BAB 15 "Memacari Teman Sendiri?"

Sebelum pukul 9.30 malam, Gianira dan keluarga pamannya telah menuntaskan makan malam mereka. Kini, Nira bersama paman, bibi, dan ketiga sepupunya tengah di ruang keluarga, duduk di sofa sembari merenda kasih dan kisah bersama. Senyuman, kekehan kecil, juga gelak tawa bertabur benih cinta tidak henti-hentinya mengiringi percakapan hangat mereka malam itu.

"Sejujurnya, bukankah Cony dan Kak Nira terlihat sangat manis saat duduk bersebelahan tetapi memegang tangan satu sama lain seperti itu?" cetus Zaire yang saat itu duduk di antara Edmund dan Winola.

Celoteh si tengah, Zaire, seketika membuat Winola, Edmund, Shane, Cony dan Nira tertawa. "Hey, apa lo tahu kenapa saling memegang tangan satu sama lain seperti ini terlihat manis?" sahut Nira yang duduk berhadapan dengan Zaire.

Zaire pun menggeleng. "Nggak tahu!" jawab Zaire. "Memangnya ada alasan khusus tentang itu??" tanya laki-laki ini sambil memasang wajah penasaran.

"Tentu saja!" ucap Nira sambil mengangguk. "Saat malam tahun baru, saat gue masih seusia lo, mendiang Ibu gue mengatakan bahwa bergandengan tangan seperti ini adalah anugerah Tuhan. Ini adalah salah satu momentum bagi kita untuk saling melindungi dan menghargai untuk menggapai arah dan tujuan yang sama. Karena dengan kita bergandengan tangan, kita akan paham tentang arti kebersamaan. Dan lo tahu apa? Kebersamaan itu artinya nggak memaksakan kehendak diri kita sendiri. Tapi untuk berjalan bersama. Bukan masing-masing. Supaya kita lebih mudah mencapai tujuan bersama meski ada kalanya kita terjebak dalam perbedaan," terang Nira.

Penuturan Nira itu kontan membuat hati Winola sebagai adik dari Ibu Nira mencair. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya mengulas senyum.

"Ahh ... gue ingat sekarang!!" Dengan cepat Shane menimpali. "Ibu juga pernah mengatakan hal yang sama saat gue dan teman gue, Benton, bertengkar karena berbeda pendapat," aku remaja putra ini. Lalu ia memberi jeda pada bicaranya.

"Setelah gue dan Benton bertengkar di sekolah, gue pulang ke rumah dan masuk ke kamar dengan perasaan kesal dan marah. Hanya dengan melihat wajah merah gue, Ibu tahu kalau saat itu gue lagi marah besar. Tapi Ibu datang menemui gue di kamar, untuk meredakan kemarahan gue dengan mengatakan bahwa berbeda juga anugerah, dan nggak sama satu sama lainnya itu sudah menjadi takdir kita. Tapi dengan kita tetap berpegangan tangan, setiap perbedaan dapat dicari titik temunya. Betul begitu kan, Bu?" Shane menatap Winola.

Winola lantas mengangguk membenarkan ucapan Shane. "Bukan hanya Shane dan Benton saja. Tapi kalian adik-kakak juga punya perbedaan. Jadi, biarlah perbedaan itu menjadi aset besar untuk kita saling melengkapi satu sama lain, sambil kita tetap berjalan bersama-sama menuju tujuan yang lebih mulia dan besar," balas wanita ini dengan rendah hati. Sehingga kata-katanya terdengar sangat bijaksana.

"Saat nanti kalian tumbuh dewasa, dan ada hari di mana kami berdua...." Winola menunjuk Edmund dengan melihatnya sekilas. "Nggak bisa membersamai kalian lagi, aku harap kalian tetap berjalan bersama dan bergandengan tangan. Agar kalian tetap bisa melihat kelemahan dari semua yang kalian cintai. Agar kalian tetap bisa melihat kelebihan dari semua yang kalian benci. Dan juga agar kalian tetap objektif dan transparan," terang wanita ini tegas.

