BAB 20 "Dalam Dekapan Sang Aktor"

Selagi Nura berjibaku dengan amarahnya, di sisi lain, Mada dan Nira telah sampai di kantin. Saat itu, belum masuk jam makan siang sehingga suasana kantin tampak sepi. Meja dan kursi pun banyak yang masih kosong. Dan begitu pula dengan stand makanan, belum semuanya siap menjajakan makanan.

Kendati demikian, ada beberapa orang mahasiswa yang lagi duduk-duduk sembari mengerjakan tugas atau hanya sekadar mengobrol selagi menunggu kelas mereka dimulai. Dan karena suasana kantin yang tak begitu ramai itulah Nira berani menarik tangannya dari jeratan tangan Mada dengan kasar.

"Mada, apa-apaan ini? Kenapa lo menarik gue ke sini sementara teman-teman di klub buku gue belum satu pun ada di sini?" cerca Nira. Ia tampak kesal setelah Mada menyeretnya tanpa aba-aba ke kantin di Shanghai Theatre Academy.

Mada pun mengusap kasar wajahnya. "Hey ... apa selama ini lo nggak punya teman selain Nura dan gengnya itu?!" tanyanya pada Nira ketus.

Pertanyaan Mada tersebut kontan membuat Nira mengernyitkan wajah dan menatap sang aktor bingung. "Apa maksud lo?" Nira balik bertanya pada Mada.

"Hhhhh ...." Mada mendengus kasar. "Gianira, gue perhatikan, lo selalu aja membiarkan mereka mengambil banyak keuntungan dari lo. Kenapa lo melakukannya, Nira? Kenapa lo mau dianggap seperti orang bodoh begini?!" ucap Mada marah saat kembali bertanya pada Nira.

Penuturan dan nada bicara yang cukup tinggi saat itu, seketika saja membuat mata Nira berkaca-kaca. "Jaga bicara lo, Mada!" tegus Nira dengan suara gemetar. "Lo ... memangnya lo tahu apa tentang—"

"Gue tahu semuanya, Gianira!" Dengan cepat Mada memotong bicara Nira. "Apa lo pikir gue ini tuli dan buta?" tanyanya ketus. "Dari kemarin di auditorium sampai hari ini, gue melihat dan mendengar semuanya dengan sangat jelas. Gianira Canela, lo itu gadis yang bodoh dan mereka adalah vampir yang menghisap harga diri lo," terangnya tegas. Yang diajak bicara hanya diam sambil menatapnya terkejut tak percaya.

"Apakah selama ini lo nggak pernah sadar tentang itu?" bentak Mada, kala ia dan Nira berdiri pada salah satu pojok kantin di mana tak ada satu pun orang di sana. Lalu Mada menghadap ke jendela di belakangnya. Ya ... pria ini memunggungi Nira.

"Kenapa lo jadi marah dan membentak gue begini?! Memangnya lo pikir, apa hubungan lo dengan ini semua?" tanya Nira sembari menatap punggung Mada.

Dengan cepat Mada berbalik, kembali menghadap ke arah Nira usai mendengar pertanyaan Nira tersebut. Di waktu ini, pandangan keduanya berada pada satu garis lurus yang sama. "Itu benar-benar mengganggu gue," ucap Mada kali ini lembut. "Nira, apa lo nggak pernah menegur orang lain selama ini, atau lo nggak tahu bagaimana cara menegur seseorang saat mereka merendahkan lo?" tanya Mada penasaran.

Nira pun menggeleng. "Tiga bulan lalu, ketika klub buku melakukan kegiatan sosial di panti jompo, teman dekat gue, Milly, meminta gue mengerjakan pekerjaan lain, sementara gue sedang mengerjakan sesuatu. Milly juga suka usil. Dia selalu memerintah gue untuk melakukan ini dan itu di saat gue melakukan tugas-tugas gue. Tapi saat itu gue menolak melakukannya. Gue marah dan bahkan memakinya. Gue bilang pada Milly, kalau gue akan benar-benar menghajarnya apabila dia memanfaatkan gue lagi," ungkap Nira terisak.

Melihat Nira terisak, Mada langsung menarik Nira dan membawanya ke pelukannya. Ia bahkan tak sungkan untuk membelai lembut kepala Nira. "Lo tahu Nira, yang lo lakukan pada Milly adalah sikap dan respons yang bagus," tukas Mada. Lalu ia mengatur napasnya sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.

"Nira, maksud gue, saat ini dan lain kali, tegur dan marahilah orang yang selalu berusaha memanfaatkan lo. Sama seperti ketika lo marah dan menegur Milly. Tegurlah mereka dengan cara seperti itu, Nira. Berani dan tegas. Lo mungkin berpikir bahwa semua hal akan berjalan damai saa lo bisa menahannya. Tapi, sepertinya lo justru punya prinsip yang cukup bodoh. Jadi, please ... hentikan itu," jelas Mada, bersamaan dengan tangan Nira melingkar di pingggangnya.

Nira lantas mendengus lemah dan mengangguk mengerti. "Lo tahu, jika gue bisa sedikit menahannya dan menderita maka semua akan baik-baik saja. Nggak ada orang yang akan tersinggung atau terluka. Apa menurut lo itu hal yang buruk?" tanyanya. Kemudian ia melepaskan diri dari dekapan Mada, dan menatap sang aktor tampan tersebut.

