BAB 19 "Caci Maki Di Balik Pintu"

Setibanya di depan kampus, Nira dan Mada segera turun dari mobil kemudian pergi memasuki area kampus bersama-sama. "Tunggu! Lo mau ke mana?" Nira tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, dan menatap Mada yang berdiri di sampingnya, bingung.

"Gue mau mengantar lo sampai ke kelas," ucap lelaki yang menutupi identitasnya dengan topi, kacamata hitam, dan masker ini.

"Kenapa lo mau mengantar gue sampai ke kelas? Gue bisa sendiri kok. Lagian, apa lo nggak takut kalau ada orang yang mengenali lo di sini?" cerca Nira sambil kedua netranya menatap Mada heran, sementara yang ditanya dan ditatap tampak biasa dan santai.

"Pertama, gue mau memastikan nggak ada orang usil yang akan mengganggu langkah lo menuju kelas. Lalu kedua, gue mau tahu kelas lo, di mana lo duduk, siapa dan bagaimana teman-teman sekelas lo. Ketiga, gue nggak takut kalau ada orang yang mengenali gue. Toh, ada lo di sisi gue. Ya gue tinggal bilang saja kalau gue di sini untuk mengantar pacar gue kuliah," beber Mada, yang seketika saja membuat Nira pening.

"Apa lo seorang pengangguran sekarang? Kenapa lo nggak pergi bekerja? Apa lo nggak ada jadwal syuting hari ini?" tanya Nira beruntun lagi.

"Ada. Tapi bukan hari. Syuting gue dimulai besok pagi. Jadi, seharian ini gue akan menemani lo," terang si aktor tampan ini sambil mengulas senyumnya yang sangat memesona, yang membuat dada Nira berdetak kencang dan hatinya mencair.

"Terserah lo. Asalkan lo jangan sampai membuat keributan, seperti jumpa fans dadakan di sini. Gue bukan bodyguard lo, dan gue nggak mau jadi bodyguard lo!" tegas Nira. Lalu ia kembali berjalan menuju ke kelasnya diikuti dengan pria tampan yang mengekor di belakangnya, sambil tersenyum dan mengangguk patuh pada ucapannya sebelumnya.

Ketika Nira dan Mada menyusuri koridor kampus di lantai dasar, terlihat sepasang mata diam-diam sedang berdiri sembari membidik dan mengamati kebersamaan Nira dan Mada dengan pandangan sinis dari koridor lantai satu gedung kuliah. Tak lama Nira dan Mada tiba di lantai satu gedung kuliah, dan seseorang tersebut bersembunyi di suatu tempat.

Namun, saat Nira dan Mada hendak menuju kelas Nira yang berada di ujung kanan koridor, mereka melewati toilet lalu tidak sengaja mendengar seorang perempuan sedang berbicara dengan temannya di balik pintu masuk toilet tersebut. Perempuan tersebut merupakan Nura yang memperhatikan Nira dan Mada dengan sinis sejak mereka berjalan di koridor lantai dasar gedung kuliah.

Bagaimana mungkin Nura bisa tidak sinis ketika ia memperhatikan Nira dan Mada, jika ternyata ia cemburu dan marah kala melihat kedekatan antara Nira dan Mada pagi itu. "Gue benar-benar nggak suka sama Nira. Makin hari wanita itu makin menyebalkan. Dia selalu membuat mood gue berantakan," dumel Nura pada temannya. "Gue heran sama orang yang nggak tahu diri seperti Nira!" cicit wanita ini dengan wajah penuh kebencian.

Suara Nura yang begitu lantang hingga terdengar ke luar toilet saat mengutarakan kebenciannya terhadap Nira kepada temannya, tiba-tiba membuat Nira dan Mada menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu toilet tersebut. Ya ... betapa terkejutnya Nira dan Mada saat itu, kala mendengar keluhan Nura terhadap Nira. Padahal Nira selama ini selalu ramah dan sopan kepada semua orang, termasuk Nura.

"Menurut gue juga begitu," balas teman Nura, Lusi. "Dia berlagak baik, sopan, dan ramah pada semua orang hanya untuk membuat mereka tersanjung dan bersimpati kepadanya," terangnya ketus.

"Ya, lo benar! Nira memang haus akan perhatian orang-orang!" hardik Nura. "Gue sangat membenci Gianiara Canela—perempuan nggak tahu malu dan tahu diri itu," tegasnya.

Penuturan Nura tersebut sontak membuat Nira yang berdiri di luar toilet bersama Mada, dan mendengar itu tercekat. Namun kemudian, matanya tampak berkaca-kaca sambil menahan hatinya yang berdenyut sakit. Detik berikutnya, Nira pergi dengan berlari ke kelasnya. Ia tanpa sengaja meninggalkan Mada sendirian di sana dengan amarah yang meletup-letup di hatinya.

Saat itu, ingin sekali Mada menghampiri Nura dan memakinya. Namun, Mada menahan dirinya. Daripada membungkam mulut Nura, Mada justru pergi menyusul Nira yang sudah jauh di ujung koridor. Laki-laki ini berlari mengejar Nira dengan langkah besar. Beruntungnya, dewa-dewi fortuna berpihak kepada Mada sehingga ia berhasil meraih pergelangan tangan Nira tepat sebelum gadis itu masuk ke kelasnya.

