'Jangan banyak pikiran ya Lea. Kasihan bayimu.'
Kata dokter terus terngiang di pikiran Bang Alden. "Sebenarnya kamu mikir apa?" Tanya Bang Alden. Sejak tadi Lea memalingkan wajahnya seakan menyimpan sesuatu di dalam hatinya.
"Tidak ada Bang." Jawab Lea.
"Jangan bohong. Saya tau kamu banyak pikiran." Kata Bang Alden.
"Lea ingin pulang ke rumah Papa. Lea kangen Papa." Alasan Lea saat itu.
"Nggak, kandunganmu terlalu lemah. Kamu harus bedrest..!!" Tolak Bang Alden.
"Lea kangen Papa. Lea mau pulaaang."
Bang Alden tak tau lagi harus bagaimana menghadapi Lea, tapi jelas ia tau Lea begitu kecewa padanya.
Dengan lembut Bang Alden mengusap kening Lea. Cukup lama hingga Lea luluh padanya. "Tidak semua keinginanmu bisa Abang pahami tanpa kata. Apa dengan diam seribu bahasa lalu semua masalah akan selesai dengan sendirinya."
Lea menyerahkan ponsel Bang Alden yang tertinggal. Ada puluhan panggilan telepon tak terjawab dari nama kontak 'Syan sayang'.
"Jika pernikahan kita terlalu berat untuk Abang jalani, kenapa Abang tidak katakan sama Papa kalau Abang masih punya kekasih. Papa pasti akan mengerti. Sekarang Lea paham kenapa Abang tidak pernah menyayangi Lea, semua itu karena hati Abang bukan untuk Lea."
Bang Alden membaca pesan singkat dari nomer kedua milik Syandrina. Memang banyak panggilan tak terjawab disana.
"Setiap Lea bertanya, Abang akan marah sama Lea. Untuk apa Lea ada disini, untuk apa juga kebersamaan ini. Raga Abang disini, tapi tidak dengan hati Abang."
"Lea.. Abang sedang berusaha mengakhiri semua dan memperbaiki pernikahan kita."
"Karena apa? Anak ini??? Jika anak ini tidak ada, tidak akan mungkin Abang ada disini. Jangan lahirkan dia jika tidak akan memiliki keluarga yang utuh, Lea tidak tega Bang. Abang sudah lihat.. dia tidak ingin ada di tengah kita, dia tidak sehat karena Papanya masih setengah hati."
Sungguh ucapan Lea begitu menusuk hatinya. Rasa bersalah, rasa sakit, rasa takut.. semua berkumpul menjadi satu. Mulutnya terkunci, perasaannya campur aduk.
"Sebelum semua terlambat, kembalikan Lea sama Papa..!!" Pinta Lea.
Telunjuk Bang Alden menyusuri lekuk hidung Lea lalu berhenti di depan bibir indah itu. "Tolong beri saya sedikit waktu untuk menyelesaikan semua. Saya bukannya diam dan berhenti berusaha. Mengendalikan kapal dalam badai memang tidak mudah tapi Percayalah Lea.. saya ingin melabuhkan kapal di dermaga yang aman dan nyaman untuk kalian berdua." Bujuk Bang Alden. "Pikirkan baik-baik, benarkah kamu ingin pergi, apakah benar kamu menyerah. Tidak kah kamu ingin membantu saya?"
...
Malam hari Lea terbangun, ia melihat suaminya usai melakukan ibadah sholat.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu??"
"Nggak Bang."
"Lalu kenapa?" Tanya Bang Alden.
"Lea pengen es jeruk nipis." Kata Lea.
Bang Alden mengusap pipi Lea. "Sebentar saya tanya di kantin. Mungkin ada es jeruk nipis."
***
Sampai tengah malam akhirnya Bang Alden baru mendapatkan es jeruk nipis pesanan Lea.
Saat Bang Alden kembali, ia melihat Lea sedang di bantu perawat wanita, apalagi kalau bukan karena mual yang masih mendera. Ia meletakan kantong plastik lalu menghampiri Lea.
"Biar saya saja yang temani. Terima kasih." Kata Bang Alden pada perawat tersebut.
"Sama-sama Pak.
Setelah perawat itu pergi, Bang Alden menggendong Lea sampai ke tempat tidur.
"Lea bisa sendiri Bang."
"Saya tau." Jawab Bang Alden singkat. "Ini es jeruk nipis mu." Bang Alden menyodorkan es jeruk nipis tersebut di bibir Lea.
Perhatian kecil itu ternyata tak cukup untuk menggerakkan hati Lea.
Setelah meneguk es jeruk nipis tersebut mual Lea perlahan menghilang. Tak banyak kata dari Lea, ia kembali memejamkan matanya.
"Saya catat nomer telepon saya di ponselmu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya..!!"
\=\=\=
Satu minggu kemudian.
Pak Prana merasa berat melepaskan Bang Alden atas permintaan nya 'mengundurkan diri' sebagai ajudan istrinya.
"Sebenarnya ada alasan apa Al? Jujurlah pada saya..!!"
"Ijin Jenderal hamil bukan perkara mudah, akan lebih baik jika ajudan ibu adalah sesama perempuan yang mengerti kebutuhan perempuan. Terus terang saya banyak tidak paham." Kata Bang Alden.
