BAB 9 "Goodbye For Now"

Satu detik ... dua detik ... tiga detik berlalu hingga akhirnya Mada dan Nira yang sedang bertukar pandangan dalam diam dan tanpa berkedip, kini satu sama lain sadar lalu mengedipkan mata sembari mengulum senyum. "Kenapa gue berbahaya?" tanya Nira Mada dengan wajah dan sorot mata penasaran.

Mendengar itu, seketika saja Mada menunduk sekilas lalu menggeleng samar sambil tertawa kecil. "Nira, audisi theater lo itu, di mana tempatnya?" jawab si aktor tampan dengan bertanya pada Nira—menanyakan hal lain seolah ia ingin mengalihkan rasa penasaran Nira dari perkataannya sebelumnya, karena ia tidak ingin menjawab pertanyaannya.

Nira yang tak ingin ambil pusing lantas menjawab, "Di auditorium SMA Baruna," terang Nira tanpa memutus pandangan dan senyumannya dari Mada.

"SMA Baruna? Itu keren! Sekolah itu juga termasuk salah satu SMA bergengsi di Shanghai," terang Mada. Dan Nira mengangguk setuju.

"Berarti gue beruntung karena pernah merasakan bagaimana rasanya belajar dan menjadi siswa di sekolah bergengsi." Nira terkekeh, tetapi Mada malah menatapnya bingung.

"Benarkah? Kapan? Dan bagaimana bisa?" cerca si aktor.

"Dua tahun lalu saat gue mengikuti program pertukaran pelajar SMA," jelas Nira lugas. Pernyataan gadis ini kontan membuat Mada tersenyum bangga dan matanya menatapnya kagum. "Kalau lo? Lo mau ke mana besok?" tanya Nira.

"Gue harus pergi ke agensi gue. Ada meeting pukul 13.00," beber Mada. Lalu Nira mengangguk mengerti.

"Setidaknya lo ada waktu sampai pukul 13.00," ujar Nira. "Kalau audisi theater gue dimulai pagi hari. Jadi—"

"Pagi?" tanya Mada, memotong bicara Nira cepat. Lalu yang ditanya mengangguk. "Lo akan baik-baik aja." Ia memberi jeda pada bicaranya. "Kalau bangun sedikit lebih pagi, cepat, dan semuanya berjalan lancar," imbuh pria ini.

"Oh astagaa...." kata Nira disertai dengan tawanya. Melihat ini, Mada jadi tertawa juga.

"Nira, berikan ponsel lo," tukas Mada. Yang diajak bicara menatapnya bingung. Kendati demikian, Nira tanpa banyak bertanya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memberikannya pada Mada.

Sekian detik berikutnya, Mada meraih ponsel Nira dari tangan gadis itu. Ia kemudian mengetikkan sesuatu di sana. "Ini nomor gue." Mada menyerahkan benda pipih di tangannya kembali pada sang empunya.

Nira pun mengambil kembali ponselnya dari Mada, dan melihat nomor Mada yang tertera di layar ponselnya sambil tersenyum. "Kirimkan nomor lo ke gue. Dan jangan lupa untuk kasih kabar ke gue saat nanti lo sudah sampai di rumah," pinta Mada.

Sayangnya, sekian detik setelah Mada bicara, daya ponsel Nira sudah habis lagi. Alhasil, ia kehilangan nomor Mada sebelum sempat menyimpannya. Karena itulah Nira meminta Mada mengetik kembali nomornya di ponselnya. Namun, saat Nira hendak meminta Mada melakukannya, tiba-tiba saja ia dan Mada dipisahkan oleh kerumunan dan jalur yang berbeda. Akhirnya, Nira dan Mada—kedua calon kekasih ini terpisah satu sama lain.

"Sampai jumpa di sisi lain, Mada," ujar Nira dengan bergumam saat melihat Mada dengan koper di tangannya telah lebih dulu melewati antrean panjang, dan akhirnya menghilang dari pandangannya karena terjebak di tengah kerumunan.

