Musim dingin tujuh tahun lalu-22 Desember 2013, dimulai di Bandar Udara Internasional Beijing Daxing yang sangat sibuk, ketika orang-orang dari seluruh negara serta belahan dunia melakukan perjalanan melalui bandara di Beijing ini sebelum musim liburan. Dalam situasi ini, gadis remaja bergegas melewati kerumunan sambil membawa satu koper di tangan dan bag pack di punggungnya.
"Permisi... Maaf..." ujar remaja putri yang berlarian ini ketika melewati penumpang yang tiba dan berangkat di bandara.
Dari cara berlari dan wajahnya yang terlihat panik itu, sudah jelas sekali bahwa gadis remaja bertubuh tinggi ini terlambat untuk penerbangannya. Karena itu, ia harus mengejar pesawatnya secepat mungkin. Tetapi usahanya saat itu tidak ada gunanya karena pesawat yang akan ia tumpangi dan membawanya ke Shanghai malam itu lepas landas tanpa dirinya.
"Maaf, Nona Gianira. Anda terlambat. Pesawat Jigae dengan nomor penerbangan 999A tujuan Shanghai baru saja berangkat," terang staf wanita Maskapai Jigae di konter di gerbang C5 pada Nira di hadapannya.
Sontak Nira terdiam dan lemas setelah mendengar pernyataan itu. Ada 370 jiwa di dalam penerbangan 999A, 400 koper dan 300 barang pribadi. Bersama-sama, para penumpang Pesawat Jigae ini akan pergi selama dua jam ke Shanghai. Mereka semua terbang ke Shanghai tanpa Gianira Canela yang terlambat lima menit.
"Huffftt.... Ketinggalan pesawat lima menit itu sial," kata Nira, bergumam dalam hatinya.
Gianira Canela-gadis remaja dengan tinggi badan 180cm, sembrono, dan biasa terlambat dalam hidupnya selama ini boleh jadi menganggap terlambat yang pada akhirnya berujung dengan ketinggalan pesawat lima menit itu sial. Namun tidak bagi semesta yang telah mengatur segalanya. Yah... Tak ada kata sial dalam kamus semesta sebab segala sesuatu yang terjadi dalam hidup itu selalu memiliki alasan.
Hal itu dibuktikan dengan Nira yang merasa bahwa ketinggalan pesawat lima menit adalah sial, kenyatannya justru menemukan keberuntungan yang sama sekali tidak pernah ia duga atau pikirkan sebelumnya. Remaja putri ini bertemu dengan sosok lelaki yang tak terbiasa terlambat, dan lebih banyak menggunakan statistik dan probabilitas dalam hidupnya.
"Tapi, ternyata keberuntungan masih menjadi milik Anda, Nona Gianira. Karena kami bisa memasukkan Anda ke penerbangan berikutnya. Saat ini tersisa dua kursi saja. Dan keduanya di kelas bisnis," jelas staf wanita Maskapai Jigae ini. Mendengar itu, Nira lantas tersenyum lega.
"Oh thanks, God!" ucap Nira dalam benaknya. "Lalu kapan perginya?" tanya gadis 18 tahun ini penasaran.
"Dua jam 30 menit lagi," jawab staf wanita ini pada Nira ramah.
Nira pun tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Kalau begitu satu tiket bisnis ke Shanghai, please," tukas Nira- gadis asal Beijing yang memilih terbang ke Shanghai demi mengikuti audisi puisi prosa di salah satu SMA bergengsi di sana. "Terima kasih," ujarnya pada staf maskapai itu.
Setelah beruntung mendapat kursi di penerbangan berikutnya dan membeli tiket, Nira lantas pergi ke stasiun pengisian daya, duduk di kursi panjang, dan mengeluarkan laptop dan ponselnya dari tas. Sekian detik berikutnya, ia terlihat menggerutu kesal karena kehabisan daya ponsel dan laptopnya secara bersamaan dan di waktu yang tidak tepat. Beruntung ada seorang laki-laki 26 tahun yang 95% selalu tepat waktu di setiap waktu dan setara dengan rata-rata daya ponselnya, yang membantunya.
"Nih..." Mada yang kerap dijuluki kulkas tujuh pintu oleh teman-temannya, terlihat menyodorkan pengisi daya ponsel miliknya ke arah Nira. "Lo bisa pinjam punya gue kalau mau." Dengan gagah pria satu ini menawari bantuan pada Nira sembari bersitatap dengannya tanpa berkedip.
"Ehm...Maaf, gue nggak berbagi elektronik, tempat tinggal dan perabotan makan dengan seseorang sampai kencan ketiga," jawab Nira pada pria yang kebetulan akan mengambil penerbangan yang sama ke Shanghai dengan dirinya, saat ia pulang dari Beijing.
Jawaban Nira itu kontan membuat Mada terkekeh. "Gue rasa itu terlalu intim," balas lelaki bernama lengkap Mada Alzio ini, membuat Nira tertawa kecil. "Baiklah kalau memang begitu." Mada mengangguk, mencoba mengerti dengan prinsip Nira.
"Tapi apa lo nggak mau memikirkannya kembali?" tanya Mada. Yang ditanya hanya diam sambil menatapnya bingung. "Maksud gue, terlalu sering membiarkan ponsel kita kehabisan daya, itu nggak baik," katanya. Namun Nira tetap tidak tergerak dengan ucapannya.
