BAB 12 "Tidak Sepakat Tapi Peduli"

Seketika Mada terdiam, kala mendengar perkataan Nira. Namun kemudian, ia mengangguk mengerti sembari tersenyum. "Nira ... gaun yang lo pakai tadi—"

"Itu mengerikan," potong Nira cepat. Lalu gadis ini mengulas senyum kecut. Melihat sekaligus mendengar itu, Mada pun mengernyit sambil menatap Nira tidak mengerti, mengapa gaun secantik itu dianggap mengerikan.

"Kenapa mengerikan?" tanya Mada penasaran.

"Karena gaun itu nggak membawa keberuntungan dalam audisi musikal kali ini," jawab Nira, membuat Mada yang mendengar menggeleng tak habis pikir.

"Nira, lo salah!" tegas Mada. Dan Nira pun terkejut. "Pertama, gaun itu cantik. Begitu juga dengan penampilan lo tadi. Dan gue menyukainya. Kedua, Walau pun lo nggak memenangkan audisi musikal itu, tapi lo masih mendapat satu keberuntungan lain—mencium gue," terangnya.

"Lo beruntung bisa mengalahkan banyak gadis di luar sana, yang ingin mencium gue tapi nggak bisa. Bahkan, kalau ada mantra sihir yang bisa mengubah mereka menjadi soang demi bisa nyosor ke gue, pasti mereka gunakan." Mada terkekeh.

Sontak saja Nira terbahak-bahak dan mengangguk setuju. "Lo lucu sekali," ungkap Nira. "Mada, terima kasih sudah membuat gue tertawa sampai gue lupa kalau gue sedang bersedih karena gagal menang audisi musikal hari ini," imbuhnya. Yang diajak bicara tersenyum dalam diam.

"Mada, lo belum cerita, bagaimana pernikahan Ibu lo di Beijing tempo hari?" tanya Nira penasaran.

Mada menghela nafas panjang yang terasa berat.

"Sebenarnya itu nggak penting. Dan yang menyebalkannya adalah itu indah." Mada tersenyum nanar saat bersitatap dengan Nira di sampingnya, sementara Nira hanya diam. "Suami baru Ibu benar-benar nggak bisa dibenci, dan Ibu gue bahagia sungguhan. Jadi—"

"Astaga. Itu sangat mengerikan!" Nira memotong bicara Mada cepat. Yang bicaranya dipotong lalu tertawa kikuk dan mengangguk setuju. "Lalu, bagaimana dengan Ayah lo? Lo bilang kalau beliau—"

"Ayah sekarat dan akhirnya tiada setelah terkena penyakit Septisemia, yang disebabkan oleh luka karena duri mawar," terang Mada dengan suara gemetar seperti sedang menahan tangis.

Pernyataan Mada tersebut kontan membuat Nira terdiam. Namun kemudian, Nira mengatur nafasnya guna menetralisir perasaan sesak yang menyergap hatinya, kala mendengar cerita Mada tentang orang tuanya.

"Apa lo baik-baik aja?" tanya Nira dengan ekspresi khawatir dan sedih.

"Ya, gue baik-baik aja," jawab Mada lugas. Bahkan, bibirnya pun tersenyum kepada Nira. Tetapi tidak dengan mata cokelatnya yang berkaca-kaca, yang membuat Nira akhirnya tidak seratus persen percaya dengan ucapannya.

"Sungguh!" tegas Mada pada Nira. "Lo tahu, cuma delapan persen pasien Septisemia yang bisa hidup lama," jelas Mada yang berupaya keras meyakinkan Nira bahwa ia baik-baik saja. Ia tak ini menampakkan kesedihannya di hadapan gadis itu.

Namun, Nira bukanlah gadis yang mudah dikecoh. Si INFJ girl ini sangat ahli merasakan perasaan orang lain bahkan jika orang tersebut tidak mengatakannya. Kendati demikian, Nira tak ingin menekannya agar ia mau bicara.

"Mada...." Nira meraih tangan Mada dan kemudian ia menggenggamnya erat tetapi lembut. "Kenapa lo selalu begitu?" tanya Nira, yang membuat kening Mada berkerut.

"Apa maksud lo?" Mada dengan wajah bingungnya balik bertanya pada Nira.

