Bang Argo dan Bang Aria berhasil menarik Bang Alden dari liang lahat namun sesampainya di atas Bang Alden langsung tumbang. Ayah baby Rhaken itu belum bisa menerima kepergian istri tercintanya.
"Bawa ke mobil dulu..!! Jangan biarkan Alden melihat Lea sampai selesai di makamkan..!!" Perintah Papa Enggano.
Sebesar apapun kesalahan Bang Alden tapi melihat segala kesungguhan dan penyesalan menantunya itu jelas membuat hatinya tidak tega. Segala tangis dan wujud penyesalan itu sudah membuktikan betapa besar rasa cinta dan sayang Letnan Alden untuk Azalea putrinya.
Sebagai orang tua tentu tidak mudah bagi Papa Enggano untuk menelan pil pahit ini tapi demi nama baik dan harga diri sang putri yang juga mencintai Letnan Alden maka Papa Enggano bersedia mengubur dalam-dalam segala sakit di hatinya tanpa seorang pun tau perkara di masa lalu dalam rumah tangga putrinya.
"Mas.. atas nama pribadi dan keluarga........"
Papa Enggano memeluk Papa Noven. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sahabatnya. Sekilas ia menumpahkan tangisnya. "Hanya tersisa satu putri dalam hidupku..!!"
Papa Noven mengusap punggung sahabatnya. Tak ada kata yang terucap. Kata sabar pun tidak akan pernah cukup untuk melunakan hati Papa Enggano.
"Jangan banyak ucapkan duka dan kata pisah. Lea akan tetap selalu ada di hatiku. Gadis yang tenang, bijaksana dan dewasa."
Papa Noven melirik putranya yang masih terkapar tak sadarkan diri. Beberapa orang berusaha membuatnya tersadar.
...
Mama Hanin dan Mama Irene saling memeluk dan menguatkan, mereka melihat Nadilla sudah luwes menggendong baby Rhaken.
"Aku tinggalkan Nadilla disini ya..!!" Kata Mama Hanin tidak tega melihat cucunya.
"Bukankah Nadilla akan segera kuliah ya?" Tanya Mama Irene tak melepaskan pandangan dari si bungsu Nadilla.
"Tidak apa-apa. Biar nanti Nadilla di sini bantu jaga Rhaken." Imbuh Papa Enggano.
"Nggak perlu Pa, aku bisa jaga Rhaken sendiri. Kalaupun harus ada yang jaga kenapa tidak bibi atau pengasuh bayi saja." Jawab Bang Alden yang sedang di papah Bang Argo dan Bang Aria.
"Kamu nggak akan sanggup Al. Pekerjaanmu banyak. Apa setiap hari kamu mau momong Rhaken di kompi??? Kamu kira gampang momong bayi????" Tegur Papa Enggano lagi. "Papa dan Mama nggak percaya pengasuh, Bibi sedang di Jawa dan nggak mungkin Papa dan Mama membawanya kesini."
"Benar Al, bibi tidak bisa di bawa kesini..!!" Kata Mama Irene.
"Untuk sementara saja Al. Kalau kamu nggak nyaman sama Nadilla nanti kamu pindah saja ke mess transit." Saran Papa Noven.
Bang Alden terdiam, keputusan Papa dan Mama bagai keputusan final. Ingin menjawab perkataan para tetua tapi benar adanya saat ini tidak ada option lain selain meninggalkan Nadilla bersamanya.
"Kamu jangan egois le. Lihat anakmu masih merah, nanti Argo juga akan bantu jaga Rhaken." Bujuk Papa Enggano.
-_-_-_-_-
Bang Alden pesimis dengan gadis bau kencur yang bahkan usianya masih di bawah Syandrina, ia was-was takut bayinya akan keseleo di bawah asuhan Nadilla sebab yang ia tau putri bungsu Papa Enggano itu masih kekanakan dan begitu banyak tingkah.
"Paaa.. susu Rhaken habis. Itu susu yang terakhir Pa." Bisik Nadilla pada Papanya.
Papa Enggano merogoh sakunya namun dompetnya tertinggal di dalam kamar. "Coba minta Mama..!!"
"Ini saja." Sebagai seorang ayah tentu saja Bang Alden yang mengeluarkan uang dari saku bajunya. "Kamu mau beli dimana?"
"Di supermarket kota Mas."
"Saya antar..!!"
