Semilir angin malam di langit malam musim dingin mematik senyum di bibirnya. Suara cekikikan mungil bernada ceria juga ikut mengudara di setiap sudut kamarnya. Kikikkan mungil itu berasal dari perempuan yang mematut dirinya di depan kaca dengan wajah polos tanpa riasan dan rambutnya yang tergerai.
Kilauan bintang yang bersinar terang menyongsong langit malam di musim dingin turut serta menyoroti wajah polos dan cantiknya. Hal itu seakan mencetak nilai emotif dalam suatu lukisan yang indah. Gadis ini terpaku duduk di tempatnya, sembari menatap refleksi dirinya yang terpantul di cermin.
Gianira menatap pantulan dirinya pada cermin berbentuk persergi yang menempel di dressing tabel-nya usai mengeringkan rambutnya dengan bantuan hair dryer. Sementara itu, dengan jelas, ingatan gadis ini berputar bak gulungan film yang mengurai beberapa adegan manis yang telah mengisi ruang memori di kepalanya.
Ternyata, malam hari sebelum Nira pergi tidur, ia sedang mengingat kembali bagaimana Mada memberinya tumpangan saat pulang kuliah tadi sore. Perhatian dan sikap sederhana Mada saat itu rupanya membekas dalam ingatan dan benak Nira sebagai penderita Hyperthymesia Syndrome.
Hyperthymesia Syndrome sendiri merupakan kemampuan yang cukup memungkinkan untuk Nira untuk mengingat hampir semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan sangat presisi. Sebenarnya, kondisi ini sangat jarang terjadi dan hanya sebagian kecil orang saja di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut. Tetapi Nira adalah salah satu di antara bagain kecil itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kilas balik Nira bertemu dengan Mada di halte bus di depan Shanghai Theatre Academy saat hujan salju....
Di dalam mobil, Nira yang duduk di samping Mada terlihat gugup dan canggung. Itu karena merupakan kali pertama Nira berada pada mobil yang sama dengan Mada. Momen ini terlihat jelas saat tidak adanya percakapan di antara Nira dan Mada beberapa menit usai mobil melesat ke jalanan, dan membelah hujan salju yang turun lebat.
Saat tak ada percakapan ringan antara Nira dan Mada, Nira tampak melihat pemandangan di luar melalui jendela kaca mobil di sampingnya. Netranya menyapu bersih pertokoan, perkantoran, perumahan, sekolahan, dan restoran yang berada di pinggir jalan. Sementara Mada sibuk membaca buku sambil sesekali membalas pesan singkat dari managernya.
"Ehem...." Mada berdeham sekilas usai menyadari Nira hanya diam sambil menatap keluar jendela sejak tadi. "Nggak biasanya lo diam begini. Apa terjadi sesuatu?" Mada melihat Nira di sampingnya sekilas.
"Apa lo sedang berbicara sama gue?" Nira balik bertanya pada Mada sembari melihat keadaan jalanan di luar.
Seketika saja Mada menyeringai, kala mendengar penuturan Nira tersebut. Lalu ia melihat wajah Nira dari samping. "Apa lo pikir gue akan menanyakan hal itu pada asisten atau sopir gue?" jawab Mada ketus.
Nira pun mengarahkan pandangannya pada Mada, sehingga mereka satu sama lain bertukar pandangan. "Ya, mungkin aja," kata Nira. "Siapa yang tahu kalau lo terbiasa menanyakan hal semacam itu pada mereka. Tadi itu gue hanya bertanya. Tapi, sepertinya lo menganggap serius pertanyaan gue," terangnya.
"Hahh! Yang benar saja!" balas Mada dengan keningnya yang berkerut. "Asisten dan sopir gue memang sudah terbiasa diam. Tapi lo? Citra pendiam justru sangat nggak cocok dengan diri lo!" akunya sangat tegas.
"Hhhh ...." Nira menghela napas. "Sebenarnya, gue penasaran, kenapa hari ini lo sangat baik sama gue? Tadi, lo datang ke audisi puisi prosa gue, memakaikan gue syal dan sarung tangan di hadapan Nura dan teman-temannya, dan sekarang ... lo memberi tumpangan pada gue," jelas Nira. "Padahal, kemarin itu lo kesal dan marah sama gue," imbuhnya.
Mendengar itu, Mada lantas mengulas senyum terbaiknya pada Nira. "Pertama, gue ingin memperlakukan lo dengan lebih baik agar gue bisa melihat lo tersenyum. Kedua, mungkin ada yang salah dengan mata gue. Karena gue nggak bisa melepaskannya dari lo," ungkap Mada. Lalu yang diajak bicara terkejut dan terdiam.
"Ketiga, ketika salju turun lebat, hal pertama yang gue pikirkan adalah lo. Bagaimana lo bisa sampai di rumah sebelum waktu makan malam, sementara semua bus dan taksi hampir nggak ada yang beroperasi karena kondisi jalan dan jarak pandang yang buruk," terang Mada.
Pernyataan terjujur Mada itu membuat Nira yang bergeming seketika mencair. Namun kemudian, gadis ini tersadar dan tertawa. "Konyol!" cicit Nira, tidak percaya. "Secepatnya gue akan mengembalikan syal dan sarung tangan lo," katanya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Mada. "Waktu itu, ponsel gue habis baterai, dan gue belum sempat menyimpan nomor lo. Maafkan gue...." beber gadis ini.
