BAB 8 "Perasaan Romantis Di Udara"

Sekian detik usai Mada kembali duduk di kursinya, ia dan Nira saling bertukar pandangan dan tanpa berkedip selama empat detik sembari tersenyum. "Senang rasanya saat mengetahui lo menganggap gue menawan," ungkap Mada dengan sungguh-sungguh.

Nira yang mendengar itu lantas mengangguk dan tersenyum malu, sementara Mada yang juga tersenyum kepadanya, menatapnya kagum. "Baiklah, sekarang, coba ceritakan soal audisi theater lo," tukas Mada, mengganti topik pembicaraannya dengan Nira.

Melihat bagaimana Mada menentukan percakapan selanjutnya dengan mengarahkan Nira dari satu hal ke hal lainnya, ini terlihat seolah-olah Mada tidak ingin memutus obrolannya dengan Nira karena ia ingin mengetahui lebih banyak hal tentang Nira.

Mengapa tidak Mada ingin mengenal sosok Nira dengan lebih baik? Karena di matanya Nira adalah gadis yang tidak sekadar menarik. Benar sekali! Bagi Mada, Nira merupakan teman duduk istimewa. Tidak tahu mengapa Mada bisa menganggap Nira demikian, tapi kenyataannya itulah yang hatinya rasakan terhadap Nira.

"Yaa...." Nira tertawa kecil sekilas sembari melihat ke arah depan. "Besok merupakan audisi theater gue yang kelima. Selama ini gue belum pernah menang. Dan kalau kali ini Tuhan berkehendak, gue terpilih untuk menang, itu berarti gue akan semakin dekat dengan impian gue untuk menjadi aktris. Karena, kalau gue sampai memenangkan audisi ini, gue otomatis akan menjadi traine di perusahaan mereka—agensi yang mengadakan audisi ini," ungkap Nira dengan ceria. Yang diajak bicara mengangguk mengerti sembari tersenyum.

"So, apa lo sudah siap untuk audisi besok?" tanya Mada penasaran. Lalu detik berikutnya, Nira menoleh ke arah samping dan menatapnya tepat di inti matanya.

"Semuanya, mulai dari suara hingga pakaian gue, dalam kondisi terbaik. Pokoknya, kalau nanti kita bertemu lagi, lo akan membelikan gue cola dan ayam goreng untuk menyemangati gue karena lolos audisi," beber Nira, yang saat itu langsung dibalas oleh Mada dengan gelak tawa.

Bagaimana mungkin Mada bisa tidak tertawa jika Nira yang sangat bersemangat dan optimis untuk audisi theater nya justru terlihat makin menggemaskan. "Tenang, kalau lo menang, gue akan mengadakan pesta untuk lo di restoran ayam," ujar Mada saat tawanya surut.

"Sungguh?" Nira menatap Mada dengan raut wajah senang. Lalu yang ditanya kembali mengulas senyumnya sambil mengangguk cepat. "Kalau begitu, besok gue akan bekerja lebih keras," tukas gadis ini.

Lagi, Mada dibuat tertawa oleh Nira dan kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Semangat lo itu bagus. Tapi...." Mada memberi jeda pada bicaranya. "Lo juga harus ingat kalau lo nggak perlu memaksakan diri. Jangan terlalu keras dengan diri lo sendiri," terangnya.

Nira pun mengangguk mengerti. "Tenang aja, gue hanya akan membuat mereka terpikat dengan penampilan gue," balas Nira.

"Gadis pintar!!!" puji Mada pada Nira dengan satu tangannya yang refleks membelai puncak kepala gadis itu lembut, sementara yang menerima sentuhan menatapnya dalam diam karena gugup.

"Buatlah para juri terpana dengan suara luar biasa lo itu. Cara itu pasti berhasil," imbuh Mada usai mengusap puncak kepala Nira. "Semangat!" serunya.

Mendengar Mada berseru, Nira kontan tersadar lalu berdeham guna menetralisir hawa gugup yang menyergap dirinya. "Thanks Mada," ucap Nira disertai dengan senyum manisnya, yang membuat jantung Mada yang melihatnya berdetak kencang.

