Di XOXO HOUSE-salah satu restoran makanan Cina di Bandar Udara Internasional Beijing Daxing, Gianira dan Mada duduk di kursi yang saling berhadapan dengan satu meja persegi yang memisahkan mereka, sembari menunggu makanan yang telah mereka pesan datang.
Selagi menunggu, di luar, salju pertama kali turun di minggu pertama musim dingin. Indah! Sangat indah! Tidak! Itu juga cantik!! Salju pertama yang turun malam itu tampak seperti butiran kapas yang bertebaran di udara. Saking indah dan cantiknya salju malam itu, Nira sampai tak sadar jika Mada sedang memperhatikan dirinya tanpa berkedip.
Yah... Gianira yang memilih musim dingin sebagai musim kesukaannya terlihat sangat bahagia saat melihat salju pertama kali turun. Ia tersenyum lebar, dan wanita ini pula hanya memusatkan pandangannya pada keindahan salju pertama kali turun saat itu.
"Cantik..." kata Mada, bergumam kecil tetapi Nira masih dapat mendengarnya meski netranya mengarah ke luar jendela restoran di samping kanannya.
Mendengar itu, Nira lantas menoleh ke arah Mada. Ia mendapati pria dengan tinggi badan 180cm itu sedang melihatnya yang tersenyum lebar sembari tersenyum juga. Melihat Nira menatapnya dalam diam, Mada pun kontan mengatupkan senyumnya. Ia malu dan jadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang memperhatikan dirinya diam-diam.
"Apa yang cantik?" tanya Nira kepada Alan disertai dengan raut wajah penasaran. Yang ditanya hanya diam sambil menggaruk leher belakangnya yang tak gatal.
"Hhhhmmm..." Mada tampak memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Nira itu. "Itu... Salju pertama kali yang turun malam ini cantik... Yah, sangat cantik!" aku pria ini. Lalu Nira mengangguk sembari mengulas senyum menawannya kepadanya.
"Lo benar!" balas Nira. Dan kemudian ia membawa pandangannya kembali ke arah luar jendela-melihat salju yang terus berguguran. "Sekarang, di Shanghai juga pasti sedang turun salju pertama. Dan Besok pagi, pekarangan di rumah paman gue pasti sangat indah. Saat membuka pintu, lo bisa melihat lapisan salju yang cukup tebal. Salju menutupi atap dan dedaunan di halaman rumah," beber gadis ini sembari terus tersenyum.
"Gue nggak tahu apa ini cuma perasaan gue doang atau bukan. Tapi gue melihat mata lo menyala terang saat membicarakan rumah paman lo itu. Apa lo menyukainya?" tanya Alan penasaran.
Seketika saja Nira tertawa kecil usai mendengar pertanyaan Alan kepadanya saat itu. Lalu detik berikutnya ia mengangguk. "Gue bukan hanya menyukainya. Tapi gue sangat menyukainya. Setiap kali gue datang ke Shanghai, dan tinggal di rumah Paman beberapa hari, gue selalu memberi tahunya kalau gue sangat menyukai rumahnya. Rumah yang hanya cukup untuk satu keluarga, dan bergaya guno dengan pekarangan kecil," ungkap Nira.
"Sayang sekali, minggu ini, biasanya salju belum terlalu lebat di Shanghai. Dalam dua atau tiga pekan lagi, salju akan menjadi sangat tebal," terang Alan. "Kalau kita bertemu lagi saat itu..." Alan memberi jeda pada bicaranya. "Akan gue buatkan manusia salju buat lo!" tukas pria ini seketika membuat Nira yang mendengarnya menoleh ke arahnya cepat, dan menatapnya terkejut.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara seseorang yang merupakan penyiar radio pria, mengalun dari sebuah pengeras suara di XOXO HOUSE.
[Salju Pertama, mungkin tidak begitu asing bagi sebagian orang. Tetapi tidak untuk yang lainnya. Sebagian dari mereka selalu bertanya-tanya 'ada apa dengan salju pertama' yang turun kala itu. Di setiap masa, setiap kali mendekati waktu musim dingin, kisah mengenai salju pertama menjadi populer di mesin pencari internet. Hal ini dikarenakan banyaknya cerita yang mengaitkan salju pertama dengan hal yang romantis dan dramatis. Di balik kisah salju pertama yang turun, terdapat lambang cinta. Lambang cinta inilah yang menjadi arti dari salju pertama yang menjamur di seluruh dunia. Tak jarang pula, banyak pernyataan cinta dan janji kencan dilakukan pada saat salju pertama turun. Ini karena adanya sebuah pepatah yang mengatakan jika menyampaikan perasaan kepada orang yang disukai saat turun salju pertama, maka perasaan tersebut akan terbalaskan]
"Bagaimana menurut lo?" tanya Mada secara tiba-tiba.
Nira yang tengah menatapnya sambil mendengar Si penyiar radio bicara, memberikan pandangan bingung pada Mada. Sejujurnya, gadis ini tidak begitu memahami maksud bicara laki-laki di hadapannya, dan ke mana arah pembicaraannya saat itu. Bahkan, Nira tak tahu apa yang sedang Mada coba bicarakan kepadanya.
"Hah?! Apa yang bagaimana?" jawab Nira dengan bertanya pada Mada.
Mada menatap Mada sambil tersenyum kecil. "Apa lo percaya dengan hal yang dibicarakan Si penyiar itu?" terang pria ini lebih jelas. Lalu yang diajak bicara berkata 'oh' sambil mengangguk.
