12. Kalang kabut.

Ddrrtt..

Bang Alden mengambil ponselnya. Syandrina mengirim foto hasil USG buah hatinya.

S : Ini anakmu Mas, sudah besar. Sudah empat belas minggu.

Bang Alden hanya membacanya tanpa berniat membalasnya. Dirinya pahami mungkin semua terlihat egois tapi dalam hidup yang penuh dengan pilihan ini harus ada salah satu yang di kalahkan dan dirinya memilih meninggalkan Syandrina demi Azalea.

//

Syandrina meletakan ponselnya, tau Bang Alden tidak lagi meresponnya. Ia tidak ingin memaksa meskipun hatinya sangat merindukan sosok Letnan Alden.

"Sayang.. ini Abang buatkan susu. Di minum dulu."

Syandrina menghapus pesan tersebut dengan tenang hingga tidak menimbulkan kecurigaan pada suaminya.

"Terima kasih Abang." Syandrina tersenyum lalu menerima susu buatan suaminya itu. Ia memperhatikan paras wajah matang yang kini amat sangat memperhatikan dirinya.

"Sama-sama. Habiskan ya biar si adek sehat." Kata Bang Prana.

Syandrina menghabiskan susu tersebut tapi bola mata indahnya tak lepas memandangi Bang Prana.

"Ada apa melihat Abang seperti itu?" Tegur Bang Prana.

Syandrina menggeleng tapi kemudian ia menangis.

Bang Prana jelas bingung dengan sikap Syandrina tapi ia pahami terkadang bumil memang terbawa sensitif tanpa sebab.

"Kasihan sekali lah istri Abang ini. Besok kita jalan-jalan saja ya berdua." Ajak Bang Prana menyangka Syandrina ingin waktu berdua bersamanya.

Syandrina hanya bisa menurut lagipula tak ada alasan apapun untuk menolak perhatian Bang Prana yang sudah menyelamatkan hidupnya dari belenggu keluarganya juga.

\=\=\=

"Anaknya jagoan ya Pak. Alhamdulillah lincah di perut Mamanya, sehat sekali." Kata dokter kandungan saat Bang Alden mengajak Lea memeriksa kandungan.

"Alhamdulillah." Bang Alden begitu bersyukur akan segera mendapatkan anak laki-laki dari Lea.

Azalea tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Bang Alden. Suaminya itu sangat aktif mendengarkan penjelasan dari dokter hingga selesai.

"Kita langsung beli pakaian bayi..!!" Ajak Bang Alden

...

ddrrtt..

Momen bahagia Bang Alden dan harus terpotong karena ada panggilan telepon dari Ibu Jenderal saat mereka sedang menuju toko pakaian.

"Selamat siang ibu. Ijin arahan..!!" Jawab Bang Alden karena Lea berada tepat di sampingnya. Ia pun mengaktifkan loudspeaker ponsel nya

"Om Alden tolong ke rumah sekarang ya.." pinta Syandrina.

Ijin ibu, butuh bantuan apa?"

"Ke kediaman dulu ya Om..!!" Perintah Syandrina.

Mendengar perintah itu tidak mungkin Bang Alden menolak, posisinya masih tetap sebagai ajudan istri jenderal.

"Lea pulang saja ke kontrakan Bang..!!" Bisik Lea.

Bang Alden memberi isyarat agar Lea diam. "Siap ibu, saya segera kesana.." jawab Bang Alden.

"Lea pulang saja Bang..!!"

"Kamu ikut saja. Abang janji tidak akan lama, nanti Abang ijin biar bisa beli keperluan untuk anak kita..!!" Kata Bang Alden.

Mendengarnya, Lea pun menuruti apa kata Bang Alden untuk ikut pergi menuju kediaman jenderal.

...

Bang Alden langsung membuka pintu setelah mengetuk dan memberi salam pada si empunya rumah.

"Ijin Ibu..!!" Bang Alden yang sudah menjaga jarak dengan Syandrina saat ini menerapkan sikap formal.