Kata-kata hangat yang begitu dalam yang disampaikan Winola tak hanya menggema di kepala Nira dan tiga orang sepupunya saja. Tetapi juga mampu menggetarkan hati mereka.

"Apa yang dikatakan oleh istriku barusan, itu adalah salah satu harapan kami sebagai orang tua pada kalian yang akan tumbuh besar dan dewasa di masa depan. Kami pikir hal itu juga salah satu warisan yang dapat kami berikan pada kalian." Edmund menimpali.

"Kalian tau, sampai saat ini, aku dan istriku juga memiliki perbedaan. Terkadang, ada saat di mana dia nggak sependapat denganku, dan begitu juga sebaliknya. Nggak jarang keadaan seperti itu akan membuat hubungan kami yang telah tumbuh subur justru menjadi layu dan mengering. Tapi, karena kami adalah keluarga, kami memiliki arah dan tujuan yang sama. Kami ingin melindungi dan menggapainya bersama. Karena itulah, akhirnya kami duduk bersama untuk mencari titik temunya. Bagaimana cara kami menyirami dan merawat kembali hubungan kami supaya nggak semakin layu, dan kami dapat menggapai tujuan kami. Meski pun dalam diskusi itu, mungkin, kami akan kembali dihadapkan pada berbagai hal dan pemikiran yang membuat kami nggak sepakat lagi. Jadi ... Nira, Shane, Zaire, Cony ... ingatlah bahwa ujian tersulit dalam kebersamaan dan harmoni di dunia ini hanya ada satu ... tetap bergandengan tangan meski kita sedang nggak sependapat," terang Ed sangat mendetil.

Nira dan tiga putra Edmund dan Winola kemudian mengangguk mengerti. "Bukan hanya bahu paman dan bibi saja yang menjadi tempat ternyaman di dunia. Tapi kehangatan tangan kalian juga," kata Nira.

"Benarkah? Tapi ... entah kenapa, aku ragu dengan kata-katamu, Nira," balas Edmund membuat Nira bingung.

"Mungkin kamu ragu, karena setelah hari ini, kamu dan Nira nggak bisa bergandengan tangan sesering mungkin. Karena Nira akan lebih banyak bergandengan tangan dengan pemilik mobil mewah itu," celetuk Winola sambil terkekeh. Ia bergurau kepada Nira. Tetapi gurauannya itu langsung disambut dengan gelak tawa dari Edmund dan ketiga putra mereka.

"Bibi, dia hanya temanku. Tadi itu ... dia kebetulan lewat dan memberiku tumpangan!!" sanggah Nira tegas.

"Bibi hanya mengatakan kemungkinannya saja." terkikik bersama suami dan ketiga putranya. "Lagi pula ... bukankah nggak ada hal yang nggak mungkin di dunia ini? Jika Tuhan berkehendak, maka apa pun bisa terjadi dalam semalam, kan?" imbuhnya.

"Bibiiiiii...." Nira merengek seperti bayi, sementara ketiga sepupunya terbahak-bahak. "Berhenti tertawa atau gue nggak akan mentraktir kalian lagi nanti!" ancamnya pada Zaire, Shane, dan Cony.

Alih-alih mengatupkan mulut dengan rapat, tiga laki-laki muda dan tampan itu malah tertawa semakin keras. "Kak, lo bukan anak kecil lagi. Jadi kenapa harus malu?" gurau Shane.

"Kalau dia adalah laki-laki yang baik, maka nggak ada salahnya kencan dengan teman sendiri." Zaire menimpali dengan cepat.

"Lo itu jangan menyia-nyiakan kesempatan baik, Kak!" sahut Cony di sela-sela tawanya.

"Itu benar!" kata Shane. "Jaman sekarang, jarang ada laki-laki yang dengan senang hati memberi tumpangan pada perempuan," terangnya lugas. "Kalau gue adalah dia, gue nggak akan memberi tumpangan dan mengantar lo sampai rumah, kalau gue nggak tertarik sama lo," bebernya.

"Lo memang buruk, dan dia nggak!" balas Nira dingin. "By the way, bagaimana lo bisa tahu kalau gue pulang bareng dia?" tanya Nira dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya.

