Lea sudah sehat dan hari ini Bang Alden memenuhi janjinya untuk datang melamar Lea. Sejak kembali dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, Papa Enggano membawa serta putrinya ke Bandung.
Kedua Mama sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi pada Azalea. Sengaja semua merahasiakan prahara besar tersebut termasuk dari Bang Argo yang kali ini datang untuk acara adiknya sekaligus menjemputnya untuk bersama-sama pindah ke tempat dinas yang baru.
Yang mereka tau saat ini Azalea sedang mengidam dan menginginkan acara seperti itu.
"Abang.. Lea cantik atau tidak?" Tanya Azalea.
"Aduuh.. bagaimana ya? Gendut begitu." Goda Bang Argo.
"Aaaaahh.. masa nggak cantik Bang." Azalea terlihat kecewa sampai berkali-kali dirinya menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Bang Argo mengecup kening Azalea. Ia menyimpan wajah haru. "Cantik.. cantik sekali."
Plaaaakk..
"Nadilla juga cantik..!!" Protes si bungsu tak terima Abangnya hanya memuji kakak keduanya.
bluugh..
"Aahh.. lelahnyaaa.." Bang Arialaga meletakan ranselnya lalu merebahkan diri di ruang tengah.
"Abaaaang..!!!!!" Nadilla melompat di atas perut Bang Aria.
"Astagfirullah Naaaaaddddd..." Bang Aria hampir saja menghantam wajah Nadilla kalau saja Bang Argo tidak mencegahnya.
"Hati-hati dengan tanganmu..!!" Tegur Bang Argo.
"Maaf Bang, dia juga nih. Orang lagi capek juga malah melompat di atas perutku..!!" Protes Bang Aria melirik adik bungsunya.
"Minta maaf Nad..!!" Pinta Bang Argo.
"Nggak..!!" Tolak Nadilla sambil berkacak pinggang. Memang putri bungsu hasil kebobolan milik Pak Enggano itu sangat meresahkan, tak jarang membuat ulah yang memusingkan kepala Papanya.
"Minta maaf..!!" Kini Papa Enggano yang turun tangan langsung untuk menegur putri bungsunya.
"Papa jahaaat..!!" Nadilla berlari keluar dari ruang tengah rumah dinas Papa Enggano.
"Ada apa sih Pa??" Mama Hanin tak habis pikir setiap keluarga berkumpul selalu saja ada keributan.
"Anakmu itu tidak pernah bisa kalem. Ada saja kelakuannya." Kata Papa Enggano.
"Itu anak Papa..!!!" Lirik Mama Hanin.
"Okee.. okeee.. bagian bengal anakku, kalau anak manis baru anakmu." Gerutu Papa Enggano.
...
Kali ini Bang Alden merasakan gugup yang luar biasa saat akan menjalani prosesi lamaran. Memang beberapa bulan yang lalu dirinya sudah melakukannya tapi kali ini semuanya terasa berbeda.
"Bertanyalah sendiri pada putri saya, dia yang akan menikah, bukan saya..!!" Jawab Papa Enggano saat ke keluarga Bang Alden datang melamar.
"Hari ini Abang datang untuk melamarmu. Apakah saya bisa mendengar jawabanmu hari ini?" Tanya Bang Alden penuh harap. Ia seperti kehilangan akal sehat karena melamar istrinya sendiri namun ini semua lebih baik daripada dirinya harus kehilangan istri tercinta karena kesalahannya kemarin.
Semua memaklumi pertanyaan Bang Alden yang terkesan tidak sabaran. Mereka hanya tersenyum kecil melihat seorang Letnan mengusap peluh di wajahnya karena gelisah.
"Lea pikir dulu ya Bang." Jawab Lea di luar dugaan. Disaat yang lainnya ternganga bingung hanya Papa Enggano sendiri yang tersenyum puas.
"Kalau Abang boleh tau, apa alasan Lea menolak Abang?" Rambut Bang Alden rasanya bercabang karena merasa di kerjai istrinya sendiri.
Lea tersenyum kecil. Ia mengusap perutnya yang membuncit. "Si dedek nggak pengen ketemu Papanya. Rasanya mual, pusing, nggak enak makan kalau dekat Papanya."
"Lalu kapan Abang bisa di terima?"
Azalea tersenyum kecut mendengarnya. "Sampai dedek rindu papanya." Kata Lea.
"Lalu apa gunanya semua lamaran ini dek?? Abang berharap bisa segera membawamu pulang ke Bogor. Abang kira kamu hanya ingin lamaran ini saja." Bang Alden merasa kesal karena ada semakin merasa di permainkan.
"Kalau begitu lamaran Abang di tolak." Jawab Lea dengan jelas.
"Astagfirullah..!!!!!!!" Bang Alden meraup wajahnya sendiri.
Papa Enggano tertawa terbahak dan Papa Noven mengusap punggung putranya.
