"Paman ... Bibi ...." panggil Nira, kala jarak antara dirinya dan paman serta bibinya, yang telah duduk di meja makan bersama tiga putra mereka tidak sampai dua meter.
Edmund dan Winola yang tak lain adalah Paman dan Bibi Nira, yang merasa terpanggil tatkala mendengar suara Nira saat memanggil mereka langsung menoleh ke arah Nira.
"Nira ... syukurlah kamu sudah pulang," balas Winola sambil tersenyum.
"Apa aku benar-benar terlambat?" Nira bertanya kepada Winola dengan nafas tersengal-sengal. "Maafkan aku." Gadis ini menatap Winola, suami, dan tiga putranya secara bergantian. "Nggak ada satu bus pun yang datang ke kampus untuk mengambil kami sore ini," terangnya. Ia lalu duduk di hadapan Winola dan Edmun.
"It's okay, Nira. Kami sudah menduganya," jawab Winola. "Hampir semua bus nggak ada beroperasi karena hujan salju yang turun lebat sore ini. Apalagi, kondisi jalan benar-benar buruk, nggak memungkinkan untuk mereka lalui," imbuhnya masih dengan senyum manis yang tak berkurang sedikit pun di bibirnya.
"Bibimu benar, Nira. Yang terpenting adalah kamu sampai di rumah dengan selamat," timpal Edmund. Lalu ia menyodorkan cangkir berisi Ocha hangat ke arah Nira. "Minum dulu, Nak," titahnya sambil tersenyum juga.
Nira pun mengangguk sembari tersenyum setelah ia mendengar respons bijaksana dari Winola dan Edmund. Detik berikutnya, ia menyesap Ocha hangat di hadapannya dengan pelan.
"Kak, bagaimana lo bisa sampai kemari tepat waktu?" tanya Shane tiba-tiba. Sehingga membuat Nira hampir tersedak. "Eh ... pelan-pelan, Kak. Gue bertanya karena merasa penasaran bukan karena punya maksud lain," terangnya sambil memberikan tissue pada Nira yang duduk di sampingnya. "Apa lo memanggil taksi?"
Nira meletakkan cangkir teh Ocha itu di atas meja makan, kemudian mengambil tissue dari tangan Shane, dan menyeka mulutnya. "Tentu saja!" jawab Nira setelah menyeka mulutnya. "Kalau nggak, mana mungkin gue bisa sampai di rumah tepat waktu." Nira tersenyum canggung pada Shane.
"Tapi, apa masih ada taksi yang akan beroperasi saat salju turun lebat seperti tadi sore?" timpal adik laki-laki bungsu Shane, Cony. "Bukankah rata-rata bus nggak ada yang jalan? Atau, apa itu karena bus berukuran besar sedangkan taksi kecil?" Remaja tampan yang duduk di sebelah kanan Winola ini bertanya kepada Nira sambil
mengangkat dua alis matanya.
"Gue pikir hanya taksi putih dan canggih saja yang bisa jalan saat hujan salju." Shane menyeringai ke arah Nira.
Penuturan Shane itu kontan membuat kening Nira berkerut. "Maksud lo?" jawabnya dengan balik bertanya. "Memangnya ada taksi putih dan canggih di negara kita ini? Bahkan, gue nggak pernah tahu," terangnya.
"Ada!!" balas Shane dan Cony serentak. "Kira-kira harga belinya sekitar 3.2 miliar Yuan. Karena itu, gue pikir desain interiornya pasti semewah desain eksteriornya. Joknya menggunakan sport leather seats, dan dilengkapi dengan fitur lima mode berkendara yang bisa dioperasikan hanya melalui sentuhan," beber Shane.
Seketika saja Nira terkejut setelah mendengar keterangan Shane itu. "How did you know?!" tanya gadis ini terbata-bata.
"How did you know?" celetuk adik laki-laki kedua Shane yakni Zaire, bingung. "Gue pikir lo akan bertanya, whose car are you trying to talk about. Tetapi ternyata, tanpa sadar lo justru mengakuinya, Kak," ujarnya sambil tertawa.
"Astaga!! Mengapa gue bodoh sekali!!" gerutu hati Nira saat memaki dirinya sendiri.
"Jadi, dengan siapa lo pulang? Apa dia tampan?" tanya Zaire setelah ia selesai tertawa.
"Pertanyaan macam itu?!" sahut Shane. "Dia pasti tampan! Lo tahu, mobil mewah dan pria tampan seperti dua sisi mata uang yang nggak bisa dipisahkan!" Shane menggerakkan alis matanya naik-turun secara berulang selama beberapa detik sambil menatap Nira.
"Bukankah ini seperti adegan di film-film, di mana pria tampan itu akan jatuh hati dengan wanita biasa, dan kemudian mereka pun berkencan." Cony menimpali.
Di sisi lain, Winola dan Edmund tertawa kecil saat melihat ketiga putra remaja mereka menggoda Nira. "Jika dia tampan dan baik hati, bukan nggak mungkin paman dan bibi akan merasa senang," goda Edmund.
Nira lantas menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. Ia tampak kikuk, kala paman dan tiga saudara sepupunya menggodanya. "Begini, kenapa kita jadi membicarakan mobil mewah dan tuannya? Bukankah kita duduk di sini untuk makan malam, menyambut kepulangan paman dari rumah sakit?" tanya Nira. "Ayolah ... fokus dengan superstarnya saja. Jangan orang lain," pintanya.
"Baiklah. Kita bisa membahas ini lagi nanti, setelah makan malam," ujar Winola, bergurau pada Nira. "Karena Nira sudah di sini, bagaimana kalau sekarang kita langsung makan?" tanyanya pada suami dan tiga anak laki-lakinya.