"Lo tahu, charging ponsel nggak baik saat baterai sudah kehabisan daya. Kalau ponsel terus dibiarkan mati karena kehabisan baterai, itu artinya butuh 'tenaga' ekstra untuk mengisinya lagi, lebih lama, dan lebih panas. Panas itu musuh utama baterai," terang Mada lebih jelas.
"Kalau lo terbiasa charge ponsel saat baterainya sudah habis, selain panas, reaksi kimia di dalam baterai ponsel lo juga akan menghasilkan gas berlebih. Gas inilah yang menyebabkan baterai ponsel lo mudah kembung. Saat baterai kosong baru diisi, sel-sel baterai juga lebih mudah rusak. Umur baterai akan menjadi pendek. Umur baterai elektronik itu tergantung dengan bagaimana cara kita melakukan proses charging," imbuhnya lebih detail.
"Jadi itu alasan kenapa selama ini baterai ponsel dan laptop gue habis terus," sesal Nira. Yang diajak bicara pun mengangguk.
"Baterai elektronik punya siklus pengisian terbatas. Itulah kenapa sebelumnya gue bilang, baterai ponsel dan laptop lo butuh perawatan." Mada tersenyum pada Nira. Si kulkas tujuh pintu tampaknya sedang rusak usai bertemu dengan gadis asal Beijing malam hari itu.
"Pakailah..." Kembali Mada meminjamkan charger ponselnya pada Nira. "Gue sudah selesai memakainya jika lo mau meminjamnya," terangnya lebih lanjut.
Nira lantas mengangguk dan tersenyum pada pria yang duduk di sampingnya itu. "Baiklah, thank you." Gadis ini mengambil pengisi daya milik Mada dari tangannya. Ia kemudian mengisi daya ponselnya menggunakan pengisi daya ponsel Mada tersebut.
"By the way, apa lo penyuka teknologi?" tanya Nira pada Mada penasaran karena pengetahuannya mengenai baterai elektronik.
Mada yang sejak beberapa saat lalu masih belum melepas pandangannya dari Nira lantas menggeleng dan tertawa kecil. "Gue penggila statistik," jawabnya.
"Apa ini yang namanya pamer status secara nggak langsung?" balas Nira dengan bergurau. Ia dan Mada lalu tertawa bersama.
"Lo bisa menganggapnya begitu kalau mau," tukas Mada yang membuat Gianira kembali tertawa. "Ngomong-ngomong, gue Mada Alzio. Orang-orang biasanya panggil gue Mada." Mada mengulurkan tangan kanannya ke arah Nira.
Dengan cepat, Nira menyambut tangan laki-laki di sampingnya itu. "Gue Gianira. Lo bisa panggil gue Nira." Ia dan Mada kemudian saling bersalaman sesaat.
"Nice to see you, Nira," ucap Mada lembut sambil menatap Nira tepat di inti matanya.
Suara dan tatapan Mada itu sontak membuat hati Nira berdebar dan telinganya mencair. Ia bahkan tercekat beberapa detik-menatap Mada tanpa berkedip. "Oh.. Nice to see you too, Mada," balasnya disertai perasaan gugup.
"Dari tadi kita ngobrol, tapi gue masih nggak tahu lo mau ke mana?" cicit Mada-terdengar seperti ia tengah menggoda Nira.
Mendengar itu, Nira lantas tersenyum malu. "Gue mau ke Shanghai. Lo?" jawabnya dengan bertanya kepada Mada.
"Tujuan kita sama," terang Mada kontan membuat Nira tersenyum dan menjatuhkan pandangannya sekilas.
"Seharusnya gue sudah berangkat." Nira memberi jeda pada bicaranya. "Tapi gue terlambat dan ketinggalan pesawat lima menit," ungkapnya.
Mada pun menggoda Nira dengan menggeleng tak percaya karena ia gadis yang sembrono. "Itu kacau," cicit Mada, bergurau. Kontan Nira tertawa sambil mengangguk setuju. "Menurut gue, itu takdir. Tapi lo mungkin memilih terlambat lima menit," kata pria ini. "Lo tenang aja, segera, keadaan akan lebih baik," imbuhnya.
Nira-gadis cantik dan menarik yang diajak bicara oleh Mada itu hanya diam sambil mengulas senyumnya yang menawan kepadanya. "Hm, gue mau cari makanan. Apa lo mau ikut?" Mada bertanya sedang Nira tetap diam. "Wait! Apa ajakan gue ini juga termasuk kegiatan kencan ketiga bagi lo?" selidiknya.
Seketika saja Nira tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaan Mada itu. "Nggak," jawabnya tegas. "Itu ide yang bagus," terang gadis ini. "Let's goooo!!" Nira mengambil ponselnya serta pengisi daya ponsel Mada. Ia dan Mada lalu berdiri dan pergi ke salah satu restoran di bandara itu. Yah... Keduanya memutuskan untuk makan bersama sebelum berangkat ke Shanghai.
"Cantik!" aku Mada, bergumam kecil tapi tetap bisa terdengar oleh Nira yang duduk berhadapan dengannya di restoran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
YangRan
interaksi Mada sama Nira semakin menggemaskan 🤭
2023-10-12
0
YangRan
kulkas 7 pintu bole dingin tapi sekalinya ngebantuin bisa buat baper sepanjangan
2023-10-12
0
Erina
gak mungkin nolak ya kan niirrr /Chuckle/
2023-10-11
0