"Sabar Al, namanya juga istri ngidam. Paling satu minggu juga minta di jemput." Gumam Papa Noven memberi semangat pada putranya.
"Masalahnya aku mau pindah dinas Pa. Masa iya aku nggak bawa Lea." Gumam Bang Alden geregetan sendiri.
"Ya gimana donk Al, anakmu nggak mau dekat sama Papanya." Kata Papa Noven.
"Berangkat saja Al, Lea biar sama Papa." Sengaja Papa Enggano memanasi Bang Alden.
"Deek.. ikut sama Abang ya..!! Bagaimana kita bisa perbaiki rumah tangga ini kalau kamu tidak mau ikut Abang. Kedekatan apa yang bisa di jalin dengan hubungan jarak jauh?" Bujuk Bang Alden dengan cara yang lembut. "Abang sudah nggak bisa jauh dari kamu dek."
Azalea tersenyum sangat cantik, ia memeluk lengan Papa Enggano. "Tapi Lea nggak bisa jauh sama Papa."
"Paaa.. please Pa..!!" Kini Bang Alden benar-benar mati kutu. Hanya pertolongan dan restu dari sang Papa Enggano saja yang bisa menjadi pertolongannya.
"Yang menikah itu Lea, yang hamil juga Lea. Papa bisa bilang apa kalau Lea sendiri tidak mau ikut sama kamu."
Jelas sekali raut wajah Bang Alden begitu kecewa. Niat untuk membawa pulang sang istri ternyata sia-sia belaka. Dirinya baru tau betapa sakitnya mendapat penolakan dari istri sendiri.
"Baiklah, Abang kembali ke Bogor. Baik-baik kamu disini jaga anak ya dek..!!" Ucap Bang Alden meskipun hatinya terasa berat dan begitu tidak rela.
"Iya Bang, Abang tenang saja. Ada Papa dan Abang disini." Jawab Lea.
:
"Sebenarnya ada apa sih Pa, kenapa Bang Alden tidak di perbolehkan bawa Lea? Bang Alden pasti butuh istri Pa." Tanya Bang Argo masih bingung.
"Iya Pa, bukankah seharusnya Papa membujuk lea." Bang Aria pun bingung dengan keputusan Papanya.
"Sudaaah.. tenang saja. Nanti kalau sudah waktunya pasti Papa kembalikan Lea sama Alden. Intinya bumil ngidam harus di turuti..!!" Jawab Papa Enggano membungkam pertanyaan kedua putranya.
\=\=\=
Bang Alden bersiap berangsur bersama dengan Bang Argo karena Bang Aria sedang menjalani pendidikan. Disana Bang Alden terlihat murung, tidak ada semangat dalam hatinya.
"Sudahlah Bang.. namanya juga bumil ngidam, mau bagaimana lagi." Kata Bang Argo.
"Suami istri tidak baik berjauhan Ar, banyak godaan. Yang lurus saja masih bisa khilaf apalagi saya yang masih jelalatan begini." Jawab Bang Alden. Ia pun mengambil rokok dari saku bajunya. Saat ini baginya tidak ada yang lebih setia dari sebatang rokok.
Kening Bang Argo berkerut pasalnya ia melihat seniornya adalah sosok yang anteng dan patut di jadikan panutan, pria itu hampir tidak pernah terlambat untuk sholat bahkan ia sering mendengar lantunan ayat suci yang merdu dari bibirnya dan yang paling utama adalah seniornya itu begitu menjaga jarak dan pandangan dari wanita lain.
"Persiapan untuk cek barang bawaan..!!" Arahan seorang anggota di bandara militer.
Bang Alden pun membuang puntung rokoknya lalu segera mengangkat ransel di punggungnya. Ia membuang nafas berat dan memakai kacamata hitamnya.
"Apakah Letnan Alden malu kalau harus membawakan tas warna pink?" Sapa seseorang di belakang punggung Bang Alden.
Sontak Bang Alden menoleh mendengar suara itu.
"Allahu Akbar..!!" Bang Alden begitu bahagia melihat Lea ada di belakangnya. "Lea kenapa ada disini?? Mau antar Abang?"
"Si dedek pengen ikut Papanya." Jawab Lea.
"Subhanallah.. terima kasih banyak Leee.. ikut sama Papa ya nak. Papa janji nggak akan nakal lagi..!!" Janji Bang Alden sembari memeluk Lea. Rasa rindunya pun perlahan sedikit terobati.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Mira Lusia
janji beneran gak nih baanngg
2024-05-23
0
Iis Cah Solo
😀😀😀dikasih kejutan bang alden...sama istri cantiknya...👍👍👍
2023-11-22
1
Ita Mariyanti
🤣🤣🤣 emang hrs gt kodrat e pak Gan, wanita sllu...bnr
2023-11-17
1