Bang Alden merendahkan sandaran jok mobil Syandrina. Untuk pertama kalinya Bang Alden bisa melihat paras ayu Syandrina dengan puas.
"Kenapa kamu memilih jalan yang salah untuk hidupmu? Kamu masih terlalu muda untuk dunia yang kejam ini dek." Gumam Bang Alden.
Tak lama Syandrina terbangun, ia terbatuk merasakan nafasnya yang terasa sesak.
"Minum dulu..!!" Bang Alden membuka sebuah botol air mineral agar Syandrina bisa segera meminumnya.
Syandrina meneguk air tersebut sambil terus menatap wajah Bang Alden.
Setelah beberapa saat Syandrina tenang, Bang Alden pun kembali mengajaknya bicara.
"Disini hanya ada kita berdua, kamu bisa katakan apa yang terjadi sama kamu. Saya terlanjur masuk ke dalam masalahmu Syan." Ucap tegas Bang Alden.
"Seperti yang Syandri katakan Mas, Syandri di jual keluarga pada Bang Prana untuk di tukar dengan sepuluh hektar tanah. Keluarga tidak peduli lagi dengan Syandri tapi mereka masih meminta jatah uang bulanan sebesar lima belas juta rupiah. Mereka menganggap Syandri anak sial sebab ibunya Syandri meninggal saat melahirkan Syandri ke dunia." Kata Syandri.
"Lima belas juta?? Kamu menanggungnya sendiri??" Tanya Bang Alden.
Syandri mengangguk. Kini wajah Syandri sudah tidak sok berani seperti tadi. "Maka dari itu Syandri tidak bisa berhenti bekerja menjual diri."
"Kenapa kamu tidak bilang sama suamimu?? Kamu menikah dua tahun lalu, berarti sejak dua tahun lalu kamu bekerja seperti ini??" Bang Alden memastikan analisanya.
"Iya. Syandri tidak bisa bilang sama Bang Prana karena pernikahan ini dulu barter. Syandri di tukar dengan tanah."
"Bukankah katamu Pak Prana baik??" Selidik Bang Alden, ia ingin tau pasti kehidupan Syandri.
"Memang baik Mas, tapi......"
"Tapi apa??" Tanya Bang Alden.
"Selain barter itu, Syandri tidak pegang uang sendiri, Bang Prana selalu bertanya kapan Syandri memberinya seorang anak sedangkan Syandri pernah cerita sama Mas Al tentang keadaan Bang Prana. Kalau di tahun ke tiga ini Syandri tidak juga punya anak, maka Syandri akan di ceraikan." Jawab sendiri.
"Cerai ya cerai saja, kamu takut??" Kata Bang Alden.
"Bukan begitu Mas......."
"Kalau kamu jadi janda, kamu sama saya. Saya akan menikahi mu." Ucap kesal Bang Alden.
"Maas.. tidak semudah itu." Jawab Syandrina.
"Prana mungkin tidak menyakiti fisikmu, tapi Prana menyiksa mentalmu Syan. Itu semua sama saja dengan kekerasan dalam rumah tangga." Kata Bang Alden.
"Lalu Syandri harus bagaimana Maas???" Rasanya Syandrina sudah tidak punya tenaga lagi untuk berpikir. Ia hanya bisa pasrah menjalani hidupnya yang serba terjepit dalam segala himpitan.
"Semua tergantung pada dirimu sendiri, kalau kamu ingin keluar dari lingkaran setan ini maka kuatkan mental dan niat lalu sekuatnya berusaha pergi jauh dari dunia hitam. Saya akan membantumu kecuali kamu ingin terus berada di tempat terkutuk itu."
Syandri terisak menatap mata Bang Alden. Dirinya tidak yakin bisa keluar dari dunia hitam. "Tapi mas, itu tidak mudah dan tidak murah. Belum lagi masalah keluarga."
"Kamu percaya sama saya atau tidak???" Tanya Bang Alden.
Cukup lama Syandrina menatap wajah Bang Alden hingga akhirnya Syandrina benar-benar siap untuk menjawab. "Syandri percaya Mas Al."
Bang Alden mengambil ponsel lalu menghubungkan seseorang di seberang sana.
Di saat Bang Alden sedang berusaha menghubungi seseorang, Syandrina menggoyang lengan Bang Alden. "Mas, Syandri ada tamu."
"Astaga Syandri..!!!!!!" Bentak Bang Alden. "Jangan katakan seperti itu lagi, mulai detik ini kamu tidak ada urusan dengan laki-laki lain kecuali saya..!!!!" Ucap tegas Bang Alden.
Syandri duduk melipat kedua tangan di depan dada, ia memonyongkan bibirnya karena di bentak Bang Alden dan disana Bang Alden mengacak rambut Syandrina agar gadis itu tidak ngambek lagi.
"Tolong siapkan saya dana dua ratus juta cash..!!" Pinta Bang Alden.
