Mama Hanin tak sadarkan diri setelah tiba di halaman depan rumah Bang Alden. Sungguh tidak ada yang menyangka musibah akan menghampiri keluarganya dengan cara seperti ini.
Papa Enggano kelabakan menyadarkan Mama Hanin sedangkan Nadilla berjalan dengan langkah lemas di bantu Bang Aria di sampingnya.
Nadilla menghentikan langkah saat melihat jenazah kakak perempuannya terbaring cantik di ruang tengah.
Disana ia melihat Bang Alden tak melepas pelukannya dari Lea dan selalu mengucapkan kata Maaf yang tidak pernah lagi tersampaikan.
"Abang minta maaf..!!"
Seluruh yang sedang melayat sampai ikut menangis melihat keadaan Letnan Alden yang tidak sedikit pun beranjak dari sisi almarhumah Lea.
"Lee.. jangan terus menangisi istrimu, Lea sudah tenang, pergi dalam keadaan mulia." Papa Noven turut membujuk putranya, ia berusaha menahan tangis yang menyesakan dada sedangkan Mama Irene membantu Mama Hanin yang belum sadarkan diri. "Cepat di sayang sampai kamu puas. Besok pagi istrimu harus segera di makamkan."
Sekuatnya Bang Alden berusaha untuk tegar namun tetap saja hatinya yang rapuh membuatnya tumbang begitu saja.
Bang Argo membantu menyadarkan Abangnya yang sama sekali tidak memiliki ketegaran diri.
"Perlu di panggilkan Dokter kah Pa?" Tanya Bang Argo tak tega juga melihat keadaan seniornya.
"Nggak apa-apa. Kita temani dan support saja..!!" Jawab Papa Noven.
***
Malam hari si kecil menangis. Tangisnya terdengar begitu pilu seakan tau sang Mama telah pergi meninggalkan dirinya. Nadilla menyelinap masuk dan melihat keponakannya berada di kamar sendirian karena para 'tetua' sedang sibuk dan urusan masing-masing.
Ia menyentuh pipi keponakannya, begitu halus dan lembut. Keponakan kecilnya itu menggeliat. Nadilla bingung harus berbuat apa, ingin menggendongnya tapi tidak berani.
"Sayang.. kamu rindu Mama ya..!!" Sapanya sembari menahan tangis. "Aduuuhh bagaimana nih, Tante nggak berani gendong." Gumamnya tapi di dalam perasaannya ingin sekali menggendong bayi mungil yang baru saja di tinggalkan ibunya itu.
Dengan sangat hati-hati Nadilla mencoba mengangkat tubuh kecil itu dan memeluknya. "Haus ya, dedek haus???" Gumamnya berceloteh sendiri dengan bayi kakaknya.
Nadilla menoleh melihat susu formula di atas meja nakas. Ia melihat aturan takar dan cara membuatnya.
"Sebentar ya sayang.. Tante buatkan susu untuk kamu..!!" Dengan cepat Nadilla membuatnya lalu memberikannya pada baby kecil Bang Alden. "Iihh pintar, kamu pasti lapar ya sayang??" Nadilla memberi kasih sayangnya pada keponakan hingga akhirnya kembali tertidur.
***
Tengah malam Bang Alden tersadar dan mengingat bayi kecilnya. Ia segera mencarinya namun bayinya itu tidak ada di manapun, ia mencari kesana kemari hingga dirinya melihat bayi kecilnya dalam gendongan Nadilla.
"Biar sama saya..!!" Bang Alden meminta bayinya dengan nada datar. Suaranya masih parau karena terlalu banyak menangis, penampilannya acak-acakan dan wajahnya terlihat sembab.
"Mas Al istirahat saja, Nadilla jaga dedek..!!" Kata Nadilla.
Bang Alden tetap memintanya dan akhirnya Nadilla menyerahkan keponakannya itu namun baru sampai di tangan Bang Alden, si kecil langsung saja mengompol. "Astaga.. adeekk..!!" Bang Alden pun segera membawanya ke dalam kamar.
Nadilla pun akhirnya bisa duduk, namun baru beberapa detik Nadilla duduk.. Bang Alden sudah keluar lagi membawa baby-nya.
"Nad..!!"
"Apaa??" Jawab Nadilla malas karena membalas sikap ketus Bang Alden padanya.
"Si dedek pup. Warnanya hitam.."
"Teruuuusss???" Nadilla sungguh tak paham maksud Bang Alden.
"Mas Al geli Nad, tolong bantu Mas sebentar.. masa mau bangunkan Mama..!!" Kata Bang Alden.