"Sampai jumpa di sisi lain, Nira," tukas Mada pada Nira yang tertinggal jauh di belakang dan terjebak dalam antrean panjang serta kerumunan, sementara ia berjalan ke arah asisten dan managernya yang telah menunggunya di pintu kedatangan domestik bandara Shanghai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi esok harinya, sebelum Mada pergi meeting di kantor agensinya—Hugo Entertainment, ia terlihat berada di ruang konsultasi dan sedang berdiskusi dengan Dokter Jarvis—dokter yang selama ini menangani masalah untuk gangguan kecemasan yang dideritanya.

"Nggak ada yang lebih berbahaya daripada bunga. Karena ada serangga di bunga yang sering menyebabkan beragam alergi. Selain itu, bunga juga mengandung bukti yang mengejutkan," terang Mada saat menceritakan kisah menarik dalam kehidupan sehari-hari yang diminta Dokter Jarvis.

"Bukti mengejutkan?" Dokter Jarvis yang saat itu tengah duduk berhadapan dengan Mada dan asistennya, Miko, di meja kerjanya mengernyitkan wajah dan menatap sang aktor bingung.

"Iya...." jawab Mada dingin dan tanpa ekspresi apa pun. "Mawarlah yang telah membunuh Ayah gue dulu. Dia terkena penyakit Septisemia yang disebabkan oleh luka karena duri mawar," ungkapnya. Lalu yang diajak bicara hanya diam.

Bukan! Dokter Jarvis diam bukan karena tak ingin menanggapi cerita Mada, menganggap ceritanya sangat membosankan, bingung atau tidak percaya dengan cerita menarik yang diceritakan. Dokter tampan, lajang, dan juga bertubuh tinggi ini diam sebab selama Mada bercerita, ia sedang menganalisa bagian otak Mada yang mana yang menyebabkan masalah, sehingga aktor tampan itu terus-menerus mengalami gangguan kecemasan.

Melihat Dokter Jarvis hanya diam membisu, Mada lantas mendengus kasar dan menaruh curiga kepadanya. "Sejujurnya, gue masih nggak mau percaya bahwa selama ini lo mendapat gaji dengan mendengarkan orang sakit menceritakan kisah menarik," cicit Mada ketus pada sang dokter. Bahkan, ia tak sungkan untuk menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

Perkataan Mada itu kontan membuat Dokter Jarvis tertawa. Namun kemudian, pria ini menjelaskan: "Mada, lo tahu apa? Bunga, angin, dan bahkan meja ini, merupakan pengobatan yang menggambar peta kondisi pasien dengan membahas hal sehari-hari."

Kendati demikian, Mada tetap saja tidak mengerti. Buktinya, muncul kerutan horizontal di sepanjang kening aktor tampan itu usai mendengar pernyataan sang dokter. Melihat Mada bingung, Dokter Jarvis pun menambahkan: "Dengan kata lain, kita bisa menghubungkan hal-hal yang terlintas di pikiranmu dan mencari tahu bagian otak mana yang menyebabkan masalah."

"Itu nggak perlu. Lupakan cara itu!" sanggah Mada.

"Mada, meski lo nggak perlu minum obat secara teratur karena kondisi lo nggak begitu serius, tapi tetap lo nggak boleh naik pesawat atau mengendarai mobil tanpa izin gue sebagai dokter lo. Karena itu akan memengaruhi kehidupan sehari-hari lo. Saat ini, Memecahkan masalah untuk gangguan kecemasan lo sangatlah penting, Mada. Mungkin butuh waktu lama, tapi gue rasa ada bagusnya kalau lo mendapat konseling dan menjalani terapi perilaku kognitif," jelas Dokter Jarvis. Yang diberi penjelasan hanya diam.

Selagi Mada diam sembari memikirkan perkataan Dokter Jarvis, tiba-tiba ponsel sang dokter bunyi. Jadi, ia menerima panggilan masuk, berbicara sembari mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Setelah itu, Dokter Jarvis terlihat mengambil pensil untuk menceklis beberapa hal di buku catatannya.

