BAB 11 "Ciuman Tak Terduga"

Dengan wajah marahnya, Mada memperingati Nira agar ia menghentikan mobilnya. Namun, rupanya Nira tak mengindahkan peringatan yang digaungkan Mada dengan lantang kala itu.

"Kenapa lo mau gue menghentikan mobil ini? Tadi lo bilang terserah gue," omel Nira. Yang diajaknya bicara hanya diam.

"Lo tahu, lo bisa salah paham kalau tadi gue langsung merebut mobil ini. Jadi, gue membantu lo—aktor tampan dan terkenal terbebas dari dakwaan tabrak lari," terang gadis ini. "Karena itu, sekarang, lo harus bekerja sama dengan gue. Jangan cemas! Gue punya izin balapan dan belum pernah kecelakaan mobil selama ini," jelasnya dengan santai.

"Izin balapan? Siapa orang gila yang memberi izin balapan kepada lo?" tanya Mada kesal.

"Ayah gue," balas Nira yang kemudian membuat si aktor tampan yang duduk di sampingnya menggeleng tak percaya.

"Dasar liar!!" cicit Mada kesal.

Kendati begitu, dalam waktu sekejap, ia dan Nira akhirnya tiba di tempat Nira audisi. Karena sangat buru- buru, bahkan tanpa disadari olehnya, Nira turun dari mobil Mada dan tidak sengaja mengambil kunci mobil bersama dengan ponselnya.

"Terima kasih banyak, Mada! Lo pria terbaik!" ucap Nira pada Mada sambil keluar mobil cepat.

"Berterimakasihlah dengan benar, Nira!" balas Mada ketus. "Ucapan terima kasih lo nggak terasa tulus!" teriak Mada, yg kemudian tersadar kalau kunci mobilnya terbawa oleh Nira.

Di sisi lain, dalam kondisi kakinya yang pincang sebelah, Nira berlari menuju ke ruang rias di mana telah banyak para peserta audisi theater lainnya yang sedang besiap-siap.

Ketika tengah berdandan, Nira baru tersadar kalau ia tak sengaja membawa kunci mobil Mada. Namun, pada waktu bersamaan, nomor urutnya dipanggil dan ia diminta untuk bersiap-siap karena sebentar lagi gilirannya untuk masuk ruang audisi.

Mendengar itu, Nira lantas menarik napas dalam-dalam. Dan dengan penuh rasa optimis di hati, gadis ini menyemangati dirinya sendiri dengan berkata, "Nira, mari lakukan dengan baik! Gue akan berusaha keras, dan tanpa penyesalan!"

Beberapa saat kemudian, akhirnya, audisi musikal berjudul 'Winter Romance' dimulai. Satu per satu peserta naik ke atas panggung dan menunjukkan talenta mereka. Peserta berikutnya yang naik panggung adalah Nira. Dan di waktu ini, Mada berjalan memasuki ruang teater.

Di ruang teater itu, Mada menyaksikan penampilan Nira yang berhasil memukau semua penonton. Buktinya, suara Nira yang amat merdu, membuat orang-orang betah mendengar nyanyiannya.

Ketika penampilan Nira usai, si juri tamu langsung mengomentarinya. "Nira ... sebenarnya, penampilanmu itu menarik. Suara dan teknikmu melampaui dugaanku. Tapi, Nira...." pria ini memberi jeda pada bicaranya. "Sejujurnya, entah kenapa aku merasa lagu yang kau nyanyikan hanya kebohongan. Belakangan ini, apa kau tidak pernah pacaran? Apa kau tidak pernah merasa kesulitan tidur karena kau menyukai seseorang?" cercanya, membuat Nira tercekat.

