17. Tak mengerti takdir Tuhan.

Beberapa bulan berlalu.

Lea tersipu malu saat Bang Alden mencolek dagunya usai mandi pagi. Sejak pindah tempat dinas, baru sebelum subuh tadi Bang Alden berani menyentuhnya.

Keadaan Lea yang mengalami lemah kandungan membuat Bang Alden sangat takut menyentuh istrinya itu.

"Benar nggak apa-apa khan dek?" Tanya Bang Alden memastikan.

"Nggak apa-apa Bang. Mau melahirkan pun memang sudah HPLnya si Abang." Jawab Lea.

"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu tapi kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang ya..!!" Pinta Bang Alden. Ia pun segera melangkah pergi karena jam apelnya sudah memanggil.

"Bang..!!" Suara Lea menghentikan langkah Bang Alden.

"Kenapa sayang?"

Lea berjalan cepat kemudian memeluk Bang Alden. Ia mendongak menatap wajah suaminya. "Terima kasih banyak atas cinta dan sayang Abang selama ini. Lea sayang sama Abang."

Bang Alden tertawa lalu mengecupnya. Ia menyentil pelan kening Lea. "Ngerayu nih.. mau minta apa nih??" Godanya.

"Baju Lea sudah banyak yang tidak muat Bang, nanti belikan gamis warna putih ya untuk Lea. Lea ingin bersama Abang. Kita belum ada foto keluarga." Pinta Lea.

"Siaap.. sabar ya..!! Kalau Abang ada longgar pekerjaan kita beli gamis dan foto bersama." Janji Bang Alden.

//

"Bang.. ini tehnya." Syandrina membawakan secangkir teh hangat karena Bang Prana sempat meminta padanya untuk di buatkan teh hangat. Kegiatan di luar yang sangat padat membuat tubuh matang Bang Prana terlalu cepat lelah.

"Terima kasih sayangku..!!" Pak Prana menerimanya namun saat mengangsurkan teh hangat tersebut tangan Syandrina gemetar, perutnya terasa sangat sakit seperti di remas.

"Bang.. rasanya semakin sakit." Kata Syandrina.

"Maksudnya??? Sejak kapan kamu sakit seperti ini?" Tanya Bang Prana.

"Sejak kemarin pagi Bang." Jawab Syandrina memercing kesakitan.

"Iraaaa.. Iirrr.." teriak Bang prana memanggil Ajudan istrinya.

"Siap jenderal.. ijin arahan..!!" Kata Serda Ira.

"Tolong bantu istri saya, cek kelengkapan pakaiannya. Istri saya mau melahirkan..!!" Perintah Bang Prana.

//

Lea tertegun melihat cairan bening meluncur dari sela pahanya, rasa sakit hilang dan timbul membuatnya terasa nyeri di bagian bawah perut.

"Abaaang.. cepat pulang Bang..!!" Gumamnya tak lagi bisa mengambil langkah sebab rasa sakit sudah menjalar hingga seluruh tubuh.

"Hhhffffhhh.." Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Begitu berkali-kali ia lakukan agar bayinya tetap merasa nyaman di dalam perutnya. "Sabar nak.. kita tunggu Papa sebentar lagi..!!" Bujuk Lea pada bayi di dalam kandungannya.

Lea memilih duduk, berdiri pun rasanya sudah tidak sanggup lagi. Tangannya berusaha menggapai seadanya namun tidak ada yang bisa di raihnya.

Lea mencoba bergeser dari posisinya tapi dirinya semakin merasa kesakitan. "Aaaarrgghh.." terlalu banyak berkeringat membuat rasa haus terasa mencekik tenggorokannya.

...

Bang Alden melihat jam tangannya. Sudah pukul enam sore dan dirinya belum kembali pulang. Kegiatan di kantor barunya memang sangat padat dan jelas hatinya begitu gelisah memikirkan Lea di rumah sendirian.

"Kenapa perasaanku tidak enak. Aku ingin segera pulang." Gumamnya kemudian meneguk air mineral botol yang hanya tersisa seperempat bagian saja.

