Motor Bang Alden melaju dengan cepat. NIa menerobos segala bahaya demi menyelamatkan Lea.
Menyusul di belakangnya mobil Papa Enggano dan Papa Noven. Kali ini Papa Noven yang mengendalikan laju mobilnya sebab Papa Enggano sudah tidak bisa lagi di harapkan.
...
Bang Alden mengetuk jendela mobil dari atas motor.
"Berhenti sayang, injak remnya.. kita bicara baik-baik..!!" Bujuk Bang Alden.
Lea tidak menanggapi segala usaha dan tindakan apapun dari Bang Alden. Ia terus melaju namun kemudian ia tidak sengaja menginjak bebatuan. Kemudinya oleng, ia tidak bisa mengendalikan laju mobilnya.
"Aaaaaaaaaa...." Kali ini Lea panik karena posisinya sudah ada di tepi jurang, jalan berkelok dan menurun curam. Di ujung jalan ada tikungan yang sangat tajam.
Bang Alden mengambil posisi di tepi kanan. Ia memecahkan kaca mobil lalu menerobos masuk ke dalam. Di lihatnya Lea bersandar dan melemah, istrinya itu meremas perutnya. Sebisanya Bang Alden mengambil kendali lalu secepatnya memeluk Lea.
braaakk..
Suara alarm berbunyi begitu keras. Airbag mobil pun terbuka.
"Astagfirullah.." Papa Enggano syok melihat mobil menantunya tersangkut pada sebatang pohon besar dan nyaris terjun ke jurang.
"Leaaaaa..!!!!!!" Nampaknya Papa Noven lebih syok memikirkan menantunya. Mereka segera turun dan membantu anak serta menantu mereka.
Di dalam mobil Bang Alden berusaha bangkit perlahan, ia tau posisinya berbahaya.
"Lea.. sayang..!!" Bang Alden mengusap lembut pipi Lea yang setengah sadar. Kening istrinya itu berdarah. "Bangun dek.. Abang minta maaf, Abang kapok..!!" Ucapnya sesenggukan, ia menautkan keningnya pada kening Lea. "Jangan tinggalkan Abang, tolong ampuni suamimu yang tidak berguna ini..!! Ampun dek, Abang nggak berani lagi main perempuan..!!!!!"
Lea membuka matanya yang masih berat karena pengaruh alkohol, ia melihat wajah Bang Alden penuh luka.
Tak lama pintu terbuka. Beberapa orang anggota dari kediaman Pak Prana sudah membantu.
"Pak Alden.. anda tidak apa-apa???" Tanya salah seorang anggota.
"Tolong bantu keluarkan istri saya dulu..!! Pelan-pelan ya..!!" Perintah Bang Alden.
"Aaahh.. sakiit..!!"
Bang Alden panik melihat rok Lea terdapat noda darah.
"Sabar dek, tahan sedikit lagi..!!"
Setelah Lea turun dari mobil, Papa Noven segera mengangkat menantunya untuk pindah pada mobilnya. Disana Papa Enggano membantu mengeluarkan Bang Alden dari dalam mobil namun tatapan matanya sungguh amat menakutkan.
...
Bang Alden bersandar lemas di pintu ruang tindakan. Lea mengalami pendarahan akibat benturan dari kecelakaan tadi. Kini baru ia rasakan hatinya porak-poranda. Cemas, sedih, sesal, panik dan takut bercampur menjadi satu.
Luka di tubuhnya pun tak sempat lagi ia rasakan. Ia hanya ingin melihat anak istrinya sehat dan selamat.
"Saya tidak menyangka kamu bisa sampai seperti ini Alden. Setiap saya bertanya pada Lea.. dia selalu membanggakan kamu, tidak ada cela dari setiap ceritanya tentang mu. Tapi kenapa hari ini saya melihat langsung apa yang terjadi pada putri saya." Papa Enggano menekan suaranya, ia ingin menghajar menantunya itu tapi berkali kali putrinya berpesan agar tidak menghukum ayah dari anak yang di kandungnya. "Kalau saja saya tidak mengingat pesan putri saya. Saat ini juga kamu tidak akan lagi bisa bernafas Alden."
Tak lama dokter kandungan keluar dari ruang tindakan bersama dokter Daluman yang di minta khusus untuk mengontrol jalannya tindakan khusus untuk Lea.
Bersamaan dengan itu, Pak Prana datang bersama Syandrina dan beberapa orang ajudan.
"Tolong jangan buat keributan apapun, pasien terlihat tenang tapi mentalnya sedikit terguncang.. jadi mohon kerjasamanya." Kata Dokter Daluman.
...
Melihat Lea sudah nampak lebih baik, Bang Alden dengan tegar dan ksatria berdiri di hadapan semua orang.
"Saya akui kesalahan saya. Saya memang kehilangan kontrol diri hingga berbuat hal tidak pantas. Pak Prana, Papa dan pihak yang tidak terima dengan segala perbuatan buruk saya, silakan melaporkan saya pada pihak yang berwajib."
buuugghhh..
"Enteng sekali kamu bicara seperti itu. Kamu mati saja masih belum bisa menebus segala kelakuanmu Al..!!!" Kini Papa Noven meluapkan kemarahannya atas perbuatan putranya yang tidak bermartabat. "Jika semua kesalahan bisa di tebus dengan penjara, maka masih banyak orang yang ingin melakukan kesalahannya lagi."
"Kamu Syandrina, berapa kali kalian melakukannya setelah Alden menikah??" Tanya Bang Prana.
"Tiga kali Bang." Jawab Syandrina.
"Aldeeen..!!!!" Papa Noven kembali menghajar Bang Alden dan putranya itu sama sekali tidak melawan.