Lalu detik berikutnya, si juri tamu mengatur nafas sebelum melanjutkan kembali komentarnya kepada Nira. "Sayang sekali, padahal karakter Ana dalam teater 'Winter Romance', menyukai karakter Daka secara diam-diam. Ini bukan soal memamerkan bakat bernyanyimu, Nira. Tetapi bagaimana kau menyampaikan rasa cintamu kepadanya. Aku banyak berkomentar begini karena suaramu sangat bagus. Aku menantikan mendengar lagumu lagi dengan segenap jiwamu lain kali...." tutup pria 30 tahun ini.

Nira yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kemudian bertanya kepada si juri tamu itu dengan tegas dan tanpa ragu: "Apakah aku bisa mencobanya sekarang? Bukan lain kali, tapi sekarang! Aku akan menunjukkannya sekarang juga!"

"Apa yang bisa kau tunjukkan?" tanya si juri tamu cepat sambil memasang wajah penasaran saat menatap Nira yang berdiri di atas panggung dan disorot lampu.

"Aku akan melakukan apa pun!" jawab Nira lugas.

Mendengar itu, si juri tamu pun tersenyum. "Wah ... itu bagus!"

akunya. "Baiklah, sekarang, anggaplah di aula ini ada pria yang diam-diam kau sukai. Dan cobalah untuk merayu pria itu dengan segala cara. Aku akan memberimu waktu 30 detik," jelasnya.

Sejenak Nira diam sembari matanya menyisir tiap sisi dan sudut aula, dan memerhatikan seisi ruangan. Tak lama, matanya tertuju pada sosok Mada yg tengah berdiri tepat di antara bangku penonton. Sekian detik berikutnya, Nira melangkah perlahan. Ia menghampiri Mada sembari menatapnya dengan penuh perasaan.

"Aku menyukaimu, Daka...." ucap Nira yang saat itu menganggap Mada sebagai Daka—karakter di teaternya, selagi ia dan aktor tampan itu bersitatap dalam jarak yang sangat dekat.

Mada yang diajak bicara oleh Nira hanya membisu. Ia memperhatikan Nira sembari menunggu apa yang akan gadis itu lakukan kepadanya selanjutnya. Detik berikutnya, tanpa rasa canggung sedikit pun, Nira langsung mencium Mada di hadapan semua mata yang memandangnya.

Atas sikap Nira yang tiba-tiba dan tidak terduga itu, Mada jadi kaget sekaligus marah. Buktinya, dengan cepat ia mendorong Nira agar berhenti mencium bibirnya yang tertutup masker hitam. "Yaish! Ada apa dengan lo, Nira??! Lo gila ya?!" bentak Mada.

Sementara itu, si juri tamu yang melihat Nira baru saja mencium Mada dan tidak mendengar bentakan Mada kepada Nira, berdiri dari duduknya lalu dengan dinginnya berkomentar:

"Aku sangat bangga dengan keberanian dan semangatmu itu, Nira. Tapi, kau tidak membuatku yakin. Misimu bukan mencium orang asing sambil memejamkan mata. Misimu adalah merayu Daka."

Meski tak mengatakan apa pun, namun tergambar jelas di wajahnya bahwa Nira sangat sedih sesaat setelah ia mendengar komentar si juri tamu. Bahkan, Mada yang berdiri di dekatnya pada saat itu dapat melihat kesedihan Nira itu.

Selanjutnya, Nira yang sedang sedih pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah Nira berganti pakaian, ia berjalan meninggalkan gedung audisi musikal dalam kondisi tatapan yang begitu kosong.

Saking sedihnya Nira, ia seakan tidak mendengar suara Mada yang terus berteriak memanggil namanya dan mengekorinya dari belakang. Tak hanya itu, bahkan, Nira pun tak fokus dengan langkahnya.

Buktinya, koper berukuran kecil yang Nira gunakan untuk menyimpan pakaian untuk audisi musikalnya, tidak sengaja terjatuh hingga membuat barangnya berceceran. Melihat itu, segera, Nira merapikannya lagi. Pada waktu ini, Nira melihat kertas berisi lirik dan notasi lagu yang akhir-akhir ini ia pelajari dengan sangat serius, dan perlahan air mata gadis ini mulai menetas tak tertahankan.