"Lo lebih banyak menjelaskan hal-hal dengan angka dan semacamnya, bukan dengan berkata sejujurnya aja," terang Nira. "Seharusnya lo mengatakan sesuatu yang benar-benar lo rasakan, Mada," imbuh gadis ini lembut.

Sontak Mada terdiam, terhanyut dalam perkataan Nira. Namun kemudian, lelaki ini membubuhkan kecupan singkat dan kilat pada bibir Nira. Nira yang dicium lantas terkejut dan malu. Buktinya, wajahnya kini bersemu merah.

"Yang barusan itu adalah hal yang paling jujur yang ingin gue lakukan pada lo, Nira," tutur Mada. Yang diajak bicara hanya diam. Ya, gadis itu mematung dan membisu, sementara jantungnya berdetak kencang.

"Apa lo selalu begitu, Mada?" tanya Nira setelah ia bergeming sesaat. Lalu detik berikutnya, muncul kerutan horizontal di sepanjang kening Mada.

Untungnya, Nira memahami raut wajah bingung si aktor tampan itu, sehingga ia pun menjelaskan: "Mada ... gue merasa lo sedang banyak pikiran. Tapi lo bersikap seolah nggak ada yang mengganggu lo."

"Jadi, lo mau gue bilang apa? Apa gue harus bilang bahwa gue sangat kecewa dengan pernikahan Ibu dengan suami barunya itu? Lo mau gue bilang kalau pernikahan mereka adalah hari terburuk dalam hidup gue selain yang gue tahu akan terjadi?" cerca Mada kesal.

Dengan cepat Nira menggeleng tegas, sebelum Mada semakin salah paham, kesal hingga berujung marah besar kepadanya. "Bukan begitu, Da. Gue hanya berusaha ada untuk lo," ungkap gadis ini sungguh-sungguh.

Mendengar itu, Mada lantas mengusap wajahnya kasar. "Nira, dengarkan gue," pinta Mada tegas. "Mungkin gue nggak mau mencurahkan isi hati gue pada gadis yang baru gue temui di pesawat," sarkas pria ini.

Perkataan Mada tersebut membuat Nira sadar. "Lo benar!" Nira menatap Mada nanar. "Bodohnya gue sudah mengatakan itu, dan berharap lo akan melakukannya." Ia menunduk, menyembunyikan air matanya yang memenuhi pelupuk matanya. Gadis ini benar-benar tak bisa dibentak. "Gue pergi dulu. Lo hati-hati di jalan."

Nira akhirnya pergi meninggalkan Mada yang diam dan kesal sambil memandang kepergian Nira yang begitu saja. Ada secercah penyesalan yang tumbuh di hati Mada setelah mengetahui bahwa perkataannya itu telah melukai hati Nira.

Karena itu, Mada akhirnya menyempatkan waktu dengan datang ke audisi prosa Nira ditemani dengan Miko, untuk menebus rasa bersalahnya. Di Shanghai Theatre Academy, Mada dan asistennya itu melihat Nira tampil dengan membawakan puisi prosa tulisannya sendiri.

Dengan ekspresi wajah yang pas dan nyata, nada dan cara bicaranya yang lembut, tegas, dan lugas, kala menarasikan puisi prosa hasil tulisan tangannya tanpa teks, Nira berhasil memukau juri tamu dan para penonton. Buktinya, Nira mendapatkan gemuruh tepuk tangan yang meriah dari mereka.

"Gue kira dia pemalas karena hak istimewa. Tapi setelah melihat penampilannya yang membuat juri tamu kagum, gue rasa ada gunanya kalau kita belajar menulis dan membawakan puisi prosa dengan Nira," bisik seorang mahasiswa perempuan yakni Gauri, yang tidak lain adalah teman satu kelas Nira, pada Jihan di sampingnya.

Mada yang duduk tepat di sebelah Gauri dengan pakaian serba hitamnya lantas tersenyum bangga setelah mendengar pernyataan Gauri tersebut. Setelah itu, acara audisi prosa berakhir, dan Nira harus menunggu tiga hari lagi untuk hasilnya. Lalu juri tamu dan satu per satu orang mulai mulai meninggalkan auditorium.