"Sudah Pa.. sudaah..!!" Lea menghentikan ucapan Papanya. "Semua sudah terjadiii..!!" Isak tangis Lea membuat pilu seisi ruangan. Papa Enggano sudah bersiap menghajar tapi Lea lagi-lagi menahannya.
"Papa nggak terima ndhuk, dia mengkhianati mu ndhuk..!!" Papa Enggano sudah begitu emosi. "Kamu cerai saja. Papa masih sanggup membiayai anakmu..!!!"
"Lea tau Pa, tapi tolong jangan menghakimi Abang.... Ataupun Syandrina. Mereka bertemu karena keadaan, mereka melakukannya karena ada kesempatan. Cinta mereka tumbuh di tempat yang salah. Semua ini takdir, kita bisa apa????" Kata Lea sesenggukan. "Hati Lea juga sakit, sulit menerima Abang bersama wanita lain.. tapi Lea teringat nasihat seorang Papa yang bijaksana.. kita ini manusia tidak berhak menghakimi kesalahan orang. Kesalahan mereka adalah urusan mereka dengan Tuhan. Masalah mereka masih mau lanjut atau bertobat, itu juga urusan mereka. Namun ingat.. kita manusia akan beranjak tua. Anak-anak adalah kaca diri dan saat itu kita baru terasa apa yang sudah kita perbuat hari ini." Kata Lea.
Pak Prana terduduk dan menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Sejenak ia memejamkan mata. "Saya juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Letnan Alden tidak salah memilih pasangan, mungkin semua ini juga kesalahan dari saya yang membuka pintu maksiat, juga tidak bisa mendidik istri saya Syandrina. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar besarnya pada Bu Alden. Kelak saya akan mendidik istri saya dengan hati-hati. Yaa.. saya memutuskan untuk menerima kenyataan dan keadaan istri saya lahir dan batin. Saya anggap bayi ini adalah milik saya, mungkin ini jawaban dari Tuhan untuk saya yang tidak produktif." Pak Prana menghapus air matanya.
Bang Alden meringkuk dalam tangisnya. Penyesalan selalu datang di akhir cerita.
"Atas nama pribadi dan keluarga, saya mohon maaf Bang." Kata Papa Noven.
Pak Prana tersenyum kecut. Sebagai laki-laki ia pun harus tegas.
"Letnan Alden. Saya akan memberimu skep untuk menduduki jabatan di pelosok seperti keinginan mu saat itu. Kini saya menyadari kalau kamu sedang berjuang memperbaiki keadaan diri dan rumah tanggamu. Percayalah, anakmu akan baik-baik saja bersama saya, saya akan membesarkan dia, mendidik dan menyayangi dia seperti anak kandung saya sendiri, hanya satu yang saya minta.. kamu hanya boleh menyayangi dia dalam hatimu karena dia kini anak saya, anak laki-laki Jenderal Pranajaya."
Syandrina menangis mendengarnya. Tapi ia pun harus banyak bersyukur karena Tuhan masih bermurah hati padanya.
"Letnan Alden. Kamu boleh mencium perut Syandrina sebagai pertemuan terakhirmu pada anakmu..!!" Kata Pak Prana.
Bang Alden berdiri, ia mendekati Syandrina dan berdiri di hadapannya.
"Mohon ijin Ibu. Saya.. letnan Alden mulai hari ini telah purna tugas mendampingi Ibu. Semoga Ibu selalu sehat dalam lindungan Tuhan." Ucapnya secara formal.
"Baik Letnan Alden. Terima kasih banyak telah menjaga saya selama ini. Semoga Letnan dan istri selalu bahagia. Maaf saya sudah merepotkan." Syandrina menangkupkan kedua tangannya.
Dari posisinya Bang Alden berlutut, ia memejamkan mata juga tidak menyentuh Syandrina. "Baik-baik di perut Mama nak. Jika kamu tau siapa dirimu.. silakan cari saya. Tapi jika kamu tidak bersedia, saya akan tetap menerima. Satu yang perlu kamu ingat.. tetap tersematkan do'a saya untukmu."
Bang Alden berdiri lalu membuka matanya tanpa menatap Syandrina. Ia mengarahkan pandangan pada Azalea istrinya.
"Lalu sekarang Abang ingin kita bagaimana?" Tanya Azalea.
Tangis Bang Alden pecah, ia memeluk Azalea. "Hukum apa saja, tapi jangan tinggalkan Abang..!!"
"Sungguh???"
Bang Alden mengangguk, dirinya sudah pasrah jika mungkin Azalea akan membunuhnya.
"Bisakah tolong di ulang moment berharga kita???"
"Kamu ingin darimana?" Tanya Bang Alden tak bisa menghentikan laju air mata.
"Memintaku kembali di hadapan orang tuaku. Pura-pura lah jatuh cinta padaku..!!" Pinta Lea
"Semua sudah bukan pura-pura lagi Lea. Abang benar-benar jatuh cinta sama kamu. Akan Abang penuhi semua inginmu. Kita mulai dari awal..!!"
"Kalau begitu Abang mundur.. kita belum kenalan."
Bang Alden mundur beberapa langkah. Ia tersenyum salah tingkah.
"Rasakan.. kupastikan kali ini Papa akan menolakmu mentah-mentah." Ancam Papa Enggano.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
😀😀😀😀 dikerjain bumil bang alden...😀😀
2023-11-22
1
Ratu Tety Haryati
Salut dgn Pak Prana dan Azalea. Walau sebenarnya hati remuk redam, mereka tetap berbesar hati dan ikhlas menerima kesalahan pasangannya masing2
Semoga perjuangan masing2 pasangan berakhir bahagia
2023-10-16
1
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤
apa yang selanjutnya terjadi 🤔
2023-10-16
2