BAB 6 "Bukan Saatnya Berpisah"

"Ehem...." Setelah sempat tertegun beberapa saat, Nira akhirnya sadar lalu berdeham sembari mengedipkan matanya. "Malam ini gue bersyukur sekali karena ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik lo," kata Nira. Kembali, ia memuji Mada-mengutarakan kekagumannya terhadap pemikiran dan sudut pandang pria itu.

"Lo tahu apa? Setelah gue mendengar semua yang lo katakan tadi, gue merasa kalau semesta membutuhkan sosok manusia seperti lo, Mada. Seseorang yang bersedia mengajarkan hal-hal dasar untuk akhirnya memiliki hal-hal istimewa," imbuh gadis berambut lurus hitam panjang ini sembari melihat ke arah Mada dan tersenyum kepadanya.

Kontan Mada yang tengah bersitatap dengan Nira saat itu tertawa kecil usai mendengar perkataan gadis itu kepadanya. "Jadi, maksud lo adalah, nggak akan ada hal yang istimewa yang terjadi di dunia ini kalau nggak ada hal yang mendasar. Begitu?" balasnya dengan bertanya pada Nira. Lalu yang ditanya mengangguk cepat sembari terkekeh sekilas.

Yah... Hanya sekilas atau sesaat saja, karena detik berikutnya kekehan Nira dan Mada menghilang kemudian berganti dengan keduanya yang saling beradu pandangan sambil mereka satu sama lain mengulas senyuman yang memesona dan menawan.

Melihat senyum Nira saat itu, jelas sekali jika hati gadis cantik tapi sembrono ini tengah bahagia. Mengapa tidak? Biasanya, keterlambatannya yang hampir di setiap waktu, dan ditambah dengan ponsel serta laptopnya yang habis daya, menyebabkannya dapat masalah. Namun hari ini berbeda. Itu semua justru menuntunnya kepada Mada Alzio.

"By the way, apa lo mau pulang ke Shanghai?" Nira bertanya. "Gue rasa Shanghai adalah rumah lo." Gadis ini menatap Mada yang berjalan di sampingnya penasaran.

Mada pun mengangguk. "Lo benar! Sejujurnya, gue lebih suka tinggal di sini. Sayangnya, pekerjaan dan liburan singkat gue di sini sudah selesai, dan gue harus kembali ke Shanghai untuk pekerjaan yang lain. Gue Nggak mau ketinggalan syuting," beber pria ini sambil melihat ke arah depan.

"Syuting film atau drama?" Kembali Nira bertanya dengan raut wajah penasaran. Mengapa tidak? Karena ini adalah pertama kalinya Nira bertemu dan berkomunikasi langsung dengan seorang aktor.

"Drama," jawab Mada singkat seraya melihat Nira di sampingnya sekilas.

"Apa genre dramanya? Menceritakan tentang apa drama baru lo itu?" cerca Nira kini sembari terus menerus memandang Mada dari samping. Ini terlihat seperti ia tak peduli dengan jalan di depannya.

"Komedi—tentang orang yang ketinggalan pesawat dan ponselnya yang kehabisan daya," terang Mada asal. Ia hanya bergurau pada Nira.

Gurauan Mada itu rupanya berhasil membuat Nira yang mendengarnya terbahak-bahak sesaat. "Lucu sekali! Sangat lucu!" cibir Nira dengan bergurau. Dan Mada pun meresponinya dengan tertawa. "Gue selalu benci bandara, anyway," aku gadis ini bersama dengan gelak tawa Mada yang perlahan surut.

"Lo serius?" Mada menatap Nira tak percaya. Yang ditanya kemudian mengangguk. "Kenapa?" tanya laki-laki ini dengan ekspresi penasaran.

"Menurut gue, ketika kita sedang di bandara, maka artinya saat itu kita nggak berada di sana atau di sini. Ya, bandara tempat yang nggak pasti. Dan gue lebih suka ada di tempat yang pasti," terang Nira, kontan membuat Mada yang mendengarnya saat itu tersenyum dan menatapnya tak percaya.

"Lo tahu apa? Lo perempuan menarik yang pernah gue temui," aku Mada. Mendengar itu, Nira pun tertunduk malu. "Oke, baiklah. Terus, apa lagi yang lo benci?" tanya Mada sambil menatap Nira sekilas. Setelah itu, ia melihat ke arah depan-memperhatikan jalannya lagi.

"Mayones—penyedap menjijikkan..."

"Gue juga benci itu." Mada memotong bicara Nira cepat. Yang dipotong bicaranya menatapnya terkejut tidak percaya jika ternyata mereka memiliki satu kesamaan.

"Mayones adalah nomor tiga dari empat ketakutan gue," ungkap Nira tanpa ragu.

"Apa yang lainnya?" tanya Mada cepat.

"Kucing, motor, dan ketinggian," jawab Nira tanpa ragu.

Detik berikutnya, Mada mengangguk-ia mengerti bahkan memahami bahwa Nira sama seperti setiap orang yang sangat mungkin untuk memiliki ketakutan lebih dari satu dalam diri mereka. Karena, tentu saja, baik itu Gianira atau orang lain selalu menyimpan alasan mengapa di hati mereka mengapa mereka bisa takut. Tapi hal pentingnya adalah perasaan takut Nira bagi Mada adalah valid.

"Apa lo baik-baik aja dengan itu semua?" tanya Si aktor tampan ini.

"Actually yaa." Nira mengangguk. "Tapi lingkungan sering kali menganggap gue aneh. Menurut mereka, dua dari empat ketakutan gue terlalu berlebihan," beber gadis ini sambil tersenyum nanar saat bersitatap dengan Mada selama 5 detik.