Dari dalam mobil Syandrina melihat seorang wanita yang tengah hamil, mungkin usia kehamilan itu sama seperti dirinya. Tapi untuk dirinya yang awam tentang siapa ibu Jenderal segera menghubungi Bang Argo.. kakak pertama dari Lea.

"Assalamu'alaikum.. ada apa Lea?" Tanya Bang Argo.

"Wa'alaikumsalam Bang. Abang.. Lea minta bantuan. Tolong carikan foto ibu Pranajaya..!!"

"Untuk apa?"

"Cepat Abaang..!!" Pekik Lea lalu mematikan panggilan telepon nya.

Bola mata Lea memicing saat matanya membidik keadaan yang terlihat dari dalam sana.

tiing..

Bang Argo mengirim foto wanita cantik bernama Syandrina dan ternyata wanita tersebut adalah ibu jenderal yang sedang di jumpai suaminya saat ini.

"Dia ibu jenderal??" Gumam Lea.

Lea melihat ibu jenderal menarik tangan suaminya dan menyentuhkan pada perutnya. Entah kenapa hatinya gelisah saat Bang Alden tidak segera menolaknya.

Lea semakin penasaran saat tiba-tiba terjadi sedikit adu mulut di antara keduanya hingga ibu jenderal menangis. Ia pun memilih turun dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.

"Syandri tidak menuntut apapun Mas, Syandri pun tidak marah Mas menikah dengan wanita lain dengan keadaan kita saat ini. Hanya tolong sedikit saja beri perhatian mu untuk anakmu ini Mas..!!"

"Syandri........."

"Anak??? Itu anak Abang???" Lea terhuyung lemas, hatinya kaget setengah mati. Tepat saat itu jenderal Pranajaya pun kembali ke kediaman.

"Apa benar apa yang saya dengar ini Aldeeen?????"

Situasi sudah tidak dapat di dinginkan lagi. Bang Alden juga sudah terlalu lelah dengan perasaannya. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya. Syandrina ketakutan namun kemudian ia bersandar menguatkan diri.

"Ijin jenderal, semua yang jenderal dengar memang benar adanya. Yang ada di dalam kandungan Syandrina adalah.... anak saya..!!"

"Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Akbar yang baru masuk kediaman sampai ikut merasakan jantungnya nyaris terlepas.

Bang Prana menarik nafas sedalam-dalamnya kemudian membuangnya pelan. "Duduk disini kamu Syandrina.. dan kamu Alden.. segera hubungi orang tuamu. Katakan kepada jenderal Novendra untuk menemui saya disini sekarang juga..!!" Ucapnya tegas namun ia sekuatnya menahan diri sebab ada dua bumil, jika urusannya tentang nyawa.. dirinya tidak berani untuk gegabah betapapun marahnya dirinya.

Di saat yang sama Lea sudah tidak bisa menahan beban tubuhnya. Pandangan Lea kabur seketika, Bang Alden berlari menahan tubuh istrinya yang tumbang sempurna.

...

Situasi urgent membuat Papa Noven, Papa Enggano dan Dokter Daluman berangkat menggunakan helikopter menuju Bogor tepat di kediaman senior mereka.

Papa Noven murka hingga rasanya darahnya mendidih seribu derajat celsius sedangkan Papa Enggano terdiam dengan wajah penuh ancaman.

"Sabar dulu, jangan menerka apapun sebelum kita mendengar jelas situasi dari kedua belah pihak." Saran Dokter Daluman.

:

Papa Noven mengepalkan tangan dengan kuat, matanya merah terbakar amarah sedangkan Papa Enggano kini berusaha menenangkan putrinya yang masih terisak di dalam pelukannya.

Bang Alden masih terkapar usai Papa Gano menghajarnya,

"Bagaimana bisa kamu melakukan kebodohan seperti ini Alden???? Dimana otakmu????" Bentak Papa Noven.

"Aku melakukannya sebelum menikahi Lea Pa." Jawab Bang Alden.

"Usia kehamilan mereka sama Al." Kata dokter Daluman kemudian.