"Tentu saja itu buruk untuk lo!" jawab Mada tegas dan lugas. "Coba lo pikir, siapa yang akan memedulikan lo kalau lo sendiri nggak memedulikan diri lo?" katanya, yang membuat Nira seketika tercekat dan berpikir ulang.

Ketika Nira tidak bisa menjawab pertanyaan Mada, tiga orang anggota klub buku yang juga teman Nira yakni Milly, Jihan dan Gauri datang ke kantin. Sehingga Nira dan Mada menyudahi percakapan mereka begitu saja.

Detik berikutnya, Nira berlalu dari hadapan Mada dan bergabung bersama ketiga temannya tersebut sebab rapat bersama klub buku akan dimulai. Sementara Mada, ia duduk menunggu Nira pada kursi di dekatnya.

Selama rapat berlangsung, Nira hanya termenung diam. Gadis ini terlihat tidak fokus dengan jalannya rapat klub buku, sementara teman-temannya yang lain tampak antusias dengan pembahasan rapat saat itu.

Ternyata, itu karena Nira masih memikirkan kata-kata Mada kepadanya sebelumnya. Di sisi lain, Mada dari tempatnya duduk dan sedang memperhatikan diamnya Nira tentu saja mengerti akan hal ini.

Beberapa saat kemudian rapat bersama klub buku selesai, dan suasana kantin tampak ramai karena saat itu sudah masuk jam makan siang. Karena itulah, Nira dan Mada mengantre mengambil makan siang mereka.

Sekian menit mengantre, Nira dan Mada akhirnya mendapat makan siang mereka. Keduanya lantas keluar dari barisan sambil membawa baki bersekat berisi makan siang di tangan.

Saat keluar barisan, netra Nira dan Mada menyapu bersih setiap sisi dan sudut kantin, berharap menemukan tempat duduk kosong. Untungnya dewa-dewi fortuna lagi berpihak pada keduanya.

Buktinya, sepasang anak manusia ini menemukan satu meja dengan dua kursi yang saling berhadapan satu sama lain di sudut kanan belakang kantin, dekat dengan jendela kaca besar yang mengarah ke lapangan olahraga terbuka Shanghai Theatre Academy.

Di meja itulah akhirnya Nira dan Mada duduk, dan menikmati santap siang mereka. Saat Nira duduk sambil berhadapan dengan Mada yang sedang menikmati makan siangnya, Nira tampak sibuk mengamati wajah tampan Mada, dan mengabaikan makanannya.

Mada yang merasa sedang diperhatikan oleh gadis di hadapannya lantas menegurnya. "Gue tahu gue ini tampan. Jadi, lo nggak perlu menatap gue seperti itu. Karena itu hanya akan membuat gue semakin malu," ujar pria ini sembari mengaduk cream soup di hadapannya.

"Uhukkk ...." Nira kontan tersedak usai mendengar ucapan Mada saat itu.

Melihat Nira tersedak, Mada lantas mengambil botol berisi air minum yang berada di sebelah kanannya lalu memberikan botol air minum itu kepada Nira. Nira pun menerima air pemberian Mada dan meminumnya.

"Terserah apa kata lo, gue nggak peduli!" balas Nira ketus setelah meneguk air dari dalam botol minum di tangannya. "Gue nggak melihat lo karena lo tampan. Tapi karena gue terkejut," aku gadis ini sontak membuat Mada mengernyitkan wajahnya, kala menatap dirinya.

"Terkejut? Kenapa?" tanya Mada penasaran. Lalu ia kembali menatap cream soup di hadapannya.

Nira lantas mengatur napasnya sejenak sebelum ia memulai bicaranya. "Sebenarnya, gue sempat mengira lo payah dan egois. Tapi ternyata gue salah," jawab Nira sembari menatap Mada.

Seketika saja Mada mengalihkan pandangannya dari cream soup kepada Nira di hadapannya lalu terkekeh. "Nira, gue memang terkesan dingin. Karena itulah, banyak yang salah paham dengan gue," balas Mada santai.

"Jadi, apakah itu membuat lo nggak punya banyak teman?" tanya Nira penasaran.

Dengan cepat Mada menggeleng sambil mengulas senyumnya yang memesona. "Gue punya banyak teman. Tapi, hanya satu yang gue rasa gue dan dia cukup dekat," jawabnya justru membuat Nira kian penasaran.

"Siapa? Asisten lo?" tanya Nira lagi.

"Bukan," ucap Mada sambil menggeleng. "Gadis itu Gianira Canela," ungkap pria ini tanpa ragu

Pernyataan Mada tersebut seketika membuat Nira tercekat. Lidahnya keluh dan pikirannya melayang tinggi entah ke mana. Terlebih lagi saat Mada menatap matanya lekat-lekat hingga membuat dadanya berdebar kencang.

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Tidak butuh tambahan blush on kalau begini 😆

2023-11-22

2

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Jgn biarkan orang lain dzolim sama kita Nira. Sayangilah diri kita dgan tidak membiarkan orang lain memyakiti kita sesuka mereka

2023-11-22

1

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Sy berkaca-kaca semasa baca part ini thor 🥺

2023-11-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!