Setelah selesai makan malam bersama, Mada dan Nira meninggalkan XOXO HOUSE dan kemudian kembali ke ruang tunggu dengan ia mengambil beberapa langkah lebih dulu di depan wanita itu.
"Terima kasih untuk traktirannya malam ini," tukas Nira tiba-tiba selagi mengekori Mada dari belakang. "Gue akan membalas lo dengan mentraktir lo makan saat nanti kita bertemu lagi," terang remaja putri ini.
Sontak Mada terkekeh saat mendengar bicara Nira itu. "Nggak perlu. Gue nggak membutuhkannya," balasnya yang berjalan di depan Nira sembari memasukkan tangan kanan dan kirinya di saku celana jeans yang ia pakai. Yang diajaknya bicara pun tersenyum sambil menunduk sekilas.
"Apa lo pikir gue membutuhkannya?" tanya Gianira. Lalu Mada membalas ucapannya dengan gelak tawa kecil.
"Kalau begitu terserah lo," ucap Mada. Sekian detik berikutnya, pria ini mendadak menghentikan langkahnya sehingga membuat Nira yang berjalan di belakangnya tak sempat menginjak rem dan menabrak punggungnya.
"Oouucchh...." Nira berdesis dengan mata tertutup sambil memegang dan mengusap pelan dahinya. "Kenapa lo berhenti tiba-tiba?" Gadis ini menatap Mada yang telah berbalik arah melihatnya.
"Kenapa lo harus berjalan di belakang gue?" jawab Mada malah bertanya pada Nira, dan bukan memberikan penjelasan apalagi minta maaf karena telah berhenti tiba-tiba. "Jalan di samping gue masih sangat lebar. Tapi lo..lo malah memilih berjalan di belakang gue. Kenapa?" Pria ini menatap Nira penasaran.
Nira-gadis yang ditatap dan ditanya Mada tampak bingung mendengar ucapan pria di depannya itu. "Apa gue nggak salah dengar?" tanya Nira dalam hati. "Pertanyaan apa itu? Bagaimana dia bisa sampai punya pikiran untuk menanyakan hal semacam itu?" pikirnya sembari melihat Mada yang menunggu jawabannya.
Melihat Nira diam-bingung untuk menjawabnya, Mada lantas menjelaskan. "Nira, selama lo lagi sama gue seperti sekarang, berjalanlah di samping gue. Jangan di belakang gue," terang Mada, yang justru membuat Gianira tercekat.
"Ini bukan perintah atau kewajiban untuk lo penuhi. Tapi akan lebih baik kalau kita berjalan bersama...sebagai teman. Teman baru," imbuh Mada setelah ia melihat Nira tercekat dengan raut wajah dan sorot mata yang terlihat bingung, yang ia yakini jika kepala gadis itu juga bertanya-tanya-mengapa mereka harus berjalan bersama.
"Di saat kita sedang berjalan bersama seseorang, sudah seharusnya kita berjalan di samping mereka, kan?" tanya Mada. Lalu yang ditanya mengangguk. "Jadi, jangan heran kalau gue minta lo untuk berjalan di samping gue."
Mendengar itu, Nira lantas tersenyum pada Mada dengan matanya. Gadis ini kemudian mengambil langkah dan menyejajarkan dirinya dengan pria itu. Kini, Nira telah berdiri tepat di samping Mada sambil berpikir bahwa kata-kata pria di sampingnya itu ada benarnya. Yah... Berjalan di belakang Mada akan membuat penilaian visual tentang dirinya dan pria itu jadi buruk. Itu juga akan terlihat seperti Nira tak bisa menghargai keberadaan dan perhatian Mada kepadanya. Dan Nira sadar bahwa dirinya tak seharusnya bersikap demikian.
Melihat Nira berdiri di sampingnya, raut wajah Mada terlihat senang dan senyumnya pun semakin lebar. Buktinya, Nira dapat melihat barisan gigi putih bersih nan rapinya yang muncul ke permukaan saat ia tersenyum. "Nah, ini baru benar!" tutut Mada. Lalu ia dan Nira tertawa bersama, dan kembali berjalan ke ruang tunggu.
