"Bagaimana anak saya Om?" Secara pribadi Bang Alden menemui Dokter Daluman.
"Mau dengar yang jujur atau tidak?"
"Yang jujur lah Om." Jawab Bang Alden.
Dokter Daluman menepuk bahu Alden yang sudah seperti anaknya sendiri. "Lea sudah pernah ada riwayat pendarahan tapi kali ini kembali kembali pendarahan bahkan ada benturan juga. Bayimu sedang tidak baik-baik saja Alden, Tekanan psikis Lea juga tidak main-main."
Tubuh Bang Alden serasa melayang bagai raga tak bernyawa, bernafas pun rasanya sudah tak mampu lagi.
"Lalu sekarang bagaimana Om? Apa ada tindakan lagi untuk kandungan Lea?"
"Jika besok pendarahannya bisa berhenti atau minimal berkurang, Om akan mengusahakan semampu Om untuk menyelamatkan bayimu. Tapi jika tidak bisa berhenti atau bahkan lebih parah.. maaf Alden, bayimu harus di lahirkan sebelum waktunya dan itu berarti bayimu tiada." Jawab dokter Daluman. "Papa mertuamu belum tau tentang hal ini, bukannya saya tidak jujur saat kemarin beliau bertanya tapi.. kamu sendiri pun tau bagaimana watak Papamu. Kalau sudah emosi, ibarat angin ribut pun memilih untuk berdamai."
Hati Bang Alden rasanya hancur berkeping. Sesak terasa menekan batin. Rasa sesal tak terhindarkan tapi semua kini mungkin tidak ada artinya lagi.
...
Papa Noven, Papa Enggano dan Bang Alden duduk menemani Lea yang sedang tidur. Istri Alden itu terlihat sangat kuat, tapi siapa sangka perasaannya begitu rapuh.
"Saya minta maaf Mas Gan..!!" Papa Noven membuka percakapan di antara mereka.
"Mau saya menolak pun putri saya tetap menginginkan putramu..!!"
"Saya tau kesalahan Alden tidak dapat di maafkan Mas." Papa Noven suda tidak tau lagi bagaimana caranya meminta maaf pada sahabatnya itu.
"Jika semua ini menimpa putrimu, apa yang akan Mas lakukan??? Bisa langsung memaafkan?? Ini tetap hati seorang ayah Mas, yang tidak rela putrinya menangis karena di khianati." Papa Enggano yang sedianya tegar akhirnya menangis juga untuk putrinya.
Papa Noven mengangguk paham. Saat ini bujukan apapun tidak akan bisa meluluhkan hati seorang Letnan jenderal Enggano.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu menemui dokter Daluman?" Tanya Papa Enggano. Mungkin feeling seorang Papa tidak bisa di bohongi.
"Kalau sampai besok pendarahan ini belum selesai, bayinya harus di angkat Pa." Jawab jujur Bang Alden.
"Apaaaa????" Kedua opa terkejut, ekspresi mereka pun sama persis.
***
Bang Alden menunggu team dokter yang sedang menangani Lea. Hatinya gelisah, wajahnya pucat sejak tadi mondar mandir tidak tenang apalagi dalam pemeriksaan terakhir tadi, Lea masih mengalami pendarahan.
Team medis pun akhirnya keluar dari ruang tindakan, Bang Alden segera menghambur dengan sejuta rasa di dalam hati.
"Bagaimana hasilnya Om?"
Dokter Daluman menepuk bahu Bang Alden. "Anakmu.............."
bruugghh..
"Astagfirullah Al............" Papa Enggano menyangga tubuh menantunya yang tiba-tiba saja pingsan menimpanya.
"Anakmu bisa di selamatkan." Kata dokter Daluman menyelesaikan ucapannya.
"Addduuuuuhh.. sejak kapan Alden jadi gampang panik begini." Gerutu Papa Noven akhirnya ikut mengangkat tubuh putranya.
:
Lea banyak menghabiskan makanan, Papa Noven dengan telaten menyuapi menantunya. Sungguh hatinya masih kesal dengan tingkah polah putranya.
Papa Noven membiarkan Bang Alden tidur di sofa di temani Papa Enggano yang sibuk dengan ponselnya, beliau tengah menghubungi istri tercinta.
Masih terdengar suara lembut khas Papa Enggano. Di usianya yang kesekian puluh tahun beliau masih saja romantis dan memanjakan istrinya.
"Lagi ndhuk?" Tanya Papa Noven memanjakan menantunya.
"Lea mau apel Pa."
"Siaap.. sebentar Papa kupas dulu ya kulitnya."
"Leaa.. leaaaa.. Abang minta maaf dek." Sampai saat ini Bang Alden masih suka mengigau dalam tidurnya. Mungkin rasa bersalah terus membayangi hati dan pikirannya.
"Alden.. Bangun..!!" Papa Enggano membangunkan Bang Alden. Tubuhnya basah keringat dingin meskipun sedang berada di ruangan ber AC.
"Leaaa.." Bang Alden terbangun. Nafasnya putus sambung. "Astagfirullah hal adzim." Ia mengusap dadanya. Wajahnya masih saja pucat pasi. Ia menoleh menatap Lea yang dengan santainya mengunyah apel yang di siapkan Papa Noven.
"Dek..!!" Bang Alden beranjak dari sofa tapi Papa Enggano menarik tangan Bang Alden kembali.
"Lamar dulu baru boleh kesana..!!"
"Ya ampun Pa, sebentar saja..!!" Kata Bang Alden memohon.
"Nggak."
"Tapi kalau saya melamar sudah pasti di terima khan Pa?" Tanya Bang Alden cemas.
"Jelas.. jelas saya tolak." Jawab Papa Enggano mematahkan semangat Bang Alden.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
naahhlooohhh bang alden siap...siap ditolak...😀😀😀😀😀
2023-11-22
1
Ita Mariyanti
ngge d tolak ae dl pak HaninGan ben Alden usaha lbh keras membaiki hidup plgi dptin Lea
2023-11-17
1
Murni Zain
Cakep papa Gano.. jelas d tolak klo msh bikin nangis ank gadisnya 🤭
2023-10-16
1