Dengan cepat Mada menggeleng tak setuju selagi ia dan Nira memperhatikan jalan di mereka. "Your feelings are valid, Nira," balas Mada lembut. "Lo berhak merasakan apa pun yang lo rasakan. Lo nggak berlebihan. Bahkan, lo nggak terlalu sensitif dan juga bersikap dramatis. You are hurting, you are afraid, and that's okay," jelas pria ini.

"Ya, lo memang benar," balas Nira. "Terkadang gue juga merasa terganggu dengan respon mereka terhadap ketakutan gue. Tapi gue juga berpikir kalau setiap orang mengalami pertempuran setiap hari, dan mungkin aja saat mereka meresponi ketakutan gue, itu merupakan respons terbaik yang mereka bisa berikan pada gue saat itu." Nira memberi jeda pada bicaranya dan mengatut napasnya, sementara Mada menunggu bicaranya selanjutnya.

"Lagi pula, kita nggak bisa mengendalikan pikiran orang lain terhadap kita, kan?" tanya Nira sambil melihat Mada dari samping. Tapi kemudian, Mada pun melihat ke arahnya sambil mengangguk setuju. "Kita juga nggak bisa memaksa mereka agar mau mengerti dan memahami diri kita meski kita sangat ingin. Seperti yang gue dengar dari orang-orang bahwa nggak semua orang bisa melihat kita. Karena itu, gue mencoba untuk memaklumi cara mereka menilai gue," sambung gadis ini dengan tenang.

Usai mendengar bicara Nira, Mada pun tersenyum. "Empat ketakutan lo itu, tertutupi dengan cara berpikir dan sudut pandang lo yang sempurna ini. Seandainya mereka tahu betapa cantik dan bijaksananya kacamata lo ini, gue yakin mereka akan lupa dengan sosok Gianira yang takut kucing, motor dan ketinggian," balas Mada, membuat Nira terkikik.

"Kalau Aviophobia salah satu ketakutan terbesar lo, kenapa lo mau naik pesawat bukan kereta?" tanya Mada.

"Pertanyaan yang bagus!" jawab Nira. Ia dan Mada satu sama lain bertukar pandangan sejenak sembari terus tersenyum. "Ada audisi theater," terangnya yang saat itu bersamaan dengan datangnya sebuah pengumuman yang dikumandangkan oleh seorang Airport Announcer.

[Good evening. Boarding for Tanshia Airlines flight number 99K09 to Shanghai will commence immediately. Would all passengers please to proceed to gate C2 and have your boarding pass and ID ready. Thank you]

"Apa dia barusan menyebutkan penerbangan kita?" tanya Nira pada Mada yang hendak membalas bicaranya.

"Sepertinya begitu," balas Mada santai.

"Astagaa!! Gue nggak boleh ketinggalan lagi," ujar Nira dengan raut wajah paniknya tetapi justru tampak lucu nan menggemaskan di mata Mada. Buktinya, laki-laki satu ini terlihat menahan tawanya saat melihat Nira ketakutan ketinggalan pesawat, sementara masih tersisa beberapa menit lagi untuk pesawat lepas landas.

Kendati begitu, Mada tak ingin membuat Nira kian khawatir. Jadi, ia meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya. Yah... Mada dan Nira berlari bersama ke arah gerbang C2 untuk melakukan boarding.

"Nira," Dengan pelan dan lembut Mada memanggil Nira saat ia sedang mengantre di belakang gadis itu untuk melakukan boarding.

"Eemm.." jawab Nira singkat tanpa menoleh ke arah Mada di belakangnya.

"Senang bertemu dengan lo. Semoga penerbangan lo menyenangkan. Semoga lo selalu beruntung dalam hal apa pun, termasuk juga audisi theater yang lo ikuti," kata Mada, mengutarakan pesan perpisahannya pada Nira.

Seketika saja Nira memutar tubuhnya menghadap ke arah Mada. "Lo juga, Mada." Nira mengulas senyumnya yang menawan kepada pria di hadapannya, yang saat itu juga tengah tersenyum kepadanya.

Nira dan Mada satu sama lain bertukar pandangan sambil tersenyum selama lima detik. Setelah itu, kini, tiba giliran Nira untuk melakukan boarding. Selesai boarding, segera, gadis ini masuk ke pesawat-meninggalkan Mada yang sedang melakukan boarding di gerbang C2.

Selanjutnya, Nira yang berada di pesawat langsung memilih kursinya sesuai yang tercantum di boarding pass miliknya, dan duduk di kursi tersebut. Namun sebelum itu, ia harus menyimpan barang bawaannya di kompartemen bagasi kabin.

Ketika Nira hendak menyimpan barang bawaannya di kompartemen bagasi kabin, tiba-tiba seseorang datang kepadanya dan menawarkan bantuan. "Terima kasih, tapi gue bisa melakukannya sendiri," ungkap Nira, menolaknya dengan sopan. "Lo sebaiknya pergi memilih kursi lo aja. Beneran deh, gue bisa sendiri," imbuhnya disertai dengan senyuman.

"Ini kursi gue," balasnya sembari menunjuk kursi di samping kursi Nira. Yang diajak bicara kontan memasang raut wajah terkejut saat menatapnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Erina

Erina

I feel you Nir 😭

2023-10-22

0

Erina

Erina

Astga mengakak baca ini 🤣🤣🤣🤣

2023-10-22

0

Erina

Erina

tegar bgt nira ini

2023-10-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!