"Apa tidak ada sopir??" Tanya Nadilla.
Bang Alden tidak banyak menjawab, ia menyambar kunci motornya. "Ayo..!!"
...
Setelah cukup lama menunggu di motor, akhirnya Nadilla keluar dari supermarket.
"Lama sekali."
"Lima belas menit Mas Al bilang lama??? Bagaimana dengan kebiasaan para laki-laki yang nongkrong di warung kopi sambil membicarakan kemolekan janda muda???" Tegur Nadilla.
"Saya saya bilang dua kata, kenapa kamu jawab panjang sekali..!!" Kata Bang Alden.
"Makanya kalau ada perempuan belanja itu ikut, jangan hanya tau merokok saja sambil matanya jelalatan mengabsen buah melon makhluk Tuhan."
"Astagaaa.. sudaah cepat naik..!!!" Telinga Bang Alden rasanya pengang mendengar ocehan gadis kecil yang suaranya mirip petasan banting. Ia menyalakan mesin motornya.
"Tunggu..!!"
"Apalagiii?????" Bang Alden mematikan kembali mesin motornya.
"Jadi laki itu yang sabar Mas. Kalau Mas Al mau pulang ya sudah pulang sana. Nadilla nggak minta di antar juga." Kata Nadilla melenggang pergi masuk ke sebuah toko pakaian bayi.
Bang Alden merasa kesal tapi mau tidak mau ia mengikuti langkah putri bungsu Papa Enggano. Daerah itu memang sering terjadi kerusuhan, tentu saja ia yang punya otak waras tidak akan membiarkan seorang perempuan berjalan sendirian.
:
Nadilla mengeluarkan uang dari sakunya tapi kemudian Bang Alden menyodorkan kartu ATM miliknya pada kasir.
"Nadilla punya uang. Mas Al tinggal tambahi saja." Kata Nadilla dengan sombongnya.
"Berapa uangmu?"
"Delapan belas ribu." Jawab Nadilla sambil menggelar uang miliknya di meja kasir.
"Totalnya??" Tanya Bang Alden.
"Dua ratus delapan puluh lima ribu."
Bang Alden lumayan kesal melihat raut wajah Nadilla yang bersikap tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal amat sangat jelas sekali uang di tangannya tidak akan cukup untuk membeli barang tersebut.
"Silakan PIN nya pak..!!" Penjaga kasir mempersilakan Bang Alden menyelesaikan transaksinya.
~
"Tunggu..!!"
"Ya Allah Ya Rabb, apalagi masalahmu???" Untuk kesekian kalinya Bang Alden mematikan mesin motornya karena Nadilla menunda waktu untuk pulang.
"Turun Mas..!!! Ajari Nadilla pakai kartu ATM itu..!!" Nadilla menarik lengan Bang Alden dengan paksa sampai akhirnya Bang Alden terpaksa untuk turun.
Ucap Nadilla mengingatkan dirinya pada sang istri yang juga tidak bisa menggunakan mesin ATM dan sampai akhir hayatnya pun dirinya belum mengajari cara menggunakan kartu ATM itu.
~
"Tekan enter..!!! Tunggu sampai uangnya keluar..!!"
"Mana uangnya??"
"Sabaaarr.. baru juga di tekan..!!" Kata Bang Alden menahan gemas berurusan dengan putri bungsu Papa Enggano.
"Waaaahhh.. banyaaakk..!! Nanti minta di ganti Papa ya Mas. Uangnya Nadilla ambil..!!" Nadilla langsung menarik uang tersebut dan beranjak keluar dari ruang mesin ATM.
"Eehh Kajol.. ini kartu nya jangan di tinggal..!! Keluarkan dulu dari mesinnya..!!" Bang Alden menarik lengan Nadilla yang masih sibuk dengan uang di tangannya. "Naaahh begini.. kamu paham atau tidak??"
"Pahaaam.. tenang saja...." Jawab Nadilla kemudian berhenti bicara. "Uangnya kurang selembar..!!"
"Jatuh di kaki mu..!!" Tunjuk Bang Alden.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
kajol...sahrukkhannya mana..😊😊
2023-11-22
1
Ita Mariyanti
😂😂😂 ngge bang Khan
2023-11-17
1
Ita Mariyanti
🤣🤣🤣🤣🤣 kui g nmbh nad tp utuh 😝😝
2023-11-17
1