9. Tidak bisa menerka hati.

Pagi ini Lea sudah mandi. Rambutnya yang masih masih dalam gulungan handuk. Bang Alden seolah cuek padahal sejak tadi ekor matanya memperhatikan Lea.

"Egm.." Lea memercing saat duduk perlahan di bangku yang berada di dalam kamar.

"Masih sakit?" Tanya Bang Alden.

"Sedikit." Jawab Azalea kemudian membuka handuknya.

Rambut panjang setengah basah itu tergerai indah. Warna hitam semu coklat disana. Jantung Bang Alden bergetar naik turun namun dirinya masih teringat jelas tentang perasaannya pada Syandrina.

"Kalau keluar rumah pakai jilbab..!! Di luar banyak yang jaga. Ada ajudan Papa juga..!!"

"Iya Bang, Lea selalu pakai. Sudah ada sepuluh kali Abang katakan sejak semalam." Kata Azalea.

"Hmm.. bagus kalau kamu ngerti."

\=\=\=

Satu minggu berlalu, Bang Alden mengajak Azalea ikut bersama dengannya. Mereka menaiki bus dari Bandung menuju Bogor.

Azalea tidur menyandarkan kepalanya ke sisi yang lain, berkali-kali pula kepalanya nyaris merosot menabrak kaca jendela, beruntung tangan Bang Alden sigap menahan hingga kepala Azalea membentur tangannya saja.

Tak ingin kepala Azalea terbentur lagi, Bang Alden menarik Azalea agar tidur di bahunya.

Ada salah seorang penumpang sedari tadi melirik Azalea. Bang Alden menyadari hal itu, arah mata pria itu melihat bagian dada Azalea yang sedikit terbuka karena istrinya itu hanya memakai manset hijab dengan long cardigan sebagai penutupnya.

Saat itu juga wajah Bang Alden berubah gahar, ia menutup bagian dada Azalea.

Pria tersebut salah tingkah karena hanya dengan melihat raut wajah Bang Alden saja rasanya sudah bagai tujuan pintu neraka.

Tak ingin lagi ada yang melihat sang istri, Bang Alden mengambil jarum pentul yang terselip di atas kepala lalu menjepit bagian long cardigan milik Azalea.

'B*****t, kalau saja tidak di dalam bus, sudah kuhajar kau.'

Kesalnya teralihkan saat tiba-tiba Azalea melingkarkan tangannya untuk memeluknya.

***

Lewat tengah malam mereka tiba di kontrakan. Tidak ada interaksi lebih di antara mereka hingga pagi tiba.

-_-_-_-_-_-

Aroma menguar membangunkan Bang Alden dari tidurnya, perutnya tiba-tiba keroncongan dan Bang Alden segera mengikuti darimana aroma sedap tersebut berasal. Terlihat nasi goreng sudah tersedia di meja makan saat dirinya menuju kesana.

"Kamu masak?" Tanya Bang Alden.

"Ii_iya Bang. Maaf Lea lancang." Kata Lea menunduk takut.

"Nggak apa-apa. Masak saja kalau ada bahan." Jawab Bang Alden.

"Tidak ada Bang. Lea hanya dapat nasi, di lemari es hanya ada minuman Abang. Itu apa Bang?"

Bang Alden menghampiri lemari es dan memang ia masih menyimpan minuman keras miliknya.

"Jangan diminum..!! Buang saja.." Tanpa pikir panjang Bang Alden segera membuang semua minumannya ke dalam tong sampah.

"Kenapa Bang? Lea baru mau coba." Tanya Lea penasaran.

"Abang bilang jangan ya jangan. Perempuan yang baik nurut sama suami dan perempuan baik-baik tidak dengan sengaja mendekati hal yang di larang."

Bang Alden segera menyambar handuk kemudian segera mandi karena dirinya akan berangkat bekerja.

//

Bang Alden mengguyur tubuhnya. Entah kenapa hatinya merasa takut jika Azalea mencoba hal-hal di luar batas.

'Kalau Abang sudah rusak jangan sampai kamu ikut rusak Lea.'