"Oh ya tentu, Bu! Lagi pula, aku juga sudah sangat lapar!" jawab Zaire cepat.
"Pheww!!" Untuk sesaat Nira dapat bernapas lega. "Setelah selesai makan malam, gue harus mengalihkan perhatian mereka, atau lebih hati-hati saat memberikan respon dan jawaban kepada mereka. Karena bisa saja, mereka akan memberikan sejumlah pertanyaan menjebak seperti tadi. Tuhan ... Aku mohon bantu dan selamatkan aku," pinta hati Nira sebelum ia menyantap berbagai jenis sushi di hadapannya.
Malam itu, ada beberapa jenis sushi yang tersaji di hadapan Rhea dan keluarga pamannya. Makanan popular tertua khas Jepang ini, salah satu hidangan favorit Nira dan Zaire. Selain karena sushi sangat menyehatkan, Nira dan Zaire menyukai sushi sebab sushi memiliki isian yang berbeda-beda.
Beberapa jenis sushi yang menjadi favorit Nira dan Zaire, yang tersaji di meja malam itu, di antaranya adalah Fatty Tuna. Ini tidak menggunakan Tuna tapi Fatty Tuna, yaitu bagian terbaik dari seekor Tuna.
Jenis sushi yang kedua yaitu Seabass yang diberi sedikit ulasan jeruk nipis di atasnya. Kemudian jenis sushi yang ketiga adalah Japanese Mackarel yang diberi sedikit irisan daun bawang di atasnya.
Dan jenis sushi yang terakhir adalah sushi dengan bahan utama belut laut matang yang dicacah dan dicampur saus yang dibuat dari tulang belut, yang sebelum diolah sudah dipisahkan lebih dulu. Keempat sushi tersebut disajikan dengan nasi di bawahnya.
"Nira, paman tahu kalau kulihamu baru saja dimulai. Paman bertanya karena paman ingin tahu apa rencanamu setelah lulus kuliah nanti?" tanya Edmund setelah minum Ocha dari gelasnya.
Mendengar itu, Nira lantas mengangguk mengerti sembari tersenyum. "Aku akan menjadi artis dan penulis tenar. Lalu membelikan restoran sushi untuk paman dan bibi," ujarnya bernada ceria.
"Selain itu, aku akan membuka coffee shop untuk Shane dan membelikannya mesin kopi paling canggih di dunia. Aku juga akan mewujudkan semua impian Zaire dan Cony," tambahnya.
"Jangan pikirkan itu, Nira," sahut Wilona. "Setelah nanti lulus kuliah, kamu harus bekerja dan menjadi karyawan kantoran," katanya sangat jelas saat menikmati sushi di dalam mulutnya.
Usai mendengar penuturan Winola—bibi yang telah mengurus dirinya sejak ia kecil, Nira meletakkan sumpit di tangannya ke atas meja makan. "Bibi, sebenarnya, aku ... aku mengambil jurusan seni pertunjukan," balas gadis ini dengan bicaranya yang lembut dan sopan.
Winola mengangguk seraya tertawa kecil. "Lantas kalau tiba-tiba saja kamu nggak mau menjadi artis, kamu nggak bisa bekerja dengan jurusan itu," jawab wanita ini dengan tegas.
"Hhuh ...." Nira menghela napasnya sekilas. "Apa kalian alumni jurusan pesimis?" tanya Nira "Pintar sekali merusak suasana hatiku," ungkapnya.
"Sini bibirmu bibi lem supaya diam!!" tukas Winola menunjuk bibir Nira dengan sumpitnya, sementara Nira Edmund, Zaire, Shane, dan Cony terbahak-bahak, karena wajah kesal Winola tampak menggemaskan.
"Tidak Bibi. Jangan mulutku karena aku harus makan sushi ini." Segera, Nira memasukkan sushi ke dalam mulutnya menggunakan sumpit.
"Sudahlah!" Edmund menengahi perdebatan kecil antara Nira dan Winola. "Kamu juga harus menikmati makan malam kita ini," ujarnya. "Ini, makanlah juga!" Pria ini menyuapkan sushi ke mulut Winola. Mau tidak mau, Wilona pun menerima sushi tersebut.
"Bibi ... paman ... bukan maksudku untuk menyakiti kalian atau membuat hati kalian risau. Tapi ... alih-alih memintaku melakukan sesuatu yang belum tentu aku sukai atau bukan menjadi tujuan akhir dan impianku, akan lebih jika baik kalian bisa fokus menggunakan waktu yang ada untuk mendukung setiap pilihan, langkah, dan bahkan keputusan yang aku pilih dan akan aku jalani," pinta Nira sambil menatap paman dan bibinya penuh harap.
"Kak Nira benar!" cetus Shane. "Aku pikir, Kak Nira bisa melakukan hal apa saja, termasuk hal-hal yang dia sukai yang membuatnya bahagia. Asalkan dia nggak akan menyesalinya," ungkapnya.
Penuturan Shane tersebut seketika saja membuat Winola dan Edmund terdiam sekilas. Namun kemudian, pasangan suami istri ini mencoba menyetujui hal tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Yang Wang Couple
Betul, selama Nira tidak menyesali apa yang jadi pilihan dan keputusan nya ya dukung sj. toh Nira jg yg akan menjalani hidupnya. Semoga bibi winola bukan orang yg diktator seterus nya
2023-11-14
0
Yang Wang Couple
seratus persen setuju sama Nira 😭
2023-11-14
0
Yang Wang Couple
pintar sekali nira mencari kata-kata
2023-11-14
0