"Kalau kita mengungkapkan perasaan kita kepada orang yang kita suka pada saat turun salju pertama, maka perasaan kita akan terbalaskan... Sebenarnya, gue pernah mendengar pepatah itu. Tapi gue nggak tahu apakah itu benar-benar bisa terjadi pada hidup seseorang atau nggak. Sejujurnya, gue sendiri belum pernah mengalaminya," aku Nira. Ia kemudian mengatur napasnya, dan memberi jeda pada bicaranya sebelum melanjutkan bicaranya lagi.
"Tapi kalau lo tetap minta gue untuk mengatakan hal itu, jawaban yang bisa gue berikan adalah gue rasa itu bisa aja terjadi dalam hidup seseorang dengan izin Tuhan. Selama ini, gue selalu mengamini bahwa nggak ada hal yang mustahil terjadi dalam kehidupan ini. Menurut gue, ketidakmungkinan itu hanya berlaku untuk kita manusia aja. Tapi nggak berlaku untuk Tuhan," imbuh Nira.
Bicara Nira itu terdengar bijaksana di telinga Mada. Saking bijaksananya, mata Mada sampai terlihat berbinar sementara senyumnya yang memesona kian lebar tatkala bersitatap dengan netra gadis itu.
"Sebenarnya selama ini gue juga meyakini hal yang sama dengan yang selalu lo yakini," ungkap Mada tanpa sedetik pun memutus tatapannya pada Nira. Dilihat dari caranya memandang Nira sejauh ini, jelas sekali jika pria ini tertarik kepadanya.
"Pepatah itu mungkin terdengar konyol dan hanya omong kosong. Tapi siapa dari kita yang bisa menduga takdir indah dari Tuhan. Menurut gue, cara setiap orang bertemu dengan pasangan yang mereka cinta, itu seperti cermin yang memantulkan cara mereka untuk bersama," tambah Mada, yang seketika saja membuat Nira tertegun sesaat.
"Karena lo yakin tentang itu, apa itu artinya lo juga pernah mengalaminya dalam hidup lo?" tanya Nira kali ini pada Mada dengan wajah penasaran. Rasanya, ini adalah pertanyaan pertama dan bersifat pribadi yang Nira tujukan langsung pada pria yang belum 24 jam ia temui itu.
Mada pun terkekeh sekilas. "Bagaimana mungkin gue bisa begitu yakin mengatakannya pada lo sementara hal itu nggak pernah terjadi dalam hidup gue?" jawab pria ini. "Yah... Meskipun gue nggak mengalaminya pada saat salju pertama turun." Mada terkekeh lagi. Mendengar kata-katanya yang teramat jujur itu, Nira lantas tertawa. Dan mereka pun tertawa bersama.
"Coba gue tebak, semua hal yang lo amini itu juga pernah terjadi sama lo, kan?" kata Mada usai tertawa. Lalu yang ditanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
"Bahkan, jika mereka hanya melihat itu dari orang lain, mereka tetap bisa mengatakannya dengan keyakinan yang kuat," balas Hana masih dengan senyumnya meski tanpa melihat Mada yang tak bosan memandangnya.
"Tunggu! Jadi, lo melihat hal itu terjadi pada hidup orang lain, atau justru sebenarnya terjadi di kehidupan lo sendiri?" tanya Mada penasaran.
"Keduanya." Nira menjawab dengan lugas dengan nada bicaranya yang lembut.
"Kalau begitu, apa lo membuat permohonan saat tadi turun salju pertama??" balas Mada dengan bertanya lagi. Yang ditanya kontan mengarahkan pandangannya ke arah dirinya.
"Gue selalu membuat permohonan. Bahkan, saat salju pertama nggak turun atau matahari nggak muncul," jawab Nira diiringi dengan senyum manisnya yang terlukis pada wajah cantiknya.
"Oh ya?" kata Mada. Lalu Nira mengangguk. "Apa gue boleh tahu permohonan yang lo buat ketika tadi salju pertama turun?" Mada menatap Nira dengan dua alisnya yang bergerak naik turun sementara bibirnya tersenyum.
"Hahahaha....." Nira tertawa. "Kalau begitu, apa gue juga boleh tahu permohonan yang lo buat saat turun salju pertama malam ini?" balas gadis ini kontan membuat pria di hadapannya terbahak-bahak. Dan mereka pun kembali tertawa bersama.
"Gue rasa kita akan menjawabnya bersama-sama nanti.." ujar Mada sambil menatap Nira tepat di bola mata kecokelatannya yang begitu cantik, yang berhasil membuat dirinya tersihir dengan selalu memandangnya.
Malam itu, Nira melihat tatapan Mada yang terlihat berbeda dari yang ia lihat beberapa saat sebelumnya. Dan gadis ini pula melihat senyum Mada yang tampak tulus tetapi dipenuhi dengan teka-teki. Yah... Itulah yang Gianira Canela rasakan.
Bagaimana mungkin gadis 18 tahun itu bisa tidak merasa demikian jika ia dan Mada sesungguhnya terlihat seperti dua orang yang sedang bermain puzzle, di mana mereka berdua harus melengkapi bagian-bagian puzzle yang hilang dengan mencocokkan potongan puzzle yang satu dengan yang lainnya agar terlihat lebih jelas dan cantik bentuknya.
"Nira, selama lo lagi sama gue seperti sekarang, berjalanlah di samping gue. Jangan di belakang gue," titah Mada. Yang diberi perintah kontan terdiam sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
YangRan
ngomong aja kalau mau ketemu lagi sama nira 🤭😂
2023-10-12
0
Erina
up lagi thor up lagiii xixixi
2023-10-11
0
Erina
etcieeeee kerasnya kebangetan nih kode mas mada /Joyful/
2023-10-11
0