Sungguh hatinya tidak ikhlas Azalea mencoba hal buruk yang pernah di lakukannya.

:

Bang Alden menyimpan senyumnya merasakan nikmatnya sepiring nasi goreng. Seminggu yang lalu dirinya masih sibuk mencari sarapan namun sekarang sudah ada istri yang mengurusnya.

"Enak tidak Bang? Atau keasinan?" Tanya Azalea.

"Pas." Jawabnya singkat saja.

Bang Alden mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya lalu menyerahkan dua dari empat buah kartu ATM nya.

"Ini ATM gaji, remunerasi dan yang ini ada ATM uang tambahan. Abang bawa dua, semua uang perputaran uang tambahan. Kamu bisa cek sendiri saldonya kalau mau." Kata Bang Alden sambil menghabiskan makanannya.

"Nggak usah Bang." Tolak Lea.

"Itu milikmu sekarang."

"Ada uang cash atau tidak? Lea tidak tau cara pakai mesin ATM." Jawab jujur Lea.

"Haaaaahh????" Bang Alden ternganga dengan pengakuan sang istri.

Mau tidak mau Bang Alden mengeluarkan seluruh uang di dalam dompetnya, mungkin jumlahnya sekitar satu juta rupiah.

"Ya sudah ini dulu. Kalau Abang free baru Abang ajari kamu ambil uang. Sekarang bawa dulu kartu Atm-nya."

Azalea mengangguk. Bang Alden terus menatap gerak-gerik sang istri yang cekatan di dapur rumahnya. Wajahnya tidak lepas dari senyum.

...

Hari ini Bang Alden bertemu lagi dengan Syandrina. Ada getar rasa yang kembali muncul saat melihat Syandrina menuruni tangga rumahnya.

"Mas Al?? Mau makan?" Tanya Syandrina.

"Saya sudah makan. Orang rumah pada kemana?? Kenapa sepi sekali?" Bang Alden balik bertanya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh rumah, dirinya waspada dan cemas jika ada CCTV mengintai namun tak ada jejak CCTV disana.

"Bibi ke pasar, Bang Prana sudah berangkat kerja." Syandrina mengalungkan kedua tangannya di belakang tengkuk Bang Alden. "Syandri rindu Mas." Jemari nakal Syandrina menyusuri lekuk tubuh Bang Alden. Jelas sekali Bang Alden juga sangat merindukannya, terasa dari bagian yang teraba siap sempurna disana.

Bang Alden pun membalas pelukan itu. "Saya juga rindu." bisik Bang Alden kembali tergoda apalagi Syandrina sudah memamerkan belahan dadanya. Ia terus mengejar dan menuntut apa yang di lihatnya.

Godaan syetan memang menguji naluri dan bi_rahi. Tanpa rasa takut Bang Alden mengangkat tubuh Syandrina dan masuk ke dalam kamar Pak jenderal.

Tak ingin membuang waktu lama, Bang Alden segera menyelesaikan urusannya dengan Syandrina.

...

Sore tiba. Pak Prana tersenyum melihat istrinya dekat dengan bibi dan Bang Alden duduk jauh disana bersama para anggotanya yang lain.

"Sayang..!!" Sapa Pak Prana meminta sang istri hadir padanya.

Syandrina pun segera menghampiri.

"Kamu nggak pergi main?" Tanya Pak Prana.

"Nggak Bang, di rumah saja capek." Jawab Syandrina.

"Ya sudah, kalau bosan besok pergi main sama Alden. Abang keluar kota dua hari." Kata Bang Prana.

"Yaaa Abaaang. Syandrina rindu donk. Ikut ya..!!" Alasan Syandrina.

"Jangan sedih donk sayang. Abang kerja, bukan main sendiri." Bang Prana terus membujuk Syandrina yang ia sangka sangat sedih. "Abang tambahi uang jajan ya."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Mira Lusia

Mira Lusia

hanya napsu bang al..

2024-05-23

0

Dian Kurnianto

Dian Kurnianto

susah banget lanjut ceritanya, padahal internet stabil

2024-01-02

0

ria

ria

sadar alden

2023-12-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!