"Sehari sebelum menikah, aku sudah melakukannya.. di villa lembah. Sedangkan dengan Lea, setelah usai akad nikah." Jawab jujur Bang Alden dengan kooperatif.

"B******n kau Alden.. saya percaya padamu bisa menjaga Syandrina, ternyata kamu memukul saya dari belakang." Bang Prana sangat murka dengan kelakuan ajudannya.

Bang Prana menghajar Bang Alden. Papa Noven pun tidak bisa berbuat apapun karena memang putranya yang membuat ulah.

baagghh.. buugghh.. baagghh..

"Kau pria paling lak*at yang pernah ku kenal..!!!" Emosi Bang Prana tak terkendali. Ia menarik lengan Bang Alden dan menghajarnya berkali-kali. Beliau sangat marah tapi hatinya juga terlanjur sakit. Bang Prana mencabut pedang panjang yang terpajang sebagai hiasan dinding rumahnya. Ia membuka penutup pedang lalu mengarahkan pedang itu untuk menghunus tubuh Bang Alden.

"Jangan..!!!!"

"Abaaang..!!" Lea berlari melindungi tubuh Bang Alden tanpa Papa Enggano bisa mencegahnya.

"Abang bisa ceraikan Syandri, bunuh Syandri juga. Semua ini salah Syandri Bang." Syandrina memeluk Bang Prana memohon maaf atas segala kesalahannya.

"Jangan disini dek..!!" Bang Alden berusaha menjauhkan Lea darinya tapi Lea tidak juga menjauh darinya. "Abang tidak pantas mendapat ampunan."

Papa Enggano menarik tangan Lea, Bang Prana yang kalap kembali mengayunkan pedang panjang.

"Berhentiiiii..!!!!!!" Teriak Azalea sekuatnya. "Andai saya bisa memilih, saya juga tidak ingin semua terjadi seperti ini..!!!!!! Jangan lukai suamiku lagi. Kita ini manusia, pernahkah kita tidak berbuat dosa???"

Bang Prana menjatuhkan pedangnya. Ia memeluk Syandrina. "Kenapa?? Kenapa kamu melakukan semua ini?? Saya sungguh menginginkan anak, itu sebabnya saya tidak ingin mendua, apakah ini hukuman Tuhan untuk saya karena saya telah menyakiti dua hati wanita sebelum kamu Syandri???"

Bang Alden jatuh berlutut, ia memeluk kaki Lea, badannya gemetar ketakutan. "Abang minta maaf dek..!!"

Lea berjalan keluar dari kediaman menuju mobil Bang Alden.

"Leaa..!!" Bang Alden mengikuti langkah cepat sang istri.

"Mau apa Lea ini??" Gumam Papa Enggano lalu segera mengikuti juga bersama Papa Noven.

Kini Bang Alden panik karena Lea menyalakan mesin mobilnya. Bang Alden mengetuk kaca jendela saat melihat Lea menegak habis sebotol minuman keras yang selalu ia simpan di dashboard mobil.

"Leaaa.. jangan Leaaa..!!!" Ketukan mobil itu semakin kencang.

"Ndhukk.. turun dulu sayang..!!" Bujuk Papa Enggano.

Lea menghela nafas panjang. Ia menghapus air matanya lalu mengusap perutnya yang sebenarnya sudah terasa kram karena kejadian tadi. "Bantu Mama sadarkan Papa ya nak. Bismillah..!!"

'Maafkan aku Ya Allah.'

Lea menginjak gas mobil keluar dari gerbang kediaman.

"Kejar Aldeenn.. Lea nggak bisa kendarai mobil..!!!" Bentak Papa Enggano.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

ria

ria

syukurin

2023-12-08

1

ria

ria

mampus kalian berdua

2023-12-08

1

ria

ria

makax..lupakan alden..
awali hidupmu dg jendral..kan sdh ada kenangan dr alden yg gak tanggung2..seorg anak yg gk mungkin didpt dari jendral yg mandul🙊

2023-12-08

2

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!