"Gue nggak sengaja lihat lo turun dari mobil itu saat gue menunggu lo di jendela dekat pintu masuk. Dan setelah mobil itu pergi dari depan rumah kita, gue kembali duduk dan mengatakan semuanya pada Ibu, Ayah, Zaire, dan Cony," ungkap Shane sambil tersenyum lebar.

"Sudah gue duga! Pasti lo yang membuat gosip di keluarga kita!!" Nira menatap tajam Shane. Yang ditatap hanya tertawa.

"Lo bilang gosip? Bagaimana kalau nanti lo benar-benar berkencan dengannya? Apa lo nggak akan merasa malu karena ucapan lo malam ini?" tanyanya.

"Kak, you know what? We never know what the future hold!" sahut Zaire diiringi dengan tawa renyahnya.

Sementara itu, Nira tampak menekuk wajahnya dan mengerucutkan bibinya. Penampakan dari bahasa tubuh Nira itu terlihat sangat menggemaskan, sehingga Winola dan Edmund yang duduk di depannya terbahak-bahak.

"Apa yang dikatakan adik-adikmu memang benar," kata Edmund. "Kamu nggak perlu khawatir, Nira, paman dan mendiang ayahmu nggak akan cemburu kalau nanti kamu memacarinya," ungkapnya, sontak mengejutkan Nira.

"Aku nggak mengerti dengan apa yang sedang kalian bicarakan," balas Nira acuh.

Penuturan Nira itu membuat paman dan bibi serta tiga sepupunya kembali tertawa. Tingkah Nira benar-benar lucu. Ia berdalih tidak mengerti tetapi wajah dan telinganya terlihat merah. Nira tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

"Kalau Kak Nira nggak mengerti, maka izinkan gue yang bertanya kepada Ayah!" cetus Cony. "Kenapa ayah dan mendiang paman nggak akan cemburu dengan sosok laki-laki yang akan memacari Kak Nira?" tanyanya dengan wajah polos.

"Karena dia adalah teman Nira!" jawab Edmund tegas dan lugas. Setelah itu, ia memberi jeda pada bicaranya dan beralih menatap Nira.

"Nira, paman dan mendiang ayahmu tentu akan bahagia kalau kamu membangun cinta dengan temanmu. Seseorang yang bisa kamu ajak bicara tentang apa saja, dan tahu bahwa dia nggak akan menghakimi ceritamu. Seseorang yang mengetahui bagian tergelap dari dirimu dan tetap mencintaimu. Seseorang yang mengetahui semua kekuranganmu, dan nggak membenci itu. Tapi justru mencintaimu karena itu. Bukan seseorang yang kamu nggak bisa hidup dengannya. Tapi seseorang yang kamu nggak ingin hidup tanpanya. Seseorang yang ingin kamu alami dengan semua pasang surut kehidupan. Seseorang yang akan memegang tanganmu ketika melalui saat-saat terburuk dalam hidupmu. Ketika melihatmu dalam keadaan terburukmu, ketika kamu hancur, dan dia tetap nggak melarikan diri darimu, tapi dia justru membantumu menyatukan kembali bagian dari dirimu. Itulah cinta sejati, Nira. Jadi, kalau kamu menemukan cintamu dan kamu bergandengan tangan bersamanya, paman bisa memastikan bahwa mendiang ayahmu akan menjadi seorang ayah yang paling bahagia, dan kami akan selalu mendukung hubunganmu dengannya," terang Edmund. Lalu matanya tersenyum pada Nira.

"Itu memang nggak salah, paman. Tapi kemudian hal-hal akan mulai menjadi rumit ketika kita mulai jatuh cinta pada teman kita sendiri," ucap Nira, berbisik lirih dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

Yang Wang Couple

Yang Wang Couple

semua bab bagus dan saya menyukai semua nya tapi bab ini sangat luar biasa /Rose//Rose//Rose//Plusone//Plusone//Heart//Heart//Heart/

2023-11-14

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Kalau sama-sama cinta tidak rumit kok Nira hehe

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Ayoo Nira Mada maju teruss bersama

2023-11-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!