Baru beberapa langkah berjalan, seseorang berlari menghampiri Mada dan Nira. Gadis ini rupanya mendekati Mada karena ingin minta tanda tangannya sebagai aktor yang tiga tahun ini masuk dunia entertaint, dan berhasil mendapat banyak perhatian dari orang-orang dengan skill akting nya yang luar biasa.
Tak heran jika Mada sering mondar-madir di layar kaca dan muncul di banyak judul drama dengan berbagai peran menarik yang dimainkannya. Dan kedatangan Mada ke Beijing saat itu untuk menikmati liburan singkatnya sebelum ia sibuk syuting drama barunya pekan depan.
"Mada, apa dia pacarmu?" tanya gadis ini kepada Mada yang sedang menandatangi jurnalnya. Yang ditanya hanya diam dan tersenyum. "Kalau benar dia pacarmu, itu artinya kamu pandai memilih pasangan. Karena dia cantik. Sangat cantik!" celotehnya, membuat wajah yang dipuji seketika bersemu merah.
"Benarkah?" Mada memberikan kembali buku milik gadis di depannya, yang telah ia tandatangani kepadanya. Sang gadis pun mengangguk cepat. "Dia temanku," jelas pria ini.
"Mada, kamu tahu apa? Segala sesuatu itu berawal dari pertemanan. Termasuk kamu dan dia," balas gadis ini. Sontak Mada dan Nira terkikik mendengarnya. "Thank you, Mada. Maaf sudah mengganggu waktu kalian. Enjoy your flight. Take care!" ucapnya, lalu pergi dari hadapan Mada dan Nira setelah Mada memberikan salam perpisahan kepadanya.
Setelah gadis itu pergi, Nira menatap kagum Mada di sampingnya. Ia kemudian berkata, "Astaga!! Gue nggak menyangka kalau malam ini gue akan bertemu aktor popular dan...tampan negeri ini."
Pernyataan Nira itu seketika saja membuat Mada tertawa. "Maaf gue nggak tahu kalau lo ini seorang aktor," sesal Nira. "Gue jarang nonton TV," terangnya. Lalu Mada menggeleng-tak mempermasalahkan hal itu. "Ngomong-ngomong, sudah berapa lama?" tanya gadis ini penasaran saat ia dan Mada sedang berjalan ke ruang tunggu.
"Belum begitu lama. Baru tiga tahun," jawab Mada sambil menoleh ke arah Nira sekilas.
"Wooaaahh!!" Nira berseru, dan lagi-lagi membuat Mada tertawa. Mengapa tidak, karena di matanya gadis ini benar-benar menggemaskan. "Lo sangat luar biasa!" puji Nira. Yang dipuji kemudian menggeleng tanpa melihatnya.
"Nggak juga," balas Mada sambil tersenyum tipis.
"Loh Kenapa?! Bukannya menjadi aktor itu sulit ya? Makanya nggak sedikit orang yang berpikir kalau menjadi aktor itu sesuatu yang luar biasa. Gue rasa pekerjaan jadi aktor lebih sulit daripada menjadi karyawan kantoran." Nira menatap Mada bingung.
Mada tersenyum sambil melihat Nira lagi sehingga pandangan mereka satu sama lain bertemu pada satu garis lurus yang sama. Hal ini kontan membuat keduanya gugup. Tetapi mereka berusaha untuk menutupi hal itu.
"Menurut kacamata gue, semua pekerjaan di dunia itu sama. Nggak ada pekerjaan yang 'wah' atau 'luar biasa'. Semuanya seimbang, susah-susah gampang. Dan setiap orang memiliki kadar tanggung jawab yang berbeda-beda terhadap apa yang mereka kerjakan dalam hidup mereka. Semakin tinggi keberadaan dari suatu kedudukan dalam pekerjaan mereka, maka akan semakin banyak peluang bagi mereka untuk mengakses berbagai fasilitas yang ada, dan tentunya semakin besar juga tanggung jawab yang mereka pikul. Setiap keuntungan yang ada, bayarannya selalu mahal. Dan, di sanalah pointnya. Bagaimana kita memberdayakan semua yang kita punya untuk memberi kesempatan hidup yang lebih layak bagi orang lain, dan menguatkan mereka untuk berjuang dalam hidup mereka. Rasanya akan menjadi sia-sia aja, kalau ada sesuatu yang luar biasa tapi nggak bisa diberdayakan dengan sebaik mungkin," jawab Mada sangat mendetail.