"Saya rasa alasanmu juga tepat. Baiklah kalau begitu, nanti saya ambil anggota perempuan dan kamu bisa kembali Markas. Tapi selama saya belum dapat penggantinya, saya harap kamu mau bantu saja mengawal istri."
Bang Alden membuang nafas perlahan, ia sadari menyusuri jalan lurus bukanlah hal yang mudah.
"Jika ijinkan.. saja ingin rolling dengan Letnan Akbar."
"Aduuhh.. Akbar tidak bisa di otak atik. Maaf ya.. secepatnya saya akan benar-benar mencari penggantimu." Janji Pak Prana.
"Siap Dan..!!"
Belum ada kepastian dari atasannya, Bang Alden tetap mengusahakan diri untuk menghindar dari Syandrina. Keadaan Syandrina yang tengah mual di awal kehamilan di manfaatkan olehnya agar menjauh dari istri jenderal.
Bukan dirinya tidak peduli dengan anak yang ada di dalam kandungan Syandrina tapi dirinya memang benar-benar bertekad untuk berubah dan membangun rumah tangga bersama Lea.
Masih ada perhatian untuk si cantik Syandrina saat istri jenderal itu mengidam tapi jelas perhatian terbesarnya adalah untuk sang istri.
\=\=\=
"Assalamu'alaikum..!!"
"Wa'alaikumsalam Bang." Lea bangkit perlahan dari duduknya tapi Bang Alden melarangnya.
"Biar Abang yang kesana..!!" Bang Alden membawakan jus alpukat, martabak dan nasi goreng kampung kesukaan Lea. Istri Letnan Alden itu memang sangat sederhana, tidak banyak meminta makanan yang rumit.
"Nggak apa-apa. Lea sudah sangat sehat. Abang saja yang melarang melakukan ini dan itu."
"Kamu sampai pendarahan begitu siapa yang tidak cemas." Jawab jujur Bang Alden.
Selama berbulan-bulan ini dirinya benar-benar berusaha menghindar dari segala godaan dunia termasuk membatasi interaksi bersama Syandrina.
Bang Alden mengusap perut Lea yang kini sudah terlihat, kandungan istrinya itu sangat sehat, usianya sudah menginjak empat belas minggu.
"Sebegitu cemaskah Abang sama Lea, atau hanya karena......."
"Suami mana yang tidak cinta dengan istrinya, apalagi mendapatkan istri yang sabar sepertimu." Jawab Bang Alden.
Lea tersenyum kecut tapi sebagai istri tentu dirinya tetap menghargai usaha Bang Alden selama ini.
"Gendong Lea sama kamar..!! Kuat atau tidak??" Tanya Lea.
"Haaah.. coba ulangi..!!" Bang Alden cukup kaget mendengar permintaan Lea.
"Abang kuat atau tidak gendong Lea sampai ke kamar??"
"Wwuuiis.. ya kuat lah, jangankan ke kamar.. naik turun seribu anak tangga asalkan sama kamu, Abang pasti kuat."
Tak ingin membuang banyak waktu, Bang Alden segera membawa Lea ke dalam kamar. Di rebahkan nya tubuh sang istri dengan hati-hati. Disana ia melihat Lea sedikit gemetar, mungkin karena pengalaman pertamanya dulu sudah membuat istrinya itu begitu ketakutan.
"Benarkah tidak masalah kalau Abang nengokin si adek?" Tanya Bang Alden.
Lea mengangguk meskipun raut wajahnya terlihat ragu. Bukan ragu karena kondisi kehamilannya, tapi ia mengingat perlakuan kasar Bang Alden padanya.
Tapi semua dugaannya salah. Bang Alden memperlakukannya dengan sangat lembut bahkan sangat berhati bagai menjaga sebuah kaca.
Lea merasakan nyaman untuk pertama kalinya, ia pun terbuai.
"Cukup seperti ini atau lagi?" Tidak ada kata egois dalam diri Bang Alden, seberapa tinggi naf_su di dalam hatinya, ia benar-benar mengalah dan tidak ingin pergerakannya menyakiti Lea dan calon bayinya.
"Lagi Bang." Pinta Lea dengan wajah semu merah karena masih merasa malu.
"Kamu duluan.. nanti Abang imbangi."
Keduanya pun merasakan malam pertama yang sesungguhnya dan kali pertama ini juga Bang Alden nyaris gila merasakan pelepasan yang begitu melegakan. Sang istri begitu pandai memuaskan hasrattnya.
Paham sang istri sudah akan menyelesaikan,. Bang Alden pun mengambil alih. Tidak ada satu menit, Lea meninggalkan jejak gores di punggungnya.
"Aahh.. Abaaang.."
Bang Alden pun menuntaskannya. Sejenak pikirannya melayang merasakan dirinya yang baru saja membasahi Lea.
'Tuhan, baru kali ini kurasakan nikmat bercinta bersama wanita halalku. Sungguh aku tidak bisa berkata-kata untuk menjabarkan bagaimana tenangnya batinku. Aku mohon selalu tunjukan aku jalan yang lurus, aku ingin hidup bahagia bersama Azalea. Aku tidak ingin ada kupu malam lagi dalam hidupku. Biarkan Azalea seorang yang menjadi kupu malam ku .'
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Mira Lusia
semangat ya leaa. 🥰
2024-05-23
0
ria
aamiin..
masyaAllah Tabarakallah
2023-12-08
1
ria
alhamdulillah
2023-12-08
1