akan mengisi roti bakar tersebut dengan daging, kubis, wortel, telur dadar, daun bawang, keju, dan selada.
Setelah Winola selesai memasak, Nira dan Zaire langsung menata semua makanan yang dimasak Winola di atas meja makan. Kemudian Nira membuat beberapa minuman seperti susu vanila hangat, jus apel dan cokelat hangat untuk untuk Shane dan Cony.
Saat semua hidangan telah tersaji di atas meja, si bungsu Cony bersama Edmund terlihat berjalan dari arah ruang keluarga menuju ke ruang makan. Setibanya Cony dan Edmund di ruang makan, mereka mengambil tempat dan duduk di kursi masing-masing
"Kak Shane ... di mana dia? Apa dia masih belum selesai bersiap-siap?" cetus Zaire bingung saat netranya tidak melihat kehadiran Shane di ruang makan. "Biasanya, Kak Shane yang setiap hari selalu antusias untuk sarapan, dan datang kemari lebih cepat daripada Cony," jelasnya.
Mendengar itu, Cony pun mengedikkan bahunya.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" balas Cony dengan wajah khawatir. "Tapi, semalam dia baik-baik saja," ujar remaja tampan ini.
"Biar aku lihat Shane di kamarnya," sahut Nira usai menyajikan susu vanila hangat pada Edmund dan Winola, yang telah duduk di samping kanan Edmund.
Tanpa menunggu balasan dari Edmund Winola dan kedua putra mereka, segera, Nira pergi menuju kamar tidur Shane yang berada di lantai dua. Namun, saat gadis ini telah sampai di lantai dua dan hendak menuju kamar Shane, ia tak sengaja melihat sebuah mobil mewah telah terparkir di depan pagar rumah pamannya.
"Astaga!! Sejak kapan mobil itu ada di sana?" Nira terbelalak. "Memangnya sekarang jam berapa? Kenapa rasanya terlalu cepat untuk mobil Mada sampai di sini?" cerca gadis ini, berbicara pada dirinya sendiri.
Lalu detik berikutnya, Nira melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kirinya. "6.10," gumam gadis ini. "Apa Mada gila?! Kapan dia mengatakan kalau dia dengan mobil mewahnya akan datang kemari sepagi ini? Apa gue yang lupa? Dan ... kenapa dia nggak mengabari gue kalau dia sudah di depan rumah sekarang?" celoteh Nira dengan wajah heran tetapi kesal.
"Aish! Gue harus menemui Mada sekarang juga. Sebelum orang-orang di rumah ini yang menangkap basah dirinya," ujar Nira yang mulai terlihat panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Sabrinaaa
Kurang pagi Mada 😅 Sudah kayak anak SD mau pergi sekolah sja 🤣
2023-11-16
2
Sabrinaaa
Semangat Bunda Winola 💪💪💪
2023-11-16
2
Sabrinaaa
Valid sekali ucapan Zaire. Anak-anak sy juga begitu. Mau nya mama nya yg masakin. Alhamdulillah
2023-11-16
2