"Geliii??? Enak sekali Mas Al bilang geli. Ini anak Mas Al sendiri lho." Oceh Nadilla tapi tetap berdiri dan mengambil bayi itu dari tangan Bang Alden. "Cuci muka Mas Al, si adek bisa tekanan batin lihat Papanya macam begal."
Bang Alden duduk di ranjang. Rasanya tenaganya habis tak bersisa. "Mau bagaimana lagi, papanya pun sedang tertekan begini."
Nadilla tak menjawabnya, ia terus merawat si kecil namun juga tidak sanggup menahan laju air matanya. "Tidurlah, jaga kesehatan..!!" Ucapnya pada Bang Alden.
:
Bang Alden kembali menangis, ingin memejamkan matanya agar dirinya bisa melupakan semua namun kenyataan yang ada terlalu pahit untuk di terimanya. "Apa Abang kuat mengantarmu besok. Sampai detik ini Abang tetap berharap bahwa ini hanya sebuah mimpi."
Sekuat-kuatnya Bang Alden menahan perasaan tapi rasa sesak itu tak kunjung mereda.
Malam semakin menuju pagi, perlahan mata Bang Alden terpejam.
"Abaang.."
"Lea.. Alhamdulillah kamu pulang dek..!! Jangan pergi lagi ya..!!"
Azalea mengangguk, ia meraih tangan Bang Alden. "Lea pulang ke tempat dimana Lea pernah memintanya dalam tangis..!!" Jawab Azalea.
"Tempat apa dek? Pulang sama Abang."
Lea hanya tersenyum menjawabnya, ia mengusap pipi Bang Alden. "Lea titip anak kita, jaga dia..!!" Pinta Azalea.
"Leaa.. Abang mau bicara sama kamu."
"Leaaaa.." Bang Alden terbangun. Sudah banyak orang berkumpul di kamar. "Paaa.. Lea..!!"
Papa Noven menghampiri putranya lalu memeluknya erat. "Yang kuat le.. Lea sudah nggak ada, kamu harus bisa menerima kenyataan..!!" Kata Papa Noven.
Papa Enggano menarik nafas panjang lalu meninggalkan kamar Bang Alden.
...
Pagi hari tiba. Usai subuh jenazah almarhumah di mandikan dan di sucikan. Bang Alden menyentuh sang istri dengan penuh kasih, tak tega rasanya saat dirinya memandikan jenazah sang istri. Masih ada sisa darah usai sang istri persalinan.
"Pak Alden, jika tidak kuat.. bapak bisa melihatnya lagi nanti untuk terakhir kalinya." Kata seorang ustadzah.
Bang Alden memilih menjauh daripada batinnya sendiri semakin tidak bisa di kendalikan.
:
Kini Bang Alden melihat Azalea bagai putri cantik yang sedang tertidur. Seulas senyum menambah kecantikan paras wajah sang istri.
'Ternyata inilah gamis putih terakhir yang kamu inginkan sayang. Maaf jika selama hidup denganku kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan, tapi percayalah sejak hari dimana aku tau ada buah hatiku di rahim mu, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak kita dan suami yang baik untukmu. Kini aku tau kamu membawa luka di dalam hatimu di balik keikhlasan mu. Sungguh aku minta maaf, aku benar-benar menyesal.'
Bang Alden mengusap lembut wajah Azalea untuk terakhir kalinya. "Selamat jalan sayangku, Abang ikhlas.. Abang akan menjaga anak kita sesuai amanat terakhirmu. Ku perdengarkan nama anak kita yang lahir dari pengorbanan mu dan selanjutnya dia akan hidup dengan penuh ketegasan dan rasa ikhlas. Ingat baik-baik ku beri dia nama Rhaken Tulur Kaba." Ucapnya meskipun Azalea tidak bisa lagi mendengarnya.
Bang Alden meminta putranya dari gendongan Nadilla lalu mendekatkannya di samping wajah Azalea. Seketika si kecil Rhaken menangis seakan merasakan di detik-detik selanjutnya dirinya tidak akan lagi bisa dekat dengan sang Mama. Bang Alden pun menjauhkan putranya. Kini dirinya meninggalkan satu kecupan sayang di kening. Satu detik.. dua detik.. tiga detik hingga perasaannya sedikit lega. "Papa antar ke rumah Mama yang baru ya.. I love you Mama."
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Mira Lusia
gek kroso yo bang
2024-05-23
0
Ita Mariyanti
sakno Thor Rhaken 🥺🥺🥺
2023-11-17
1
Diah Darmawati
😭😭😭😭😭
2023-11-04
1