BAB 10 "Kasus Tabrak Lari?"

Usai Mada selesai berbicara, membicarakan soal dirinya yang merasa kesal terhadap dr. Jarvis yang sering meminta dirinya melakukan ini dan itu, Miko yang saat itu masih saja menahan tawanya karena cerita Mada itu lalu menjelaskan: "Soal itu ... bahkan saat kami kecil, dia juga suka meminta gue melakukan ini dan itu." Miko memberi jeda pada bicaranya. "Tapi, Jarvis melakukannya karena sebagai teman dan...."

Mada yang mendengar bicara Miko dan tak setuju dengan pendapatnya itu lantas menghentikan langkahnya. "Miko, bukannya lo ini bersekolah di sekolah hukum?" ujar Mada. Yang ditanya mengangguk. "Pendapatan lo 60.000 Yuan per tahun. Tapi kenapa lo bodoh?!" hardik Mada, dan membuat yang dihardik mengernyit—menatapnya bingung.

"Mada, kalau gue bodoh, nggak mungkin dong gue bisa mendapatkan pendapatan sebesar itu setiap tahun," balas Miko. Pernyataan Miko ini sontak membuat seorang Mada Alzio pening kala mendengarnya.

Buktinya, ia mendengus kasar kemudian memijat pelipisnya sesaat. "pokoknya, sekarang gue akan menyetir mobil gue!" tegasnya sambil tersenyum smirk pada Miko.

"Apa lo mau gue duduk di samping lo?" tanya Miko disertai dengan senyum lebarnya.

Netra Mada sontak membola besar dan telinganya panas setelah mendengar bicara Miko kepadanya saat itu. "Di samping gue? Yang benar aja!" Salah satu sudut bibir Mada terangkat ke atas. "Lo duduk di belakang gue!"

"Itu artinya lo mengemudi untuk gue?" tanya Miko. Yang ditanya hanya diam. "Gue nggak bisa membiarkan itu terjadi," jelasnya.

"Karena itu, gue rasa lo juga nggak akan nyaman naik mobil yang gue kemudikan. Jadi, kenapa lo nggak berpikir untuk pergi ke Hugo duluan dengan naik taksi?" cetus Mada dingin.

"Ide bagus!" balas Miko. Lalu ia pun berjalan pegi, meninggalkan Mada yang bisanya hanya menggerutu kesal.

"Sepertinya si bos sengaja melakukannya untuk membuat gue marah," tutur Miko, berbisik dalam hatinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sisi lain, Nira yang berada di rumah sakit yang sama dengan Mada, tampak berjalan terburu-buru keluar dari rumah sakit, karena ia harus mengejar bus yang akan datang—sekitar 4 menit lagi.

Sementara itu, Mada yang berada di luar rumah sakit sedang berusaha menyalakan mesin mobil demi menyelesaikan tugas pertamanya. Apa lagi kalau bukan menyetir sendiri.

Namun, ketika Mada berusaha menyalakan mesin mobilnya, ia tampak gugup. Karena itu, lebih dulu lelaki ini menyetel musik klasik lalu menurunkan kaca mobil untuk sejenak menghirup udara segar.

Sekian detik setelah kaca mobil diturunkan, secara tiba-tiba perhatian Mada teralihkan oleh sekelopak bunga yang terbang melayang tepat menuju bagian depan mobil mewahnya.

Karena hal itulah, Mada tertegun hingga membuat pengendara mobil lain, yang berada tepat di belakangnya terpaksa menyalakan klakson. Suara nyaring dari klakson itu kontan membuat Mada terperanjat kaget, dan spontan menginjak pedal gas.

Akibatnya, secara tidak sengaja Mada menabrak badan seorang perempuan yang sangat kebetulan sedang berjalan di depan mobilnya dan membuat terjatuh. Melihat gadis itu meringis kesakitan, Mada pun turun dari mobil dan menghampirinya.

Namun, alih-alih meminta maaf kepada gadis yang terduduk di depan mobilnya dan membelakanginya, Mada justru memarahinya. "Hei, Nona! Apa lo nggak tahu kalau seharusnya orang minggir dari jalan mobil?!"

"Ck!!!" Gadis yang dipanggil Nona oleh Mada Alzio ini berdecak kesal. "Hei, Tuan! Seharusnya mobillah yang melindungi orang!" Gadis ini bangkit dari duduknya sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit setelah jatuh. "Awwhhh ...." desisnya.

"Tapi lo mendadak datang dari arah depan tanpa memperhatikan mobil sebesar ini ada di depan mata lo!" sarkas Mada.

"Gue nggak melakukannya! Lo yang maju secara mendadak!" sanggah sang gadis tegas. Lalu ia berbalik, menghadap ke arah Mada yang berdiri di belakangnya. Di waktu ini, netra sang gadis terbelalak saat melihat Mada di hadapannya adalah orang yang menabraknya hingga ia terjatuh.

"Nira...." ucap Mada yang sama terkejutnya dengan Nira.

"Mada...." ujar Nira terbata-bata.

"Hhhhhh ...." Mada menghela napas panjang yang terasa berat usai mengetahui Nira merupakan gadis yang ia tabrak dengan mobilnya. "Kenapa lo hanya memikirkan diri lo sendiri, Nira? Apa karena lo ini kaya, jadi, lo berdiri di depan mobil?" cerca Mada pada Nira marah.

Melihat Mada marah, Nira pun bingung. Mengapa tidak? Karena, seharusnya Nira sebagai korbanlah yang marah bukan Mada—pria yang saat itu memakai jaket dan celana jeans hitam, t-shirt putih, masker, kacamata serta topi hitam untuk menutupi identitasnya sebagai aktor.