Nira tersentak hingga langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk ruang kelasnya, tatkala pergelangan tangannya ditarik lembut oleh Mada di belakangnya. "Ada apa?" tanya Nira dengan suara gemetar pada Mada yang sedang menatap lembut matanya.

Alih-alih menjawab pertanyaan Nira dengan kata-kata, Mada yang selalu menjadi pahlawan untuk Nira dan bertindak cepat kala Nira dirisak, justru melepas earphone di telinga kanannya dan memasangkannya di telinga Nira. Laki-laki yang tampak calm dan misterius tetapi memiliki sejuta pesona yang memukau sehingga tak heran menjadi bahan incaran kaum hawa ini, menyumpal telinga kanan dan kiri Nira dengan alunan musik yang menenangkan. Ini rupanya adalah cara Mada untuk mendinginkan hati Nira yang memanas karena ucapan buruk Nura.

Nira yang mengerti maksud Mada, hanya diam dan membiarkan pria itu memasang earphone di telinganya. Setelah earphone terpasang dengan benar, Nira dapat mendengar suara musik keluar dari earphone. Gadis ini pun mulai menikmati alunan musik yang mengalir di telinganya saat itu. Sehingga garis-garis kesedihan di wajahnya perlahan memudar. Lalu Mada membiarkan Nira masuk ke kelasnya sembari mendengar musik yang menyala dari MP3 miliknya melalui earphone di telinganya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 10 pagi, Nira terlihat sedang menyerahkan lembar jawabannya kepada dosen pria di depan kelasnya. Setelah dosen pria bernama Patrick itu menerima lembar jawaban dari mahasiswanya, segera ia memasukkannya ke dalam map coklat. Lalu sekian detik berikutnya, Patrick meninggalkan ruang kelas.

Usai Patrick pergi meninggalkan ruang kelas, Nira pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelasnya sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sehabis mengerjakan kuis. Di waktu ini, tiba-tiba dari arah belakang Nura mendekati Nira dengan langkah besar dan berdeham.

"Nira...." panggil perempuan yang kini berjalan di samping Nira.

Yang dipanggil kontan menoleh ke samping. "Ada apa?" tanya Nira dingin.

Nura lantas memasang fake smile-nya kepada Nira. "Begini, sebenarnya setelah ini gue ada janji penting. Jadi, gue ingin lo yang menggantikan tugas piket gue di ruang latihan drama hari ini. Lo mau ya? Pleasee...." pinta Nura dengan memohon dengan wajah memelasnya.

Mendengar itu, Nira lantas menghentikan langkahnya. "Apa?!" tanyanya dengan raut wajah terkejut.

Kemudian, Nura berencana untuk mengulangi permintaannya lagi. Sayangnya, belum sempat Nura mengulangi kata-katanya, tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang memanggil Nira.

"Nira ... ayo! Kita ada rapat penting dengan teman-teman dari klub buku. Dan mereka sudah menunggu kita di kantin!" cetus Mada dengan intonasi dingin. Lalu Mada menarik tangan Nira agar Nira segera mengikutinya dan pergi dari hadapan Nura.

"Maaf Nura!" kata Nira sembari tangannya diseret oleh Mada.

"Untuk apa minta maaf sama manusia seperti itu?!" gumam Mada kecil sehingga Nira tak mendengarnya, tatkala mereka menjauh dari depan ruang kelas Nira dan Nura, untuk kemudian pergi ke kantin untuk menghadiri rapat mengenai program kegiatan sosial yang rencananya akan dilaksanakan oleh klub buku di kampus Nira satu minggu lagi di salah satu panti jompo di Shanghai.

"Dari mana lo tahu gue ada rapat dengan teman-teman di klub buku siang ini?" tanya Nira penasaran pada Mada saat mereka berjalan menuruni anak tangga.

"Sebelum kelas lo dimulai tadi pagi, gue kebetulan banget mendengar dua orang perempuan yang gue yakini kalau mereka adalah teman lo, membicarakan lo lalu klub buku dan rencana acara sosial yang kalian lalukan minggu depan," terang Mada dingin, yang seketika saja membuat Nira bingung dengan perubahan sikap Mada kepadanya saat itu.

Sementara itu, Nura yang masih berdiri di koridor lantai satu gedung kuliah sambil melihat Mada membawa Nira menuju kantin, terlihat marah. Wajah ovalnya merah padam, rahangnya mengeras, kemudian kedua tangannya mengepal erat. Dalam hatinya, Nura bahkan mengutuk, memaki, dan mengumpat Nira tanpa ampun.

Terpopuler

Comments

YangRan

YangRan

bukan mada namany kl nggk tau apa2 tentang nira /Smile/

2023-11-19

1

YangRan

YangRan

benar bnget mada /Good//Good/

2023-11-19

1

YangRan

YangRan

pengen kusiram air si nura ini. jahat bnget jadi perempuan /Hammer/

2023-11-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!