Bersama dengan air mata Nira yang membasahi wajahnya, Mada datang menghampirinya. "Nira, ada apa dengan lo? Kenapa sikap lo tadi nggak sopan sekali, huh?! Lo sangat keterlaluan! Sebelumnya, lo mencuri mobil gue, dan menculik gue. Lalu sekarang ... lo melecehkan gue! Lo mencium gue di depan banyak orang tanpa permisi! Gue bisa menuntut lo. Apa lo tahu itu?!" cerca Mada marah.

Enggan membela diri, Nira hanya berkata: "Mada, maafkan aku. Aku sungguh meminta maaf...."

Setelah itu, Nira mengembalikan kunci mobil Mada. Dan kemudian, ia berjalan pergi dengan langkah yg begitu lesu meninggalkan Mada. Namun tak lama, Mada berlari mengejar Nira yang meraih tangannya cepat. Selanjutnya, pria ini membawa Nira masuk ke mobilnya.

"Nira, apa lo baik-baik aja?" tanya Mada sembari ia menatap Nira dengan penuh rasa khawatir.

"Hhhhh ...." Nira menghela napas dan menyeka air matanya. "Lo lihat tadi, gue bernyanyi dan menari dengan maksimal. Semuanya berjalan lancar. Bahkan, gue sangat bahagia bisa menyanyikan lagu gue sendiri di panggung. Tapi ... hasilnya menyebalkan!" beber Nira. "Lain kali, gue akan melakukannya dengan baik!" Nira menatap Mada.

"Lo akan terus mengikuti audisi?" tanya Mada. Lalu yang ditanya mengangguk.

"Pekan depan ada dua audisi musikal. Dan Besok pagi ada audisi puisi prosa," tukas Nira lebih jelas.

"Benarkah? Kapan dan di mana audisi puisi prosa lo itu?" tanya Mada beruntun dengan ekspresi penasaran.

"Pukul 09.00 di auditorium kampus gue—Shanghai Theatre Academy," jawab Nira

"Lo kuliah di sana sekarang?" tanya Mada lagi. Dan yang ditanya mengangguk seraya tersenyum samar.

"Gue Gianira Canela, mahasiswa baru di Shanghai Theatre Academy, jurusan Seni Pertunjukan," ungkap Nira, membuat Mada tersenyum bangga.

Mengapa tidak Mada tersenyum bangga? Karena kampus Nira, Shanghai Theatre Academy, adalah akademi yang berdiri sejak tahun 1948, dan sudah banyak mencetak seniman dan selebriti China ternama.

"Perkenalkan, gue Mada Alzio, lulusan kelas dansa di Department of Dance di People's Liberation Army Arts College, Tiongkok," ungkap Mada tak mau kalah.

"Selain Tuan analitik prediktif, lo ini juga Tuan tidak mau kalah yang suka pamer!" cicit Nira, membuat Mada kontan terbahak-bahak. Melihat Mada tertawa, Nira pun juga ikut tertawa.

"Setelah ini, lo mau ke mana?" tanya Mada setelah ia dan Nira selesai tertawa.

"Gue harus kembali ke rumah sakit untuk menemani bibi menjaga paman yang sedang dirawat di sana," jelas Nira.

"Kalau begitu, mari gue antar sekalian gue melihat keadaan paman—"

"Maaf Mada. Bukannya gue nggak mengizinkan lo menjenguk paman. Tapi ... nggak ada perkenalan apalagi pertemuan keluarga sampai kencan kelima." Sangat cepat Nira memotong bicara Mada.

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Perempuan kayak begini biasanya bikin laki-laki kayak Mada semakin tergila-gila

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

penyakir Mada suka mendramatisir sesuatu kumat lagi 🤭

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

mulut bilang gila tapi hati pasti senang sekali

2023-11-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!