Bang Alden menumpahkan lahar panas di dalam rahim Syandrina. Ia pahami betul resiko yang pasti di alami setelah melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya.
Terbayang wajah sang Mama dan dua adik perempuannya tapi inilah jalan terjal yang di pilihnya.
"Maaas..!!"
"Sudah? Atau lagi?" Tanya Bang Alden. Dirinya benar-benar memperlakukan Syandrina seperti istrinya sendiri.
"Up to you Mas." Jawab Syandrina jauh lebih kalem.
"Okee.. sepuluh menit pertama kamu yang pegang kendali selanjutnya saya selesaikan..!!" Kata Bang Alden.
Syandrina pun tersenyum malu tapi kemudian dirinya mengambil posisi seperti arahan Bang Alden.
:
Bang Alden menghembuskan asap rokok ke segala arah. Ranjang itu menjadi saksi dirinya atas nafsu setan yang tidak bisa ia tahan tapi apapun itu dirinya harus mengakui perasaannya pada Syandrina adalah nyata adanya.
Tangannya mengusap lembut rambut Syandrina yang tengah tertidur pulas di bawah selembar selimut usai melayani hasratnya yang menggila.
"Pantas saja kamu menjadi primadona club Phoenix. Tapi mulai sekarang, tidak akan ada lagi Lyli si wanita penghibur, kamu hanya milik Letnan Alden seorang." Gumam Bang Alden mulai posesif.
Tak lama ada yang mengetuk pintu kamar, sesaat tadi Bang Alden meminta pelayanan loundry untuk pakaian Syandrina yang basah. Bang Alden segera bangkit dan menyambar handuk kemudian melilitkan nya di pinggang.
Setelah memberikan pakaiannya, ia pun kembali menghampiri Syandrina di atas ranjang sembari menunggu pakaian mereka selesai.
Bang Alden kembali membelai tubuh Syandrina dengan lembut hingga Syandrina terbangun.
Istri Pak Jenderal menggeliat merasakan sentuhan yang tidak biasa. Terdengar suara lenguh kecil dari bibir Syandrina.
"Bangun sebentar Syan..!!'
Syandrina mengerjab kemudian membuka matanya. "Apa Mas."
"Si Blacky ketagihan." Pinta Bang Alden.
"Haah."
...
Seperti biasa sampai di rumah tidak ada hal mencolok apapun yang terjadi di antara Bang Alden dan Syandrina.
Bibi pun menyambut majikannya yang baru pulang dari jalan-jalan.
"Bibi.. apa saya bisa minta tolong pijati saya?" Tanya Syandrina.
"Bisa Bu, tentu bisa sekali..!!" Sebentar bibi siapkan minyak urutnya...!!"
:
"Sebenarnya ibu habis jalan-jalan kemana? Kenapa kecapekan seperti ini?" Tanya bibi.
"Jalan di mall saja Bi. Mungkin saja juga sedang tidak enak badan." Jawab Syandrina.
Mendengar jawaban yang masuk akal itu, bibi tersenyum dan kembali mengurut tubuh Syandrina.
Bibi melihat banyaknya tanda merah di tubuh Syandrina tapi bibi tidak menghiraukannya sudah pasti tanda merah itu adalah stempel cinta dari Pak Prana. Bibi tidak menyangka seorang pria setengah baya itu masih ganas juga di atas ranjang.
"Bi.. tolong kerokin saya sekalian ya, sepertinya saya masuk angin." Pinta Syandrina. Ia baru menyadari jejak tanda merah yang di tinggalkan Bang Alden.
"Baik Bu." Bibi pun menyanggupi sebab memang sepertinya Bu Prana sedang masuk angin.
***
Pagi buta Bang Prana sudah tiba di rumah, beliau tersenyum melihat sang istri anteng tidur di atas ranjang. Melihat gaya tidur Syandrina seketika membuat dirinya tergoda. Ia pun segera merangkak naik ke atas ranjang.
Beliau sudah mendengar dari bibi bahwa istri kecilnya sedang tidak enak badan tapi godaan di dalam hatinya terlalu besar untuk di tepis.
"Syandri.. Abang pulang sayang..!!"
Syandrina terbangun. Rasanya masih ingin tidur karena terlalu lelah dengan pergulatan semalam tapi ia tau suaminya 'yang loyo' itu pasti menagih kehangatan darinya.