"Dan sekarang, lo mau gue memasukkan kembali nomor gue di ponsel lo?" tanya Mada. Yang ditanya lantas mengangguk. "Apa baterainya penuh?" tanyanya lagi. Dan Nira pun mengangguk lagi.
Lalu detik berikutnya, dengan cepat Mada meraih ponsel tersebut dari tangan Nira, mengetikkan nomornya dan langsung menyimpannya di ponsel gadis itu. Setelah itu, ia mengembalikan ponsel tersebut kepada Nira.
"Thanks," ucap Nira sambil meraih ponselnya dari tangan Mada, lalu melihat nomor Mada yang telah tersimpan di ponselnya dan menekan tombol panggil. "Itu nomor gue," cetusnya, kala melihat panggilan masuk di ponsel Mada adalah darinya.
Mada lantas mengangguk dan menyimpan nomor Nira di ponselnya. "Besok lo bangun jam berapa, dan mau ke mana?" tanya Mada penasaran.
Kontan Nira memasang wajah bingung, setelah ia mendengar pertanyaan dari Mada. Buktinya, kini, kerutan horizontal muncul di sepanjang dahinya. "Kenapa?" tanya Nira.
"Bisa nggak kalau orang bertanya itu dijawab aja dulu, jangan balik bertanya melulu," omel Mada, seketika saja membuat Nira terkikik.
"Setiap hari, gue biasa bangun jam 3 untuk belajar. Dan besok, gue akan pergi ke kampus pukul 8 pagi," terang Nira.
"Baiklah, besok pagi gue akan jemput lo di rumah, dan mengantar lo ke kampus," ujar Mada.
"Tap—"
"Nggak ada penolakan, Nira!" tegas Mada. Nira pun mengangguk pasrah beberapa saat sebelum mobil Mada tiba di depan rumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mengingat bahwa Mada akan datang menjemput dan mengantarnya pergi kuliah, membuat Nira gugup dan bingung. Ditambah lagi dengan ucapan Edmund dan tiga putranya mengenai sosok Mada, hingga perasaan yang dinamakan Cinta, begitu melekat dalam ingatan Nira.
"Apa benar dia suka sama gue? Apa membangun hubungan dengan teman sendiri itu menyenangkan?" Nira bertanya-tanya dalam hatinya. "Mustahil! Gue dan Mada ... sangat berbeda. Jadi, nggak mungkin gue dan Mada bisa bersama. Lagi pula, gue dan Mada baru saja kenal." Nira segera menepis pemikiran gamang dan perasaan abu-abu yang menjalar dalam dirinya.
"Kalau gue menyukai Mada, setidaknya jantung gue akan degdegan hanya dengan gue memikirkan ucapannya. Tapi, sekarang, gue nggak merasakan akan adanya romantisme setelah hujan salju," cicit Nira. "Ah sudahlah! Lebih baik gue tidur!" gumamnya. Lalu gadis ini beringsut dari dressing room menuju tempat tidurnya.
Setelah itu, Nira segera menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan. Sembari menatap langit-langit kamar yang penuh dengan cahaya bintang setelah lampu kamar di matikan, dan menghitung beberapa anak domba yang menari di atas kepalanya, Nira mulai mengantuk. Perlahan tapi pasti mata Nira tertutup, lalu ia jatuh dalam alam mimpi yang memesona.
Bagaimana mungkin Nira bisa merasa bahwa ia tidak jatuh dalam alam mimpi yang memesona, jika ponselnya, yang berada di atas side table tiba-tiba berdering. Dengan malas dan mata terpejam, Nira mencoba meraih ponsel itu. Dan betapa terkejutnya Nira, kala ia menerima satu pesan baru dari orang tak terduga.
"Gue datang karena gue ingin mengucapkan selamat pagi yang paling bahagia karena lo benar-benar pantas mendapatkannya, Nira. Lo adalah salah satu orang paling menakjubkan yang pernah gue temui di hidup gue. Dan gue merasa terhormat atas hal itu. Selamat pagi, Gianira," tulis seseorang nan jauh di sana pada pesan singkat yang ia kirim untuk Nira.
Rhea tersentak hingga matanya terbelalak setelah membaca isi pesan tersebut. "Aishhh!!" gadis ini mengumpat. "Orang gila mana yang akan mengirim pesan seperti ini di jam 3 malam?!" Nira menggerutu tepat setelah ia melihat angka jam di pojok kiri atas layar ponselnya.
"Maaf ... lo sudah nggak waras lagi ya?! Atau mengirim pesan di jam-jam seperti ini adalah hobi lo?! Lagi pula, bagaimana bisa lo menulis pesan ini untuk gue?" cerca Nira dalam pesan balasan untuk pria yang tengah tertawa kecil di tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Sabrinaaa
Yuk thor lanjut lagi. semangat ya thor
2023-11-10
1
Erina
dari mada ini kan thor??
2023-11-10
2
Erina
gemas sekali lihat mereka ribut kecil begini
2023-11-10
2