"Sekarang giliran lo," kata Nira pada Mada. Namun yang diajak bicara menatapnya bingung. Untung saja Nira peka dan mengerti dengan cara Mada menatapnya. Jadi, ia akhirnya menjelaskan, "Iya, coba ceritakan, bagaimana pekerjaan dan liburan singkat lo selama di Beijing?"

Mada yang baru menyadari dan mengerti maksud dari bicara Nira sebelumnya kontan tertawa sekilas. "Sebenarnya, pekerjaan dan liburan yang gue maksud itu adalah gue menghadiri pernikahan kedua Ibu gue dengan pria yang belum pernah gue temui," ungkap Mada.

"Lo hadir di pernikahan Ibu lo, tapi lo belum pernah bertemu dengan tunangannya?" Nira mengulang kata-kata Mada. Lalu Mada mengangguk. "Bagaimana bisa?" tanya gadis ini heran.

Mada pun tersenyum kecut. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah depan—melihat punggung kursi penumpang pesawat yang duduk di depannya, nanar. "ya, itu semua dimulai saat Ibu mendapat pekerjaan mengajar Bahasa Inggris di Beijing. Setelah berjanji hanya akan mengajar untuk dua semester, dia mengajukan cerai dari Ayah dan jatuh cinta dengan pria yang menjadi suaminya saat ini. Setelah itu, pria itu meminta Ibu menikahinya," beber Alan. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Nira yang sejak tadi selalu menatapnya sambil fokus mendengar ceritanya.

"Itu ... mengerikan," kata Nira membuat Mada yang mendengarnya kontan tertawa lalu mengangguk setuju.

"Nira, menurut lo, apa itu cinta sejati?" tanya Mada sambil menatap Nira dengan raut wajah serius.

"Menurut gue, cinta sejati itu tentang menemukan seseorang yang akan memegang tangan kita, dan dia juga yang bersedia menjadi rentan bersama kita saat hidup menjadi sulit," jawab Nira lugas.

"Hm ... gue rasa gue lebih suka jika cinta sejati dan pernikahan itu adalah tentang sebuah janji," ungkap Mada. lalu Nira mengangguk samar.

"Itu benar. Tapi nggak semua orang bisa menepati janjinya," tutur Nira. "Karena itu, bagi gue, janji aja nggak akan cukup untuk pernikahan dan cinta sejati. Pernikahan dan cinta sejati itu juga perlu keteguhan seseorang untuk tetap bergandengan tangan dengan orang yang dia cinta meski mereka sedang tidak sepakat."

Pernyataan Nira itu seketika saja membuat Mada tercekat sedangkan matanya menatap kagum sosok Nira di sampingnya. Mengapa tidak? karena Nira memiliki pemikiran yang cukup matang di antara gadis seusianya. Di udara malam itu, Mada dan Nira belajar lebih banyak tentang satu sama lain, dan jelas ada perasaan romantis yang tumbuh di antara mereka.

Bukti pertamanya adalah saat penerbangan mendarat di bandara Shanghai, Mada dan Nira yang turun bersama tiba-tiba memanggil gadis itu, dan membungkuk di depannya hanya untuk mengikatkan tali sepatunya. Ini adalah hal yang belum pernah bahkan sekali saja Mada lakukan pada gadis mana pun dan selama hidupnya.

Nira yang merasa terpanggil setelah mendengar namanya dipanggil oleh Mada langsung menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Mada yang berada di belakangnya.

"Ada apa?" Nira menatap Mada penasaran.

Tanpa menjawab rasa penasaran Nira, Mada Alzio langsung saja berjalan ke arah Nira lalu ia membungkuk di depan gadis itu.

"Kedua tali sepatu lo lepas," kata Mada sembari mengikatkan tali sepatu Nira, sementara yang sepatunya sedang diikat talinya hanya diam.