Mau tidak mau Syandrina tersenyum dan merangkul kan tangannya ke belakang tengkuk Bang Prana, seperti biasa dirinya bersikap manja pada suaminya itu.
"Kenapa nggak bilang kalau Abang pulang sepagi ini..!!" Protes Syandrina, bibirnya sengaja manyun menutupi perselingkuhan nya dengan Bang Alden.
"Kejutan donk sayang." Jawab Bang Prana kemudian meminta jatah pada istri kecilnya.
...
Bang Prana sarapan pagi bersama Syandrina, kedua ajudan pun juga tengah menikmati sarapannya di ruang tamu. Sejak memiliki Syandrina, perlakuan Bang Prana pada setiap ajudannya pun berbeda. Beliau tidak mengijinkan siapapun mendekati sang istri kecuali atas perintahnya dan tentunya dengan seseorang yang telah teruji serta terpercaya.
"Nanti siang kalian sudah bisa libur." Perintah Bang Prana dari ruang makan.
"Siap Jenderal.. terima kasih." Jawab Bang Akbar dengan hati riang karena akhirnya dirinya bisa menemui sang kekasih di kampung halaman namun tidak dengan Bang Alden.
"Siap Jenderal. Terima kasih." Jawaban yang sama namun terdengar tidak bersemangat.
"Kamu kenapa Al? Capek ya karena mengikuti istri saya?" Tegur Jenderal.
"Ijin.. tidak jenderal."
"Aahh.. kamu mengaku saja, harimu bosan dan suram karena mengikuti perempuan jalan-jalan. Ya sudah ini ada bonus untukmu.. pengganti lelahmu karena sudah mengawal istri saya..!!" Kata Bang Prana.
"Siap.. terima kasih jenderal."
"Untuk Akbar ada juga tapi pekerjaan mu tidak membosankan, jadi jangan iri sama nominalnya Alden ya..!!"
"Siap jenderal. Terima kasih." Jawab Bang Akbar dengan senyum sumringah.
...
Bang Alden melihat mobil Pak jenderal sudah keluar dari halaman namun saat itu hatinya merasa tak karuan, rasanya ia tidak sanggup membayangkan Syandrina berduaan bersama pria lain selain dirinya.
"Aku langsung mau lajur ke terminal. Kamu sekalian pulang nggak?" Tegur Bang Akbar.
"Iya.. aku juga pulang." Jawab Bang Alden.
"Kenapa sih? Wajahmu kusut seperti benang ruwet."
"Nggak apa-apa. Ayo jalan..!!" Ajak Bang Alden kemudian.
-_-_-_-_-
Hari belum terlalu malam saat Bang Alden tiba di Bandung. Memang saat ini orang tuanya sedang berdinas di kota Bandung. Jarak Bogor Bandung yang tidak begitu jauh juga tidak membuatnya lelah.
"Pas sekali kamu pulang le. Mama mau mengenalkan kamu sama putri keduanya Om Gano." Kata Mama Irene.
"Aahh buat apa sih ma di kenalkan segala." Bang Alden terlihat tidak berselera membicarakan soal perjodohan.
"Anak Om Gano lembut sekali. Kalau yang paling bontot jelas terlalu kecil buatmu." Papa Noven mengimbuhi perkataan istrinya.
"Kamu lihat dulu Al, kamu nggak akan menyesal." Bujuk Mama Irene.
Bang Alden tidak menjawabnya dan langsung menuju ke kamar yang biasa di tidurinya saat dirinya pulang ke Bandung.
"Baaang.. Abaaaang..!!" Adik perempuan Bang Alden langsung menerobos masuk ke dalam kamar saat dirinya sedang melepas pakaian. "Iihh.. badan Abang kenapa merah semua. Abang alergi ya?"
Secepatnya Bang Alden membungkam mulut adiknya. "Jangan berisik. Nih Abang kasih uang..!! Jangan bahas tanda merah ini di depan Papa dan Mama..!!" Pesan Bang Alden.
"Okee.. negosiasi di terima." Jawab Virly kemudian meninggalkan kamar Abangnya sambil menghitung jumlah lembaran uang di tangannya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Re Wati
negosiasi di terima
2023-11-13
1
Iis Cah Solo
tak bisa hidup tanpa syandrina bang al😊
2023-10-26
2
🍀 chichi illa 🍒
wkwkwk negosiasi di terima
2023-10-18
1