"Apakah mencari perhatian orang adalah hobinya?" tanya seorang mahasiswa perempuan lain yang berambut hitam pendek kepada dua temannya yang berjalan di sisi kanan dan kirinya. "Nira sangat menyebalkan!" kesal Nura. "Bagaimana bisa dia membuat juri tamu tersenyum lebar begitu?" Nura marah.

"Dari dulu di SMA, Nira selalu mengemis perhatian dari semua orang. Gue nggak suka dengannya!" balas Tya, teman Nura yang berjalan di sisi kiri Nura, dengan ketus

"Iya, lo benar! Nira selalu berlagak baik dan cantik. Gue benar-benar nggak suka dengan tingkahnya!" tambah Lusi, yang berjalan di sisi kanan Nura dengan raut wajah marah.

Lusi, Nura, dan Tya adalah teman sekelas Nira di SMA, yang sekarang jadi teman sekelas Nira di Shanghai Theatre Academy. Ucapan ketiga gadis itu seketika saja membuat Mada yang kebetulan berjalan tepat di belakang mereka berang.

Buktinya, rahang pria tampan dan elit itu mengeras. Dari bahasa tubuh Mada saat itu, dapat dipastikan bahwa ia tidak terima Nira direndahkan dengan cara seperti itu. Namun, Alan berusaha keras menahan dirinya.

"Da...." Miko yang menyaksikan kemarahan Mada, langsung menyentuh pundak Mada. Yang disentuh kontan menoleh ke arahnya. "Tenanglah. Semua orang juga tahu Nira bukan perempuan seperti itu," katanya menenangkan Mada meski ia sendiri tidak mengenal Nira.

Mada pun hanya mengangguk kepada Miko. "Ayo pergi," ajak Miko.

Tetapi, Mada menolak ajakan Miko. Ia meminta Miko pergi duluan ke mobil mereka dan menunggunya di sana, karena ia akan menemui Nira lebih dulu. Maka itu, Miko pergi ke mobil tanpa Mada di sisinya.

Sekian detik setelah Miko pergi, Mada melihat Nira sedang berjalan ke arah pintu keluar auditorium sendirian. Karena itu, Mada bergegas berjalan ke arah Nira.

Namun, saat Mada akan menemui Nira, ia melihat Nura, Lusi, dan Tya tengah berbicara dengan Nira di depan pintu keluar auditorium. Jadi, Mada memelankan langkahnya saat berjalan ke arah mereka.

"Nira, apa lo bawa pemutar video yang gue minta pada lo?" Nura bertanya pada Nira dengan fake smile di wajahnya.

"Tentu! Ada di tas gue. Gue akan memberikannya pada lo setelah kelas berakhir," jawab Nira ramah.

"Lo benar-benar teman yang baik, Nira," balas Nura. "Oh ya, gue punya satu permintaan lagi pada lo. Apa lo bisa melakukannya?" tambah gadis ini.

Tanpa curiga, Nira mengangguk sambil tersenyum. "Apa itu?" tanyanya.

"Apa lo ingat, pekan alu dosen kita memberi tugas pada kita?" Nura balik bertanya pada Nira. Yang ditanya mengangguk.

"Sejujurnya, gue malu kalau harus mengatakan ini pada lo. Tapi lo sangat berbakat dan pintar. Karena itu, gue mau lo menuliskan puisi yang ditugaskan Ibu Yumna pada kita untuk gue. Apa lo mau menolong gue? Please," pintanya.

Melihat Nura berlagak manis dan baik di hadapan Nira, membuat Mada muak lantas mengepalkan tangan kuat, sementara matanya menatap Nura dengan tatapan dingin.

Amarah Mada meletup-letup dengan sempurna. Ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Karena itu, Mada melangkahkan kakinya ke arah Nira, Nura dan dua temannya dengan cepat.

"Nira...." Mada memanggil Nira dengan lembut di saat Nira hendak menjawab permintaan Nura.

Suara lembut Mada saat memanggil Nira seketika membuat Nura bertanya-tanya, siapakah pria berpakaian serba hitam, alis tebal, dan bertubuh tinggi yang menghampiri Nira, dan tanpa ragu menggenggam tangannya.

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

jangan mau Nira. jangan mau dimanfaakan begitu. Baik boleh tapi bodoh juga jangan ya

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

ular /Panic//Panic//Panic/

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

/Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/

2023-11-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!