"Mada, sebenarnya gue nggak terluka parah. Tapi lo ... seharunya lo cukup meminta maaf pada gue. Bukan malah marah-marah begini." Nira memasang raut wajah kesal saat bersitatap dengan Mada. "Lupakan! Sepertinya gue butuh waktu lama untuk menerima permintaan maaf. Lo beruntung karena hari ini gue terlambat!" katanya ketus.

Detik berikutnya, Nira berjalan pergi, meninggalkan Mada yang tercenung diam usai mendengar omelannya. Akan tetapi, belum sempat Nira melangkah, dengan cepat Mada menahannya dengan ucapannya.

"Tunggu!" titah Mada sangat tegas, sehingga Nira menghentikan langkahnya. "Gue nggak akan membiarkan orang lain menentukan gue beruntung atau nggak! Kalau sikap lo begini, orang akan mengira ini tabrak lari!" ungkap pria ini. "Ayo ke IGD!"

"Mada, bukankah tadi gue sudah bilang kalau gue nggak terluka. Jadi sekarang gue akan berkata sebaliknya. Lo pergilah!" terang Nira, yang kemudian berjalan dengan pinggang yang terasa sakit dan kakinya yang pincang.

Sayangnya, Mada tak mengindahkan ucapan Nira. Buktinya, ia yang tak bisa diam saja dengan membiarkan Nira pergi begitu saja, akhirnya meminjam kursi roda dari seorang perawat wanita yang kebetulan sedang berjalan di sekitar mereka. Setelah mendapatkan kursi roda, Mada memaksa Nira untuk duduk di sana.

"Mada ... apa yang lo lakukan?! Astaga!!!" Nira terkejut bukan kepalang tatkala Mada menggendongnya ala bridal style, kemudian mendudukkannya di kursi roda.

"Lo ini nggak bisa berjalan, dan dari tadi tangan lo juga sibuk memegangi pinggang lo yang gue yakin sekali kalau itu sakit. Tapi lo malah mengaku baik-baik saja. Lo tahu apa? Nenek gue pernah bilang, jika kita mengabaikan masalah seperti ini, ini akan menyebabkan masalah besar. Tidak akan lama, kok...." beber Mada jelas.

"Mada, sungguh, gue harus pergi sekarang juga." Nira merengek seperti bayi kepada Mada.

"Ikut gue kalau lo nggak berusaha membuat hal ini terkesan tabrak lari!" tegas Mada pada Nira.

Selanjutnya, Mada meminta bantuan pada perawat wanita yang berdiri di belakang dirinya dan Nira untuk mendorong kursi roda ke dalam rumah sakit. Meski Nira berulang kali menolaknya tetapi Mada terus memaksanya.

Beberapa saat kemudian, Nira telah mendapatkan perawatan. Buktinya, kakinya kini dibebat karena ia terkilir. Sementara itu, Mada menelpon Miko dan menceritakan insiden yang terjadi kepadanya saat itu.

Setelah Mada selesai menelpon Miko, ia menutup teleponnya lalu berjalan keluar rumah sakit bersama Nira yang menghela napas panjang karena melihat hujan turun lumayan deras. "Hhhhhhh ... kalau begini keadaannya, gue benar-benar bisa terlambat audisi," ujar Nira, bergumam dalam hatinya.

"Nira, dokter bilang kaki lo itu hanya terkilir. Jadi, lo akan segera pulih jika lo nggak beraktivitas berlebihan. Oh ya, kalau lo butuh sesuatu—"

"Gue nggak butuh apa pun," jawab Nira cepat. Lalu ia yang berdiri di luar sakit bersama Mada dan menunggu hujan reda, menoleh ke arah pria di sampingnya itu. "Tapi gue terlambat untuk hal yang sangat penting. Jadi, beri gue tumpangan!" pinta gadis ini.

"Gue nggak mau!" tegas Mada meski singkat.

"Ayolah Mada, bantu gue sedikit aja. Gue juga bisa sampai terlambat begini karena salah lo," tukas Nira.

"Tapi gue sudah bertanggung jawab secara hukum dan moneter! Apa lo lupa?!" tegas Mada, yang kemudian berjalan memasuki mobilnya.

Namun bergegas, Nira ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mira. "Anggap ini tanggung jawab moral!" tegas gadis ini.

"Keluar dari mobilku!" titah Mada tegas dan dingin.

Nira pun menggeleng cepat. "Nggak bisa!" jawab gadis ini. "Gue mengancam lo karena gue sedang putus asa. Bukankah tadi lo bilang, konon jika kita mengabaikan masalah seperti ini, ini akan menyebabkan masalah besar? Jadi, jika lo mengusir gue dari mobil ini, gue akan menjadi penyebab masalah!" kecam Nira, membuat Mada terdiam.

Meski sempat menolak keras, tetapi pada akhirnya Mada membiarkan Nira untuk menyetir mobilnya. Cara menyetir Nira yang sangat ngebut, membuat Mada panik. "Apa lo mau mati?!" tanya Mada sambil berpegangan erat pada seat belt nya. "Gue peringatkan untuk kali terakhir. Hentikan mobilnya!"

Terpopuler

Comments

Sabrinaaa

Sabrinaaa

Semakin kocak dan seru apa yang terjadi sama Nira dan Mada di bab ini. Suka sekali pokonya sama Selebriti Gagal Move On. Sy tungguin bab selanjutnya ya author. Buruan kalau bisa 😁😁

2023-10-27

0

Erina

Erina

Semakin seru jalan ceritanya. Cant wait for next chapter thor /Grin//Grin//Grin/

2023-10-26

0

Erina

Erina

Nikmatin saja Nira. Kpan lagi di gendong aktor tampan kelas A /Joyful/

2023-10-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!