"Ada apa Al?" Tanya Bang Joko.

"Saya kepikiran sama Lea terus Bang, boleh saya ijin mendahului?"

Melihat raut wajah Bang Alden terlihat begitu cemas, Bang Joko akhirnya mengijinkan Bang Alden untuk pulang lebih dulu.

"Monggo Al, cepat kamu tengok istrimu." Kata Bang Joko memberikan ijinnya.

...

Rumah terlihat gelap saat Bang Alden sampai di rumah, tidak biasanya Lea menyendiri dalam gelap. Ia pun membuka pintu rumah.

"Assalamu'alaikum.. dek.. sayang..!!" Tak ada suara sahutan dari istrinya, sayup terdengar suara berdecit yang membuatnya penasaran. Bang Alden pun menyalakan lampu ruang tamu. "Astagfirullah hal adzim.. Leaaaaaaaa..!!!!!" Bang Alden menghambur panik.

Nafas Bang Alden terasa sesak, bibirnya nyaris tak sanggup bersuara. Ia menggendong sosok bayi kecil yang masih basah tersiram air ketuban, sekujur tubuhnya masih berlumur darah. Tangannya cekatan menangani bayinya, tak lama tangis bayinya terdengar kencang.

"Allahu Akbar, Alhamdulillah ya Allah...!!!" Bang Alden mencium sekilas putranya kemudian segera menangani Lea sambil menghubungi pihak rumah sakit dan Bang Argo.

...

Bang Alden usai mengadzani putranya. Di dekapnya bayi kecilnya dengan rasa tak karuan. "Kenapa kamu lahir tanpa Papa nak?? Apa yang terjadi dengan kamu dan Mama??" Bang Alden berusaha menguatkan batin meskipun rasanya sudah tidak kuat lagi.

Bang Argo pun mondar-mandir menunggu adiknya yang masih mendapatkan perawatan tindakan.

Cckkllkk..

Dokter keluar dari ruang tindakan, wajahnya tidak menampakkan sesuatu yang mungkin membawa berita membahagiakan.

"Kami sudah berusaha Pak Alden, tapi.. ibu Lea memilih menyerah."

Berita dari dokter seakan menghantam telak batin Bang Alden. Ia berharap semua ini bagaikan mimpi.

"Bohong...!!!! Kenapa dokter tidak menyelamatkan istriku?????" Bang Alden menyerahkan bayinya pada seorang perawat yang berdiri tepat di belakang dokter. Ia pun berlari masuk ke dalam ruang tindakan.

Bang Alden menghambur memeluk Lea. "Leaaaaaaa... Bangun Leaaaaaaaa..!!!!!!!" Bang Alden berteriak histeris, ia mengguncang tubuh Lea. "Lihat anakmu.. lihat anak kita..!! Kamu mau meninggalkan Abang di saat Abang sedang berusaha keras untuk bertobat???? Apa kamu semarah itu sama Abang Leaaaa??"

"Baang.. sudah Bang, Lea sedang tidur nyenyak..!!" Bujuk Bang Argo melihat seniornya begitu hancur dan tidak bisa melihat kepergian istri tercintanya.

"Tuhan menghukumku???? Apa Tuhan membenciku???" Bang Alden jatuh meringkuk di samping ranjang Lea. "Aku tidak bisa menyelamatkan istriku."

"Baang.. tolong jangan begini." Bang Argo memeluk Bang Alden, saat ini hatinya pun merasa rapuh dan lemah kehilangan adik tercintanya.

"Dia memintaku membelikan gamis putih, aku janji dan menyanggupi akan membelikannya gamis putih, tapi aku tidak sanggup jika harus membelikan kain kafan untuk istriku.. tolong Argo.. katakan semua ini hanya mimpi..!!" Ucap Bang Alden terisak-isak.

Terpopuler

Comments

Lena Sari

Lena Sari

itukah arti gamis putih leaaa

2023-11-29

1

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

😭😭😭😭😭

2023-11-22

1

Ita Mariyanti

Ita Mariyanti

Yaa Alloh Thor, msk Alden sm syandrina

2023-11-17

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!