"Ini perlu ijin Pak Noven dulu atau tidak Pak?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Tidak perlu, tarik dari rekening pribadi saya..!!"
"Baik Pak, segera..!!" Kata petugas Bank tersebut.
"Kira-kira jam berapa bisa saya ambil??"
"Jam dua belas siang Pak." Janji petugas Bank.
Setelah mengurus masalah keuangan, Bang Alden kembali menghubungi seseorang.
...
Bang Alden selesai mengambil uang cash di bank lalu pergi bersama Syandrina menuju club Phoenix.
Sesampainya disana juga bukan hal mudah, Bang Alden harus bermusyawarah bahkan sempat terjadi perdebatan dengan pihak keamanan club Phoenix.
Pemilik club Phoenix tidak mengijinkan Bang Alden membawa Syandrina keluar dari sana sebab kecantikan Syandrina merupakan aset berharga untuk menarik para lelaki hidung belang.
"Apa alasanmu??" Tanya pemilik Club Phoenix. "Syandrina tidak bisa di miliki pribadi."
"Begitu ya?? Tidak kah anda tau bahwa reputasi club Phoenix sedang mendapat lirikan dari pihak berwenang??" Kata Bang Alden.
"Siapa kamu??"
"Saya sudah bilang, saya hanya ingin membawa Syandrina untuk diri saya sendiri. Bagaimana?? Di ijinkan atau tidak??" Ucap Bang Alden tidak gahar namun sarat akan ancaman secara halus.
Karena tidak ingin bermasalah dengan hukum, pemilik club Phoenix mengijinkan Bang Alden membawa Syandrina bahkan sepeserpun tidak meminta uang ganti rugi seperti biasanya saat ada orang akan membawa salah seorang asuhannya untuk di bawa keluar.
...
"Bagaimana ini Mas, Syandri tidak punya penghasilan lagi."
Satu masalah baru saja usai kini sudah ada masalah baru yang belum terselesaikan.
"Satu-satu lah Syan. Saya janji akan selesaikan semua masalahmu. Beri saya sedikit waktu..!!" Pinta Bang Alden.
Ponsel di tangan Syandrina bergetar, ada pesan singkat dari Bang Prana.
"Siapa?"
"Bang Prana Mas." Jawab Syandrina.
"Apa katanya." Tanya Bang Alden.
"Bang Prana ada tugas di luar kota, lusa baru pulang." Syandrina menatap wajah Bang Alden dan Bang Alden balik menatap wajah Syandrina lalu kembali terfokus pada jalanan.
"Oke.. bagus sekali."
"Ada apa Mas??" Syandrina tak bisa menerka apa yang sedang di pikirkan Bang Alden.
Lagi-lagi Bang Alden menoleh sekilas pada Syandrina. "Berjanjilah untuk tidak kembali pada dunia gelap itu Syan..!! Saya tidak ikhlas kamu berada di tempat jahanam itu."
"Tapi bagaimana caranya........."
"Biar saya yang pikir. Hari ini nikmatilah harimu. Percayalah, saya tidak akan mencelakai kamu. Saya yang akan menanggung apapun yang saya lakukan." Janji Bang Alden.
Suasana hening sejenak. Ekor mata keduanya saling melirik.
"Sebenarnya apa tujuan Mas Al membantu Syandri? Tentunya Mas tau sekotor apa diri Syandri."
"Tentang hati tak butuh alasan." Jawab Bang Alden.
"Maksudnya??"
Lampu traffic light berwana merah. Bang Alden mengaktifkan kaca film di mobil otomatis nya. Ia menarik tengkuk Syandrina lalu menghabiskan bibirnya hingga lidahnya membelit dan mengabsen seluruh rongga mulut Syandrina. Beberapa lamanya mereka terbuai rasa hingga bunyi klakson menyadarkan keduanya.
Bang Alden segera kembali menjalankan laju mobilnya dan kini Syandrina masih mematung, untuk pertama kalinya ia merasakan dadanya berdesir.
"Ajudan kurang ajar."
"Siap salah ibu." Jawab Bang Alden tersenyum tipis.
"Mau lagi..!!"
"Sabar.. masih di jalan." Bang Alden masih tenang dalam posisinya, siapa sangka di dalam hatinya pun menahan rasa tak tertahan pada istri atasannya.
'Inikah namanya selingkuh?'
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Al Fatih
ini bang Alden anaknya papa Noven ya Kaka,, wah kisah papa Noven adalah kisah pertama sy kenalan dgn ka Nara dgn karyanya yg bikin esmosis jiwa,, baper tingkat dewa, penasaran luar biasa 👍🏻
2023-12-14
1
Re Wati
lanjut kak /Facepalm/
2023-11-13
1
Blue Love
naaahh... sampe sini, ini baru paham thor...😁😁
2023-11-07
1