Namun setelah itu, Nira pun tersadar. "Ooh astaga, Mada, lo nggak perlu repot-repot melakukannya. Gue bisa sendiri," ujar Nira terbata-bata.

"Selesai!" cetus Mada. Lalu ia kembali berdiri. "Lain kali ikat sepatu lo dengan benar jika lo nggak ingin jatuh." Mada tersenyum pada Nira sambil bersitatap dengannya.

Senyum Mada itu seketika membuat Nira terpaku seperti patung. Ya, dari detik pertama Nira bertemu Mada, tingkah dan bicara lelaki itu selalu saja berhasil membuat Nira tercekat hingga membisu dan mematung. Kemudian kali ini, Nira dibuat tidak percaya, seolah sedang bermimpi sebab Mada yang notabenenya merupakan seorang aktor mengikatkan tali sepatunya. Sungguh! Nira benar-benar tak pernah menyangka bahwa hari itu akan ada seseorang yang akan melakukan sesuatu yang bahkan selama ini tidak seorang pun pernah lakukan kepadanya.

Melihat Nira bergeming selayaknya mannequin, Mada lantas menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Nira, sehingga gadis itu tersadar dari lamunan panjangnya dan berdeham sekilas. "Sebenarnya, sebelum pergi, gue sudah mengikat tali sepatu gue dengan benar. Tapi ... gue rasa ada seseorang yang diam-diam sedang memikirkan gue," ungkap Nira.

Ucapan Nira itu seketika membuat Mada tertawa. "Hei! Jangan konyol, Nira," kata Mada. "Kalau tali sepatu selalu lepas setiap kali ada orang yang dengan diam-diam memikirkan kita, itu artinya tali sepatu gue juga pasti akan selalu lepas," terang pria ini.

"Crazy!!" jawab Nira, bergurau. Lalu yang diajaknya bicara terbahak-bahak.

"Nira, kalau nanti kita bertemu lagi, apa lo mau ikut menonton dengan—"

"Dengan lo?" potong Nira cepat. Lalu sekian detik berikutnya Mada mengangguk. "Apa ini kencan pertama kita?" guraunya disertai dengan senyuman sementara alis matanya naik ke atas.

Gurauan Nira itu seketika membuat Mada tertawa lagi. Namun kemudian, ia mengangguk dan melanjutkan langkahnya dengan Nira yang berjalan di sisi kirinya. "Iya. Makan malam kencan pertama kita, dan komedi romantis picisan," beber Mada.

"Gue suka komedi romantis picisan," balas Nira. "Selama ada akhir yang bahagia," imbuhnya disertai gelak tawa kecil.

"Gue juga suka akhir yang bahagia—seperti di film-film," cetus Mada, yang langsung menuai senyuman dari Nira di sampingnya dan sedang bersitatap dengannya.

"Mada, bagaimana dengan Ayah lo saat ini?" tanya Nira penasaran. Kendati demikian, ia bertanya dengan hati-hati.

"Sekarang Ayah sudah berada di tempat yang lebih baik," ungkap Mada sembari tersenyum nanar, sementara Nira yang saat itu mendengar jawabannya sambil melihat raut wajahnya yang menyimpan kesedihan, tampak sedih.

"Gue ikut sedih, Mada." Nira menatap Mada tepat di inti matanya tanpa berkedip selama tiga detik.

"Lo gadis yang agak berbahaya, Apa lo tahu itu?" cicit Mada sungguh-sungguh selagi menatap mata teduh Nira tanpa berkedip, dan selama tiga detik juga.

Terpopuler

Comments

YangRan

YangRan

doi khawatir dirinya akan bucin setengah mati sama nira /Chuckle//Chuckle//Chuckle/

2023-10-25

0

YangRan

YangRan

implisit bangeeeett /Chuckle/

2023-10-25

0

YangRan

YangRan

setauku biasanya kalo orang rindu kita, yg jatuh itu bulu mata kita bukan tali sepatu kita yg lepas /Sob//Sob//Facepalm//Facepalm/

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!