Bang Alden mengusap pipi Lea. Beberapa jam perjalanan telah usai, kini mereka telah sampai pada tujuan di pulau kecil bagian selatan negeri.
Lea membuka matanya, terlihat puluhan kuda liar berlari di samping pagar batas pengaman bandara militer. Rumput dan pepohonan berwarna kuning kecoklatan karena kering diterpa musim kemarau.
Angin sore hari menyambut mereka saat pintu pesawat terbuka lebar.
"Welcome to our new home." Kata Bang Alden. "Semoga kamu suka sayang..!!"
"Lea selalu suka Bang." Jawab Lea dengan senyum cantiknya.
Bang Argo merasa tenang sebab Bang Alden terlihat sangat menyayangi adik keduanya.
...
Penyambutan kedatangan Bang Alden pun lumayan ramai. Letnan Alden menduduki jabatan sebagai Danton hingga nanti Danki bergeser dan dirinya naik jabatan untuk menduduki jabatan di kompi baru setelah kenaikan pangkatnya.
Lingkup kecil membuat Bang Alden tidak harus menunggu pangkat Kapten untuk menjadi seorang Danki.
"Alhamdulillah sudah datang." Sambut Bang Joko pada juniornya.
"Siap Bang."
Bang Joko tersenyum menyambut junior serta istrinya. Bu Joko pun dengan senang hati menyambut Lea.
"Ayo mbak antar ke rumah dinasmu biar para bapak-bapak ini ngobrol dulu untuk kegiatan kantor." Ajak Bu Joko.
-_-_-_-_-
Malam hari saat Bang Alden kembali dari kantor, rumah sudah terlihat rapi dan bersih. Istrinya itu memang sangat rajin dan sangat menyukai keindahan.
"Kenapa tidak langsung istirahat saja. Kasihan si dedek di ajak gerak terus." Kata Bang Alden kemudian memeluk Lea dari belakang.
"Badan rasanya sakit kalau hanya tidur saja Bang." Jawab Lea kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bang Alden.
Bang Alden pun sedikit mengangkat perut Lea yang sudah membesar. Nampak Lea begitu nyaman dan bernafas lega.
"Enak ya dek?"
"Enak sekali Bang. Rasanya ringan, punggung Lea juga tidak sakit." Jawab Lea.
"Kasihannya istri Abang ini. Sini Abang gendong sampai kamar, Abang pijati seluruh badanmu..!!!"
"Aawwhh.." terdengar jerit ria dari bibir Lea. Bang Alden pun turut bahagia mendengar tawa ceria istri tercinta.
...
Setelah dua jam memijati Lea, istri Letnan Alden itu tidur nyenyak. Bang Alden tersenyum bahagia. Ia mengusap perut Lea, sejenak terbersit ingatannya tentang Syandrina.. sekuat apapun dirinya menepis tentang Syandrina tapi tetap ia mengingat bayi yang ada di dalam kandungan Syandrina. Bagaimanapun juga Syandrina membawa separuh dirinya.
'Maafkan Papa ya nak, kesalahan terbesar Papa adalah menghadirkan kamu di perut Mama. Papa tergoda ujian dunia, Papa gagal menjaga kehormatan Mama dan harga diri Papa sebagai laki-laki. Kelak kamu jangan pernah mengulang jejak buruk Papa karena sekarang jika kamu mengulangnya dan menghadapi situasi seperti Papa.. belum tentu kamu akan seberuntung Papa dan yang pasti.. sakitnya tidak bisa terobati.'
Bang Alden mencium perut Lea. "Jagoan Papa.. kamu juga tidak boleh meniru jejak Papa. Jadilah anak sholeh yang paham menjaga wanita juga harga dirimu. Imam yang baik akan menuntun makmum nya ke arah kebaikan. Ingatlah nak, saat ini Papa menyayangi Mamamu melebihi apapun di dunia ini. Suatu saat jika kamu telah dewasa dan tau keadaannya, kamu akan memahami alasan mengapa Papa memilih Mama."
//
Bang Prana menarik senyum tipis. Sejak kejadian itu, Syandrina lebih banyak menikmati hari di dalam rumah dan menurut apa kata dirinya bahkan saat diam-diam dirinya memasang CCTV di seluruh sudut ruangan, istrinya itu tidak lagi berbuat hal buruk.
"Sudah selesai sholat?" Sapa Bang Prana.
"Abang.. kapan Abang datang?"
"Baru saja, bagaimana keadaan mu dua hari ini? Kenapa tidak cari Abang?" Memang dua hari ini Bang Prana meninggalkan Syandrina untuk kegiatan dinas di luar kota.
"Syandri baik-baik saja Bang. Maaf.. Syandri tidak mau ganggu Abang kerja." Jawab Syandri dengan suara lirih.
Bang Prana kembali menarik senyumnya ia duduk di tepi ranjang lalu menarik Syandri agar berdiri di hadapannya. Ia mengusap perut Syandrina dengan sayang.
"Bagaimana nih jagoan Ayah di perut. Nakal nggak sama Bunda??"
Bibir Syandrina rasanya kelu. Tidak tau lagi bagaimana menjawab pertanyaan Bang Prana, sejak kejadian naas itu tak pernah sekalipun Bang Prana memperlakukan dirinya dengan buruk, tak pernah pula mengungkit siapa sebenarnya ayah kandung bayi yang ada di dalam kandungannya. Beliau menutup rapat seluruh cerita dan selalu menekankan pada 'dunia' bahwa yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingnya.
"Kenapa sayang? Ada masalah hari ini? Mau ke dokter??" Tanya Bang Prana.
"Nggak ada Bang." Syandrina tidak bisa menahan laju air matanya. Ia bersimpuh di kaki Bang Prana. "Maafkan semua salah Syandri Bang. Kenapa Abang tidak menceraikan Syandri saja. Syandri bukan istri yang baik."
"Abang sudah katakan berkali-kali jangan membahas hal ini lagi. Apa untungnya?? Abang juga bukan laki-laki yang baik. Kita sudah sepakat untuk memperbaiki diri, semoga Allah meridhoi tobat kita." Bang Prana membenahi jilbab Syandrina.
Memang sejak saat itu Syandrina memutuskan untuk menutup diri termasuk dari hingar bingar dunia luar.
"Jadiii.. bagaimana anak Ayah hari ini?" Bang Prana mengulang lagi pertanyaannya.
"Anak Ayah sehat dan lincah, hari ini terus menendang perut Bunda yah." Jawab Syandrina.
"Oyaa??? Mana Ayah lihat..!! Sinii.. siniii.. Abang kung_fu dulu sama Ayah." Wajah ceria Bang prana selalu terpancar sejak beliau memutuskan untuk ikhlas menjalani ketetapan Tuhan dalam hidup ini.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
semoga bahagia syandri bang prana...💪💪💪👍👍👍
2023-11-22
2
🍀 chichi illa 🍒
lanjuuut
2023-10-18
1
Mika Saja
oleng krna capek bolak balik dokter,mau komen binggung mo komen apa mba Nara 👏
2023-10-18
0