8. Dua wanita.

Malam ini Bang Alden membawa Azalea bersamanya ke rumah orang tuanya.

Tok.. tok.. tok..

"Masuk..!!" Kata Mama Irene.

ckkllkk..

Melihat menantunya membuka pintu, Papa Noven memilih keluar dari kamar dan membiarkan menantunya berbincang dengan istrinya.

"Ada apa sayang?" Tanya Mama Irene.

"Lea tidak berani tidur dengan Abang." Jawab Lea.

"Loohh.. kenapa?"

"Abang galak Ma, Lea takut."

Papa Noven menempelkan telinganya di daun pintu, agaknya beliau ingin tau apa yang terjadi dengan menantunya. Tapi setelah mendengarnya, hatinya langsung terasa kesal.

"Waah.. nggak beres nih Alden. Kalau dia terus membuat Lea takut, kapan aku bisa punya cucu." Papa Noven segera menghampiri putranya yang sedang duduk sendiri di taman depan rumahnya.

"Kenapa kamu menakuti Lea??" Tegur sang Papa.

"Aku menakuti apa??"

"Ini malam pertamamu tapi Lea bilang tidak ingin satu kamar sama kamu karena katanya kamu galak." Protes sang Papa.

"Aah Papa. Aku capek Pa."

"Tumben nih ada laki yang bilang capek di malam pertama Papa curiga kamu belok Al." Kata Papa Noven.

"Astagfirullah Pa, aku masih normal. Aku doyan perempuan. Tapi aku baru saja bertemu Lea. Beri aku waktu untuk saling mengenal Pa"

"Ya makanya kamu harus melakukannya. Tidak ada sejarahnya indung telur mengejar sp**ma, tapi sp**ma yang mengejar indung telur. Kalau istri mu pasif, kamu yang harus nguber Al. Masalahnya disini sekarang kamu jantan atau tidak." Ucap Papa Noven.

"Ya ampun Paaa.. kalau Lea hamil enam bulan lagi atau satu lagi apakah itu tandanya aku tidak jantan?? Semua tergantung Yang diAtas Pa. Masa kita mau memaksa kalau belum di kasih." Bang Alden terbawa jengkel karena ucapan Papanya yang menggebu.

"Minimal jangan buat Lea takut. Kalau sampai kamu menakuti Lea, selesai kamu Al..!!" Ancam Papa Noven kemudian meninggalkan Bang Alden sendirian.

"Apa-apaan Papa ini. Mana bisa aku buat anak sama Lea. Bernafsu pun aku tidak. Lea tidak bisa di bandingkan dengan Syandri. Syandri pintar sekali menyenangkan hatiku, Lea bisa apa?? Lekuk bodynya saja tidak bisa kugambarkan." Gerutunya kesal. "Syandriiii.. sedang apa kamu disana. Aku kangen sama kamu. Rasanya aku tidak sanggup membayangkan kamu sedang bersama si Prana."

Hatinya gelisah memikirkan Syandrina.

...

Malam ini Azalea duduk di kamar Bang Alden yang di dominasi warna abu-abu. Pakaiannya masih lengkap seperti saat Bang Alden membawanya tadi.

Tak lama Bang Alden masuk ke dalam kamar. Melihat Lea sedang duduk, rasa kesalnya pun muncul. "Mengadu apa kamu sama Papa??"

Lea kaget pasalnya ia tidak pernah mengatakan apapun pada Papa Noven.

"Tidak ada Bang."

"Bohong kamu. Dasar perempuan tukang ngadu." Bentak Bang Alden.

Azalea menunduk, ia mengusap air mata yang menitik di pipi. Ingin menahannya tapi air mata itu terlanjur jatuh di punggung tangannya.

"Nangis aja terus dan mengadu lah sama Papa dan Mama. Sampai saya kena omel.. kamu saya hajar habis-habisan." Ancam Bang Alden.

Bang Alden benar-benar tidak bisa mengontrol perasaan cemburu nya. Ia terus mengingat Syandrina yang sedang bersama Pak Prana. Ia mencengkeram bagian belakang jilbab Lea lalu mengarahkan wajahnya agar menatapnya. "Layani saya..!!"

"Abang mau makan?" Tanya Lea polos.

Bang Alden kesal, ia mencengkeram pipi Azalea dengan kasar. "Kamu itu bod*h atau bagaimana??" Bang Alden memindahkan tangannya untuk melonggarkan ikat pinggang lalu mengeluarkan 'senjata' miliknya di hadapan wajah Azalea.

Sontak Azalea yang baru melihat benda seperti itu untuk pertama kali begitu ketakutan. Ia tidak tau harus berbuat apa.

"Ayo..!!!!"

"Aa_pa Bang??" Lea sampai gemetar karena tidak tau apa yang harus di lakukannya.

"Istri tidak berguna..!!" Bang Alden semakin kesal, ia kembali mencengkeram kepala Lea lalu mengarahkan wajahnya pada dirinya lalu menekan pada dirinya. "Bukaa..!!!!!"

Lea syok namun tidak bisa menolak permintaan Bang Alden, bahkan saking takutnya.. Lea tersedak namun Bang Alden tak melepasnya.