Perkataan Mada membuat Nira kontan terpukau. Ia kagum dengan pola pikir dan sudut pandang yang pria itu miliki. Nira tidak pernah menduga, bahwa masih ada laki-laki menarik yang tinggal di dunia ini dengan karakter yang begitu kuat dan dalam.
"Jika ada orang yang mengatakan kalau menjadi aktor itu pekerjaan yang luar biasa, yah..gue rasa Tuhan lah yang membuat semuanya terlihat menjadi begitu di mata mereka. Gue bersyukur sisi baik itu yang selama ini Tuhan perlihatkan ke permukaan. Gue harap pekerjaan gue sebagai aktor bisa menginspirasi orang-orang untuk selalu bersemangat dalam berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kecil mereka," imbuh Mada, membuat Nira tertegun.
"Sebenarnya, lo berasal dari mana sih?" tanya Nira. Yang ditanya malah mengernyit dan menatapnya bingung. "Gue punya banyak teman. Tapi nggak ada yang seperti lo. Iya, lo orang yang terlalu menarik dan kritis yang pernah gue temui," aku gadis ini, secara terang-terangan memuji Mada.
Yah... Seperti itulah Nira. Saat berbicara, ia selalu to the point. Bahkan, dengan gaya bicaranya yang santai dan sopan, Nira terbilang cukup berani dan sangat apa adanya kala menilai sesuatu atau seseorang.
Seketika saja Mada tertawa kecil sambil menatap Nira di sampingnya sekilas usai mendengar pujian gadis itu terhadap dirinya. "Setiap orang itu berbeda, Nira," balas Mada lembut-terutama saat ia memanggil nama Nira. Itu kontan membuat telinga Nira mencair.
"Sejak kecil setiap kita selalu tumbuh dengan cara dan jalan yang berbeda. Bayi A dan bayi B usianya sama. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata bayi B yang lebih dulu belajar berjalan, sementara bayi A lebih dulu tumbuh gigi. Atau, bayi A sudah bisa merangkak sedangkan bayi B belum bisa," imbuh Mada sambil bersitatap dengan Nira.
"Karena itu, menurut gue, rasanya nggak adil kalau setiap kita dibanding-bandingkan begitu. Karena masing-masing kita sudah pasti punya sisi A dan sisi B-sisi baik dan buruk, kelebihan dan kekurangan, gelap dan terang. Jadi, kalau teman-teman lo nggak punya sisi yang sama kayak gue, seperti yang lo bilang barusan, ya...nggak apa-apa. Mungkin, mereka punya sudut pandang lain dengan view yang lebih baik dari gue. Kita nggak pernah tahu itu, kan?" terang aktor 26 tahun ini. Lalu yang diajaknya bicara mengangguk, mengerti.
"Satu yang kita tahu pasti, kita harus menghargai dan mengapresiasi cara mereka bertumbuh," tutur Mada, yang lagi-lagi membuat Nira tertegun kagum.
Sementara itu, terdengar boarding announcement, yang membuat Nira dan Mada bergegas pergi ke gate C2.
"Nira..." panggil Mada. Yang dipanggil kontan menoleh ke arahnya dan menatapnya tak percaya sambil tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Erina
othooorr double up please /Kiss/
2023-10-14
0
Erina
mada keren bangeeeeeetttsss /Drool//Drool//Drool/
2023-10-14
1
Erina
Wkakakakak denger tu mada. smuanya berawal dari pertemanan. skr bilangnya teman siapa yg tau klw besok atau lusa sdah ngakunya pacar /Tongue/
2023-10-14
0