BAB 13 "Real Dewa Fortuna Nira"

Saat mendengar suara yang tak asing memanggil lembut namanya, Nira segera mengarahkan netranya ke arah sumber suara. "Mada, ada apa?" tanya Nira terkejut, tatkala melihat Mada muncul tanpa mengenakan masker seperti hari kemarin.

Namun, saat itu, bukan hanya Nira yang terkejut, tetapi Nura dan kedua temannya juga. Bagaimana tidak? Karena Mada yang mereka ketahui sebagai aktor muda nan tampan dan terkenal, rupanya mengenal Nira dengan baik, dan cukup dekat dengannya.

"Apa sekarang lo mulai pikun, Gianira?" Mada balik bertanya. Yang ditanya hanya diam sembari menatapnya bingung, sementara Nura dan dua teman perempuannya tampak tertawa kecil karena mereka pikir si aktor sedang memarahi Nira.

Melihat raut wajah bingung Nira itu, Mada lantas menghela nafas panjang. "Hari ini cuaca lebih dingin dari kemarin, tapi lo malah nggak pakai sarung tangan apalagi syal," terang Mada.

Detik berikutnya, Mada melepaskan sarung tangan dan syal yang ia pakai. "Pakai ini," ujar Mada. Tanpa ragu, Mada memakaikan syal miliknya di leher Nira, dan sarung tangan kesayangannya di tangan gadis itu.

Perhatian Mada pada Nira, yang terlihat jelas pada sikapnya yang hangat, membuat Nura kesal. Karena, tidak tahu sejak kapan dan bagaimana caranya, Gianira berhasil mendapat perhatian Mada.

Saking tidak sukanya Nura melihat Nira mendapat perhatian dari selebriti pria terkenal tersebut, ia sampai memaki Nira dengan sorot matanya. Gadis ini menatap Nira dengan tatapan membunuh.

"Ehem ...." Nura berdeham. "By the way, sepertinya hari ini bukan Nira aja yang nggak mengenakan sarung tangan dan syal," ungkap Nura, menggoda Mada sembari tersenyum.

Sayangnya, Mada tak peduli dengan ucapan Nura. "Lalu? Apa lo akan meminta gue mengambil syal ini dari Nira, terus memberikannya kepada lo? Seperti saat lo meminta Nira mengerjakan tugas lo?" tukas Mada sangat ketus. Bahkan, ia menatap Nura tajam dan dingin.

Seketika saja mulut Nura terkatup rapat, dan raut wajahnya tampak semakin kesal. "Oh bukan, nggak begi—"

"Ayo kita pergi dari sini, Nira," ucap Mada kepada Nira, kala memotong bicara Nura dengan cepat. Lalu detik berikutnya, Mada berlalu dari hadapan Nura sementara Nira masih terpaku di tempatnya berdiri.

Saat Mada melewati pintu keluar auditorium, Nira menatap Nura dan tersenyum canggung padanya. Gadis ini merasa tidak enak hati dengan Nura atas sikap kasar Mada kepadanya.

"Nura, ayo kita pergi ke kantin bersama. Setelah itu, gue akan membuatkan satu puisi prosa untuk lo," terang Nira dengan ramah.

Tetapi keramahan yang Nira coba berikan kepada Nura rupanya tak disambut baik oleh Nura. Buktinya, Nura kini tengah menatap Nira tajam seolah ingin memakannya hidup-hidup.

"Menyebalkan!" cicit Nura dingin karena ia marah. Nura dan kedua temannya kemudian pergi meninggalkan Nira yang mematung di tempatnya.

Sekian detik usai Nura dan kedua temannya berlalu dari hadapan Nira, dua orang teman dekat Nira—Jihan dan Gauri, yang saat itu ternyata masih di auditorium, menghampiri Nira. "Nira, kita berdua mau kok pergi ke kantin sama lo," kata Jihan sambil tersenyum.

"Kita nggak akan membuang kesempatan makan bersama dengan salah satu mahasiswa yang berbakat menulis puisi prosa," timpal Gauri sambil menggerakkan tangannya selama berbicara pada Nira.

Ya, Gauri adalah penyandang tuna rungu wicara sejak lahir. Sehingga untuk dapat berkomunikasi, Gauri harus menggunakan alat bantu dengar dan bahasa isyarat.

"Baiklah. Ayo kita pergi!" balas Gianira Canela

yang pandai berbahasa isyarat. Detik berikutnya, Nira mengulas senyumnya pada Gauri dan Jihan, kemudian mereka pergi ke kantin bersama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, salju turun lebat sehingga kilauan cahaya matahari sore yang hangat dan langit jingga yang cantik menjadi bias. Yang terlihat sore itu adalah butiran salju selembut kapas, langit abu-abu, dan udara dingin yang mampu menggetarkan tubuh Nira, kala ia duduk dan menunggu bus di halte depan kampusnya.

Nira yang duduk bersama beberapa mahasiswa di halte bus, berkali-kali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Gue nggak boleh terlambat, dan membiarkan bibi menunggu gue terlalu lama di sana," kata Nira, berbisik dalam hati. Ia gusar karena jarum jam telah menunjukkan pukul 5.45 sore.

Bagaimana mungkin Nira bisa tidak merasa gusar kalau ia telah memiliki janji untuk makan malam di rumah bersama bibi dan pamannya yang baru keluar rumah sakit, tetapi bus tak kunjung datang untuk mengangkutnya.