Tak cukup dengan itu, Bang Alden mendorong tubuhnya lalu mengacak-acak pakaiannya. "Abaang.. Lea malu." Ucapnya lirih sampai terisak.

"Kamu manusia jaman batu?? Kenapa kamu tidak paham cara melayani suami?? Sampai saya tidak puas.. saya akan cari perempuan lain."

Ancaman demi ancaman membuat Lea tak berani melawan.

Kini Lea berada di bawah kungkungan Bang Alden. Dengan cepat Bang Alden membuka paha Lea.

Tanpa di pahami oleh Lea, Bang Alden menancapkan sesuatu di tubuhnya. "Aaaahh.. sakiiit Abaaang..!!" Jerit Lea. Bang Alden dengan sigap membungkam mulut Lea dengan bibirnya.

Awalnya tanpa perasaan Bang Alden 'menyiksa' Lea namun perlahan Lea menurut padanya dan isakan tangis Lea membuat hati kecilnya tidak tega.

Sebagai seorang pria, insting Bang Alden tergerak. Dengan Syandrina matanya terpuaskan dengan gairah dan naf*u yang tak terlukiskan namun dengan Lea ia merasa terkunci dan terjepit, ia pun tidak dapat menjabarkan perasaannya saat tengah bersama Lea.

Hatinya yang mencintai Syandrina membuatnya menjaga jarak dari Lea. Ia mengangkat tubuhnya dengan susah payah. "Aargh.. eegghh.." cairan tubuhnya tercecer membasahi tubuh Lea. "Alhamdulillah.." ucapnya mengakhiri semua. Entah kenapa rasa puasnya begitu tuntas saat bersama Lea, semua terasa lepas meskipun ia menyelesaikan nya 'di luar'.

"Jangan marah lagi Abaang." Ucap Lea bernada manja.

Bang Alden masih terdiam, ia benar-benar mengangkat tubuh namun kemudian matanya melihat ke arah sprei yang terkena bercak noda.

"Sakiiiiit.." rengek Lea, ia terus menggelinjang mencengkeram lengan Bang Alden.

"Haaahh.. Aduuhh..!!"

//

"Paaa.. itu Lea kenapa?" Bisik Mama Irene.

"Jangan ikut campur urusan anak. Berdo'a saja kamu cepat dapat cucu Ma." Kata Papa Noven.

Mama Irene dan Papa Noven saling melirik.

"Hmm.. Papa ko' jadi pengen ya Ma." Goda Papa Noven.

"Aah Papa niih.."

//

"Mas Al cari apa?" Tanya Bibi saat Bang Alden mengobrak abrik isi dapur.

"Baskom Bi. Lea sakit." Jawab Bang Alden tiba-tiba panik. "Minta air hangat bi, cepaaatt..!!" Pinta Bang Alden.

Bibi segera menyiapkan apa yang di minta Bang Alden kemudian Bang Alden berlari membawa baskom itu ke kamar lalu menguncinya rapat.

"Sini saya kompres..!!"

"Nggak mau. Lea malu." Tolak Lea sambil menangis.

"Saya yang lihat, bukan orang lain..!!" Kata Bang Alden.

"Jangan bilang Papa sama Bang Argo ya Bang..!!" Lea masih saja terisak-isak sedangkan Bang Alden masih fokus membersihkan dan mengompres tubuh Lea yang bengkak.

"Cckk.. sshh." Bang Alden merasa sangat bersalah karena amarahnya menyakiti Lea sampai seperti ini. "Masih sakit atau tidak?" Tanya Bang Alden dengan telaten merawat Lea.

"Pakai balsem aja Bang..!!" Kata Lea.

"Ini lagi. Oneng nggak ketolong." Gerutu Bang Alden.

"Sakit sekalii."

"Ya makanya ini saya kompres." Bang Alden mengintip ke bagian bawah Lea tapi Lea menutupnya.

"Jangan Bang. Maluu..!!"

Jika bersama Syandrina dirinya bebas menikmati apapun untuk melegakan visualisasi pikiran dan juga hasratnya, tapi dengan Lea dirinya merasa begitu penasaran. Ada rasa 'dahaga' yang masih belum genap di rasakannya.

"Sama saya tidak apa-apa. Tapi jangan sampai pria lain melihatmu. Pakai jilbabmu baik-baik..!!" Pesan Bang Alden. Kini dirinya paham arti tidak rela dan paham artinya menjaga.

Sejenak Bang Alden memejamkan mata. Hatinya terasa begitu sakit. Ulu hatinya bagai terhujam puluhan pisau tajam. Pikirannya kusut bagai benang ruwet memikirkan dua wanita di dalam hidupnya.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Mira Lusia

Mira Lusia

mau terus baca takut ikut sakit hati..tapi penasaran juga..bismilah aja laahh..😁

2024-05-23

1

Siti Fatimah

Siti Fatimah

pelacur di ratu kan, ini istri sendiri yg notabenya gadis baik malah di kabari ...buat nyesel si Alden ya Thor ...gemes aku

2023-12-18

0

ria

ria

dasar bego alden..

2023-12-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!