Dalam suasana itu, tiba-tiba Mada seakan menjadi sangat sensitif saat telinganya mendengar suara ketukan dan netranya melihat tajamnya ujung pensil. Bagaimana mungkin aktor tampan kelas A ini bisa tidak sensitif jika kedua hal itu membuatnya teringat pada sebuah momen, ketika dirinya berjalan memasuki IGD.

Entah siapa, namun dalam ingatan Mada kala itu, ia melihat seorang wanita yang terbaring dengan bekas luka sayat di pergelangan tangannya, dan banyak bekas kasa berlumuran darah di samping bangsalnya.

Untungnya, Dokter Jarvis yang baru saja menutup ponselnya

setelah panggilan teleponnya selesai, dengan cepat menyadari raut kecemasan di wajah Mada. Karena itu, ia pun langsung bertanya: "Mada, ada apa? Are you okay?"

Mada tak menjawab, dan tatapannya terus tertuju pada kotak berisikan banyak pensil. Maka dari itu, Dokter Jarvis bergegas mengambilnya dan menyimpannya di laci meja kerjanya. Setelah itu, barulah Mada kembali sadar dan bisa bernafas lega.

"Jarvis, datanglah ke rumah gue pekan ini," cetus Mada. "Gue akan aktif berpartisipasi dalam mendapat konseling dan menjalani terapi perilaku kognitif seperti yang lo sarankan," terangnya.

Mendengar itu, dr. Jarvis lantas tersenyum senang dan bernafas lega. "Baiklah, kalau begitu, hari ini lo harus pulang dengan menyetir mobil sendiri. Itu tugas pertama lo," pintanya.

"Hhhh ...." Mada menghela nafas berat. "Sepertinya ini akan menjadi tugas pertama yang melelahkan...." keluh Mada. Lalu ia berjalan keluar diikuti oleh asistennya, Miko. "Dia sangat licik!" cibir Mada sambil berjalan keluar rumah sakit.

"Maaf, siapa yang lo maksud?" Miko memasang raut wajah bingung saat menatap Mada dengan matanya yang penasaran.

"Kakak lo!!" jawab Mada pada Miko. Yang diajak bicara tampak menahan tawanya. "Gue kemari karena dia menawarkan teh. Tapi sekarang dia ingin gue menjalani terapi dan pulang sendiri. Dia berusaha mengobati gue!"

Usai menggerutu, Mada masuk ke mobilnya lalu duduk di balik kemudi, dan menyalakan mesin mobil demi menyelesaikan tugas pertamanya, yakni menyetir sendiri.

Ketika Mada menyalakan mesin mobil, ia tampak gugup. Karena itu, pria ini akhirnya menyetel musik klasik. Lalu detik berikutnya, Mada menurunkan kaca mobil untuk sejenak menghirup udara segar.

Namun secara tiba-tiba, perhatian Mada teralihkan oleh sekelopak bunga cantik yang terbang melayang tepat menuju bagian depan mobilnya. Karena inilah pengendara mobil di belakang Mada terpaksa menyalakan klakson mobilnya.

"Tet!!! Tet!!!" Suara klakson dari mobil belakang sontak membuat Mada terperanjat kaget, sehingga ia pun spontan menginjak pedal gas. Akibatnya, Mada secara tak sengaja menabrak seorang gadis yang sangat kebetulan berjalan di depan mobilnya.

Melihat gadis itu terjatuh, segera, Mada turun dari mobil dan menghampirinya. Tapi, alih-alih meminta maaf, Mada justru memarahi sang gadis. "Seharusnya orang minggir dari jalan mobil!"

Terpopuler

Comments

YangRan

YangRan

baru tau hm

2023-10-25

0

YangRan

YangRan

nyesek parah /Cry//Cry//Cry/

2023-10-25

0

YangRan

YangRan

Nira mau pinjem hp aku nggk? kayaknya hp kamu tu kentang parah /Sob//Sob//Sob/

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!