Sudah lebih dari 20 menit Nira duduk di halte bus. Dan bahkan, ia juga tidak melihat jadwal kedatangan bus yang biasanya selalu ditayangkan pada sebuah layar yang memberikan waktu kedatangan bus secara real time.

"Ya ampun ... bahkan, taksi juga nggak ada yang lewat sejak tadi," gumam Nira. "Apa gue harus jalan kaki sampai ke rumah?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Namun kemudian, Nira menggeleng cepat. "Nggak! Gue bisa sakit jika harus jalan kaki sampai ke rumah, dan di bawah guyuran hujan salju selebat ini," imbuhnya dari dalam hati.

"Tapi, harus sampai kapan gue di sini? Mana gue juga sudah sangat lapar. Gimana ini, Tuhan?" lirih hati Nira.

Untungnya, dewa fortuna masih berpihak kepada Nira. Sang dewa fortuna akhirnya mengangkat kegelisahan di hati Nira. Buktinya, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halte bus, dan kemudian seorang pria membuka kaca jendela mobil tersebut.

"Nira!!" Pemilik mobil mewah memanggil Nira dengan lantang.

Suaranya yang lantang itu seketika membuat Nira terkesiap. Ia lalu mencari visual dari pemilik suara lantang tersebut. Dan sekian detik berikutnya, betapa terkejutnya Nira saat melihat Mada berada di balik jendela kaca mobil itu.

"Mada, ada apa?" Nira berjalan menghampiri Mada.

"Ayo pulang," ajak Mada tegas.

Kontan Nira terdiam usai mendengar ajakan Mada itu. Mengapa tidak? Mada yang notabenenya adalah aktor terkenal tidak pernah menarik garis dengan Nira barang sebentar saja, sejak mereka bertemu di bandara Beijing. Bahkan, kali ini, Mada tak sungkan mengajak Nira pulang bersamanya. Kenyataan macam apa ini? Apakah ini wajar? Itulah yang Nira coba pikirkan.

"Hey! Kenapa lo diam saja begitu? Apa lo mau terus berdiri di sini dan membeku?" cerca Mada. "Ayo, cepatlah masuk!!" titah lelaki tampan ini. "Gue akan mengantar lo pulang," terangnya.

Ucapan Mada saat itu kontan menyadarkan Nira dari lamunannya. "Apa nggak akan jadi masalah kalau gue ikut lo? Maksud gue, apa itu nggak akan merepotkan lo?" Nira bertanya dengan hati-hati.

Dengan cepat Mada menggeleng. "Sudah jelas ini bukan hal yang merepotkan. Kalaulah benar mengajak lo pulang bersama bisa merepotkan gue, maka gue nggak akan berhenti di sini dan menawari lo tumpangan," jelas Mada sungguh-sungguh.

Nira pun mengangguk mengerti. "Baiklah. Terima kasih sebelumnya," jawab Nira. Setelah itu, ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

Saat di dalam mobil, Nira duduk di samping Mada sedangkan Miko duduk di samping supir yang telah Mada tugaskan untuk membelah jalanan yang mulai dipenuhi butiran salju untuk mengantar Nira ke rumah paman Nira lebih dulu, sebelum membawa dirinya pulang ke rumahnya.

Hanya butuh beberapa menit bagi Mada untuk tiba di depan rumah paman Nira. Sesampainya di sana, Mada melihat tampilan rumah paman Nira yang sederhana tapi terasa hangat.

Kehangatan di dalam rumah paman Nira dapat Mada rasakan meski ia hanya memandanginya dari luar. "Apa ini rumah paman lo?" Mada menatap Nira yang masih di dalam mobilnya.

Dengan cepat Nira mengangguk sambil tersenyum. "Apa lo mau mampir?" tanyanya.

"Gue pikir lo nggak akan mengizinkan gue mampir dan bertemu paman dan bibi lo sampai kencan kelima," ucap Mada, membuat Miko yang mendengarnya menahan tawanya.

Nira terkekeh sekilas. "Yang ini pengecualian. Karena lo sudah memberikan tumpangan untuk gue di saat keadaan gue lagi darurat tadi," ungkap gadis ini, kontan membuat Mada tertawa sekilas lalu mengangguk mengerti.

"Sebenarnya, gue ingin sekali mampir dan menyapa paman dan bibi lo. Tapi, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat," jawab Mada. "Gue masih ada janji makan malam dengan manager dan beberapa orang di agensi gue. Dan gue nggak mau membuat mereka menunggu terlalu lama," jelasnya sangat detil.

"Baiklah." Nira tersenyum pada Mada. "Sekali lagi, terima kasih atas tumpangannya. Kalian hati-hati di jalan," ucapnya ramah sambil menatap Mada, Miko dan supir mereka secara bergantian.

Mada, Miko dan supir mereka mengangguk sembari mengulas senyumnya yang memesona. Setelah itu, Nira turun dari mobil Mada. Lalu detik berikutnya, Mada meninggalkan Nira yang saat itu masih berdiri di depan rumahnya.

Beberapa saat setelah mobil Mada pergi, Nira bergegas masuk ke dalam rumah pamannya. Lalu ia duduk melingkar bersama paman dan bibinya serta tiga orang putra mereka di meja makan.

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Semoga sprti ini terus ya Mada ke Nira dan begitu juga sebaliknya

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Nira kenapa kamu baik banget. Sy malah yang gak tega kamu menghabiskan kebaikan kamu untuk perempuan sprti Nura 🥲

2023-11-10

0

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Justeru real laki-laki tidak mau sama perempuan yg suka merendahkan dirinya sendiri demi mendapatkan sesuatu.

2023-11-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!